Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Lamaran Gilang


__ADS_3

Perjalanan menuju ke villa yang ada di Sentul, tidak selancar yang dibayangkan. Kemacetan terjadi dimana-mana.


"Ini bukan weekend atau musim liburan kan? Kok macetnya minta ampun gini," kata mami Rossa mengeluhkan tentang kemacetan lalu lintas.


"Sabar Mi. Mungkin banyak yang searah dengan kita, jadi macet kayak gini."


Cilla berusaha menenangkan mami Rossa yang merasa tidak sabar. Mungkin dia sudah lelah dan mengantuk juga.


"Oma. Liat berita saja dari handphone. Mungkin ada berita bagus yang bisa Oma lihat jadi tidak kerasa dengan kemacetan yang terjadi."


Aji memberikan usulan pada omanya itu, agar tidak terlalu bosan dengan kemacetan yang terjadi dalam perjalanan mereka kali ini.


"Huh, benar juga usul Aji. Pinter memang cucu Oma."


Mami Rossa, berkata dengan tersenyum senang, karena akhirnya bisa mengalihkan perhatiannya yang kesal, pada layar handphone miliknya.


Cilla ikut tersenyum melihat mami Rossa yang memuji Aji, anaknya. Dia benar-benar merasa beruntung, karena bisa bertemu dengan orang-orang baik dan juga menyayangi dirinya dengan anaknya, Aji, secara tulus.


"Mi. Terima kasih banyak ya Mi, atas semua kasih sayang Mami pada kami berdua."


Cilla berkata pada mami Rossa, dengan suara bergetar. Dia merasa terharu dengan sikap mami Rossa, yang menjaganya seperti anaknya sendiri.


"Cilla. Kami itu calon mantu Mami. Mamanya cucu Mami. Anaknya sahabat Mami juga. Mana mungkin Mami tidak menyayangimu dan juga Aji, cucu Mami sendiri," kata mami Rossa menangapi perkataan Cilla.


Gilang, yang ikut mendengarkan percakapan kedua wanita yang dia sayangi itu, tersenyum sendiri dengan melihat ke arah spion yang mengantung di atasnya.


"Makanya, Kamu harus bisa pertimbangkan permintaan Gilang yang ingin menikahimu ya! Mami pasti akan merasa senang dan sangat bahagia jika semua itu benar-benar terjadi." Mami Rossa mengatakan harapannya pada Cilla.


Cilla hanya tersenyum tipis, mendengar perkataan mami Rossa yang terdengar penuh harap. Dia juga sebenarnya tidak mau menolak permintaan Gilang. Dia hanya tidak tahu, bagaimana caranya mengatakan semua itu. Dia bingung dengan dirinya sendiri, yang sulit mengatakan, ya, atas permintaan Gilang.


*****


Di villa Sentul, suasana yang nyaman dan asri masih begitu terasa. Udara juga masih terasa segar meskipun hari sudah sore.


Mereka semua, tiba di villa Sentul sekitar pukul empat sore. Ini karena adanya kemacetan, yang terjadi sepanjang jalan menuju ke tempat tujuan mereka.


"Akhirnya, sampai juga kita," kata mami Rossa, dengan menghirup udara bebas sebanyak-banyaknya.


"Wah... bagus sekali Oma rumahnya," kata Aji, memuji Cilla papanya.

__ADS_1


"Iya. Itu papa Kamu yang buat. Dia ingin villa yang kecil, tidak terlalu besar tapi tetap nyaman dan luas. Aneh kan papa Kamu?"


Mami Rossa menjelaskan pada Aji tentang keinginan papanya, Gilang.


"Kecil tapi luas?"


Aji bertanya dengan bingung. Dia tidak tahu apa maksud dari perkataan mami Rossa, yang mengatakan jika papanya itu, ingin villa yang kecil tapi luas.


"Maksudnya, bangunan villa tidak terlalu besar, tapi masih ada halaman yang luas. Kan bisa di tanami pohon besar-besar, seperti buah-buahan, agar terlihat asri dan sejuk."


Penjelasan mami Rossa memang benar. Dari tempat Aji berada sekarang ini, dia melihat ada pohon mangga, rambutan, jambu air, dan ada juga pohon belimbing. Meskipun tidak terlalu besar, tapi cukup untuk membuat suasana menjadi sejuk dan rindang.


"Wah... Aji bisa manjat pohon dong Oma," kata Aji, dengan mata berbinar-binar karena senang.


"Memangnya, Aji bisa?" tanya mami Rossa tidak percaya, jika cucunya itu bisa memanjat pohon.


"Tidak. Hehehe..."


"Oma pikir Aji sudah bisa. Hahaha..."


Keduanya tertawa-tawa sambil berjalan menuju ke arah samping villa, yang ada pepohonan tadi.


"Kapan ada rencana kemari? Aku kok tidak tahu?" tanya Cilla pelan, saat Gilang mendekatinya untuk membantu mengeluarkan tas milik Aji.


"Kemarin malam honey. Dan semua barang-barang ini, bibi yang pancking. Mama juga akan meminta bibi dan yang lain datang ke sini."


Gilang menjawab dan menjelaskan pada Cilla. Tentu saja Cilla mengerutkan keningnya bingung. Dia tidak tahu jika semuanya sudah diatur sedemikian rupa oleh semuanya, dan dia tidak tahu apa-apa.


"Sudah. Tidak usah bingung. Yuk, Aku tunjukkan kamar Kamu!"


Gilang mengajak Cilla masuk dan menunjukkan kamar yang akan dia tempati bersama dengan Aji.


"Kamu suka kan tempatnya?" tanya Gilang pada Cilla, saat mereka sudah berada di dalam kamar.


Cilla hanya menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum tipis. Dia memang sudah tidak terlalu gugup jika sedang berhadapan dengan Gilang, tapi dia belum berani menatap kearah Gilang dan juga berbicara banyak, atau sekedar menjawab pertanyaan dari Gilang.


"Kamu bisa mengatur barang-barang kamu di lemari ini. Bibi dan yang lain pasti sudah dekat, dan tak lama lagi pasti sampai juga kok!"


Cilla kembali mengangguk mengerti. Dia juga tersenyum, saat Gilang menatap wajahnya dengan wajahnya yang terlihat tampan itu.

__ADS_1


"Semoga kamu betah dan nyaman di sini," kata Gilang, sambil mengacak rambut Cilla dengan lembut.


Cilla tertegun sejenak, mendapat perhatian dan perlakuan lembut dari Gilang. Dia tidak mampu bergerak. Tubuhnya tiba-tiba seperti patung dan dingin.


Gilang tersenyum, melihat perubahan wajah Cilla yang memerah. Tapi itu semua malah membuat Gilang merasa senang.


"Aku keluar dulu ya, takut jadi khilaf!" kata Gilang, di dekat telinga Cilla.


Cilla seketika sadar dan gelagapan tanpa mampu untuk menjawab ataupun membalas perkataan Gilang.


*****


Malam harinya, saat Cilla baru saja keluar dari dalam kamar bersama dengan Aji, semuanya sudah berkumpul, termasuk bibi dan juga yang lainnya.


"Sini Sayang!" kata mami Rossa pada Aji dan juga Cilla.


"Ada acara apa sih Mi, sebenarnya ini?" tanya Cilla ingin tahu.


"Tidak apa-apa Sayang, duduk yuk!" ajak mami Rossa, sambil menepuk-nepuk tempat duduk yang ada di sampingnya.


Cilla menurut. Dai duduk di kursi yang ada di dekat mami Rossa, sedangkan Aji berlari menuju ke arah Gilang, kemudian duduk di pangkuan papanya itu.


"Aji sudah siap kan?" tanya Gilang pada anaknya, dengan berbisik pelan.


"Sudah," jawab Aji, dengan berbisik juga.


Gilang dan Aji berdiri, kemudian mendekat ke arah tempat duduknya Cilla dan mami Rossa.


"Mi. Dengan restu Mami, Aku, Gilang Aji Saka, ingin melamar putri Mami, Cilla Andini, untuk menjadi istri dan mamanya anak-anakku."


Cilla terkejut, melihat dan mendengar perkataan Gilang, yang tidak dia sangka-sangka itu. Apalagi, mami Rossa diibaratkan sebagai maminya Cilla.


"Mami hanya sahabat dari mamanya Cilla. Jika Cilla berkenan, Mami mau jadi pengganti mamanya. Bukan hanya sekedar mertua saja."


Sekarang, ganti mami Rossa yang berkata, meminta pada Cilla juga.


"Ma. Aji adalah anaknya Mama. Tapi Aji juga ingin punya Papa, dan keluarga yang utuh. Jadi, terimalah Papa Ma. Untuk kebahagiaan kita semua."


Kini, giliran Aji yang meminta pada Cilla. Dia berdiri tepat di depan mamanya.

__ADS_1


Semua orang terdiam, menunggu jawaban dari Cilla, dengan wajah penuh harap, tapi juga cemas. Cilla terdiam sejenak dan tidak menyangka jika semua ini sudah direncanakan untuk dirinya.


__ADS_2