Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Menikahlah Denganku


__ADS_3

Aji membuka pintu kamarnya, saat dipanggil adiknya, Vero. "Kak. Kakak, ayok turun. Ada kak El tuh di bawah."


Tapi, Aji tidak langsung turun, tapi justru bertanya pada Vero terlebih dahulu. "Memang kenapa kalau ada dia?"


"Ihsss, Kakak ini. Kak El itu, pacarnya Kakak. Kalau gak percaya, lihat coba CCTV rumah beberapa hari sebelum Kakak masuk rumah sakit." Vero, memberikan penjelasan pada Aji, dan memberikan usulan juga agar Aji, bisa melihat CCTV rumah yang terpasang di beberapa tempat.


Aji, tidak mengatakan apapun. Justru, dia sudah melihat semuanya yang ada di tangkapan layar CCTV rumah, samar-samar dia bisa mengingat tentang Elisa dan beberapa kejadian yang terjadi antara dirinya dan Elisa kemarin-kemarin itu.


Melihat sikap kakaknya yang hanya diam, Vero menjadi curiga jika sebenarnya, Aji sudah ingat. Tapi, Vero tidak langsung menyatakannya. Dia hanya berdehem dengan tersenyum miring.


Aji, menatap adiknya itu dengan tatapan menyelidik. Dia tahu, adiknya yang banyak bicara ini, justru sering berpikir kritis. "Apa yang sedang Kamu pikirkan?" tanya Aji, dengan tatapan matanya yang tajam.


"Hehehe... gak ada. Vero cuma berpikir, jika Kakak pasti sudah ingat tentang kak El. Orangnya lucu, Vero saja suka," jawab Vero dengan cengengesan.


Aji tidak menangapi jawaban yang diberikan oleh Vero. Dia justru semakin mengintimidasi Vero dengan tatapan matanya.


"Bukan. Bukan suka kayak cinta gitu tapi suka saja kalau ada kak El di rumah, hehehe... peace kak," kata Vero, dengan nyengir kuda. Dia merasa salah bicara, makanya kakaknya Aji, justru salah paham dengan jawabannya.


Tanpa bicara lagi, Aji keluar dari kamar terlebih dahulu. Vero, mengaruk-garuk keningnya yang tidak gatal. Dia menjadi bingung dengan sikap kakaknya yang semakin dingin itu.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua, Aji dan Vero, sudah ikut bergabung di ruang tamu. Mereka berdua duduk di sofa yang kosong.


"Nah, ini Aji sudah datang," kata mama Cilla, dengan tersenyum kearah anaknya, Aji.


Elisa, hanya tersenyum tipis melihat ke arah Aji yang sekarang duduk tidak jauh dari tempatnya duduk. Dia jadi serba salah, karena Aji tidak menegurnya sama sekali.


"Kak El, apa kabar?" tanya Vero dengan santainya.


"Kak El baik Ver. Kamu sendiri gimana sekolahnya?" jawab Elisa, dengan pertanyaan juga pada Vero.


"Biasa Kak, tetap juara dong..." jawab Vero menyombongkan dirinya.


"Juara tidurnya," sahut Biyan cepat, sambil mencibir kembarannya sendiri.

__ADS_1


"Enak saja!" Vero tidak mau kalah, dengan menyahut cepat perkataan dari Biyan.


"Hehehe... Iya-iya. Kalian memang juara kok, juara di hatiku," kata Elisa menengahi.


"Ye... asyik-asyik!" teriak Vero kegirangan, sedangkan Biyan hanya tersenyum mencibir kelakuan kembarannya sendiri.


"Sudah-sudah. Kita tunggu papa dan om Dimas ya. Mereka berdua sedang dalam perjalanan," kata mama Cilla, melerai mereka berdua.


"Memang papa ke mana Ma?" tanya Jeny, yang sedari tadi hanya diam saja.


"Ada urusan sebentar."


"Kok sama om Dimas?" tanya Jeny lagi, merasa heran.


"Hemmm..."


Mama Cilla, tidak melanjutkan kata-katanya lagi karena dari arah pintu masuk, papa Gilang dan dokter Dimas datang.


"Iya nih, papa mertua sih, ngajak lewat jalan pintas. Eh, justru malah kena macet orang lagi arak-arakan gawe. Ah, jadi pengen cepat-cepat nih," sahut dokter Dimas, dengan melirik ke arah Jeny yang langsung menunduk karena merasa malu.


Dokter Dimas, mengatakan bahwa acara lamarannya hanya formalitas nanti, saat sebelum akad nikah di laksanakan. Jadi, waktunya hari yang sama. Karena waktunya yang tertunda kemarin-kemarin.


Semua ini, usulan dari papa Gilang. Dia tidak ingin menunda lebih lama lagi, karena anak gadisnya juga sudah setuju dan siap. Begitu juga dengan dokter Dimas, yang tentunya sudah sangat siap.


Tuan Adi, selaku pihak keluarga dari dokter Dimas, hanya mengikuti saja. Tadi dia sudah menelpon papa Gilang, saat dalam perjalanan pulang. Tuan Adi, belum bisa pulang, karena masih mengurusi urusannya yang ada di Malaysia.


"Baik. Urusan Jeny dan dokter Dimas sudah mendapatkan kesepakatan, baik hari maupun segala sesuatunya. Sekarang kita berganti membahas masalah Elisa."


Papa Gilang, melihat ke arah Elisa, yang sedari tadi hanya diam saja, tanpa ikut campur dalam urusan keluarga temannya Jeny. Meskipun, yang di bahas tadi adalah acara untuk Jeny sendiri.


Begitu juga dengan Rio. Dia hanya diam dan sesekali sibuk dengan handphonenya sendiri, atau hanya mendengarkan orang-orang yang sedang berbicara.


"El kenapa Om?" tanya Elisa bingung.

__ADS_1


Tentu saja Elida merasa bingung. Dia di minta untuk datang ke rumah ini, tanpa diberitahu apa kepentingan dan keperluan yang menyangkut kepentingan dirinya.


Elisa, melirik ke arah Rio. Tapi, Rio yang mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu apa-apa.


"Kamu mau jika kami nikahkan dengan Aji?" tanya papa Gilang pada Elisa. "Jika mau dan setuju, kami akan segera ke rumah Kamu di kampung, untuk menemui orang tuan Kamu secara resmi," lanjut papa Gilang, menjelaskan pada Elisa.


Elisa, yang tidak pernah menyangka jika akan mendapatkan pertanyaan seperti ini, jadi bingung dan tidak bisa menjawab dengan cepat. Dia melirik ke arah Aji, yang sedang melihat kearahnya. Ini membuat Elisa langsung menundukkan wajahnya. Dia merasa malu, karena tatapan mata Aji, seperti memberinya perintah untuk menjawab, iya.


"El. Tante sangat senang, jika Kamu menyetujui permintaan kami ini." Mama Cilla, ikut mendesak Elisa agar memberikan jawabannya sekarang juga.


"Rio. Kok Aku jadi merasa kayak terdakwa ya," bisik Elisa pada Rio.


"Halah, ini kan yang Kamu mau. Jawab saja iya. Beres sudah," jawab Rio, sambil berbisik juga.


"El. Mau ya, please." Jeny, ikut-ikutan mendesak Elisa.


"Maaf Om, Tante. Elisa tidak mengerti, kenapa tiba-tiba Om dan Tante menyatakan semua ini? Jujur, El seneng, tapi El bingung, ada apa?"


Akhirnya, Elisa bertanya kepada papa Gilang dan mama Cilla, tentang alasan permintaannya untuk menjadikan Elisa sebagai istrinya Aji.


"El. Kamu..."


"Ma," tegur papa Gilang, dengan mengeleng saat mama Cilla mau mengatakan alasannya.


Elisa, bingung dengan situasi ini. Jeny, mengeryit bingung juga karena tidak tahu apa sebenarnya alasan mamanya itu, ngotot meminta Elisa agar segera menikah dengan kakaknya, Aji.


Biyan dan Vero, juga bertanya-tanya dalam hati. Tapi mereka berdua, tidak berani bertanya pada mamanya, apalagi pada papanya itu.


"Karena Aku ingin menikah denganmu. Apa harus ada alasan lain untuk memintamu menjadi istriku?"


Tiba-tiba Aji berdiri, kemudian mendekat ke tempat duduknya Elisa. Dia menatap ke arah Elisa dengan intens. "Will you marry me?"


Rio, yang ada di samping Elisa, jadi merasa serba salah. Dia berdiri dan menyingkir dari tempat duduknya. Mencari tempat duduk yang lainnya, sekiranya tidak menganggu proses lamaran Elisa yang mendakak itu. Tanpa rencana, dan juga sepengetahuan dari Elisa sendiri.

__ADS_1


__ADS_2