
Seminggu ini, Elisa benar-benar tidak bisa dihubungi. Baik Rio maupun Jeny, tidak ada yang tahu kabarnya. Padahal kemarin malam itu, Jeny, sudah berpesan pada Elisa, untuk jadi pendampingnya, saat acara lamarannya dengan Dokter Dimas, minggu ini.
"Kemana sih kamu El?" guman Jeny, bertanya-tanya dalam hati.
Dia jadi terlihat sedih dan tidak bersemangat, baik ke kampus maupun saat di rumah.
"Kamu kenapa Jen, sakit?" tanya mama Cilla, yang melihat akhir-akhir ini, anaknya itu, sering melamun sendiri.
"Nervous kali Ma, kan bentar lagi mau acara lamaran. Pasti dokter Dimas juga minta acara nikahannya gak lama lagi. Ahaiii... yang mau jadi istri dokter!" goda Vero, dengan suara lantang saat mamanya menegur kakaknya, Jeny.
"Ver..." tegur mama Cilla, agar Vero tidak menambah pikiran kakaknya itu.
"Hehehe, peace Ma," kata Vero, dengan nyengir kuda.
"Ada apa Sayang? Kamu belum siap, atau ada masalah lain?" tanya mama Cilla, dengan wajah cemas, karena merasa takut jika anak gadisnya ini merasa tertekan.
"Elisa Ma. Dia menghilang, sejak pergi dari rumah ini," jawab Jeny, dengan wajah sendu.
"Menghilang bagaimana?" tanya mama Cilla bingung.
"Iya gak ada. Dia gak ada di kost, gak ada di kampus juga. Gak tahu kemana."
"Udah cek ke kostnya? yang punya kost, ada pesan mungkin dari Elisa?" tanya mama Cilla lagi, mencoba memberikan beberapa pandangan pada anaknya itu.
"Udah Jeny cari bareng Rio ke kost, tapi kata yang jaga kost, dia itu emang udah pamit keluar dua minggu yang lalu. Itu artinya, waktu dia pindah ke rumah ini kan? dan dia memang benar-benar tidak kembali ke kost itu lagi. Di kampus juga tidak ada. Tanya sama teman-teman yang lain, tidak ada yang tahu, bahkan jawaban mereka malah membuat kita jadi semakin cemas."
Mama Cilla, semakin bingung dengan jawaban yang diberikan oleh anaknya, Jeny. Dia merasa ada satu masalah yang sedang terjadi, mungkik sedikit privasi, pada Elisa, dan dia tidak ingin di ketahui oleh orang lain.
"Apa dia pernah mengeluhkan sesuatu? mungkin hubungannya dengan pacar, teman, atau keluarga?" tanya mama Cilla, dengan cara mengingatkan Jeny, tentang apa yang dikeluhkan Elisa akhir-akhir ini.
"Gak ada Ma. Elisa itu bukan orang yang suka mengeluh secara serius. Mama tahu sendiri, bagaimana tingkah dia. Mana ada terlihat sedih, atau semacamnya. Rio, yang kenal lebih lama dari Jeny, tidak pernah mendengar curhatan Elisa tentang masalah apapun. Kalau pun ada, dia tidak pernah memperlihatkan kepada kita-kita juga. Susah juga mengorek cerita dari Elisa, terkait masalah pribadinya."
"Kalau begitu, dia memang sedang ada masalah Sayang. Mungkin dari keluarga. Apa kamu tahu alamat rumahnya di kampung? Teman Kamu Rio, mungkin tahu. Kalau tidak tahu juga, coba tanya pihak kampus. Bilang saja, mau ada perlu," usul mama Cilla dengan tersenyum. Memberikan semangat untuk anaknya itu.
"Ya juga ya Ma! Tapi, kata Rio, dia memang satu daerah dengan Elisa, tapi untuk alamat lengkap rumahnya, dia tidak tahu. Nanti, Jeny coba tanya ke admin kampus. Oh ya, Jeny ingat. Kemarin itu, dia pernah ke kampus agak siang, tapi gak ada jam kuliah yang dia ikuti. Kata Rio, dia malah masuk ke kantor administrasi."
__ADS_1
Mama Cilla, mengerutkan keningnya. Dia merasa yakin, memang ada yang disembunyikan oleh Elisa, tapi teman-temannya, Jeny dan Rio, yang tidak tahu, jika Elisa sedang dalam masalah.
"Kamu bilang sama Rio, seandainya alamat rumah Elisa dengan rumahnya itu tidak terlalu jauh, minta bantuan sama saudaranya, atau temannya yang ada di kampung untuk datang dan mengetahui keadaan Elisa secara langsung. Mungkin saja, dia sekarang ini, ada di kampung, dan sengaja mematikan handphonenya juga. Biar kalian berdua tidak bisa menganggu dan bertanya-tanya."
"Baik Ma. Jeny paham. Nanti biar Rio yang urus itu," jawab Jeny dengan wajah kembali cerah.
Vero, yang ikut mendengarkan perbincangan yang sedang dilakukan oleh mama dan kakaknya, Jeny, ikut mengangguk-angguk mengerti dan tidak lagi menggoda kakaknya itu.
****
"Rio!"
Rio yang sedang berjalan dengan menunduk, karena melihat layar handphone yang ada ditangan, menoleh saat namanya di panggil seseorang.
"Ada apa Jen?" tanya Rio, begitu Jeny, yang memanggilnya tadi, sudah mendekat.
"Sudah ada kabar belum?"
"Elisa?" tanya Rio, menyakinkan bahwa pertanyaan Jeny itu memang seperti yang dia pikirkan.
Rio mengelengkan kepala. Dia memang tidak tahu kabar dari Elisa, hingga saat ini.
"Kemarin dia ke kantor administrasi, itu ngapain?" tanya Jeny, mengingatkan pada Rio.
"Tidak tahu," jawab Rio, dengan mengangkat kedua bahunya.
"Kamu tahu tidak, alamat lengkap rumah Elisa?"
"Aku kan sudah pernah bilang, kalau Aku cuma tahu kecamatannya saja. lagian, pengrajin tenun di daerah itu banyak sekali Jen," jawab Rio dengan mengeleng.
"Kalau begitu, kita tanya saja yuk ke pihak kampus. Ke administrasi saja, sekalian tanya, kemarin itu dia sedang mengurus apa?" ajak Jeny pada Rio.
"Terus?" tanya Rio, belum mengerti dengan tujuan Jeny.
"Udah, ikut saja yuk!"
__ADS_1
Jeny, mengandeng tangan Rio, dan dia bawa ke kantor administrasi kampus.
Tok, tok, tok!
"Permisi Bu," sapa Jeny, pada petugas administrasi kampus yang sedang bertugas.
"Ya. Ada yang bisa dibantu?" tanya petugas administrasi.
"Boleh tanya sesuatu?" jawab Jeny, dengan pertanyaan juga.
"Ada apa?"
"Ehmmm, begini Bu. Kami, kehilangan kontak dengan teman kami yang juga mahasiswi di kampus sini. Sudah hampir seminggu ini, dia tidak pernah datang untuk kuliah lagi. Nah temen Saya ini, Rio, pernah melihatnya, masuk ke kantor administrasi sini, sekitar seminggu atau dua minggu yang lalu. Apa ini masih ingat, namanya Elisa."
"Elisa? mahasiswi dengan nama Elisa itu banyak. Nama lengkapnya?" tanya petugas administrasi lagi.
"Elisa Wardani," jawab Rio cepat.
Petugas administrasi, mengetik nama tadi di layar komputer. Muncul nama Elisa Wardani, dan dia, petugas tadi, tampak mengerutkan keningnya bingung.
"Dia kesini sembilan hari yang lalu. Dia meminta kelonggaran waktu untuk pembayaran semester tahun ini. Dia bilang, akan melunasinya dalam waktu dekat ini. Tapi jika tidak bisa dia akan mengajukan cuti atau out."
Jawaban yang diberikan oleh petugas administrasi kampus, membuat Jeny dan Rio, saling pandang dengan wajah penuh tanda tanya.
"Bu, boleh kami minta alamat lengkap rumahnya. Maksud saya, yang ada di kampung?" tanya Jeny lagi.
Tak lama, petugas tadi, menyebutkan alamat lengkap Elisa.
"Terima kasih Bu. Kami permisi dulu," pamit Jeny dengan menganggukkan kepalanya sopan.
"Sama-sama. Tolong, kalau ketemu dia, diingatkan ya!"
"Baik Bu," jawab Rio, mewakili Jeny.
Jeny dan Rio, keluar dari ruangan kantor administrasi kampus dengan berbagai macam pertanyaan. Pikiran mereka berdua, tidak jauh-jauh dari masalah keluarga Elisa.
__ADS_1