
Aji bisa tidur nyenyak malam ini. Semua rencananya akan dia jalankan besok pagi. Yang penting semua informasi tentang siapa Siemoy sudah dia dapatkan, bahkan dari orangnya secara langsung.
"Sayang. Sudah tidur?"
Sayup-sayup terdengar suara mamanya, Cilla. Aji sudah tidak mampu untuk menjawab karena berada di antara setengah tidur.
"Maaf ya Sayang. Mama jadi tidak menemani kamu tadi."
Cilla terus berdialog seorang diri tanpa Aji, yang sudah tidak bisa menyahutinya. Cilla mengusap kepala anaknya itu dengan penuh kasih sayang. Dia mencium kening Aji, kemudian pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan diri. Tak butuh waktu yang lama, Cilla akhirnya juga menyusul Aji untuk tidur, dan terbuai ke alam mimpi.
*****
Keesokan harinya, semua berjalan seperti biasanya. Tapi hari ini Cilla dan Aji tidak kemana-mana. Sedangkan Gilang tetap harus pergi ke kantor.
"Papa berangkat ke kantor ya Sayang. Kamu di rumah baik-baik. Jika bosan ada ruang perpustakaan di lantai tiga dan ada juga kolam renang di samping. Kamu bisa bermain air sepuasnya!"
Gilang berpamitan dan berpesan pada anaknya, Aji. Tapi Aji malah bertanya tentang hal lain, yang tidak ada hubungannya dengan pesan papanya tadi.
"Pa. Apa perusahaan papa mendapatkan tawaran untuk bekerja sama dengan perusahaan asing?" tanya Aji ingin tahu.
"Perusahaan asing? Ada beberapa dan sudah klien lama. Kenapa?" tanya Gilang heran dengan pertanyaan Aji.
"Baru-baru ini ada tidak?" tanya Aji lagi.
"Belum ada sih, tapi kemarin sempat ada email masuk dari perusahaan yang baru saja mengajukan permohonan ijin ke pihak pemerintahan dan sedang proses terkait ijin perusahaan tersebut. Tapi Papa belum pelajari detail kerjasama yang mau ditawarkan. Ada apa Sayang?"
Gilang yang tahu sepak terjang anaknya itu di dunia hacker, menjadi sedikit curiga. Apalagi ini menyangkut perusahaan yang dia pimpin.
"Apa ada perusahaan yang Kamu curigai berbuat curang?" tanya Gilang lagi karena penasaran. Apalagi Aji hanya diam tapi tampak seperti sedang berpikir.
__ADS_1
"Tidak ada Pa. Aji cuma bertanya. Jika boleh, Aji ingin tahu perusahaan yang baru dan ingin bekerjasama dengan perusahaan milik Papa. Bukankah Papa juga harus memastikan jika perusahaan tersebut tidak menyalahi aturan dan hukum yang berlaku?"
Gilang semakin curiga saat Aji menyinggung soal hukum. Dia merasa was-was juga, jika perusahaan yang sedang bekerjasama dengannya ternyata hanya kedok atau melanggar hukum negara. Dia tidak mau terlibat dan merusak kepercayaan banyak perusahaan, yang sudah berjalan bersamanya selama ini.
"Aji ada informasi apa?" tanya Gilang menyelidik. Dia yakin jika anaknya itu mengetahui sesuatu yang tidak beres dengan salah satu perusahaan.
"Aji belum yakin. Tapi dalam waktu dekat pasti akan ketahuan. Jika Aji menemukan sesuatu yang tidak beres, Aji pasti kasih tahu Papa."
"Baiklah. Papa berangkat sekarang ya! Jangan lupa minum obat Kamu. Biar matanya sehat dan jangan terlalu dipaksakan untuk melihat layar laptop atau handphone jika sudah merasa lelah."
Gilang berpamitan lagi dan berpesan pada anaknya itu, agar tidak memaksa matanya tetap bekerja untuk kegiatan yang dilakukannya dengan layar handphone ataupun laptopnya.
"Iya Pa. Papa harus teliti ya!"
"Siap Bos!"
"Cilla, lihatlah! Mereka berdua kompak ya? Mami ingin ini bisa terus bisa melihat semua ini, dan tidak akan rusak hanya karena ada salah paham suatu hari nanti."
Mami Rossa berkata pada Cilla dengan harapan-harapan yang dia inginkan.
Cilla tidak mampu menjawab dengan kata-kata. Dia hanya mampu tersenyum penuh haru melihat Gilang dan Aji yang terlihat akrab dan kompak itu. Dia juga berharap jika Aji benar-benar bisa menemukan sosok panutan sebagai Papa pada diri Gilang.
"Mi. Gilang berangkat dulu!"
Gilang berpamitan pada mami Rossa. Mencium tangan dan juga kedua pipinya. Dia juga tidak lupa berpamitan pada Cilla, "Honey. Sayang berangkat dulu ya! Jaga Aji dan ingatkan dia untuk istirahat."
Cilla menunduk malu, tapi juga terlibat anggukan kepalanya, meskipun samar. Tapi itu sudah membuat Gilang merasa bahagia.
"Terima kasih ya. Aku bisa melihat bunga-bunga yang selalu mekar di pagi hari. Semoga itu tidak akan pernah layu untuk kedepannya nanti."
__ADS_1
Wajah Cilla bersemu merah saat mendengar perkataan Gilang yang merayu secara tidak langsung. Dia merasa benar-benar berbunga-bunga karena merasa ikut bahagia juga.
Tidak lama setelah itu, Gilang berangkat ke kantor. Mami Rossa duduk di teras depan dengan handphone ditangannya. Aji pergi halaman belakang untuk memberi makan ikan-ikan kecil di kolam. Sedangkan Cilla pergi ke dapur untuk membantu bibi membersihkan meja makan.
"Tidak usah Non. Bibi bisa sendiri. Lagipula ada teman-teman pembantu yang lain kok," kata bibi pembantu mencegah Cilla yang sedang membersihkan mangkok sayur.
"Tidak apa-apa Bi. Nanti Saya malah capek tapi gak ada gunanya karena gak memegang kerjaan apa-apa," jawab Cilla dengan tersenyum.
"Tapi Non..."
Bibi pembantu tidak jadi meneruskan kata-katanya sendiri karena melihat Cilla yang mengeleng dengan cepat.
"Tidak apa-apa. Saya tidak akan merebut pekerjaan Bibi kok, hehehe..."
"Hehehe... Bisa saja Non ini."
Bibi pembantu ikut terkekeh mendengar perkataan Cilla yang sedang bergurau. Dia merasa senang karena calon majikan itu bukanlah wanita yang sombong, meskipun dia bisa tinggal memerintah saja di rumah ini.
*****
Aji yang sudah selesai dengan kegiatannya, memberi makan pada ikan-ikan di kolam belakang rumah, segera pergi ke kamar. Dia ingin segera mencari tahu tentang perusahaan Sekar Mayangsari dan sepak terjangnya sebagai pengusaha di luar negeri. Apalagi perusahaan yang baru saja dia dirikan di Indonesia mempunyai niat terselubung dengan niat yang tidak baik di awal.
Dari hasil penelusuran Aji untuk perusahaan Sekar yang ada di Amerika, ternyata dia adalah seorang desainer perhiasan emas. Selain itu, dia juga menerima pesanan pembuatan perhiasan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh para pelanggannya. Lalu perusahaan yang akan dia dirikan di Indonesia bergerak di bidang apa?
Aji mencoba untuk masuk ke sistem perusahaan Sekar yang ada di Amerika sana. Tapi ternyata gagal. Padahal Aji ingin mencari tahu apa yang sebenarnya Sekar rencanakan.
Dengan meretas situs web perusahaan PT. Sekar Jagad, perusahaan milik Sekar yang ada di Indonesia dan belum resmi berdiri, Aji mencoba untuk masuk ke perusahaan yang ada di Amerika, ternyata berhasil. Kini Aji bisa membaca semua poin-poin yang direncanakan Sekar, untuk perusahaan-perusahaan yang dia pimpin, baik di Amerika maupun yang akan ada di Indonesia nantinya.
Tapi apa yang Aji temukan sungguh luar biasa. Dia juga kaget jika seorang wanita seperti Sekar Mayangsari, yang seharusnya feminim dan lemah lembut, ternyata tidak terduga apa yang dia kerjakan selama ini.
__ADS_1