Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Rahasia Yang Tersimpan


__ADS_3

Sidang akhir untuk skripsi Elisa, dilakukan hari ini. Dia sudah mempersiapkan diri dan segala sesuatunya dengan baik. Dia tidak ingin gagal, untuk semua usaha yang sudah dia lakukan selama ini, karena semua itu juga melibatkan banyak orang, terutama suaminya, Aji.


Saat ini, sebelum dia berangkat ke kampus, Elisa menelpon bapaknya di kampung, dengan video call. Dia ingin meminta restu dan doa, agar dimudahkan dan dilancarkan untuk sidangnya nanti. Dia juga kangen, melihat wajah bapaknya yang selalu terlihat teduh dan tenang, meskipun dalam keadaan banyak masalah yang dihadapi.


..."Halo. Assalamualaikum Bapak." Elisa, menyapa bapaknya, yang sudah menyambungkan panggilan video call darinya....


..."Waallaikumsalam Nduk. Piye kabarnya di Jakarta?" jawab bapaknya, dengan wajah yang tenang, meskipun Elisa tahu, jika ada rasa rindu di mata tuanya....


..."Alhamdulillah baik Pak. Bapak apa kabar?"...


..."Ya Bapak sehat. Usaha Bapak juga mulai lancar lagi, berkat bantuan suami Kamu itu, dalam iklan dan pemasaran lewat internet." Mata bapaknya, terlihat berkaca-kaca menahan haru, dan juga bahagia....


..."Syukurlah kalau begitu Pak."...


..."Iya, salam Bapak buat suami Kamu ya Nduk."...


..."Njeh Pak."...


..."Bagaimana kuliah Kamu?"...


..."Hari ini, Elisa ada sidang akhir untuk skripsi Pak. Minta doa dan restunya njeh Pak, biar Elisa bisa tenang dan lancar dalam sudang ini."...


..."Iya. Bapak selalu berdoa, untuk semua yang Kamu dan suami Kamu itu usahakan."...


..."Matur nuwun Pak."...


..."Kalau sudah mau wisuda, kabar-kabar. Bapak akan usahakan bisa datang ke Jakarta."...


..."Njeh, pasti Pak."...

__ADS_1


..."Ya sudah, sana siap-siap. Jangan lupa, salam Bapak untuk suami Kamu itu."...


..."Njeh Pak."...


Klik!


Sambungan video call terputus. Elisa tersenyum penuh haru, karena menahan rasa rindunya pada bapaknya di kampung.


Aji, yang baru saja keluar dari kamar, melihat Elisa, yang sedang mengusap air mata, jadi merasa penasaran.


"Ada apa Sayang?" tanya Aji, sambil memegang kedua pipi Elisa.


"Tidak ada apa-apa Kak. Tadi El habis video call sama bapak di kampung. El jadi sedih, karena tidak bisa menemaninya di hari tua," jawab Elisa, masih dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa bapak di ajak tinggal di sini saja?" usul Aji, agar mertuanya itu ikut ke Jakarta saja.


"Bapak tidak mau. Dulu kan sudah pernah kita tawari Kak. Ya begitulah orang tua. Mereka kebanyakan, lebih memilih tinggal di rumah sendiri, meskipun anaknya meminta untuk bisa ikut tinggal bersama dengannya. Dia tidak mau merepotkan, begitu katanya."


"Terima kasih Kak. El, sangat beruntung mendapatkan Kakak, hiks... hiks," kata Elisa, di antara isakan tangis harunya.


"Sudah, tidak usah di bahas lagi. Kamu sudah siap kan dengan sidang hari ini?" tanya Aji, sambil mendongakkan wajah Elisa dengan jari-jari tangannya.


Elisa mengangguk. Dia melepaskan pelukannya pada Aji, dan berkata, "kakak dapat salam dari bapak. Tadi, dia juga bilang, kalau usahanya sudah mulai lancar lagi, berkat bantuan dari Kakak, yang membuat iklan dan penawaran lewat internet."


"Ah, bapak bisa saja. Kakak cuma bantu dikit. Itu semua karena usaha bapak sendiri dan kualitas dari hasil tenunan yang di produksi memang bagus. Jadi customer puas dan memesan lagi. Yah, semoga semua lancar."


"Aamiin..."


Elisa tersenyum, mendengar perkataan suaminya yang tidak merasa bangga, dengan bantuan yang sudah diberikan pada bapaknya.

__ADS_1


"Ayo, sarapan dulu. Biar kuat nanti, saat sidang dan ada tenaga untuk menghadapi berbagai pertanyaan yang diajukan oleh dosen-dosen," ajak Aji, sambil merangkul Elisa, dan diajaknya berjalan menuju ke ruang makan.


*****


Aji, mengantar Elisa sampai ke ruangan yang sudah di atur sedemikian rupa untuk sidang skripsi. Dia memberikan dukungan dan semangat pada istrinya itu, agar tetap tenang saat menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh dosen.


"Pokoknya, Kamu harus tenang, dan tidak boleh gugup. Pasti bisa," kata Aji, menyakinkan Elisa.


"Iya Kak. Terima kasih. Kakak tidak perlu khawatir. El pasti bisa kok."


Aji, tersenyum dan mengecup kening istrinya, sebelum Elisa masuk ke dalam ruangan.


"Kakak tunggu di taman depan itu ya," kata Aji, menunjuk taman kecil yang ada di depan ruangan tersebut.


Elisa, hanya mengangguk. Dia menghela nafas panjang, dan membuangnya perlahan-lahan, sebelum membuka pintu dan masuk untuk sidang skripsinya.


Aji juga menghembuskan nafas panjang, setelah istrinya itu masuk. Dia berjalan menuju ke taman, yang tadi dia tunjukkan pad Elisa. Dia menunggu di sana, sambil mengecek email yang masuk, dan membalas beberapa email yang belom sempat dibuka juga.


Aji, membuka email balasan dari tuan besar Sangkoer Singh. Permintaan ijinnya untuk bisa tinggal di India, disetujui oleh ayah angkatnya itu. Tuan besar Sangkoer Singh, justru merasa sangat bahagia karena Aji mau tinggal di sana, tanpa dia minta. Apalagi, Mr Vijay Singh, anaknya tuan besar Sangkoer Singh, sedang menjalani operasi ginjal, akibat obat-obatan yang diberikan oleh pamannya sendiri, paman Ranveer.


Dari hasil penelitian menunjukkan, jika obat-obatan itu, membuat ginjal Mr Vijay tidak normal dan harus menjalani operasi. Dia juga akan melakukan operasi untuk cangkok juga dalam waktu dekat ini, karena ada saudara yang dari ibu, yang cocok dan dia merelakan satu ginjalnya untuk Mr Vijay Singh.


"Ternyata, masalah itu ada dimana-mana. Hanya kita saja yang tidak tahu. Apa semua akan kembali baik dan normal, jika Aku dan Elisa, untuk sementara waktu tinggal di India? ini untuk kesembuhan Biyan. Aku tidak mau, mama menjadi khawatir jika anaknya Biyan, akan berlanjut dengan kelainannya itu "


Aji menimbang-nimbang, bagaimana sebaiknya yang akan dia putuskan. Tapi, dia akan tetap mencoba, untuk tinggal di India, karena dia juga ingin tahu, apakah obat-obatan yang dulu diberikan paman Ranveer padanya, masih ada efek samping atau tidak. Dia tidak ingin, jika terlambat saat mengetahuinya, dan itu sudah berakibat fatal untuk kesehatan dan keselamatan hidupnya sendiri. Dia tidak ingin meninggalkan Elisa sendirian di dunia ini.


"Semoga, semua akan baik-baik saja. Biyan bisa normal lagi, dan Elisa juga bisa hamil dalam waktu dekat, setelah selesai wisuda. Aku tidak ingin dia repot, saat wisuda malah hamil dan ngidam yang tidak-tidak. Itu pasti akan menyiksanya dan tidak bisa nyaman saat sekarang ini."


Aji, sudah berandai-andai untuk masa depannya dengan Elisa. Dia ingin semuanya berjalan dengan baik, dan tidak ada halangan untuk semua yang dia harapkan.

__ADS_1


"Mama dan papa tidak boleh tahu, jika kepergian_ku ke India, untuk menjauhkan Biyan dari Elisa juga. Aku akan tetap pura-pura tidak tahu, jika adikku itu sedang menjalani terapi. Biar mereka tenang dan tidak merasa bersalah."


Aji, berharap agar adiknya, Biyan, bisa kembali normal. Dia akan menyimpan rahasia ini seorang diri, dan tidak memberitahukan kepada siapa-siapa, termasuk Elisa, istrinya sendiri, agar hubungan antara keluarga, akan tetap tenang dan nyaman seperti biasanya.


__ADS_2