Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Keseharian Jeny


__ADS_3

Sekarang, Jeny sudah siap-siap untuk berangkat ke kampus. Dia sudah bilang pada supir, jika mau membawa mobil sendiri. Jadi mobil hanya disiapkan saja.


"Kamu bawa mobil sendiri lagi?" tanya mama Cilla, dengan mata memicing, menyelidik.


"Iya Ma. Kasihan supir kalau nunggu. Jeny ada beberapa kegiatan, jadi sampai sore. Kan supir bisa stay di rumah, siapa tahu mama atau yang lain butuh," jawab Jeny, memberikan alasan.


"Asal jangan pulang terlalu malam Jen. Mama tidak mau jika papa tahu, dan menarik semua fasilitas yang disediakan untukmu."


Mama Cilla, mengingatkan anaknya, Anjani, agar tidak terlalu sering pulang malam. Bisa-bisa, suaminya marah besar, kalau tahu jika anak gadisnya itu, sering pulang malam.


"Iya Ma," jawab Jeny datar.


"Jenguk oma Kamu dulu. Dia ada di kamar, gih! Tadi dia nanyain Kamu lho!" perintah mama Cilla pada Jeny.


"Hem..."


Anjani tidak menjawab dengan jelas. Tapi, dia memutar tubuhnya juga, menuju ke arah kamar omanya, Oma Rossa.


"Selamat pagi Oma," sapa Jeny dengan tersenyum. Dia bersikap manis dan tetap sopan di depan omanya.


Jeny, mencium kedua pipi omanya, kemudian bertanya tentang kabar omanya itu. "Oma apa kabar? Ayo sembuh dong Oma... Jeny sedih, Oma tidak lagi menemani Jeny saat berenang, atau sedang memberi makan ikan di kolam belakang..."


Jeny, tidak meneruskan kalimatnya, tentang kebersamaan mereka selama ini. Jeny bukannya lupa, tapi semua yang dia katakan tadi adalah, kegiatan yang mereka lakukan bersama-sama dengan Aji juga, kakaknya Jeny yang dinyatakan telah tiada beberapa tahun yang lalu.


Oma Rossa mengelus tangan Jeny. Dia ingin mengatakan sesuatu pada Jeny. "Je... Jen... akak... Ji man... na?"


Ternyata, Oma Rossa bertanya pada Jeny tentang keberadaan Aji. Cucunya yang paling besar dan sudah lama tidak dia lihat.


"Oma. Kak Aji belum ketemu. Tapi Jeny yakin, jika kakak itu masih hidup. Entah ada di belahan bumi mana. Suatu hari nanti, Jeny pasti akan temukan keberadaan kakak. Tapi, Oma harus sembuh ya! Biar kak Aji juga tidak sedih meminta keadaan Oma yang sekarang ini," jawab Jeny, memberikan semangat kepada omanya itu.


Oma Rossa mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Jeny, memeluk omanya itu dengan wajah yang jelas terlihat sangat sedih juga.


"Oma yakin kan, kalau kakak masih ada?" tanya Jeny dengan tersenyum, namun matanya juga ikut berkaca-kaca. Dia tidak kuat menahan kesedihannya, jika teringat kembali dengan kakaknya, Aji.


Sekali lagi, Oma Rossa mengangguk. Dia juga meminta Jeny, agar tetap rajin belajar seperti dulu, saat masih ada Aji, dan tidak sering membantah mamanya, Cilla.


"Je... bela... belanja ya... ng ajin. Sam... ayak ulu, watu da Hi. Ja... ngan antah mam... ma Jen," kata Oma Rossa menasehati Jeny.


"Iya Oma... Jeny akan berubah demi Oma. Tapi Oma juga janji untuk sembuh ya!" jawab Jeny, dengan memeluk omanya lagi.


Drettt...


Drettt...


Drettt...

__ADS_1


Handphone yang Jeny letakan di atas meja, bergetar. Ada panggilan masuk dari Elisa, temannya kuliah.


"Sebentar ya Oma," kata Jeny, meminta ijin untuk mengangkat telpon terlebih dahulu.


..."Halo!"...


..."Hai Jen. Jadi berangkat pagi?"...


..."Jadilah."...


..."Nah itu. Jemput sekalian ya!"...


..."Hah. Aku pikir telpon mau ngapain, cuma minta jemput doang!" sungut Jeny, saat mengetahui maksud temannya itu....


..."Hahaha... sorry. Irit ongkos Bos!"...


..."Kasihan supir angkotnya, gak ada penumpang!"...


..."Rugi juga supirnya, kalau Aku yang naik."...


..."Kenapa?" tanya Jeny heran....


..."Ada deh..."...


..."Idih... gak jelas!"...


Elisa menutup panggilan teleponnya. Jeny pun mengerucutkan bibirnya dengan kesal, karena harus menuruti keinginan temannya itu.


"Hah... dasar tukang paksa!" gerutu Jeny, dengan mengelengkan kepalanya.


"Pa. Sapa?" tanya Oma Rossa, ingin tahu.


"Teman Oma. Teman kuliah," jawab Jeny menjelaskan pada omanya itu.


Oma Rossa, tampak tersenyum dan mengangguk. Dia kembali mengelus tangan Jeny dengan sayangnya.


"Oma. Jeny harus berangkat sekarang. Oma jangan lupa sarapan dan minum obat ya!" kata


Jeny memberikan pesan pada omanya.


Setelah melihat omanya mengangguk, Jeny tersenyum dan mencium kedua pipi omanya dan pamit untuk pergi, "Da Oma... Jeny pergi dulu."


*****


"Lama bener Jen! Lumutan Akunya nunggu," gerutu Elisa, begitu mobil Jeny berhenti disampingnya.

__ADS_1


"Ngomel, Aku tinggal!" ancam Jeny acuh.


"Eh, ehhh... no!" teriak Elisa, kemudian segera masuk ke dalam mobil Jeny.


Mobil pun, bergerak lagi menuju ke arah kampus.


"Nanti, katanya ada dosen yang datang dari luar. Dia mau kunjungan gitu deh," kata Elisa memberitahu.


"Kunjungan? Baru dengar ada kunjungan dosen," kaya Jeny, dengan nada heran.


"Ya kan ini dinas pendidikan juga Jeny!" kata Elisa dengan cepat. Dia merasa Jeny itu terlalu cuek, sehingga tidak memperhatikan kondisi sekitarnya.


"Semoga saja, yang datang itu dosen cowok, masih muda dan ganteng..." kata Elisa, berkhayal.


"Mimpi di kasur Sono!" cibir Jeny pada temannya itu.


"Eh, kan bagus dosen cowok ganteng. Dari pada yang datang bapak-bapak atau sudah om-om. Gendut, buncit, botak, terus... "


"Lengkap banget kayak martabak!" potong Jeny, dengan cepat.


"Ihs... Kamu itu Jen. Gak suka banget liat Aku seneng!" kata Elisa ngambek. Dia mengerucutkan bibirnya dengan mendengus.


kesal.


"Yah... realistis sajalah. Bayangkan saja jika dekan itu gak ada yang muda. Rektor, kebanyakan sudah tua dan botak juga. Hanya Drakor yang menampilkan wajah-wajah imut, meskipun usia mereka sudah diatas lima puluh tahun. Itu juga karena ditunjang dengan operasi plastik. Yang orang biasa, aslinya juga gak seganteng itu."


Elisa mengeryit bingung dengan perkataan Jeny yang melenceng dari topik pembicaraan yang sedang mereka bahas. Tapi, Elisa hanya bisa mengeleng dan tidak mau berdebat dengan Jeny. Karena Elisa tahu, semakin dia mendebat Jeny, dia semakin terlihat bodoh saja.


"Tadi sudah sarapan belum?" tanya Jeny, pada Elisa secara tiba-tiba.


Elisa tidak menjawab. Dia hanya nyengir kuda dan tidak mengatakan apa-apa.


"Sudah Aku duga.Yuk!" ajak Jeny, kemudian keluar dari dalam mobil.


Mereka berdua, berjalan ke arah kantin kampus terlebih dahulu sebelum melanjutkan aktivitas mereka.


*****


"Mr. Vijay. Agenda kegiatan anda hari ini adalah kunjungan ke salah satu kampus, yang sedang bekerja sama dengan yayasan di India, untuk pertukaran mahasiswa. Setelah itu, anda baru ke industri tekstil dan garmen yang ada di daerah Tangerang dan Banten."


Seorang sekretaris laki-laki, berpakaian rapi, membungkuk dan membacakan agenda kegiatan Mr Vijay untuk hari ini.


Mr Vijay, hanya mengangguk sebagai tanda mengerti dengan apa yang dibacakan oleh sekretarisnya itu.


Mr Vijay, baru saja datang ke Indonesia. Dia adalah, salah satu visitor dari tim audit persatuan tekstil dan garmen Asia, yang berpusat di India.

__ADS_1


Dia datang untuk pertama kalinya, dan belum mengetahui banyak hal tentang Indonesia. Apalagi dengan ibukota Jakarta.


__ADS_2