Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Semakin Kompak


__ADS_3

Seharian ini Gilang dan mami Rossa, berada di villa Sentul. Mereka menemani Aji dan Cilla menikmati suasana Sentul, yang masih asri.


Agak siang, Aji mengajak mami Rossa dan juga Gilang, ke teras samping rumah, yang ada banyak pohon buahnya, termasuk pohon jambu.


Aji, menunjukkan pada mami Rossa dan juga pada papanya, Gilang, jika dia sudah bisa memanjat pohon jambu itu.


Aji, memperlihatkan pada keduanya, bagaimana caranya untuk bisa naik ke atas pohon jambu, tanpa jatuh.


"Lihat ya Pa, Oma!"


Aji mulai memanjat, seperti yang dia lakukan beberapa hari yang lalu bersama dengan mamanya, Cilla.


"Hati-hati Sayang!" teriak mami Rossa, mengingatkan cucunya itu.


"Ok Oma!" jawab Aji yang sedang bersemangat untuk naik ke atas pohon.


"Gilang. Dia beneran bisa naik pohon? Mami takut, jika nanti, dia jatuh!" mami Rossa merasa khawatir jika Aji, cucunya itu, sampai terjatuh nantinya.


"Iya bisa. Kemarin itu, dia pamer pada Gilang Mi, jika dia berhasil naik ke atas pohon jambu itu. Bagaimana tidak berhasil, Mami bisa lihat sendiri, jika jambu itu pohonnya pendek dan banyak sekali cabang yang ada sedari bawah. Itu kan yang memudahkan Aji bisa naik Mi," jawab Gilang, menerangkan kepada mami Rossa, sambil tersenyum tipis.


"Iya. Mami juga lihat. Tapi tetap saja, dia itu masih kecil dan Mami takut, jika dia tidak hati-hati, bisa jatuh juga kan!" kata mami Rossa, yang memang merasa khawatir dengan keselamatan cucunya, Aji Putra.


"Biarin Mi. Dia kan cowok, biar latihan berani untuk melatih diri dan andrenalin juga," kata Gilang dengan tersenyum, melihat keberhasilan Aji. Sekarang, Aji sudah berada di atas pohon jambu, dan sedang berusaha untuk memetik buah jambu juga.


"Papa, Oma! Mau jambu tidak? Banyak yang sudah masak." Aji, menunjuk beberapa buah jambu, yang bergelantungan tidak jauh dari tempatnya berada.


"Tidak usah Sayang! Ayo, turun saja!"


Mami Rossa, berteriak meminta Aji, agar segera turun dari pohon jambu. Dia merasa sangat khawatir, meskipun ada rasa bangga juga, sebab Aji tidak merasa takut dan bersemangat untuk belajar memanjat pohon.


"Iya Sayang, ayok turun!"


Gilang, juga meminta Aji untuk segera turun. Dia tidak mau jika nantinya, Aji akan terjatuh karena tidak hati-hati.


"Sebentar. Aji mau metik jambu dulu," jawab Aji, tidak menghiraukan nasehat papa dan juga omanya.

__ADS_1


Cilla datang dari arah rumah. Dia mencari-cari Aji, sebab dari tempatnya berada, dia tidak menemukan Aji, anaknya. Hanya ada mami Rossa dan Gilang yang sedang berbincang-bincang.


"Aji mana Mi, Mas?" tanya Cilla, pada keduanya.


"Itu!" tunjuk mami Rossa ke arah pohon jambu yang ada di depannya.


Gilang menganggukkan kepalanya, mengiyakan jawaban dari mami Rossa. Kini Cilla mendongak menatap ke arah pohon jambu. Dia melihat Aji yang sedang memetik jambu dan memasukkan kedalam kantong celananya, seperti kemarin-kemarin.


"Sayang, ayok turun!"


Aji menoleh, saat mendengar suara mamanya. Dia tersenyum dan berteriak dari atas pohon, "Ma, mau jambu tidak? Aji petikan ya!"


"Ya. Ambilkan dua saja, tapi yang sudah mateng ya!" jawab Cilla dari bawah pohon.


"Siap Ma!" kata Aji, kemudian segera memetik jambu dengan bersemangat.


"Kenapa Kamu malah meminta Aji, memetik jambu Cilla?" tanya mami Rossa heran, dengan sikap Cilla.


"Dia tidak akan mau turun Mi, jika tidak ada permintaannya yang dituruti. Jika permintaannya mudah, hanya ketik jambu, biarkan saja. Biar cepat mau turun," jawab Cilla memberikan penjelasan pada mami Rossa dan Gilang.


"Mama..."


"Lho, ternyata sudah turun!" kata mami Rossa dengan kaget, melihat Aji sudah ada dihadapannya, dengan dua buah jambu yang dia pegang.


"Kapan turun?" tanya Gilang, yang tidak memperhatikan Aji saat turun dari pohon jambu.


"Hehehe..."


Aji hanya terkekeh geli, melihat Oma dan papanya yang sedang kaget dengan kedatangannya. .


"Sayang. Besok-besok, kalau mau manjat pohon,dan sudah berada di atas, kemudian diminta turun, dari pohon, nurut saja ya! Itu tandanya papa ataupun Oma, merasa khawatir. Dan khawatir itu tandanya mereka sayang dengan Aji."


Aji menganguk pelan, mendengar nasehat dari mamanya. Dia kemudian meminta maaf pada mami Rossa dan juga papanya. "Aji minta maaf Oma, papa. Aji sudah membuat Oma dan papa menjadi khawatir."


"Iya Sayang. Oma juga minta maaf ya," kata mami Rossa dengan memeluk Aji.

__ADS_1


Gilang hanya tersenyum dan mengacak rambut Aji dengan penuh kasih. "Jagoan Papa memang hebat!" kata Gilang, dengan mengacungkan jari jempolnya pada Aji.


"Ya sudah, kita masuk yuk! Waktunya untuk makan siang," ajak mami Rossa pada ketiganya.


*****


Hari ini, Gilang, Aji, Cilla dan mami Rossa akan menghadiri jalannya persidangan, yang katanya terakhir, untuk kasus Candra dan Lily. Mereka semua, sudah berada didalam mobil.


"Tidak ada yang tertinggal?" tanya mami Rossa, sebelum supir menjalankan mobilnya.


"Tidak ada Mi."


"Sepertinya tidak ada Mi."


Jawaban dari Cilla dan Gilang, yang bersamaan dan mirip, membuat mami Rossa tersenyum. "Kalian ini, makin kompak ya," kata mami Rossa, sambil melirik ke arah cucunya, Aji.


Cilla dan Gilang, tersenyum tipis mendengar perkataan mami Rossa untuk mereka berdua. Apalagi saat Gilang, menoleh ke belakang, dimana Cilla sedang duduk, wajah Cilla menjadi memerah karena malu.


"Aji tidak ikutan?" tanya mami Rossa lagi, pada Aji.


"Tidak. Aji kan tidak bawa apa-apa," jawab Aji sambil melihat ke arah Omanya itu.


"Oh iya, Aji dibawakan sama mama ya," kata mami Rossa, dengan tersenyum manis, pada cucunya yang sedang melihatnya dengan intens.


"Oma. Aji tidak mau ada di ruangan sidang ya, seperti kemarin saja, diruang yang berbeda," kata Aji memberitahu.


"Oh iya, Gilang sudah konfirmasi belum?" tanya mami Rossa pada anaknya, Gilang.


"Sudah Mi. Itu diurus oleh Lawyer. Aku sudah katakan untuk menempati ruangan yang sama juga. Takutnya pihak pencari berita akan nekat melakukan apapun untuk bisa mendapatkan gambar Cilla ataupun Aji."


"Baguslah. Sementara ini, biar aman dulu m Takutnya, ada pihak lain yang tidak senang dan mengancam keselamatan Cilla serta Aji. Meskipun, Candra dan Lily, murni tindakan kejahatan personal, bisa jadi akan dimanfaatkan oleh orang lain yang punya niat jahat juga sama Kamu."


"Iya Mi. Gilang sudah bicarakan itu dengan pengacara dan komandan polisi. Makanya pihak hakim juga tidak meminta kehadiran Cilla serta secara langsung. Itu karena komandan polisi membawa bukti rekaman CCTV yang ada di beberapa sudut jalan dan pintu masuk perumahan, tempat kejadian."


"Syukurlah kalau begitu. Semoga, sidang kali ini benar-benar untuk yang terakhir kalinya," harap mami Rossa dan juga yang lainnya.

__ADS_1


"Semoga saja Mi."


Cilla dan Gilang, kembali berbarengan saat menjawab perkataan mami Rossa.


__ADS_2