Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Tiket Ke Jerman


__ADS_3

Pagi ini, suasana villa di Sentul sedikit berbeda. Aji sudah ribut dan tidak sabar untuk membuka kado miliknya, yang diberikan oleh omanya, mami Rossa.


"Pa. Papa..." panggil Aji ke kamar papanya.


"Ah, papa belum bangun ya? Papa!"


Aji kembali berteriak memanggil papanya. Dia juga mulai mengetuk-ngetuk pintu kamar Gilang.


Tok...


Tok...


Tok!


"Papa!"


Teriak Aji sekali lagi. Tapi karena tidak ada sahutan juga , akhirnya Aji membuka pintu kamar Gilang sendiri dan masuk ke dalam kamar.


"Lho, kok kosong," kata Aji bingung, saat mendapati bahwa kamar papanya itu, dalam keadaan kosong. Tidak ada Gilang, yang tadi dipikir Aji, masih tertidur.


"Papa kemana? Kok kamarnya kosong," tanya Aji dalam hati.


Aji keluar dari dalam kamar. Sekarang dia mencari mamanya.


"Mama..."


"Ma. Papa tidak ada dikamar," kata Aji melapor pada mamanya.


"Lho, kemana? Apa ada di teras?"


"Oh iya. Mungkin ada di luar," jawab Aji cepat. Dia berjalan dengan tergesa ke arah luar untuk mencari papanya, Gilang.


Akhirnya, Aji benar-benar menemukan papanya yang sedang berada di teras depan. Gilang, sedang mengawasi dan membantu orang-orang yang sedang membereskan panggung untuk pesta semalam.


"Pa. Papa!" panggil Aji.


"Eh, sudah bangun ya?"


"Sudah. Papa lagi apa?" tanya Aji ingin tahu.


"Ini, bantu-bantu saja. Tadi Papa bangun tidurnya terlalu pagi. Mau ngetik kamar Oma, takut kalian masih tidur semua, jadi papa ke luar saja."


"Ayo Pa, ikut Aji. Mau buka kado dari Oma. Kaya Oma, itu bukan hanya untuk Aji, tapi untuk kita semua," kata Aji memberitahu pada papanya.

__ADS_1


"Oh ya? Apa memangnya?" tanya Gilang penasaran.


"Aji juga belum tahu, kan belum buka Pa," jawab Aji sambil menunggu papanya turun dari atas panggung.


"Ya sudah, yuk!" ajak Gilang, begitu dia turun dan mendekati Aji.


Mereka berdua, berjalan masuk ke dalam rumah, untuk membuka kado besar yang diberikan oleh mami Rossa.


Di dalam kamar mami Rossa, ternyata Cilla dan mami Rossa, sudah duduk menunggu kedatangan mereka berdua.


"Kok lama, dari mana Gilang?" tanya mami Rossa pada Gilang.


"Gilang ada di depan Mi. Lihat pembongkaran panggung. Tapi tidak tahu mau ngapain juga," jawab Gilang, sambil tersenyum canggung.


"Kirain kamu yang mau bongkar," kata mami Rossa mencibir anaknya itu.


"Hahaha... mana bisa Gilang, sendirian gitu? Gak mungkin juga kan?"


"Ayo kita buka rame-rame Ma, Pa. Aji penasaran, Oma kasi kado apa untuk Aji," ajak Aji pada mama dan papanya, agar membantu membuka kado tersebut.


Mereka bertiga, membuka kado dari mami Rossa bersama-sama. Tapi yang jelas, Aji begitu antusias dan semangat, sehingga dialah yang paling banyak berperan membuka kado itu.


"Wah... tiket ke Jerman!"


Aji berseru kegirangan, saat menemukan kotak kecil yang ada di dalam kotak besar tersebut, berisi semua keperluan untuk pergi ke luar negeri.


"Coba lihat Sayang!"


Gilang meminta pada Aji, agar memperlihatkan apa yang ditemukan Aji itu.


Gilang melihat semua yang ada di kotak kecil yang dipegang Aji. Di dalam kotak itu, paket liburan ke Jerman, akan dilaksanakan sebulan kemudian. Itu berarti setelah mereka, Gilang dan Cilla, selesai melakukan pernikahan.


"Buat kita Mi?" tanya Gilang pada mami Rossa.


"Iya. Selain kalian butuh honeymoon, kami, aku dan Aji, juga butuh liburan kan? Dan mami tidak mau memilih Australia seperti biasanya, karena pasti Kamu tidak akan mau seperti biasanya. Dulu Mami tidak tahu alasan Kamu Gilang, tapi sekarang Mami tahu, jadi itu tidak akan terjadi lagi. Makanya Mami pilih Jerman, sekalian Aji kan pengen kesana ya Sayang!"


"Wow... Aji ke Jerman!"


Aji berteriak dan melompat-lompat kegirangan. Dia tidak pernah membayangkan, bisa ke Jerman secepat itu.


"Tapi nunggu sebulan lagi Sayang. Biar mama dan papa menikah dulu. Jadi, tidak ada komentar untuk jadi bahan pembicaraan orang lain," kata mami Rossa mengingatkan Aji.


"Iya Oma. Terima kasih," kata Aji pada mami Rossa. Dia juga memeluk omanya itu, dengan wajah yang cerah dan berseri-seri.

__ADS_1


"Terima kasih ya Mi," kata Cilla, ikut berterima kasih juga.


"Gilang, juga mengucapkan terima kasih Mi. Gilang tidak menyangka, jika persiapan yang Mami lakukan sampai sejauh itu," kata Gilang dengan tersenyum.


"Sama-sama Sayang. Mami juga merasa bahagia, dengan semua rencana ini. Jadi, kemarin sewaktu datang ke EO, yang mengurus wedding kalian, Mami sekalian lihat-lihat paket honeymoon yang ada. Ternyata mereka juga menawarkan ke negara Jerman. Ya sudah, Mami ambil saja, toh itu negara impan Aji."


Aji sekali lagi, memeluk omanya itu. Dia benar-benar merasa senang, karena mendapat kado ulang tahun yang spesial dari omanya, mami Rossa.


"Terima kasih banyak Mi. Cilla tidak tahu harus mengatakan apa lagi," kata Cilla penuh haru.


Mami Rossa mengangguk ke arah Cilla. Dia merasa sangat bahagia, melihat mereka bertiga, tersenyum dan merasa senang dengan hadiah yang dia berikan.


"Sekarang kadonya sudah di buka. Aji mandi dulu yuk!" ajak Cilla pada Aji, anaknya itu.


"Siap Ma!" jawab Aji, dengan semangat yang tinggi.


Mami Rossa dan Gilang, papanya, tertawa-tawa melihat tingkah Aji yang sedang merasa senang.


"Aku juga mau mandi ah... siapa tahu sehabis mandi dapat ciuman selamat pagi," kata Gilang, penuh harap, dengan mengedipkan matanya pada Cilla.


"Ngarep banget!" ejek mami Rossa.


Cilla hanya tersenyum saja mendengar perkataan Gilang yang gak jelas pagi-pagi. Dia menggandeng tangan Aji, untuk keluar dari dalam kamar mami Rossa dan menuju ke arah kamarnya sendiri.


"Sudah sana mandi!" perintah mami Rossa pada Gilang, yang belum juga beranjak dari tempat duduknya. Padahal Cilla da Aji sudah pergi keluar.


"Iya-iya Mi. Sekarang, Aku merasa di anak tirukan ya, setelah ada Aji dan Cilla," kata Gilang merajuk.


"Hah, Kamu ini. Tidak usah merajuk, apalagi yang mau kamu minta? Pernikahan sudah Mami percepat. Tiket honeymoon, sudah ada. Apalagi?" tanya mami Rossa pada anaknya itu.


"Hehehe... tidak ada Mi. Mami itu paling the best pokoknya! Ucapan terima kasih saja dari Gilang, tidak akan cukup Mi."


Gilang memeluk maminya itu dengan penuh kasih dan juga haru. Dia merasa sangat beruntung, memiliki mami Rossa, yang bisa mengerti bagaimana keadaan dan perasaannya. Apalagi, mami Rossa sudah menjadi orang tua tunggal baginya, yang selalu ada dan mendukung semua yang dia lakukan selama ini.


*****


Didalam kamar Cilla.


Aji yang sudah selesai mandi bertanya pada mamanya, "Ma. Aji juga mau sekolah di sana, boleh?"


"Di Jerman maksudnya?" tanya Cilla ingin tahu, apa yang dikatakan oleh anaknya itu.


"Iya," jawab Aji pendek.

__ADS_1


"Boleh saja Sayang. Tapi nanti ya, kamu kan belum sekolah dasar dulu di disini. Atau nanti kita tanya papa ya!"


Cilla mengelus rambut Aji, menenangkan hati anaknya itu, yang mempunyai keinginan untuk bersekolah di Jerman sedari dulu.


__ADS_2