Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Mencari Tahu


__ADS_3

Di rumah, di dalam kamarnya, Aji yang tadi di tinggal pergi Elisa, berusaha untuk bangun dan melakukan aktifitas sendiri. Dia juga berusaha untuk mencari beberapa barang, yang bisa mengingatkan dirinya sendiri, tentang ketiga adiknya, Jeny dan si kembar Biyan dan Vero.


Waktu sebelum pulang dari rumah sakit, papa Gilang, sudah mencari perawat untuk bisa merawatnya saat di rumah. Tapi justru Aji menolaknya. Dia ingin berusaha sendiri agar bisa lebih cepat pulih, karena tidak banyak dibantu oleh orang lain. Apalagi, tahunya dia kemarin itu, Elisa adalah adiknya, Jeny.


Kakinya sudah bisa di gerakan lagi, meskipun harus dengan hati-hati. Ini hanya efek samping, dari obat paman Ranveer, yang tidak lagi dia konsumsi. Dan dia harus mengkonsumsi obat yang bisa menawarkan efek samping dari obat tersebut. Itulah sebabnya, otaknya sedikit demi sedikit telah bekerja lagi, mengingat beberapa potong memory yang timbul tenggelam dalam ingatannya.


"Kenapa tidak ada satu pun foto adik-adik? Apa semuanya sudah di singkirkan agar tidak menganggu ingatanku?" tanya Aji, pada dirinya sendiri.


Sekarang, dia sedang mencari sesuatu di laci lemari, tempat dia biasa menyimpan banyak barang miliknya, yang tidak harus di lihat orang lain. Tapi sepertinya, semuanya juga tidak ada.


"Apa waktu enam tahun begitu panjang, sehingga aku tidak mengingat mereka?" tanya Aji, sambil memegang kepalanya yang sedikit pusing. Dia ingat, kata Elisa, jika waktu dia dinyatakan hilang dan ketemu itu berjarak sekitar lima tahun atau enam tahunan.


"Ah, Aku harus istirahat terlebih dahulu."


Kini, Aji berbaring dengan posisi miring dan melihat ke arah tembok. Dia berusaha untuk terpejam dan mengumpulkan ketenangan agar bisa berpikir lagi.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka, ada seseorang yang melangkah masuk ke dalam kamar Aji.


"Sayang. Kamu tidur ya!"


Ternyata, mama Cilla datang. Dari pendengaran Aji, mama Cilla seperti meletakan nampan kecil, entah berisi apa, Aji belum tahu.


"Sayang," panggil mama Cilla, sambil mengelus tangan anaknya itu.


"Mama bawa burger. Tadi mama buat sendiri lho!" kata mama Cilla, berusaha untuk membangunkan Aji.


"Hemmm..."


Aji merubah posisi tidurnya. Dia membuka matanya perlahan-lahan, dan melihat mamanya sedang tersenyum melihatnya sudah membuka mata.


"Bangun yuk, Ada Burger kesukaan Kamu ini."


Aji berusaha untuk bangun, dibantu oleh mama Cilla. Kini dia dalam keadaan duduk, meskipun masih berada di tempat tidur.


"Ma," panggil Aji, saat mamanya mengambil nampan kecil, berisi Burger dan susu hangat.

__ADS_1


"Ya Sayang. Ini, adalah makanan kesukaan Kamu sedari kecil. Dan mama sudah bisa buat, tidak jauh beda dengan di tempat yang jual," pamer mama Cilla, sambil menunjuk Burger yang dia bawakan untuk Aji.


"Terima kasih Ma. Aji pasti suka," kata Aji tersenyum, untuk membuat mamanya senang.


"Ayuk di makan!"


Aji, menikmati Burger yang sudah dibuatkan oleh mama Cilla. Dia begitu bersemangat untuk memakannya, tapi sebelum burger itu habis, Aji seperti sedang berpikir dan mengingat sesuatu.


Dengan memegang kepalanya, yang terasa sakit dengan satu tangan kirinya, karena tangan kanannya memegang Burger, dia melihat bayangan-bayangan yang samar dengan wajah-wajah yang tidak asing baginya sekarang ini.


"Kakak, Kakak. Aku juga mau Burger!"


"Aku juga, Aku juga!"


"Ah, kalian. Jangan berebutan!"


"Jeny juga mau Kak!"


Bayangan-bayangan itu muncul berseliweran di dalam ingatan Aji, dan itu membuat kepalanya terasa sangat berat.


"Kenapa Sayang?" tanya mama Cilla, saat melihat Aji yang sedang kesakitan, sambil memegang kepalanya sendiri.


"Sini-sini!"


Mama Cilla, dengan wajah cemas, membantu Aji untuk berbaring, dan mengambil Burger yang tadi masih dipegang oleh anaknya, kemudian meletakkan kembali ke nampan kecil.


"Minum dulu ya," kata mama Cilla, dengan membantu Aji, agar bisa minum susu hangat, dengan berbaring dan sedikit miring.


"Tadi sudah minum obat kan?" tanya mama Cilla pada Aji, yang sekarang berbaring sambil memejamkan matanya.


Aji mengangguk, sebagai jawaban atas pertanyaan mamanya. Dia juga masih memejamkan matanya, dan berusaha untuk menahan rasa sakit yang masih terasa dikepalanya.


"Ya sudah. Sekarang Kamu tidur saja ya, Mama tungguin sampai Kamu bisa tidur."


Aji pun berusaha untuk bisa tertidur, setelah tadi menghabiskan susu hangatnya, seperti waktu dia masih kecil dulu.


*****

__ADS_1


Jeny dan Elisa, pulang dari kampus bersama-sama. Tadi, Rio sebenarnya mau ikut ke rumah Jeny, sekalian mau menjenguk kakaknya, Aji. Tapi, sama Elisa di larang. "Gak usah ikut deh, kapan-kapan saja. Kayaknya, aku juga gak akan lama lagi balik ke kost. Jadi Kamu gak akan kesepian lagi, kalau lagi bete, bisa datang ke kostku buat cerita-cerita."


Rio, memang sering datang ke kost Elisa, meskipun hanya sekedar ngobrol saja, saat dia sedang tidak ada tugas atau kerjaan lainnya. Meskipun kost mereka berdua tidak terlalu dekat, tapi masih bisa di jangkau hanya dengan berjalan kaki, sekitar tujuh menit, dari pada harus pakai mobil, itu akan lebih menyusahkan lagi.


Kost Elisa, tentu berbeda dengan kost yang ditempati Rio. Kost Elisa lebih sederhana dibandingkan kost Rio yang mirip apartemen.


Bangunan tempat kost Rio terlihat mewah, ada garasi mobilnya juga, karena yang kost di tempat Rio, rata-rata anak orang kaya dan membawa mobil sendiri. Sedangkan kost Elisa, hanya kamar kecil dengan kamar mandi yang ada di dalamnya. Hanya itu, kelebihan kost yang di tempati oleh Elisa.


"Kenapa tidak lama lagi?" tanya Rio ingin tahu. Dia juga ingin tahu, kenapa Elisa melarangnya dan mengatakan jika dia tidak akan lama lagi di rumah Jeny.


"Ya gak apa-apa. Tapi kan gak mungkin juga, Aku selamanya di sana Rio?"


"Eh, iya-iya. Masa iya kamu mau di sana terus, kalau kakaknya Jeny sudah ingat lagi pada Jeny. Atau, Kamu mau sekalian jadi pembantu di rumah Jeny?" tanya Rio, dengan wajah mengejek.


"Ih, Kamu! Tapi tak apalah, jika perlu. Kan lumayan dapat uang tambahan. Hahaha..."


Elisa, tidak merasa tersinggung, saat Rio mengatakan semuanya itu. Dia tahu, jika Rio tidak bersungguh-sungguh saat mengatakan semua itu.


"Ah, entar Aku yang susah," keluh Rio, dengan memasang wajah sedih.


"Hah, kenapa lagi?" tanya Elisa bingung, dengan jawaban dari Rio.


"Gak ada yang hibur pas Aku suntuk, dengan mengusili Kamu, aku bisa terhibur! weee..."


"Ah, dasar! Aku pikir beneran!"


Elisa memukul bahu Rio, yang sedang mentertawakan dirinya.


Jeny, yang baru datang, mengeryit heran dengan tingkah keduanya. "Ada apa lagi?" tanya Jeny ingin tahu.


"Gak," jawab Elisa pendek.


"Gak ada," jawab Rio mengekor jawaban dari Elisa.


"Kreatif dikit napa sih?"


"Enak nyontek," jawab Rio dengan cueknya.

__ADS_1


Jeny, hanya bisa mengeleng, melihat tingkah laku kedua temannya, yang tidak pernah ada habisnya, padahal tidak ada kejelasannya juga.


__ADS_2