
Telpon Aji berdering di atas meja. Dia meminta tolong pada Elisa, yang berada di dekat handphone tersebut, supaya melihat siapa yang menelponnya kali ini. "Siapa Sayang, yang menelpon? coba lihat, kalau om Dimas, angkat saja. Bilang kalau Jeny tidak kenapa-kenapa."
Elisa menurut. Dia mengambil handphone milik suaminya itu, kemudian membaca nama penelpon. Ternyata memang dokter Dimas, yang mengkhawatirkan keadaan istrinya, Jeny, yang sekarang ini masih berada di kamar mandi.
..."Halo Aji. Gimana Jeny?"...
..."Halo dokter Dimas, ini Elisa. Jeny masih ada di kamar mandi kok."...
..."Lho, dia sakit perut apa?"...
..."Kata Kakak, paling cuma panggilan alam saja."...
..."Oh, gitu ya. Aku pikir kenapa, soalnya dia lagi hamil El. Aku takut dia kenapa-kenapa lagi."...
..."Iya dok, tidak apa-apa. Itu Jeny saja yang tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada perutnya sendiri."...
..."Ya sudah ya El. Nanti Aku telpon dia sendiri. Ini tadi handphonenya sedang tidak aktif atau mungkin memang sengaja dia matikan, Aku juga tidak tahu sih."...
..."Ita dok. Jika terjadi sesuatu pada Jeny, pasti kami akan segera memberikan kabar pada dokter."...
..."Iya terima kasih."...
..."Sama-sama dok."...
Aji, yang ikut mendengarkan telpon dari dokter Dimas, tersenyum tipis. Dia pikir, jika adiknya itu, suka bikin panik orang saja, tanpa mau tahu, bagaimana rasanya orang itu menjadi khawatir dengan keadaannya.
"Kakak akan tegur dia nanti."
"Tegur siapa, dokter Dimas?" tanya Elisa bingung dengan perkataan suaminya itu.
"Jeny_lah, ngapain dokter Dimas," jawab Aji dengan tenang.
"Kenapa dengan Jeny?" tanya Elisa semakin bingung.
"Orang dia sakit perutnya apa, telponnya bagaimana. Pasti suaminya jadi panik. Untung saja tadi pas telpon Kakak, dokter Dimas bisa Aku yakinkan, jika Jeny akan baik-baik saja. Dia tuh kebiasaan bikin orang panik. Lagian, siapa yang tidak hafal karakternya Jeny, kalau tidak Kakak. Sejak bayi, Kakak yang jagain dan ngajarin dia banyak hal. Makanya, Kakak hafal dengan kebiasaan Jeny."
Elisa, mengangguk paham dengan apa yang diceritakan oleh suaminya itu. Ini terlihat saat Jeny lebih patuh pada Kakaknya Aji, bila dibandingkan dengan mama Cilla, atau papa Gilang sendiri, yang seharusnya Jeny patuhi lebih dari siapapun.
Tak lama, Jeny keluar juga dari kamar mandi.
__ADS_1
"Huhfff..."
"Lega Jen, gak sakit lagi?" tanya Aji, begitu melihat adiknya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Jeny hanya meringis, mendapatkan teguran dari kakaknya, Aji. Dia hanya melangkah menuju meja makan, kemudian duduk dan mengambil gelas yang berisi teh hangat. Dia tahu, jika teh hangat itu adalah buatan kakaknya, dan memang untuk dirinya.
"Handphone kenapa?" tanya Aji, setelah Jeny meminum tehnya seteguk.
"Handphone?" Jeny justru balik bertanya.
Elisa, hanya mengamati keduanya yang sedang berbincang, saling tanya jawab, persis seperti orang yang sedang melakukan wawancara.
"Ya handphone Kamu," kata Aji, menjelaskan.
Jeny memeriksa handphone miliknya, yang berada di dalam tas. Tadi, tas miliknya itu, diletakkan di kursi makan.
"Oh, itu dia," ucap Jeny, begitu melihat keberadaan tas miliknya.
Aji, hanya diam saja sambil mengamati kelakuan adiknya itu. Dia pikir, sudah saatnya menegur Jeny.
"Sana, telpon om Dimas. Dia sedang mengkhawatirkan keadaanmu," kata Aji menyuruh Jeny, untuk menghubungi suaminya.
"Tapi Kak, om Dimas nanti juga akan telpon. Ini sudah kirim pesan dia," bantah Jeny, sambil meletakkan handphonenya di atas meja makan.
"Soal tidak pantas memangil om Dimas dengan sebutan om?" Tanta Jeny memastikan.
Aji mengangguk. Dia ingin, Jeny berpikir sendiri soal panggilan pada suaminya, om Dimas.
"Jeny belum terbiasa Kak. Jeny juga sudah merasa nyaman dengan panggilan itu." Jeny cemberut, karena belum menemukan panggilan yang pas untuk dokter Dimas.
"Bagaimana kalau Uda? secara dokter Dimas itu, selain keturunan Betawi, dia juga ada keturunan dari Padang, iya kan?" usul Elisa dengan mata berbinar. Dia yakin, jika usulannya itu bisa di pakai Jeny, untuk panggilan suaminya, dokter Dimas.
"Iya, itu bagus juga, daripada 'om' kesannya malah kayak Kamu itu simpanan om-om genit," sahut Aji, menyetujui usulan dari istrinya, Elisa.
"Iya juga ya. Kenapa Aku tidak terpikirkan sebelumnya."
Akhirnya, Jeny memutuskan untuk nama panggilan suaminya dengan sebutan 'Uda' yang artinya sama dengan Kakak, untuk orang-orang dari Padang, yang ada di daerah Sumatra.
"Aku telpon om... Uda Dimas dulu, hehehe..." Jeny terkekeh geli, ketika keliru menyebut nama panggilan untuk suaminya, yaitu Uda. Setelah itu, dia beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan ke arah sofa di ruang tengah sekaligus ruang tamu. Dia menelpon suaminya dari sana.
__ADS_1
"Itu karena kamu belum terbiasa Jen. Nanti, lama-lama juga terbiasa," guman Elisa pelan, karena Jeny sudah tidak ada di tempatnya duduk. Dia memaklumi kesulitan yang dihadapi Jeny, untuk sebutan suaminya, dokter Dimas. Karena sedari kecil, dia memang sudah terbiasa memanggil suaminya itu, dengan sebutan om Dimas.
"Kakak juga. Mulai sekarang harus mengubah panggilan untuk dokter Dimas. Setidaknya jangan 'om' juga. Dia kan adik ipar Kakak, masa di panggil om?"
Sekarang, Elisa ganti menegur suaminya, agar mengubah juga panggilan untuk dokter Dimas, karena sekarang, dokter Dimas itu adalah adik ipar dari Aji sendiri. Bukan orang lain, yang hanya berprofesi sebagai dokter pribadi keluarganya saja.
"Aku sudah berencana untuk mengubah panggilan itu. Tapi nanti, jika kita sudah punya anak."
Elisa, mengerutkan keningnya bingung, melihat ke arah suaminya yang sedang tersenyum-senyum sendiri.
"Kakak kenapa?" tanya Elisa bingung.
"Tidak ada. Kakak hanya..."
"El, ayo kita berangkat!"
Kalimat yang sedang diucapkan Aji, terpotong oleh panggilan Jeny untuk Elisa.
"Iya Jen!" jawab Elisa dari arah dapur.
"Kakak, tidak apa El tinggal?" tanya Elisa memastikan. Sebab, dia masih merasa khawatir dengan keadaannya Aji, yang kemarin sedang demam.
"Iya, tidak apa-apa. Kakak sudah sehat kok. Tapi, obatnya yang mujarab jangan lupa ya!"
Elisa, melotot melihat ke arah suaminya itu. Dia tidak habis pikir kenapa sekarang ini, suami itu terkesan genit dan tidak seperti dulu, yang tidak suka bicara soal...
"El ayo!" ajak Jeny, dengan menarik tangan Elisa.
"Eh iya-iya." Elisa, terhuyung karena tarikan Jeny yang tidak dia sadari.
"Jangan melamun pagi-pagi. Nanti malam bisa dilanjutkan lagi lemburnya. Kita harus segera berangkat ke kampus," kata Jeny, memotong lamunan Elisa tentang suaminya.
"Siapa yang melamun?" kata Elisa, mengelak dari tuduhan Jeny.
"Ihsss... muka Kamu itu, ngeres!" sahut Jeny, dengan berbisik pelan lada Elisa.
Elisa, kaget dengan perkataan Jeny tentang mukanya. Dia segera mengusap wajahnya, agar terlihat normal lagi.
"Hahaha..."
__ADS_1
Jeny, justru tertawa terbahak-bahak, melihat Elisa yang gugup, dan menyangka jika apa yang dia katakan itu benar adanya.
Aji, yang yang masih bisa mendengar suara mereka berdua, menggelengkan kepalanya. Dia berharap agar hubungan antara Jeny dan Elisa, tetap baik dalam keadaan apapun. Dia tidak ingin, ada cerita tentang ipar dengan ipar, yang saling bermusuhan satu dengan yang lainnya. Sama seperti yang ada di dalam cerita-cerita, yang sering terjadi di masyarakat pada umumnya.