Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Obat Paling Manjur


__ADS_3

Beberapa minggu ini, Aji benar-benar disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang harus diselesaikan untuk waktu yang singkat. Selain beberapa laporan untuk kantor GAS, dia juga harus mulai menyiapkan beberapa bahan, untuk keperluan audit. Dia akan menerima pekerjaan yang diberikan ayahnya yang ada di India sana, untuk mengerjakan audit yang akan dia lakukan, pada beberapa pabrik garmen, yang ada di daerah Tangerang. Pabrik-pabrik itu, yang bekerjasama dengan perusahaan milik tuan besar Sangkoer Singh. Jadi dia harus mulai menyiapkannya dari sekarang.


Dengan kesibukan yang padat seperti ini, Aji menjadi benar-benar lupa waktu. Dia sering lupa untuk makan, jika tidak diingatkan oleh Elisa. Begitu juga waktunya bersama dengan Elisa, istrinya, jadi ikut berkurang juga. Apalagi, Elisa juga sedang sibuk mempersiapkan skripsi, untuk kelulusan yang akan dia dapatkan tahun ini.


"Kak. Kakak!" panggil Elisa, karena tidak melihat keberadaan suaminya, saat dia baru saja pulang dari kampus.


"Tumben sepi. Biasanya, ada bunyi pintu lift terbuka saja, dia langsung ada di depan pintu untuk menyambut kedatanganku. Apa dia ada di kantor ya?"


Akhirnya, Elisa berjalan menuju ke ruangan kantor milik Aji, yang ada di sebelah kamar mereka. Dia mengetuk pintu, tapi tetap tidak ada sahutan.


Tok tok tok!


"Kak. Kak Aji," panggil Elisa karena penasaran, tidak ada suara dari dalam ruangan.


Clek!


Tapi ruangan itu terlihat kosong, dan tidak ada tanda-tanda jika ada Aji di dalamnya. Elisa, kembali keluar ruangan tersebut dan mencoba mencarinya ke dalam kamar.


"Kak. Kak Aji!"


Elisa kembali memanggil-manggil suaminya, yang tidak terlihat sedari tadi. Dan ternyata, Aji ada di kamar. Dia sedang tidur, dan wajahnya, terlihat sangat lelah.


"Kak Aji. Kamu kerja keras sekali akhir-akhir ini. Kamu tidak memperhatikan kondisi tubuh kamu sendiri," kata Elisa, sambil mendekat ke tempat tidur, dimana suaminya sedang terlelap dalam tidurnya.


Tangan Elisa, terulur untuk menyentuh rambut Aji. Tapi saat melewati kening, suhu tubuh Aji yang terasa panas, dirasakan oleh Elisa.


"Kakak," seru Elisa kaget. Dia tidak jadi menyentuh rambut suaminya itu, tapi beralih ke kening yang terasa panas.


"Kakak demam ya?" tanya Elisa pada Aji, tapi suaminya itu, tetap terdiam karena memang masih dalam keadaan tertidur.


Akhirnya, Elisa keluar dari dalam kamar. Dia menyiapkan makanan dan obat-obatan, untuk meredakan panas tubuh suaminya, Aji.


Setelah selesai, Elisa membawanya ke dalam kamar. Dia meletakkan nampan yang dia bawa di atas meja, kemudian berusaha untuk membangunkan Aji yang masih terlelap.


"Kakak. Bangun yuk, makan dulu. Setelah itu minum obat ya, biar tidak panas kayak gini badannya," kata Elisa, sambil memijit lengan suaminya, agar cepat terbangun.


"Eh, Sayang. Kamu sudah pulang ya? maaf, Kakak malah ketiduran ini, padahal tadi cuma ingin tidur sebentar saja. Kakak merasa agak pusing."


Elisa tersenyum. Dia mengangguk dan mengambil nampan yang tadi dia bawa.


"Kakak makan dulu ya, setelah itu minum obat," kata Elisa, sambil menyuapi suaminya itu.

__ADS_1


"Kakak tidak sakit Sayang. Ini sudah tidak pusing lagi kok," elak Aji, agar Elisa tidak merasa khawatir dengan keadaannya.


"Iya, gak apa-apa. Ini obat untuk meredakan panas kok. Coba rasa kening Kakak sendiri, panas lho!" Elisa, meminta Aji agar mengikuti apa yang dia katakan.


Aji, tidak menurut. Dia tidak melakukan apa yang dikatakan oleh istrinya. Dia hanya menurut saat Elisa menyuapi dirinya.


"Kamu kan baru datang Sayang, pasti juga capek. Ini tadi, kamu masak dulu ya?" tanya Aji penasaran.


"Hehehe... iya. Seadanya ya Kak. Elisa kan baru belajar masak jadi kalau tidak enak, bilang saja kalau enak. Pfftt!"


Elisa meringis, mengatakan jika makanan yang sekarang dimakan oleh Aji, adalah hasil masakannya sendiri. Tapi, dia juga memaksa Aji, agar tetap mengatakan enak, meskipun sebenarnya makanan itu tidak enak.


"Enyak kok, enyak!" sahut Aji cepat, dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Elisa tersenyum. Dia merasa bangga, karena pada akhirnya bisa memasak dan suaminya itu, mau makan juga dengan hasil masakannya.


"Sudah-sudah. Cukup Sayang, kenyang." Aji menggeleng cepat, saat Elisa bermaksud untuk menyuapinya lagi.


"Benar sudah?" tanya Elisa memastikan.


Aji, hanya mengangguk dan meminta obat yang sudah di bawakan oleh Elisa tadi. "Obatnya mana tadi?"


Aji hanya mengangguk, kemudian kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia ingin tidur lagi, meskipun hanya sebentar saja.


Elisa sudah berada di dapur. Dia membersikan piring dan gelas yang kotor. Setelah itu, dia yang mau kembali ke dalam kamar, merasa penasaran,saat melihat tempat makanan yang tadi dia masak untuk Aji, ada di meja makan.


Karena rasa ingin tahunya tentang rasa makanan yang tadi dibilang Aji, enak, dia mencicipi sedikit makanan tadi.


"Huek! Weh... apa ini?"


Elisa terkejut dengan rasa makanan yang dia masak sendiri. Tidak ada rasa yang pas, karena hanya terasa asin yang amat sangat.


"Huwaaa... Kakak. Maaf!"


Elisa berlari ke dalam kamar. Dia ingin meminta maaf pada suaminya, karena tidak bisa membuatkan makanan yang enak. Padahal suaminya itu, sekarang sedang dalam keadaan sakit.


"Hiks hiks hiks... Kakak. Kakak saja kalau masak selalu enak, kenapa Aku tidak bisa masak," kata Elisa, dengan berlari ke arah kamar.


"Ada apa Sayang?" tanya Aji penasaran, dengan isakan Elisa, yang masih terdengar saat masuk ke dalam kamar.


"Huhuhu... makanan tadi, hiks!"

__ADS_1


Aji, menutup mulutnya dengan tangan kanan, karena sadar jika Elisa sudah tahu, bagaimana rasanya makanan yang dia masak tadi.


"Sini-sini," panggil Aji pada istrinya yang sedang bersedih hati, karena merasa gagal saat ingin menyajikan makanan untuk dirinya.


Elisa mendekat ke tempat tidur. Dia duduk di tepi ranjang, dengan wajah yang masih terlihat sedih.


"Kamu tidak usah merasa sedih. Kakak senang kok dengan usaha Kamu ini. Baru pulang dan mau capek-capek memasak makanan untuk Kakak. Menyediakan obat juga, pokoknya Kakak berterima kasih."


Aji, meraih tangan Elisa dan menggenggamnya erat, kemudian meminta Elisa untuk lebih mendekat lagi. "Sini, lebih dekat sini lho!"


Elisa menurut. Dia mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan suaminya, yang ingin berisik padanya.


"Kamu mau tahu tidak, obat yang paling manjur saat seperti sekarang ini?" tanya Aji, ditelinga Elisa.


"Obat yang mujarab?" tanya Elisa meyakinkan pemikirannya, dengan perkataan dari suaminya itu.


Aji, hanya mengangguk sambil tersenyum-senyum. Elisa, menjadi curiga, dengan apa yang dimaksud oleh suaminya itu.


"Apa?" tanya Elisa cepat.


"Sini!"


Aji menarik tangan Elisa, sehingga dia ikut tertarik dan menindih tubuh suaminya itu.


Cup!


Elisa, terbelalak melihat tingkah suaminya yang sedang sakit, dan suhu tubuhnya juga panas tadi.


"Kakak!" seru Elisa sambil mengerutkan keningnya bingung.


"Apa?" tanya Aji enteng.


"Kok obatnya..."


"Itu belum manjur. Kalau mau yang lebih manjur, ayo kita teruskan lagi!"


Elisa tidak bisa melawan lagi, karena sekarang, dia sudah berganti posisi, dengan suaminya yang berhasil menggulingkan tubuhnya, sehingga dia terbaring dan tidak lagi bisa bergerak dalam kungkungan tangan Aji, yang sudah menguasai dirinya.


"Percaya deh. Ini akan sangat manjur, dibanding dengan obat yang tadi Kamu kasih ke Kakak."


Aji tersenyum miring, melihat Elisa yang tidak bisa melawan lagi.

__ADS_1


__ADS_2