
Cilla beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil kacamata milik Aji yang ada di kamar sebelah. Dia ingat jika tadi menaruh kacamata tersebut di meja samping ranjang tidur.
"Kamu kenapa diam saja sedari kemarin dan gak cerita sama Mami Gilang?" tanya mami Rossa menyalahkan Gilang.
"Berarti kamu jarang pulang itu ke rumah sakit, menunggu Aji? Mami pikir kamu tidur di apartemen ini atau di Senayan!" kata mami Rossa lagi.
"Aku gak berani bilang terlebih dahulu sama Mami. Aku belum ada buktinya. Aku tes DNA kemarin itu juga Cilla gak tahu kok. Balik dari rumah sakit aku baru bilang jika kemarin itu aku sekalian tes DNA. Bukannya Gilang meragukan kebenaran yang ada, Gilang cuma memperkuatnya dengan hasil tes jika ingin mengajaknya masuk dalam lingkungan keluarga kita kan Mi?"
Mami Rossa menganggukkan kepalanya mengerti maksud dari perkataan dan penjelasan yang diberikan oleh anaknya, Gilang.
Mami Rossa belum sempat mengatakan apa yang dia pikirkan, Cilla keburu keluar dari kamar dengan membawa kacamata milik Aji.
"Biar Mami saja Cilla!" Mami Rossa mencegah Cilla yang sedang berjalan menuju ke arah kamar, tempat Aji berada.
"Tapi Mi..."Kata-kata Cilla mengambang karena di potong oleh mami Rossa.
"Sudah sini! Aji juga gak nangis kok sama Mami."
Mami Rossa beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekat ke tempat Cilla berada. Dia meminta kacamata milik Aji, yang dipegang oleh Cilla.
"Sini!" pinta mami Rossa mengulurkan tangannya di depan Cilla.
Cilla dengan gerakan ragu, memberikan kacamata tersebut pada mami Rossa. Setelahnya, mami Rossa segera berlalu dari hadapannya menuju ke arah kamar, dimana Aji masih menunggu sedari tadi. Aji juga masih dalam posisi terbaring seperti saat baru bangun tidur.
"Sayang, Aji. Ini kacamatanya!"
Aji berusaha untuk bangun dari posisi tidur. Mami Rossa segera membantunya untuk duduk dan memakai kacamata yang masih dia pegang sedari tadi.
"Mama mana...?" Aji bertanya tapi dia tidak tahu harus menyapa seperti apa pada orang yang ada dihadapannya sekarang ini.
__ADS_1
"Oma. Panggil Oma ya sayang!" kata mami Rossa dengan cepat dan tetap tersenyum pada Aji yang terlihat masih bingung.
"Mama..." Aji masih mencari-cari mamanya. Dia takut jika ada apa-apa dengan mamanya, seperti biasanya ada yang ingin berbuat jahat.
"Aji mau ketemu mama?" tanya mami Rossa sambil mengelus rambut Aji dengan lembut.
Aji menganguk dengan wajah cemas karena takut jika ada seseorang yang sudah berbuat jahat pada mamanya.
"Yuk!" ajak mami Rossa sambil merentangkan kedua tangannya agar Aji mau digendong olehnya.
Aji menurut. Dia juga sudah mulai bisa memahami siapa sebenarnya mami Rossa untuk Gilang, papanya.
Akhirnya, mami Rossa dan Aji keluar dari kamar untuk menemui dua orang yang sedang diam-diam saja sedari tadi di tempat duduknya.
"Lihat tuh! Mama sama Papa kok pada diem-diem gitu apa coba ya?" Mami Rossa mengerutu sendiri dengan Aji. Meskipun dia sendiri tidak tahu, apakah Aji mengerti maksud perkataannya itu atau tidak.
"Eh, Aji. Sini-sini, kok malah minta gendong?" Cilla segera berdiri dan menyambut uluran tangan Aji yang ada di dalam gendongan mami Rossa.
"Aku yang mau gendong sendiri, bukan Aji yang minta," jawab mami Rossa pada Cilla. Sedangkan Aji hanya diam saja saat berpindah dari gendongan mami Rossa pada Cilla.
"Maaf Mi. Aji itu sebenarnya tidak terbiasa manja. Takutnya nanti malah keterusan," kata Cilla beralasan.
"Ya gak apa-apa. Anak segitu masih wajar Cilla. Lagi pula Aji tidak pernah mendapatkan kesempatan manja sama Mami sedari dulu, ya kan Aji? Tuh salahkan Papa kamu!"
Mami Rossa membela diri atas perlakuannya pada Aji, cucunya itu. Dia juga menunjuk dengan wajah pada anaknya sendiri, Gilang, untuk disalahkan.
Gilang mendongak dan mengerutkan keningnya bingung dengan perkataan mami Rossa, mamanya sendiri. "Kok Gilang yang salah? Kan Cilla tidak bicara dan bilang Mi!" Gilang mengelak dan membenarkan dirinya sendiri juga.
"Sudah-sudah. Kenapa malah salah-salahan? Semua yang terjadi pada waktu itu dan kemarin-kemarin, jadikanlah pelajaran dalam melanjutkan langkah ke depan. Mami tidak mau jika ada sesuatu yang terjadi pada cucu Mami!"
__ADS_1
Gilang, Cilla dan Aji diam saja saat mami Rossa berkata dengan penuh wibawa. Dia memang sudah terbiasa menghadapi situasi yang sulit. Menghadapi para karyawannya, teman-temannya yang dari berbagai kalangan dan tentunya saat berbisnis juga. Mami Rossa tentu bisa menempatkan diri. Meskipun dia juga tidak mau jika ada seseorang yang melampaui batas sehingga bisa jadi dia akan marah karena emosi.
"Besok kita jalan-jalan. Kasihan mereka kamu kurung dalam apartemen ini Gilang! Masa iya kamu tega membiarkan mereka berdua ada di disini terus?" Mami Rossa berkata pada anaknya, Gilang Aji Saka.
"Mi, ini untuk keselamatan mereka berdua. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada Aji dan juga Cilla." Gilang mengatakan maksud dan tujuannya membawa mereka ke apartemen miliknya ini.
"Maksudnya?" tanya mami Rossa cepat. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh anaknya itu.
"Nanti Mami juga paham. Biarkan mereka berdua ada disini dulu. Dua hari lagi ada pemeriksaan ulang untuk mata Aji. Aku akan menjemput dan mengantar mereka ke rumah sakit."
Gilang menerangkan pada maminya. Tapi dia tidak mengatakan apa tujuan dia sebenarnya. Aji diam saja saat keduanya berbicara. Dia hanya memandang dari papanya, Gilang ke arah mami Rossa secara bergantian saat keduanya saling bicara. Cilla juga diam dan tidak menyahut dari semua omongan kedua orang yang ada didepannya ini. Dua orang yang sebenarnya tidak pernah dia impikan untuk bisa bertemu dan saling mengenal serta mengetahui hubungan antara dirinya dan juga anaknya, Aji.
"Ya sudah kalau begitu. Kita pulang dulu. Biarkan mereka berdua istirahat. Kalau kamu masih di sini, Mami tidak yakin jika Cilla bisa tenang dan nyaman juga!"
Perkataan mami Rossa membuat Cilla menunduk dan juga malu. Wajahnya bersemu merah saat ini. Sebaliknya, Gilang justru tersenyum penuh arti mendengar perkataan maminya itu.
"Apa kamu kok senyum-senyum sendiri? Memang kamu yakin Cilla mau sama kamu?" tanya mami Rossa menggoda anaknya yang bertingkah seperti remaja lagi.
"Ah, Mami apa sih!" Elak Gilang pura-pura tidak tahu apa maksud perkataan maminya itu.
"Ya sudah Cilla. Mami pulang ya! Besok sewaktu Aji ada jadwal untuk ke rumah sakit, Mami pasti akan usahakan untuk bisa ikut. Mami tidak akan biarkan anak Mami ini keluyuran malam lagi setelah ini."
Gilang melihat ke arah Mami Rossa dengan mata menyipit. Dia tidak habis pikir dengan apa yang maminya katakan. Setelahnya, Gilang mengelengkan kepalanya berkali-kali dan berdecak kesal.
"Cek, Mami!"
Cilla menyembunyikan senyumannya dengan cara mengigit bibirnya sendiri agar tidak terlihat oleh siapa-siapa. Tapi itu bisa Gilang ketahui dari ekor matanya.
Akhirnya, mami Rossa mengajak Gilang untuk pulang. Gilang pun menurut saja dengan ajakan maminya itu. Tapi saat berpamitan dengan Cilla, Gilang berkata sambil berbisik pelan, "Awas. Jangan coba-coba merindukanku sejak hari ini!"
__ADS_1