
Aji terdiam mendengar cerita papanya, tentang masalah adiknya, Biyan. Dia yang sudah tahu tentang kelainan adiknya itu, hanya bisa menghela nafas panjang. Dia tidak mau menambah beban pikiran papanya, dengan menceritakan tentang kelainan Biyan pada papanya, yang tidak tahu menahu soal itu. Pikir Aji, namanya, mama Cilla, merahasiakan hal tersebut dari suaminya, yaitu papa Gilang.
Padahal yang sebenarnya adalah, mama Cilla sudah memberitahu tentang kelainan Biyan itu pada papa Gilang, jauh sebelum mereka berangkat ke India, memenuhi undangan tuan besar Sangkoer Singh, agar bisa menemani Aji dan Elisa saat melahirkan cucu mereka.
"Papa dan mama, besok akan pulang ke Indonesia terlebih dahulu. Kami akan menyelesaikan masalah Biyan terlebih dahulu. Jika sudah selesai, kami akan kembali ke sini, untuk acara selamatan Ka Singh."
Sebenarnya, papa Gilang merasa berat mengatakan semua ini pada Aji. Dia jadi merasa tidak enak hati, karena harus meninggalkan Aji dan Elisa yang sedang membutuhkan dirinya juga, untuk keselamatan Ka Singh, cucunya juga.
"Tidak apa-apa Pa. Justru Aji yang merasa tidak enak, karena Aji juga Papa dan mama jadi meninggalkan Indonesia dan tidak memperhatikan adik-adik, yang masih membutuhkan perhatian dari mama dan juga Papa." Aji berkata demikian, agar papanya tidak lagi merasakan ketidak nyamanan karena harus pulang terlebih dahulu sebelum acara selamatan dilaksanakan.
Tapi berbeda dengan pikiran tuan besar Sangkoer Singh, yang tidak ingin membuat papa Gilang pulang dengan rasa kecewanya, dia justru memberi usul supaya Aji dan Elisa, bersama dengan Ka Singh, anak mereka berdua, ikut pulang ke Indonesia.
Tuan besar Sangkoer Singh mengatakan bahwa, lebih baik Aji dan Elisa ikut pulang ke Indonesia dan mengadakan selamatan di sana juga. Dia juga akan ikut serta dalam acara tersebut. Jadi, tuan besar Sangkoer Singh juga ikut mereka semua ke Indonesia.
"Ayah akan ikut kalian ke Indonesia. Biar acara di India, nanti kapan-kapan lagi, jika kalian kembali ke sini."
"Bagaimana dengan Ka Singh Yah? dia masih bayi dan baru beberapa hari. Apa tidak apa-apa melakukan perjalanan udara dalam waktu lama? kurang lebih perjalanan udara ini ada empat belas jam Yah."
Tuan besar Sangkoer Singh, manggut-manggut. Dia tidak memikirkan permalasahan Ka Singh, jika mereka melakukan perjalanan jauh ke Indonesia. Tapi, tuan besar Sangkoer Singh segera menghubungi dokter untuk berkonsultasi, menanyakan keamanan bayi Ka Singh, jika mereka akan pulang ke Indonesia.
Setelah melakukan konsultasi pada dokter, akhirnya mereka semua merasa lega. Karena kata dokter, bayi Ka Singh tidak apa-apa. Selama ibunya, Elisa ikut dalam perjalanan itu. Ini karena bayi Ka Singh, memerlukan ASI eksklusif. Dokter juga berpesan, agar bayi Ka Singh selalu ada di ruangan yang hangat supaya kondisi tubuhnya sehat dan tetap normal.
Begitulah akhirnya keputusan yang diambil oleh Aji juga. Mereka sepakat untuk pulang ke Indonesia besok siang. Papa Gilang tentu merasa sangat senang dengan usulan dari ayah angkatnya Aji tadi. Dia merasa jika tuan besar Sangkoer Singh itu sangat baik dan juga pengertian. Apalagi saat memutuskan untuk ikut serta dalam kepulangan mereka ke Indonesia.
__ADS_1
"Terima kasih atas perhatiannya Tuan besar Sangkoer Singh. Saya pribadi, berterima kasih dan atas nama keluarga Saya juga." Papa Gilang, pada tuan besar Sangkoer Singh, kemudian memeluk Aji dari arah samping. Dia juga berpamitan untuk kembali ke dalam kamar. Papa Gilang ingin memberitahu istrinya, mama Cilla, dengan apa yang telah mereka bertiga putuskan tadi.
Aji, juga berpamitan pada ayah Sangkoer Singh, untuk memberitahu Elisa, jika besok siang, mereka akan melakukan perjalanan untuk pulang ke Indonesia. Dia juga meminta pada ayah angkatnya itu, untuk bersiap-siap juga.
"Pasti Aji. Ayah akan persiapkan semuanya, tapi Ayah akan memberikan kabar ini pad kapten, agar dia bisa bersiap sedari pagi."
Aji mengangguk di saat mendengar jawaban dari ayahnya, Sangkoer Singh. Dia justru melupakan satu hal itu, yaitu memberikan kabar pada kapten pesawat. Tapi, karena perintah itu hanya bisa dilakukan oleh tuan besar Sangkoer Singh saja, dia pun hanya bisa tersenyum saat ini.
"Pergilah ke kamar, dan beritahu menantu, jika besok siang kita semua akan ke Indonesia. Biar dia beristirahat dan Ka Singh juga biar tidur dengan nyaman. Sebab besok dia akan ikut pulang ke tanah air mama papa dan mamanya," kata ayah angkatnya, Sangkoer Singh.
Aji pamit pada ayahnya, Sangkoer Singh, untuk pergi ke kamar. Setelah Aji pergi, tuan besar Sangkoer Singh baru menghubungi kapten pesawat, agar membatalkan perjalanannya ke China, dua hari lagi. "Batalkan perjalanan kita ke China lusa. Kita akan melakukan perjalanan ke Indonesia besok siang. Ada Aku, tuan muda dan istrinya, juga papa dan mamanya tuan muda. Oh ya, ada cucuku juga yang ikut perjalanan ini, jadi minta pada pramugari untuk menyiapkan ruangan yang hangat. Siapkan juga bodyguard yang biasa ikut bersama denganku."
Begitulah perintah tuan besar Sangkoer Singh, pada kapten pesawat. Dia bahkan tidak bertanya terlebih dahulu, dimana kapten sekarang ini dan sedang mengerjakan pekerjaan apa, tapi langsung membuat perintah untuk besok siang.
Tak lama, bibi Lasmi datang di depan tuan besar Sangkoer Singh, kemudian dia bertanya, "ada yang bisa Saya bantu tuan?"
"Besok, Aku akan pergi ke Indonesia. Tuan muda dan menantu bersama dengan Ka Singh juga. Jadi siapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk perjalanan ini. Bantu menantu untuk berkemas segala sesuatu yang dia butuhkan."
Tuan besar Sangkoer Singh, memberikan perintahnya juga pada bibi Lasmi. Dia tidak mau jika Elisa repot sendiri dan itu akan membuatnya capek, sehingga berpengaruh pada ASI yang diminum Ka Singh, cucunya.
"Semoga saja kasus adiknya Aji, bisa segera diselesaikan. Aku akan mengajari anak itu, supaya bisa melihat dunia luar, sama seperti kakaknya, Aji. Tapi, itu juga jika tuan Gilang mengijinkan. Sepertinya, anak itu sedikit susah diatur," kata tuan besar Sangkoer Singh, pada dirinya sendiri.
*****
__ADS_1
Di dalam kamar, papa Gilang memberitahu istrinya, mama Cilla, dengan keputusan yang tadi diusulkan oleh tuan besar Sangkoer Singh. Dia juga mengatakan jika Aji dan Elisa, bersama dengan Ka Singh, ikut serta dalam perjalanan mereka nanti.
"Benarkah Mas? apa tidak apa-apa jika Ka Singh ikut juga?" tanya mama Cilla yang merasa khawatir dengan kenyamanan dan juga keamanan cucunya itu.
"Tidak apa-apa Ma. Tadi tuan besar Sangkoer Singh sudah menelepon dokter, dan bertanya tentang perjalanan ini untuk Ka Singh. Kata dokter tidak apa-apa, asal ibunya ikut karena ASI_nya. Dokter juga bilang, untuk menyediakan ruang yang hangat bagi Ka Singh," jawab papa Gilang, yang membuat mama Cilla merasa lega. Dia tentu sangat senang sekali, karena tidak harus berpisah dengan cucunya. Dia justru berharap, supaya kepulangan mereka besok, bisa membuat anak dan juga menantunya tetap tinggal di Indonesia dan tidak berpikir untuk kembali lagi ke India.
Ini hanya pikiran seorang ibu, yang tidak ingin berpisah dengan anak-anaknya. Apalagi Aji, tidak hanya seorang anak bagi mama Cilla, tapi juga teman berbagi segala perasaan. Dia sangat dekat dengan anaknya yang satu itu, sebab, terbiasa hidup berdua sedari dulu, sebelum bertemu dan bersatu dengan suaminya ini, yaitu papa Gilang.
"Ma," panggil papa Gilang, yang membuat mana Cilla kaget dan sadar dari lamunannya.
"Eh, emhhh... iya. Ad_ada apa Mas?" tanya mama Cilla terbata-bata. Dia gugup saat menjawab panggilan dari suaminya itu.
"Mama melamun?" tanya papa Gilang, dengan mata memicing.
"Tidak. Mama hanya merasa senang Mas, karena Aji dengan Elisa bisa ikut pulang bersama dengan kita besok," jawab mama Cilla, mengelak dari tebakan suaminya.
"Ini bukan mereka saja, tapi ada tuan besar Sangkoer Singh juga yang ikut serta dalam perjalanan pulang kita ini."
Mama Cilla, mengangguk sambil tersenyum. Dia paham dengan perkataan suaminya itu. Sepertinya, anaknya Aji, akan mengalami kesulitan untuk memutuskan tempatnya berada besok-besok. Apakah akan tetap berada di Jakarta, Indonesia, atau menetap di India, bersama dengan ayah angkatnya, tuan besar Sangkoer Singh, yang tidak punya siapa-siapa lagi.
Ternyata, papa Gilang juga berpikir hal yang sama seperti yang ada dibenak istrinya, mama Cilla. Tapi, papa Gilang hanya berharap supaya Aji tetap berlaku sama seperti sekarang dan tidak mementingkan dirinya sendiri.
"Aku berharap, tuan besar Sangkoer Singh, akan melanjutkan keinginannya untuk bisa tinggal di Indonesia, dan juga bisa membimbing Aji sebagai pengusaha yang baik, sama seperti dirinya. Papa, tidak bisa mengajari Aji lebih baik dari tuan besar Sangkoer Singh."
__ADS_1
Papa Gilang tentunya sangat tahu, jika tuan besar Sangkoer Singh adalah seorang pengusaha sekaligus penguasa juga, meskipun dia tidak ikut dalam deretan petinggi negara. Ketenaran dan kekayaan tuan besar Sangkoer Singh, jauh lebih besar dibandingkan dengan dirinya sendiri.