
Ibarat sebuah rencana yang sudah di atur sedemikian rupa, tapi tidak ada seorangpun yang mampu melewati garis takdir juga. begitulah mungkin gambaran yang bisa diartikan untuk kejadian yang dialami Aji dan Elisa beberapa hari kemarin.
Niat hati ingin mengajak ayah Sangkoer Singh untuk jalan-jalan agar tidak bosan terus menerus berada di dalam rumah, justru berbalik lagi menjadi ayah Sangkoer Singh yang mengajak mereka berdua untuk berkerja lagi. Karena, saat makan siang di tempat mereka beristirahat sejenak, sebelum melanjutkan acara jalan-jalannya, ayah Sangkoer Singh, bertemu dengan dua temannya yang berkecimpung di dunia politik dan partai. Mereka berdua meminta pada tuan besar Sangkoer Singh, agar tahun ini ikut mendukung mereka berdua lagi, sama seperti pada tahun-tahun sebelumnya.
Ini membuat Aji, harus pintar-pintar membuat alasan, agar ayah angkatnya itu, tidak lagi disibukkan di dunia politik. Apalagi, ayah Sangkoer Singh, memang tidak ikut berkecimpung secara langsung di dunia tersebut.
Tapi, justru tuan besar Sangkoer Singh, menyerahkan tugas dukungan itu pada Aji. Dua meminta pada Aji, supaya ikut dua temannya itu, sekalian belajar dunia politik di India. Ini juga untuk keberhasilan semua usaha yang dua pegang nantinya.
Sebenarnya, Aji ingin menolak permintaan ayahnya itu, tapi dia juga tidak bisa mengatakan apa-apa untuk menolaknya, karena menurut Aji, ayahnya itu memiliki harapan besar pada dirinya, supaya bisa melanjutkan sepak terjangnya di dunia bisnis, yang tidak bisa lepas dari orang-orang yang berpengaruh di dunia politik dan pemerintahan.
Elisa, hanya tersenyum tipis melihat kebingungan suaminya itu. Dia ingin mengingatkan ayah Sangkoer Singh, dengan rencana mereka yang akan pergi ke Indonesia dalam waktu dekat ini. Tapi, dia juga tidak mau menyingung perasaan ayah angkat suaminya, karena sebagian keberhasilan yang dia miliki, tidak lepas dari orang-orang yang ada sekarang ini ada di depan mereka juga.
Setelah terjadi kesepakatan bersama dengan dua orang teman ayah Sangkoer Singh tadi, Aji mengajak Elisa dan ayahnya itu, untuk melanjutkan perjalanan yang mereka tuju.
"Sebaiknya kita pulang saja Aji. Ini sudah sore dan sebentar lagi malam datang. Elisa juga sedang hamil besar, kasihan tidak bisa beristirahat yang cukup. Benar kan Elisa?" tanya ayah Sangkoer Singh, pada Elisa, dengan meminta pada Aji agar pulang saja ke rumah.
Elisa hanya nyengir kuda, sedangkan Aji, menghela nafas panjang kemudian mengangguk setuju saja.
"Ya sudah, kita pulang sekarang."
Aji mengalah. Dia pun setuju untuk pulang ke rumah, dan batal melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya.
"Pengusaha memang tidak bisa melepaskan kesempatan yang mereka pikir bisa menguntungkan," begitu kira-kira pikiran Aji di dalam hatinya.
Akhirnya, mereka bertiga kembali pulang ke rumah. Supir sedikit heran, dengan batalnya perjalanan mereka. Sebab, tadi mereka masuk ke restoran dan tidak keluar-keluar dalam waktu yang lama. Padahal dia sudah menyelesaikan makan, dan tertidur pulas cukup lama menunggu mereka datang. Tapi, sekarang saat mereka datang, justru mengatakan jika tujuan berikutnya adalah ke rumah, alias kembali pulang.
"Kamu tidak kecewa kan El?" tanya ayah Sangkoer Singh, di saat mobil sudah melaju di jalan raya menuju ke rumah.
__ADS_1
"Tidak Yah. El juga capek, jadi memang sebaiknya kita pulang saja," sahut Elisa, yang melihat ke arah suaminya, yang berada di samping tempat duduknya.
"Nah, itu bagus. Jangan kecapekan. Apalagi saat ini, Kamu sedang mengandung yang cukup besar. Tidak lama lagi, cucuku akan segera lahir," ucap ayah Sangkoer Singh, dengan bersemangat dan mata berbinar-binar senang.
Aji, jadi ikut merasa senang karena melihat ayahnya yang sudah tidak lagi bersedih hati. Dia juga tidak mau, jika istrinya itu kecapekan. Apalagi, Elisa akan segera melahirkan sekitar sebulan kemudian, jika sesuai perkiraan. Selama ini, Elisa selalu bilang, jika ingin melahirkan bayinya dengan normal. Dia ingin merasakan, bagaimana menjadi seorang ibu yang sesungguhnya.
Elisa dan Aji, juga tidak pernah bertanya kepada dokter, soal jenis kelamin anak mereka nanti. Mereka ingin mendapat kejutan saat anak itu lahir saja, baru ketahuan jenis kelaminnya.
Setelah beberapa menit kemudian, pagar rumah besar Sangkoer Singh tampak dari kejauhan. Pagar kita yang masih harus melewati halaman luas dan pintu utama halaman yang ke dua, dan baru rumahnya akan terlihat.
"Kamu tidak jadi ingin melahirkan di Indonesia kan El? tetap di India saja kan?" tanya ayah Sangkoer Singh, saat mobil sudah berhenti.
Mereka bertiga, keluar bersamaan. Aji, menuntun istrinya itu, untuk berjalan ke dalam rumah.
"El di sini saja Yah. Lebih baik, ke Indonesia nanti kalau sudah lahir saja. El, tidak mau kenapa-kenapa saat perjalanan pulang ke Indonesia." Elisa, menjawab pertanyaan ayah Sangkoer Singh, sambil berjalan dibelakang tuan besar Sangkoer Singh. Aji, hanya mengangguk kemudian terus mengandeng tangan Elisa, masuk ke dalam rumah.
"Beristirahatlah, nanti malam akan ada beberapa tamu yang datang," kata ayah Sangkoer Singh, tiba-tiba.
Tapi, Aji tidak banyak bertanya, tentang siapa tamu yang di maksud ayahnya itu. Dia tidak terlalu memikirkan pertemuan yang akan diadakan di rumah ini, seperti biasanya. Aji pikir, mereka hanya orang-orang perusahaan, yang akan membahas masalah saham, atau pengembangan sistem keamanan, atau bisa jadi mereka menginginkan ditambahkan lagi usaha yang lain. Dan itu akan jadi tugas ayah Sangkoer Singh.
"Lalu, kapan ayah akan melepas kesibukan kerjanya, dan fokus pada hari-hari tuanya, jika banyak orang yang masih memerlukan dirinya?" Aji bertanya-tanya dalam hati. Ini hal yang tidak mudah, bagi seorang pengusaha seperti ayah angkatnya itu.
Elisa dan Aji, sudah masuk ke dalam kamar. Elisa, minta ke kamar mandi terlebih dahulu. Dia ingin buang air kecil. Sepertinya, dia sudah terlalu sering ke kamar mandi sejak kehamilan semkin besar. Kata dokter, ini hal yang wajar.
Aji juga tahu, jika orang yang sedang hamil tua, akan lenih sering buang air kecil, bahkan saat malam hari sekali pun. Jadi, Aji memaklumi kondisi yang dialami istrinya itu. Bahkan, dia kadang merasa kasihan, karena Elisa harus kesusahan saat bangun tengah malam, hanya untuk pergi buang air kecil saja.
"Kak," panggil Elisa, begitu keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Ya, ada apa Sayang?" tanya Aji, mendekat ke tempat Elisa berdiri.
"El lapar," jawab Elisa, sambil menunduk malu. Dia merasa lapar, padahal tadi baru saja makan sebelum pulang ke rumah ini.
"Oh, mau makan apa?" tanya Aji, ingin tahu apa yang ingin di makan istrinya itu saat ini.
"Tapi, kakak yang masak ya? El kangen masakan Kakak," kata Elisa dengan nyengir kuda.
"Hemmm, apa?" tanya Aji, menanyakan kembali makanan yang ingin di makan istrinya itu.
"Sini," pinta Elisa, agar Aji mendekatkan telinganya. Elisa ingin berbisik-bisik, mengatakan makanan yang ingin dia makan.
Aji menurut. Dia lebih mendekat lagi, dan memiringkan kepalanya, agar telinganya bisa dibisiki oleh Elisa, yang ingin mengatakan sesuatu padanya saat ini.
Tapi, sampai beberapa detik kemudian, Elisa tidak juga mengatakan keinginannya. Hingga Aji, menoleh dan melihat istrinya yang menahan senyumnya.
"Ihsss, ngerjain Kakak ya?" tanya Aji, menebak apa yang sebenarnya terjadi.
"Hahaha... El malu, lagian kita kan tidak boleh masuk ke dapur. Nanti di tegur bibi Lasmi gimana?" tanya Elisa sambil tertawa-tawa.
"Kalau Kakak cerita tentang keinginan orang yang sedang hamil, bibi Lasmi pasti tidak mungkin menolaknya Sayang. Coba katakan apa?" tanya Aji, yang masih merasa penasaran dengan apa yang ingin di makan istrinya itu sekarang.
"Benarkah? Ah, El pikir tidak mungkin bibi Lasmi mengijinkan. Tahu begitu, El minta sedari kemarin-kemarin," kata Elisa merajuk. Dia sudah lama tidak makan makanan ini. Jadi dia kangen ingin memakannya.
"Apa coba?" tanya Aji lagi.
"Mei godok ala jawa, yang di masak pakai arang," jawab Elisa sambil nyengir kuda.
__ADS_1
"Harus pakai arang?" tanya Aji tidak percaya dengan permintaan istrinya itu.
Elisa hanya mengangguk pasti, karena memang itulah keinginannya dari kemarin-kemarin. Bisa menikmati lezatnya mie Jawa dengan aroma sedap yang di masak dengan arang, bukan kompor gas atau listrik seperti yang biasa di pakai di rumah ini. Elisa kangen dengan makanan khas itu. Mungkin juga, dia sedang kangen dengan orang-orang yang dia tinggalkan juga. Ini sudah hampir setahun dia dan Aji berada di India.