
Acara untuk foto prewedding, sudah selesai. sekitar pukul satu siang. Semuanya sudah kembali di bersihkan dan dibereskan lagi. Aji juga masih senang memperhatikan orang-orang yang sedang sibuk melakukan pekerjaannya masing-masing.
Gilang dan Cilla, sedang berganti pakaian yang tadi dipakai untuk foto mereka. Mami Rossa juga ikut sibuk, menyediakan berbagai jenis makanan untuk suguhan tim EO, yang sudah bekerja sedari pagi.
"Untuk tempat wedding, jadi di gedung kan Nyonya?" tanya pengurus EO.
"Iya jadi. Biar lebih mudah kalian menanganinya. Kami hanya meminta, agar keamanan diperketat, dan untuk tamu undangan, bisa di cek kebenaran undangan yang dibawa."
Mami Rossa mengingatkan kesepakatan yang mereka lakukan kemarin sore. Dia tidak mau, jika ada tamu yang datang tanpa undangan yang dibawa. Tentunya mami Rossa merasa takut, jika ada penyusup atau musuh yang mengunakan kesempatan waktu wedding, untuk melakukan kejahatan.
"Tentu Nyonya. Kami akan buat undangan khusus yang memakai cip name dan barkot khusus. Jadi, jika ada undangan palsu, tentu tidak bisa masuk melalui sistem, dan itu bisa dipastikan jika orang yang datang bukan undangan dari wedding tuan Gilang. Bukankah itu yang diusulkan cucu nyonya kemarin?"
Mami Rossa mengangguk, lalu tersenyum mengingat usul dari Aji, sewaktu ada di kantor EO, saat melakukan fitting baju.
"Apa ada yang bisa membuat undangan khusus? Ada barkot dan cip khusus dari mempelai, agar undangan itu tidak bisa di manipulasi. Ini untuk keamanan wedding Papa dan Mama." Aji mengatakan usulannya pada pengurus EO.
"Ada. Tapi itu akan memakan waktu yang cukup lama dan biaya yang dikeluarkan juga besar. Apa tidak keberatan?" tanya pihak EO pada Gilang.
"Kami tidak banyak tamu undangan. Kira-kira hanya seribuan atau lebih dikit saja. Apa masih cukup, waktunya untuk membuat undangan itu?" tanya Gilang, sekaligus menerangkan juga.
"Waktunya tinggal dua minggu tuan. Kami takut jika tidak bisa tertangani semuanya." Pihak EO justru merasa tidak enak hati. Mereka takut jika menolak akan menjatuhkan nama baik EO.
"Tapi kami akan usahakan secepatnya, untuk mengerjakannya. Nanti tuan Gilang bisa kirim nama-nama tamu undangan melalui email, yang ada di kartu nama Saya itu."
Begitulah kemarin, saat pihak pengurus EO, menyatakan jika mereka sanggup membuat undangan sesuai dengan pesanan yang diminta Aji.
"Kenapa tiba-tiba Aji punya usulan, memakai undangan khusus seperti itu?" tanya mami Rossa ingin tahu.
"Aji tidak tahu Oma. Tapi Aji pikir, Papa itu orang hebat dan besar juga. Pasti banyak orang yang tidak suka dan iri. Entah itu siangan bisnis, pergaulan atau memang ada orang yang tidak suka sedari awal. Bukankah kita tidak tahu siapa sebenarnya musuh yang ada?"
Mami Rossa memeluk Aji dengan tersenyum. Dia tidak pernah menyangka, jika cucunya yang masih kecil itu, bisa berpikir jauh dari apa yang seharusnya. Dulu, dia pernah berpikir jika ada salah satu keluarganya yang tidak suka dengan kesuksesan Gilang, tapi seiring berjalannya waktu, mami Rossa melupakan semua itu. Dia merasa semua keluarga besarnya baik dan mendukungnya.
__ADS_1
*****
"Capek Mi," kata Gilang mengeluh pada mami Rossa saat malam hari, sebelum makan malam.
"Itu mending Sayang. Semuanya di urus pihak EO. Coba kalau kita yang urus sendiri, capeknya bisa lebih dari pada ini," jawab mami Rossa, dengan mengelengkan kepala.
"Hehehe... iya Mi." Gilang terkekeh kecil.
"Lho Aji dan Cilla mana, mereka tidak makan?" tanya mami Rossa, saat Aji dan Cilla tidak muncul-muncul juga.
"Tidak tahu Mi. Apa aku lihat dulu ke kamar?" usul Gilang.
"Coba deh," jawab mami Rossa.
Gilang berdiri dari tempat duduknya, kemudian melangkah menuju ke arah kamar Cilla.
Tok...
Tok...
Tok...
Ceklek!
Pintu terbuka dari dalam kamar. Cilla muncul dengan wajah cemas. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi. "Ada apa Honey?" tanya Gilang cepat. Dia merasa khawatir dengan keadaan Cilla, ataupun Aji. Gilang melihat ke dalam kamar, tapi sepertinya Aji baik-baik saja, sebab Aji terlihat duduk di kursi depan laptop, dan sedang memegang handphonenya.
Gilang masuk tanpa meminta ijin terlebih dahulu pada Cilla. Dia mendekati Aji, kemudian bertanya, "Ada apa Sayang?"
"Apa Papa sudah cek layar CCTV hari ini, atau kemarin-kemarin?" tanya Aji ingin tahu.
"Hem... belum. Sejak dipasang, baru dua kali Papa lihat, dan semuanya baik-baik saja. Kan ada juga Security yang pantau di pos jaga," jawab Gilang beralasan.
__ADS_1
"Papa mau lihat, apa yang Aji temukan?" tanya Aji memberikan pertanyaan pada papanya.
"Apa Sayang?" tanya Gilang ingin tahu.
Gilang merasa penasaran, dengan apa yang ditemukan oleh anaknya itu. Sekarang, dia ikut intens melihat ke arah layar laptop Aji, yang menampilkan gambar tangkapan kamera cctv dibagian garasi.
"Benarkah?"
Gilang tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang ini. Bagaimana mungkin, jika orang yang dia kenal dengan baik bisa melakukan semua itu padanya.
"Jadi siapa dia Pa?" tanya Aji pada papanya.
Kini, Cilla juga memandang ke arah Gilang. Dia ingin tahu, apa dan siapa, yang sebenarnya tidak menyukai mami Rossa dan juga Gilang selama ini.
Gilang tidak segera menjawab. Dia menghela nafas panjang beberapa kali dan membuangnya perlahan-lahan. Mungkin dia juga tidak menyangka, jika kecelakaan yang terjadi kemarin itu, adalah ulah dari orang terdekatnya. Keluarganya sendiri.
"Dia adik almarhum papi. Dan supir yang selalu menjadi supirnya Papa, adalah saudara sepupu dari istrinya. Tapi dia sudah lama ikut dengan Papa. Kenapa dia melakukan semua ini? Jika ada masalah apapun, dia bisa bicarakan dengan Papa, dan Papa juga sering membantunya. Ada apa dengan dia ya?"
Gilang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan supirnya itu. Padahal, supir yang biasa mengantar dirinya kemana saja, adalah orang yang tahu banyak tentang kegiatan dan aktivitas dirinya beserta mami Rossa.
"Papa coba tanya saja. Mungkin ada sesuatu yang terjadi dengannya, atau keluarganya. Makanya dia mau melakukan semua ini. Dia juga tidak tahu, jika garansi sudah dipasang kamera cctv. Bukankah waktu pemasangan, dia tidak ada? Dia sedang mengantar Papa ke kantor."
Aji mengingatkan kembali pada papanya. Dia juga menjelaskan posisi supir itu, pada waktu terjadinya kecelakaan.
"Dia juga yang mengantar papa ke kantor, jadi supir lain yang mengantar kami ke EO."
"Iya itu benar sekali. Sekarang supir yang ikut terluka, justru masih dalam keadaan sakit. Untungnya, keluarganya ada di Jakarta juga, jadi bisa menjaganya. Mami juga masih sering menjenguknya. Kadangkala, bibi datang membawa makanan juga ke sana. Semoga saja, ini petunjuk yang bisa menghentikan semua kejadian yang tidak baik di keluarga kita ini."
"Aamiin..."
"Iya Pa. Semoga saja."
__ADS_1
Cilla dan Aji, ikut berharap jika semua akan terungkap dengan cepat.