Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Banyak Kejutan Tak Terduga


__ADS_3

"Apakah Saya mengenal Anda? Maksudnya sebelum ini, apakah kita pernah bertemu?" tanya dokter kandungan, yang saat ini ada di depan mereka berdua. Dokter, yang bertugas di rumah sakit yang sama seperti tempat tugasnya dokter Dimas, suami dari adiknya, Jeny.


Dokter kandungan tadi, masih muda, mungkin seumuran Aji juga, masih memperhatikannya dengan teliti. Dia juga memperhatikan bagaimana Aji memperbaiki letak kacamatanya saat ini.


"Kamu Aji Putra? yang di nyatakan hilang saat akan berangkat ke Jerman?" tanya dokter kandungan tersebut, menebak jika yang ada di depannya saat ini adalah Aji Putra, teman sekolahnya, yang terkenal jenius tapi dingin. Apalagi Aji hanya diam saja sedari tadi.


Aji tidak tahu, jika dokter kandungan tersebut adalah temannya sewaktu masih sekolah menengah atas.


"Benar kan tebakan ku?" tanya dokter tersebut.


"Iya. Apa kita saling kenal?" tanya Aji, dengan menjawab pertanyaan dari dokter kandungan tadi.


"Aku Diana, teman Kamu waktu SMA. Apa kamu ingat?"


Aji mencoba untuk mengingatnya, kemudian tidak lama kemudian dia mengangguk di saat ingat jika dokter kandungan yang ada di depannya ini adalah teman masa sekolahnya dulu.


"Kami membicarakan tentang Kamu di grup sekolah. Tapi, setelah Aku tugas ke Ternate, Aku hilang kontak dengan semua teman-teman, sampai pada dua bulan yang lalu, saat Aku mendapatkan tugas lagi di rumah sakit ini. Tapi, Aku belum ada kesempatan untuk bisa menghubungi mereka-mereka lagi. Hanya ada beberapa dari mereka yang sampai saat ini masih berhubungan baik, karena ada bisnis bersama."


Akhirnya, dokter kandungan tersebut bercerita tentang teman-teman mereka semasa sekolah. Setelah melakukan pemeriksaan terhadap Elisa.


Elisa ikut mendengarkan cerita tentang mereka, Aji dan dokter kandungan tersebut, semasa sekolah dulu. Dia jadi tahu, jika suaminya itu termasuk siswa populer dan banyak cewek-cewek yang naksir. Sayangnya, Aji bukan orang yang suka keramaian sehingga dia lebih suka menyendiri di perpustakaan ataupun laboratorium sekolah.


"Istri Kamu ini belum hamil Aji. Kamu harus lebih giat lagi ya, hehehe..." kata dokter kandungan tersebut, setelah semuanya selesai.


Dokter tersebut juga memberikan beberapa nasehat dan jadwal untuk pemeriksaan ulang pada Elisa bulan depan.


"Terima kasih Dok," ucap Elisa, sebelum berpamitan untuk keluar dari ruangan sang dokter.


"Sama-sama," jawab dokter Diana sambil tersenyum dan mengangguk.


"Oh ya, Aji. Boleh minta nomer handphone Kamu? Ini untuk jaga-jaga kalau ada acara di alumni kita nanti," tanya dokter Diana pada Aji, saat mereka berdua, Aji dan Elisa hampir mencapai pintu keluar.


"Maaf. Nanti saja ya, Aku sedang tidak ada waktu untuk berkumpul-kumpul. Aku sedang banyak urusan. Terima kasih atas ajakannya," jawab Aji dengan menganggukan kepala.


Aji bukannya sombong dan tidak mau memberikan nomer handphonennya, tapi kesibukan kerja dan tanggung jawabnya saat ini benar-benar tidak bisa dia abaikan begitu saja. Apalagi, dia juga sudah mengantikan posisi papa Gilang, di perusahaan GAS.


Saat mereka berdua berjalan dengan ke ruangan Jeny, Elisa bertanya pada suaminya itu, "apa tidak apa-apa, menolak ikut serta di grup alumni sekolah? nanti mereka pikir kakak sombong."

__ADS_1


Aji hanya tersenyum, mendengar perkataan istrinya itu.


"Ada dan tidaknya Kakak, tidak berpengaruh terhadap grup alumni sekolah. Justru, mereka akan selalu membicarakan tentang Kakak. Jadi ada dan tidak, itu sama saja bagi mereka."


Jawaban dari Aji, membuat Elisa tertawa kecil. Dia juga tampak menggelengkan kepalanya kemudian berkata, "Kakak 'pede' benar sih! Belum tentu juga mereka semua ingat Kakak."


Tapi setelah mengatakan semuanya itu, Elisa menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangannya.


"Kenapa?" tanya Aji heran.


"Gak, pengen muntah saja," jawab Elisa asal.


"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Aji lagi, dengan khawatir jika terjadi sesuatu pada Elisa.


"Gak Kak. Cuma pengen muntah lihat acuhnya suamiku pada cewek lain! hehehe..." Akhirnya, Elisa memeluk tubuh suaminya itu, setelah berkata seperti tadi.


Aji jadi tahu, jika Elisa sedang mengerjai dirinya saja. Dia juga ikutan memeluk istrinya. Untungnya, lorong rumah sakit tersebut dalam keadaan sepi dan tidak ada yang melintas dan melihat mereka berdua yang sedang berpelukan.


"Kita lanjutkan lagi nanti di rumah ya, sekarang kita tengok Jeny dan anaknya," kata Aji sambil mencubit hidung Elisa.


"Hahaha..m untungnya tidak acuh dan dingin dengan ku juga. Bisa-bisa Aku jadi kayak musim dingin di rumah ayah Sangkoer Singh jika Kakak seperti tadi jika dengan ku!"


*****


Sampai di ruangan Jeny, mama Cilla sedang mengendong anaknya Jeny yang baru lahir. Anak ke-dua Jeny juga berkelamin cewek, sama seperti yang pertama dulu.


"Bagaimana?" tanya mama Cilla, begitu melihat kedatangan mereka berdua. Aji dan Elisa.


Aji hanya diam, dan yang menjawab pertanyaan dari mama Cilla adalah Elisa sendiri.


"Belum Ma. Elisa belum ada tanda-tanda jika hamil dan tadi saat diperiksa memang belum. Tapi Kami disarankan untuk ikut program hamil dari dokter tersebut. Oh ya, dokternya itu ternyata teman sekolah Kakak sendiri lho!"


Elisa begitu antusias menceritakan tentang kejadian yang ada di ruangan dokter kandungan tadi.


Mama Cilla dan Jeny, yang ikut mendengarkan cerita Elisa hanya tersenyum tipis. Mereka berdua sudah tahu bagaimana karakter Aji yang sebenarnya. Jadi mereka tidak akan kaget dan heran jika akan seperti itu tadi kejadiannya.


"Begitu Aji El. Sedari kecil, dia tidak suka dengan keramaian dan orang-orang asing yang tidak dia kenal. Dia hanya mau dengan orang yang sudah benar-benar dia kenal, itupun hanya beberapa. Makanya, dia tidak banyak teman dan tidak banyak juga yang mengenalnya."

__ADS_1


Mama Cilla justru mengatakan tentang kebiasaan anaknya, Aji, sedari kecil, yang hanya hidup berdua dengannya saja.


Mama Cilla juga menceritakan tentang seorang Aji, yang selalu bisa membantunya dalam keadaan sulit, baik dalam keuangan maupun situasi yang dia alami saat ada yang ingin berbuat jahat padanya.


Elisa jadi semakin cinta dengan suaminya itu. Mungkin sikap Aji yang seperti tadi, terkesan tidak ramah dan tidak sopan. Tapi, itu dilakukan Aji untuk menghindari masalah yang akan datang suatu hari nanti. Dia tidak mau, jika sekedar banyak berbasa-basi dan akhirnya menjadi sungkan, kemudian menjadi sesuatu yang serius dan itu adalah masalah untuk dirinya sendiri ataupun dengan keluarganya juga.


Itulah yang bisa disimpulkan Elisa, dengan kejadian tadi. Elisa jadi tahu, jika semua itu dilakukan Aji untuk menjaga perasaan hatinya juga.


*****


Perjalanan kehidupan ini memang banyak sekali kejutan yang datang. Bahkan, hal yang tidak pernah terlintas dalam benak kita sendiri sekalipun.


Hal ini juga terjadi pada Elisa pagi ini. Dia baru saja mengantarkan Aji di depan rumah, sat Aji mau berangkat ke kantor, dan ada telpon masuk dari nomer yang tidak dia kenal.


Tadinya, Elisa acuh dan tidak berniat untuk mengangkat panggilan telepon tersebut. Tapi karena nomer tersebut menelpon berkali-kali, akhirnya Elisa mencoba untuk tahu, siapa sebenarnya yang sedang ingin menghubunginya saat ini.


..."Halo, siapa?" ...


..."Ini dengan ibu Elisa?" ...


..."Ini siapa?"...


Elisa tidak menjawab pertanyaan dari orang tersebut. Dia justru masih bertanya dengan pertanyaan yang sama, yaitu siapa yang menghubunginya saat ini.


Tapi, sepertinya orang tersebut tidak mau menyebutkan identitas dirinya. Dia juga tidak lagi berkata-kata dan hanya diam saja.


..."Halo, ini siapa?" ...


Elisa bertanya lagi. Dan dia tidak tahu siapa sebenarnya yang ingin berbicara dengannya saat ini.


Klik!


Akhirnya, Elisa memutuskan hubungan telpon dari orang yang tidak dia kenal.


"Aneh. Siapa sih?" gumam Elisa dengan memandang layar handphone miliknya.


Dia berusaha untuk mengingat-ingat suara orang tadi. Tapi sepertinya Elisa benar-benar tidak bisa mengingatnya. Entah siapa orang itu.

__ADS_1


Di tempat lain, seseorang sedang memperhatikan layar handphone miliknya. Dia tersenyum lebar, karena tadi sudah bisa mendengar suara Elisa. Dia juga merasa lega, karena Elisa tidak mengenali suaranya saat ini. Bahkan, Elisa jadi penasaran dengan telpon darinya.


"Aku sudah cukup merasa bahagia El. Bisa mendengar suaramu yang sudah sangat lama tidak bisa Aku dengar lagi. Aku hanya ingin melihat mu bahagia, itu saja."


__ADS_2