
Cilla segera menarik tangan Aji untuk bersembunyi. Mereka bersembunyi di balik kursi tamu yang berbentuk sofa dan mempunyai sandaran agak tinggi. Cilla menunggu sampai laki-laki tadi masuk dan menuju ke arah kamar tempatnya tadi ditahan.
Setelah laki-laki itu tidak tampak lagi, Cilla segera menarik tangan Aji dan mengajaknya keluar rumah. Mereka berdua segera berlari ke arah jalan raya. Tapi sepertinya keberuntungan belum berpihak juga, sebab jalan yang mereka lalui ternyata adalah gang buntu.
"Bagaimana Ma?" tanya Aji pada mamanya, sebab mereka tidak lagi menemukan jalan keluar.
"Panggil Papamu. Cari di panggilan telepon terakhir?" Cilla memberikan instruksi pada Aji.
Mereka tidak tahu nomer handphone milik siapapun, jadi mereka mencarinya dari panggilan telpon milik penjahat tadi.
"Tidak ada Ma," kata Aji mengadu.
"Masak tidak ada? Kan tadi dia bilang kalau sudah memberi tahu Papa kamu, mungkin pakai nama lain." Cilla mengira-ngira.
"Hadi, Wawan, Ferdy, Cinta..." Aji mengeja nama-nama riwayat telpon yang tertera.
"Cinta? Eh, coba cinta itu yang kamu pencet!" Cilla mengingat jika orang tadi bercerita jika dia mengatakan cinta pada Gilang, mungkin saja nama Gilang dia beri inisial cinta.
"Tersambung Ma!" Teriak Aji senang.
Beberapa detik kemudian, sambungan telepon tersambung pada seseorang.
..."Halo Candra!"...
..."Pa, Ini Papa Gilang?" tanya Aji memastikan....
..."Aji. Ini Aji, anakku?" tanya Gilang di seberang sana....
..."Iya Pa. Jemput kami Pa. Kami berhasil melarikan diri, tapi kami tersesat. Ini jalan buntu dan kami tidak tahu ada dimana." Aji memberitahu Gilang, papanya....
..."Coba segera kirim pesan GPS. Papa akan segera ke sana. Ini Papa ada di jalan, soalnya tadi Candra menelpon Papa agar segera datang. Tapi lokasinya belum dia kirim dan Papa masih menunggu."...
..."Baik Pa," jawab Aji cepat....
__ADS_1
Telpon di tutup oleh Aji. Dengan cepat dia mengirim pesan pada papanya, Gilang, dimana tempat lokasi mereka berada. Cilla sudah kerasa cemas dan juga takut, jika mereka akan ditemukan lagi oleh penjahat-penjahat tadi.
"Kita bersembunyi disana!" Cilla mengajak Aji untuk bersembunyi di balik kotak sampah besar yang berada di pojokan. Keduanya akhirnya jongkok untuk bersembunyi, dan berharap Gilang akan segera datang menolong mereka secepatnya.
Mereka berdua tidak mungkin berlari lagi jika harus melewati depan rumah yang tadi. Bisa dipastikan jika para penjahat itu sudah keluar untuk mencari mereka, ditambah lagi dengan kaki Cilla yang banyak terluka karena berlari tanpa alas kaki.
*****
Gilang segera menelpon komandan polisi untuk laporan keberadaan Cilla dan juga Aji. Tadi dia sudah memberitahu jika Candra memintanya untuk datang. Tapi lokasinya belum dikirim sehingga komandan polisi dan timnya hanya bersiap-siap. Sekarang mereka sudah mengetahui lokasi sehingga segera berangkat ke tempat yang sudah diberitahukan oleh Aji.
"Candra... Candra. Kenapa kamu senekad itu?" Gilang mengelengkan kepalanya mengingat jika Candra adalah orang yang sangat dia kenal. Bahkan keluarganya juga baik, mungkin karena kehidupannya yang dulu ada di Amerika membuatnya memiliki kelainan.
Gilang tidak habis pikir jika dirinya harus menghadapi situasi seperti ini.
******
Siapa Candra?
Ternyata setelah di teliti berkas-berkasnya oleh Gilang, semua itu tidak sesuai diterapkan di Indonesia, dan Gilang menolaknya. Apalagi ditambah dia juga sudah tiga kali menyatakan cinta pada Gilang.
Candra meminta Gilang untuk menjadi kekasihnya. Jika mereka berdua tidak bisa bersatu di Indonesia, Candra ingin mengajak Gilang hidup di Amerika. Dia ke Indonesia dan mendirikan perusahaan hanya karena ingin dekat dengannya, dekat dengan Gilang yang dia cintai.
Obsesi dan kelainan yang aneh. Dan Gilang dengan tegas menolak semua tawaran itu.
Penolakan tersebut ternyata membuat Candra tidak terima dan membuat rencana penculikan ini, dengan target Gilang sendiri. Tapi saat melihat Aji dan juga Cilla di apartemen mewah milik Gilang, akhirnya target dia alihkan pada keduanya. Dia segera melakukan rencana itu dan mengikuti kepergian Gilang bersama Aji dan Cilla ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, dia meminta kedua bawahnya untuk melakukan operasi penculikan dan dia sendiri yang pergi menyewa mobil pickup untuk mengangkut sampah, padahal sampahnya adalah Aji dan Cilla.
*****
Ditempat persembunyian Cilla dan Aji.
Mereka berdua sudah sangat cemas dan takut. Apalagi dari kejauhan terdengar pergerakan langkah-langkah kaki, yang sepertinya itu tidak hanya dari satu orang saja.
"Kemana mereka? Pasti belum begitu jauh," kata salah satu dari mereka. Sepertinya mereka adalah orang-orang suruhan Candra.
__ADS_1
"Kamu juga cemen. Masa sama anak kecil dan cewek saja kalah. Gak bisa lindungi si bos!"
"Enak saja! Aku dipukul pakai kursi tadi. Sakit ini! Apalagi anak kecil tadi juga memukuli aku dan Bos Candra pakai sepatu hak milik mamanya."
Sepertinya, Candra tidak ikut mencari Aji dan Cilla. Mungkin dia sedang mengobati luka-lukanya dan memeriksa wajahnya yang klimis menjadi memar, akibat terkena hak sepatu milik Cilla, dan itu ulah dari Aji.
"Kalau mereka lewat sini, tidak mungkin bisa keluar, mereka pasti bersembunyi sekarang ini. Tapi kalau lewat jalan yang disana bisa dipastikan, mereka sudah naik ojek atau setidaknya sudah keluar dari kompleks perumahan juga."
Salah satu dari mereka tampak menganalisa target pencarian. Mereka kini mengobrak-abrik apa saja yang sekiranya bisa dijadikan tempat persembunyian.
"Ma..." Aji mulai ketakutan.
"Diam Sayang," kata Cilla berbisik pelan. Meminta Aji agar diam agar tidak ketahuan oleh mereka.
"Ayo, kalian keluar saja. Kalian tidak akan bisa keluar dari sini!"
Salah satu dari mereka berdua berteriak menakuti. Suaranya sudah semakin dekat. Cilla dan Aji semakin pucat dan gemetar karena takut.
Cilla memeluk Aji agar merasa nyaman dan tidak merasa takut lagi, meskipun sebenarnya dia sendiri merasa ketakutan.
"Tidak ada Bang!" Teriak salah satu yang berada agak jauh.
"Cari terus! Kalau tidak ketemu, bos akan marah besar pada kita," jawab penjahat yang sudah ada didekat tempat Cilla dan Aji bersembunyi.
"Sepertinya mereka tidak melewati jalan ini. Apa mungkin mereka berdua berjalan ke arah jalan keluar yang disana?" tanya temannya.
"Tidak mungkin! Papan petunjuk yang ada di depan rumah sudah aku alihkan tadi, sesuai perintah Bos. Katanya untuk mengelabuhi jika tawanan kabur atau siapapun yang ingin menolongnya nanti."
"Oh... Jadi ini ulah mereka. Pantas saja kita jadinya tersesat begini," kata Cilla pelan pada Aji.
"Iya Ma. Kasi pelajaran saja Ma!" Aji pun mengusulkan pada mamanya.
"Pakai apa Sayang? Kita saja bersembunyi," tanya Cilla sambil mengedarkan pandangan, mencari sesuatu untuk melawan, jika mereka sampai ditemukan oleh kedua penjahat itu.
__ADS_1