Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Tidak Menemukan Apa-apa


__ADS_3

Mama Cilla memperbolehkan pihak kepolisian untuk melakukan tugasnya, tapi dia meminta waktu untuk menghubungi suaminya, papa Gilang, terlebih dahulu, supaya pulang dan ikut menunggu hasil penggeledahan tersebut. Dia tidak mau jika harus serta menjadi saksi seorang diri saat penggeledahan terjadi di rumahnya.


Pihak kepolisian pun menyetujui permintaan mama Cilla. Mereka tidak langsung masuk ke dalam rumah dan melakukan penggeledahan, tapi menunggu di ruang tamu bersama dengan Vero.


Panggilan telepon mama Cilla untuk papa Gilang, terhubung. Dengan cepat mama Cilla menceritakan tentang kedatangan pihak yang berwajib, guna melakukan tugasnya, yaitu mengeledah rumah, karena di curigai adanya anggota keluarga yang menjadi pengedar obat-obatan terlarang.


Papa Gilang yang sedang berada di kantor bersama dengan Aji, tentu saja terkejut. Dia berjanji pada mama Cilla, untuk segera pulang ke rumah. Dia akan mengajak Aji juga, supaya ikut pulang bersama dengannya.


"Papa akan pulang bersama dengan Aji Ma, jadi tunggu dan yang tenang ya," kata papa Gilang melalui panggilan telepon tadi.


Papa Gilang juga meminta pada mama Cilla, untuk menghubungi Biyan, agar dia secepatnya bisa pulang ke rumah. "Bilang saja ada perlu penting. Jangan bilang kalau ada polisi di rumah," kata papa Gilang, lagi sebelum matikan telponnya.


Akhirnya, mama Cilla juga menghubungi anaknya, Biyan. Dia meminta Biyan, agar cepat pulang, tapi tidak mengatakan alasan yang sebenarnya terjadi. Dia hanya bilang, jika ada temannya yang menunggunya di rumah.


Elisa, yang baru keluar dari kamar, terkejut melihat adanya beberapa polisi di rumah. Meskipun mereka berbincang dengan ramah, tapi mereka tampak tetap waspada.


"Ma, ada apa?" tanya Elisa bingung.


Mama Cilla pun akhirnya menceritakan tentang kebenaran yang terjadi, kenapa sampai pihak kepolisian datang ke rumah.


Tapi, sepertinya Elisa tidak percaya begitu saja dengan dugaan itu. Dia merasa jika ini hanya sebuah rekayasa seperti sebuah cerita omong kosong.


"Lalu, apa semua rumah akan digeledah?" tanya Elisa memastikan.


"Kalau diperlukan, pastinya iya. Tapi yang terutama adalah kamar dan ruangan yang biasanya dipakai Biyan," jawab salah satu dari mereka.


Tak berapa lama kemudian, papa Gilang dan Aji datang. Mereka berdua, dengan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah.


Setelah berbincang-bincang sebentar, papa Gilang mempersilahkan pihak kepolisian untuk melakukan tugasnya, yaitu mengeledah kamar anaknya, Biyan.


"Tapi Biyan belum sampai Pa?" tanya Aji begitu papa Gilang memberikan ijin.


"Tidak apa-apa. Jika dia terbukti bersalah karena telah jadi pengedar obat-obatan terlarang itu, Papa tidak akan pernah mau membelanya. Tapi jika tidak, ini adalah upaya untuk mencemarkan nama baiknya, dan keluarga pada umumnya. Papa pasti akan membelanya. Jika dia juga terbukti sebagai pemakai, biar pengadilan yang memutuskan, apakah akan di rehabilitasi atau akan di ada di tahanan."


Setelah mengatakan itu pada Aji, papa Gilang ikut serta menemani pihak berwajib mengeledah kamar Biyan.


Aji mendekati istrinya, yang terlihat cemas. Dia menggenggam tangan istrinya itu, agar tidak lagi merasa cemas. "Semua akan baik-baik saja Sayang. Tenanglah," kata Aji menenangkan Elisa.


"Kak, ini hal yang sangat serius. Dan ini tidak di benarkan di negara manapun. El takut, jika ini benar, akan membuat Biyan gagal pergi ke India juga. Dia kan mau belajar di sana."

__ADS_1


"Iya benar. Kita berdoa saja, semoga semua ini tidak terbukti benar," jawab Aji dengan tersenyum tipis pada Elisa.


Polisi sudah berada di dalam kamar Biyan, bersama dengan papa Gilang dan juga mama Cilla. Mereka ikut menyaksikan Pengeledahan tersebut.


Polisi dengan telaten, memeriksa satu persatu wadah barang dan membuka semua tempat yang di duga bisa dijadikan tempat menyembunyikan barang tersebut. Tapi, ternyata pihak kepolisian tidak menemukan apa-apa.


Saat mereka meminta ijin untuk memeriksa beberapa ruangan, yang mungkin saja di duga sebagai tempat Biyan menyembunyikan barang tersebut, papa Gilang hanya mengangguk mengiyakan. Sia sangat kooperatif, sehingga polisi juga segan dan tetap sopan dalam melakukan penggeledahan.


Tak lama, Biyan datang dengan wajah terkejut, karena melihat mobil polisi dan juga beberapa anggotanya, yang berjaga-jaga di luar.


"Permisi, ini ada apa ya?" tanya Biyan, pada salah satu polisi yang berjaga.


"Anda yang bernama Biyan?" tanya polisi tersebut.


"Iya," jawab Biyan pendek.


Polisi mengenalinya karena dia masih rutin melakukan absen ke kantor polisi dua minggu sekali, karena kasus yang dulu. Dia juga sering datang diantar oleh papa Gilang, dengan memakai seragam sekolah, karena masih pagi, dan dia sekalian jalan untuk pergi ke sekolah.


"Silahkan duduk dan tunggu saja," kata polisi tadi, meminta pada Biyan agar duduk di teras depan rumah.


Biyan bingung dan mengeluarkan handphone miliknya yang ada di dalam tas. Dia menghubungi mamanya.


..."Ma, ada apa sebenarnya?"...


Biyan langsung bertanya kepada mama Cilla, apa yang sebenarnya terjadi di rumah. Karena dia tidak menemukan anggota keluarganya dan malah di sambut anggota polisi yang berjaga di luar rumahnya.


..."Kamu sudah sampai?"...


..."Iya Ma, Biyan ada di luar dan di tahan polisi, untuk tetap diam di depan rumah ini."...


Mama Cilla pamit untuk keluar rumah, menemui anaknya Biyan. Papa Gilang hanya mengangguk, dan masih menemani polisi yang saat ini sedang mengeledah dapur serta ruang tengah.


Elisa dan Aji, juga ikut keluar bersama dengan mama Cilla, untuk menemui Biyan.


Mama Cilla memeluk Biyan, begitu dia sampai di tempat Biyan duduk.


"Ada apa sih Ma?" tanya Biyan, yang sedang dipeluk mama Cilla.


"Kamu tidak jadi pengedar obat-obatan terlarang kan Sayang?" tanya mama Cilla dengan khawatir. Dia sudah menitikkan air mata, karena cemasnya.

__ADS_1


"Pengedar, obat-obatan terlarang? Tidak Ma. Biyan pakai saja tidak kok! Sering lihat orang pakai dan ditawari juga, tapi Biyan dengan tegas menolaknya."


Jawaban Biyan membuat mama Cilla merasa sedikit lega. Dia melepaskan pelukannya dan bertanya lagi pada anaknya itu, "benar apa yang Kamu katakan tadi?" mama Cilla melihat wajah anaknya itu dengan intens.


Biyan menggeleng beberapa kali. Dia dengan tegas menjawab tidak pernah memakai barang terlarang itu, apalagi mengedarkannya.


Tak lama kemudian, polisi yang ada di dalam sudah keluar bersama dengan papa Gilang. mereka meminta pada Biyan, agar bisa ikut ke kantor polisi dan memberikan beberapa keterangan tentang laporan seseorang yang sudah menuduhnya sebagai pengedar obat-obatan terlarang tersebut. Dia juga diminta untuk melakukan test urine lagi, karena sewaktu di tahan dulu, test urinenya dinyatakan negatif.


Biyan meminta ijin untuk berganti pakaian terlebih dahulu, karena saat ini, dia masih memakai pakaian seragam sekolah.


Polisi memperbolehkan Biyan berganti pakaian, tapi dengan di kawal salah satu dari mereka.


Biyan pun setuju. Dia tampak tenang dan tidak lagi terlihat cemas.


"Papa akan menghubungi pihak pengacara, untuk menuntut balik orang yang melaporkan Biyan. Papa ingin tahu, siapa dia sebenarnya."


Aji setuju dengan perkataan papanya, begitu juga dengan mama Cilla. Mereka akan mencari tahu, siapa orang yang sudah menyudutkan Biyan, sehingga dituduh sebagai pengedar obat-obatan terlarang.


Saat Biyan keluar dari dalam rumah, pakaiannya juga sudah diganti. Dia berjalan diiringi pihak kepolisian menuju ke mobil polisi.


"Pak. Kami boleh ikut menemani? Biar dia ikut mobil kami saja, dan tidak akan kabur. Kami pastikan untuk datang ke kantor polisi Kok," kata papa Gilang, meminta ijin pada pihak kepolisian agar Biyan bisa ikut didalam mobilnya saja.


Karena sekeluarga papa Gilang tidak melakukan perlawanan dan mereka juga mendukung tugas polisi, maka permintaan papa Gilang itu diiyakan mereka.


Akhirnya, Biyan ikut mobil papa Gilang dan Aji, menuju ke kantor polisi, dengan diiringi oleh mobil polisi yang ada di belakang mereka.


Biyan di antar sendiri ke kantor polisi oleh papa dan kakaknya itu, sedangkan mama Cilla dan Elisa, di minta untuk tetap di rumah dan berdoa saja, agar semua berjalan lancar dan tidak ada kejadian yang sama lagi untuk waktu ke depan nanti. Vero juga sama, dia akhirnya tidak jadi berangkat ke sekolah dan berdiam diri saja di rumah.


"El, mama cemas dengan Biyan," kata mama Cilla dengan wajah cemas.


"Ayo masuk Ma." Elisa mengajak mama Cilla untuk masuk ke dalam rumah.


Elisa pergi ke dapur dan mengambil minuman untuk mama Cilla.


"Minum dulu Ma, biar lebih tenang," kata Cilla, memberikan gelas berisi air putih.


Mama Cilla menurut. Dia minum air tersebut, untuk membuatnya lebih tenang dan tidak lagi cemas.


"Kita berdoa saja Ma. Semoga, usaha papa berhasil," kata Elisa pada mama Cilla.

__ADS_1


Bibi pembantu, membereskan suguhan dan minuman yang tadi disediakan untuk para polisi yang datang.


__ADS_2