Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Penelusuran


__ADS_3

Aji, segera menutup pintu kamar, saat Jeny pamit untuk keluar dan kembali ke kamarnya sendiri. Dia, kembali membuka video, yang tadi belum sempat dia lihat.


Dari penglihatan mata Aji, wajah yang tertangkap kamera cctv jalan itu memang Elisa. Tangkapan kamera itu, tidak begitu jelas, karena gadis yang ada di dalam video itu sedang berjalan, dan ada satu lagi sedang berboncengan dengan sepeda motor.


"Tapi sepertinya, dia memang Elisa. Aku perlu tahu, ada di daerah mana cctv ini berada."


Aji, memangil orang suruhannya melalui telpon.


..."Halo Ji."...


..."Om. Dimana cctv ini berada?"...


..."Apa benar dia orangnya?"...


..."Tidak begitu jelas Om. Tapi, jika tahu daerahnya, Aji ingin memantau secara langsung saja."...


..."Kamu yakin, sudah kuat?"...


..."Ya."...


..."Baiklah. Om akan kasi tahu alamat dimana cctv jalan itu terpasang."...


Dari pemberitahuan pesuruhnya, Aji mengetahui daerah yang menjadi target. Tapi, dia belum menemukan alasan untuk bisa keluar dari rumah tanpa di dampingi oleh adik-adik, atau mamanya.


"Aku cari alasan apa ya, agar bisa pergi sendiri?" Aji, berpikir untuk bisa keluar dari rumah, seorang diri, tanpa di kawal siapapun.


*****


Saat sarapan pagi. Aji mengutarakan maksudnya, untuk bisa keluar rumah seorang diri. Dia ingin mengetahui kebenaran, dari video yang dia terima secara langsung.


"Pa. Nanti Aji, mau keluar sebentar. Ada mobil kosong kan?" tanya Aji, pada papa Gilang.


"Ada. Ada supir juga di rumah. Minta antar saja," jawab papa Gilang, dengan melihat ke arah Aji sebentar.


"Gak usah Pa. Aji cuma mau melatih kaki dan ruang gerak Aji. Tidak apa-apa kan?" tanya Aji lagi, memastikan ijin dari papanya.


"Nanti siang saja Kak, nunggu kita pulang sekolah. Nanti kita temani," usul Vero, menyahut cepat perkataan kakaknya.


Vero, memang lebih banyak bicara di banding kembarannya, Biyan.


"Tidak usah. Kakak mau pergi sendiri."


"Kamu masih ingat jalanan Jakarta?" tanya mama Cilla, tidak yakin.


"Sekarang kan mudah Ma. Ada aplikasi yang bisa mencari lokasi suatu tempat dengan mudah," sela Vero lagi.

__ADS_1


"Hemmm..."


Papa Gilang, memperingatkan anaknya, Vero, tanpa berkata secara langsung, agar tidak lagi memotong pembicaraan orang lain, jika tidak di perlukan.


"Hehehe, maaf Pa," kata Vero meminta maaf, karena merasa di sindir papanya.


"Aji, ingat Ma. Jika Aji lupa, nanti bisa telpon Mama atau yang lain untuk minta dijemput atau memberi tahu arah jalan yang benar. Banyak papan petunjuk arah juga kan?" kata Aji, menyakinkan mama Cilla.


"Ya, tidak apa-apa."


Kali ini, papa Gilang yang menyahuti. Dia ingin, anaknya itu tidak selalu tergantung pada orang lain, meskipun orang itu tidak merasa keberatan juga.


"Terima kasih Pa."


"Tapi ingat, tetap hati-hati."


"Siap Pa!"


"Kalau begitu, sekalian antar Jeny ke kampus deh Kak," usul Jeny, setelah papa Gilang mengijinkan Aji, untuk membawa mobil sendiri untuk keluar rumah.


"Biasanya bawa mobil sendiri?" tanya Aji pada Jeny.


"Sekali-kali diantar Kakak. Sudah lama banget, Jeny tidak di antar Kakak sekolah. Besok-besok, kalau udah nikah, gak minta antar juga kan?" rengek Jeny dengan manja.


"Iya deh ... yang mau nikah. Pamer!" seru Vero sambil mencibir Jeny.


"Hehehe, maaf lagi Pa," kata Vero, meminta maaf lagi, karena di tegur papa Gilang lagi, secara langsung.


Mama Cilla, mengeleng melihat tingkah laku anak-anaknya kalau sedang berkumpul bersama.


"Iya. Nanti Kakak antar, tapi pulangnya, Kakak tidak bisa janji untuk menjemput," kata Aji pada akhirnya.


"Ok!" jawab Jeny cepat, sambil tersenyum senang.


*****


"Kakak sebenarnya mau kemana?" tanya Jeny, saat perjalanan menuju ke kampusnya.


"Cuma mau jalan-jalan dan keliling kota saja," jawab Aji, datar.


"Tumben?" tanya Jeny, tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya itu.


Tapi, Aji tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya diam dan berkonsentrasi pada kemudi mobil yang dia jalankan.


"Kakak tidak mau mencari Elisa kan?" tanya Jeny lagi, dengan nada menyelidik.

__ADS_1


"Apa itu tidak benar?" jawab Aji, balik bertanya.


"Jadi, maksudnya ini, Kakak benar-benar mau mencari Elisa? kalau begitu Jeny ikut ya?" tanya Jeny lagi, memastikan.


"Tidak."


"Tidak apa?" tanya Jeny bingung dengan arah jawaban kakaknya itu.


""Tidak semuanya." Aji, menjawab pertanyaan dari adiknya, tetap dengan wajahnya yang datar.


Tapi, Jeny terus mendesak, agar kakaknya itu, mengatakan maksud dari keinginannya, keluar dari rumah dengan membawa mobil sendiri.


"Jen. Kakak juga ada kepentingan. Dan tidak semua hal itu, harus Kakak katakan pada orang lain. Termasuk pada orang rumah juga."


Jawaban terakhir dari kakaknya, membuat Jeny terdiam, dan tidak lagi bertanya-tanya. Dia tahu, jika sudah seperti ini, kakaknya itu, tidak mau di tanya-tanya lagi.


Akhirnya, Jeny diam sepanjang perjalanan menuju kampusnya. Dia tidak mau bicara lagi.


Aji juga sama. Dia tidak lagi mengatakan sepatah katapun dan tidak bertanya juga, kapan waktunya Jeny selesai jam kuliahnya nanti.


"Kakak kenapa ya? sepertinya ada hal yang serius yang dia sembunyikan." Jeny, bertanya kepada dirinya sendiri.


"Tidak biasanya kakak seperti ini padaku. Ah, Aku jadi ingin tahu apa yang akan dia lakukan."


"Sudah sampai," kata Aji, memberitahu Jeny, saat sudah sampai di gerbang masuk kampus.


"Eh... sudah sampai ya."


Jeny berkata dengan gugup. Dia tadi sedang melamun, sehingga tidak sadar, jika sudah sampai di tempat tujuannya.


"Jeny turun ya Kak. Terima kasih, dan ingat ya, Kakak harus berhati-hati dan memberi kabar jika terjadi sesuatu di jalan!"


"Ya," jawab Aji pendek, kemudian segera melajukan mobilnya lagi menuju ke arah jalan raya.


Jeny, terus memandang kepergian Kakaknya dengan mobil, hingga mobil itu menghilang dari pandangannya.


"Semoga kakak bisa menemukan Elisa," batin Jeny, tanpa sadar, jika dia berharap, apa yang dilakukan kakaknya itu, dalam rangka mencari tahu keberadaan temannya, Elisa.


"Sepertinya alamat semalam tidak begitu jauh dari sini," guman Aji saat berhenti di sebuah jalan, yang tampak ramai di pagi hari.


"Semoga, hari ini juga, aku bisa menemukannya. Kamu tidak akan bisa lepas dariku El!" batin Aji, ambil mengamati sekitarnya.


*****


Dari gang kecil, tak jauh dari tempat parkir mobil Aji, tampak seorang gadis berjalan dengan santai menuju ke jalan yang lebih ramai. Dia berjalan tanpa memperhatikan keadaan sekitarnya.

__ADS_1


"Wah... kayaknya hari ini mendung. Semoga saja, mini market tidak terlalu ramai. Aku merasa sedikit tidak enak badan. Mungkin karena kerja siang dan malam, jadi lama-lama, badanku terasa capeknya." Elisa berkata pada dirinya sendiri, sambil melihat ke atas. Meneliti langit yang tampak gelap dan menutupi sinar matahari yang seharusnya sudah sedikit tinggi.


Ternyata, gadis yang tadi keluar dari gang kecil adalah Elisa. Dia sedang berjalan menuju tempat kerjanya, mini market yang berada tidak jauh dari tempatnya kost sekarang ini.


__ADS_2