Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Keberuntungan Gilang


__ADS_3

Acara lamaran sederhana Gilang, untuk Cilla, sudah selesai. Acara makan-makan bersama, juga sudah selesai.


Bibi dan teman-temannya, sedang sibuk berberes di dapur. Mereka juga akan pulang ke rumah utama besok pagi. Mungkin hanya ada dua bibi yang akan tinggal di villa ini, menemani majikannya yang sedang berlibur.


Dokter Dimas dan abangnya, tuan Adi, sedang mengobrol di ruang tamu bersama dengan mami Rossa.


"Mi. Mbak Cilla itu kak dulu karyawan mami, di toko Mall yang Dimas magang kan?" tanya dokter Dimas pada mami Rossa.


"Iya Dim. Kamu kenal ya?"


Mami Rossa, menjawab pertanyaan dari dokter Dimas, sekaligus bertanya juga. Dia merasa jika dokter Dimas pasti mengenal Cilla, karena dulu memang mereka kerja di Mall yang sama.


"Iya Mi. Dulu sewaktu dia hamil, dan belum tahu jika hamil, Dimas yang kasih tahu. Dia pingsan pagi-pagi saat toko baru saja buka. Dimas saja baru datang waktu itu."


Dimas menceritakan tentang kejadian waktu itu pada mami Rossa.


"Iya Dim. Mami juga tidak menyangka, jika ternyata Cilla itu adalah gadis yang sudah mengandung cucu Mami, anaknya Gilang. Bahkan, Abang kamu ini, juga kenal lama dengan Cilla. Tapi, ya begitulah. Jalan takdir belum membuka jalannya untuk kami bertemu. Dan justru Gilang sendiri yang menemukan mereka, setelah sekian lamanya. Itu pun di toko Mami yang ada di Mall juga."


Mami Rossa ikut bercerita juga tentang bagaimana Gilang bisa menemukan Cilla dan Aji saat itu. Bahkan dengan berbagai cara dan rintangan yang mereka lalui selama ini.


"Wah, ternyata begitu susahnya ya mereka bisa bersatu seperti sekarang ini. Padahal dulu, Dimas berencana untuk menikahi mbak Cilla lho Mi. Sayangnya, Abang melarang dan malah membawa Aku keluar negeri dulu!"


Dimas juga mengatakan niatnya untuk menikahi Cilla, yang sudah terlanjur hamil, tanpa tahu, siapa yang menghamilinya.


"Oh ya? Duh, tapi syukurlah. Karena itu tidak terjadi."


"Hehehe... Berarti, Cilla memang berjodoh dengan Aku kan Mi?"


Gilang datang dengan membawa secangkir teh hangat untuk dirinya sendiri.


Dari arah belakang, Cilla datang membawa nampan berisi teh hangat, untuk mereka semua.


"Huh, untung saja Mas. Aku belum sempat bilang itu pada Mbak Cilla. Hehehe..."

__ADS_1


Dokter Dimas terkekeh, mengingat keinginannya yang dulu.


Cilla tersenyum mendengar obrolan mereka semua. Meskipun dia tidak tahu, apa yang mereka obrolkan sedari awal.


"Terima kasih Cilla."


Tuan Adi mengucapkan terima kasih, saat Cilla meletakkan cangkir teh di meja, yang tepat di hadapannya.


Cilla hanya mengangguk dan tersenyum pada tuan Adi, kemudian meletakkan cangkir teh yang lainnya di depan dokter Dimas.


"Silahkan dokter Dimas," kata Cilla menawarkan pada dokter Dimas.


"Terima kasih mbak Cilla."


Dokter Dimas pun mengucapkan terima kasih dan tersenyum pada Cilla.


"Sudah. Tidak usah senyum-senyum gitu. Cilla, tidak akan meleleh dengan senyuman Kamu itu Dimas!"


"Hehehe... Dasar kamu. Baru juga diterima lamarannya sama Cilla, kok sudah sok gitu," kata mami Rossa mengingatkan Gilang.


"Tau tuh! Pede bener dia," kata tuan Adi menimpali perkataan mami Rossa.


"Itu karena memang aku yang beruntung," kata Gilang menanggapi semua omongan mami Rossa, Dimas dan juga tuan Adi.


Cilla hanya tersenyum, melihat mereka semua yang sedang bergurau. Dia ingin berlalu, karena dia tidak mau dijadikan bahan ledekan untuk Gilang. Tapi justru Gilang yang menahannya dengan menarik tangan kirinya, agar duduk terlebih dahulu.


"Duduk sini dulu! Aji juga sudah tidur kan," kata Gilang dengan menunjuk tempat duduk yang ada di sebelahnya, dekat juga dengan mami Rossa.


Akhirnya, mereka semua berbincang-bincang tentang segala hal yang ringan, dengan berbagai macam perasaan yang mereka rasakan saat ini.


Cilla yang berusaha untuk bisa bersikap biasa saat bersama dengan yang lainnya. Gilang dengan perasaannya yang sedang berbahagia, karena berhasil membuat Cilla menerima lamarannya. Mami Rossa yang merasa lega, bisa merasakan kebahagiaan yang besar ini. Dokter Dimas yang merasa senang, karena Cilla sudah bisa bertemu dengan orang yang membuatnya hamil waktu itu, dan tuan Adi yang ikut merasa senang karena akhirnya, sahabatnya itu, Gilang, akan segera menikah nanti.


*****

__ADS_1


Aji yang sedang tidur di kamar, terbangun saat mendengar suara-suara yang terdengar dari arah ruang tamu. Tapi dia tidak mau mencari mamanya. Dia hanya ingin minum.


Setelah meminum air putih yang ada di meja, Aji ingin kembali tidur, tapi ternyata, matanya tidak bisa terpejam juga.


Aji kembali bangun. Dia turun dari tempat tidur dan berjalan mencari tas milik mamanya. Dia mengeluarkan handphone miliknya dan membukanya, untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa dia baca.


Dari berbagai berita yang dia temukan, sepertinya tidak ada satupun yang menarik perhatian dari Aji.


Akhirnya, Aji kembali membuka akunya, yang biasa digunakan untuk pencarian informasi tentang berbagai hal, seperti tentang Sekar Mayangsari, kemarin itu.


Dia mulai mencari-cari sosok Eko Julianto, yang masih belum ditemukan sampai saat ini. Pihak intelijen negara Amerika Serikat, juga belum mendapatkan petunjuk tentang siapa Eko Julianto yang ada dibalik semua kasus Sekar Mayangsari.


Dari berbagai nama Eko, tidak ada yang mukanya sama, seperti yang ada di dalam informasi yang dikumpulkan oleh FBI.


"Apa dia menyamar ya? Biasanya, orang seperti Eko banyak sekali akalnya. Bisa jadi dia juga menggunakan identitas lain."


Aji, memikirkan apa yang mungkin saja dilakukan oleh Eko Julianto. Dia merasa jika Eko itu sosok mafia yang bisa memiliki banyak identitas, jadi sulit untuk dilacak. Seperti yang ada di film-film James Bond, kesukaannya.


"Mungkin itu benar. Bisa jadi, film-film itu menjadi inspirasi Eko untuk menyamar," kata Aji pada dirinya sendiri.


Akhirnya, Aji mencoba mencari tahu siapa yang dekat, dan sering berkomunikasi lewat komentar-komentar pada akun Siemoy.


Dari penelusuran terkait akun Siemoy, Aji menemukan tiga akun, yang sering mengomentari status Siemoy. Dan sepertinya, komentar itu kadang kala adalah, kode rahasia yang hanya mereka berdua saja yang tahu.


"Apa itu benar sie Eko Julianto?"


"Apa dia juga memakai akun yang berbeda-beda, agar tidak mudah terlacak?"


Aji memiliki banyak alasan untuk tebakannya itu, sebab itu juga dia lakukan saat ini, agar keberadaan dan identitas dirinya yang sebenarnya tidak diketahui oleh publik dan juga orang-orang yang mencari keberadaan dirinya.


"Aku bisa menyelidiki tiga akun itu nanti. Sepertinya, aku harus segera kembali tidur, sebelum mama masuk ke dalam kamar, dan menemukan diriku yang masih saja bermain-main dengan handphone ini."


Aji segara menonaktifkan semua akun miliknya, dan juga mematikan handphone miliknya. Mengembalikan kembali handphone tersebut kedalam tas milik mamanya, kemudian pergi ketempat tidur lagi.

__ADS_1


__ADS_2