Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Akun Miranti


__ADS_3

Aji menunggu mamanya dengan wajah gelisah. "Mama mana ya?" tanya Aji bergumam, seakan pada dirinya sendiri.


Mami Rossa yang mendengar gumaman kecil cucunya mengeleng samar. "Oma buatkan ya? Mama mungkin sedang mengurus bayi besar," kata mami Rossa menawari Aji.


"Mama ada kok," kata Cilla dari arah ruang tengah.


"Nah, itu mama," kata mami Rossa tersenyum ke arah Cilla.


"Bagaimana bayi besarnya?" tanya mami Rossa, melanjutkan kata-katanya.


Cilla hanya tersenyum menanggapi perkataan mami Rossa. Dia terus melangkah dan mencari kotak susu milik Aji. Menuang bubuk susu dan memberinya air hangat. "Ini Sayang," kata Cilla dengan menyodorkan gelas susu, yang sudah jadi pada Aji.


"Terima kasih Ma. Memangnya bayi besar Mama siapa?" tanya Aji ingin tahu kejelasannya, siapa yang di maksud dengan bayi besar oleh omanya.


"Em, itu hanya gurauan oma Sayang. Tidak usah dipikirkan ya!" kata Cilla mengingatkan Aji.


Mami Rossa yang sekarang sedang berada di ruang tengah, tersenyum mendengar jawaban yang diberikan oleh Cilla pada anaknya, Aji.


"Setelah ini, Aji istirahat ya, tidur biar tidak capek."


Cilla menyuruh Aji, untuk pergi tidur siang, setelah menghabiskan susu hangatnya.


"Ya Ma," jawab Aji patuh.


Setelah selesai, Aji turun dari tempat duduknya dan melangkah menuju ke tempat duduk mamanya. "Ma. Aji tidur dulu. Tidak usah ditemani, Aji sendiri saja. Atau mama juga mau tidur?" tanya Aji pada mamanya.


"Beneran sendiri tidak apa-apa?" tanya Cilla menyakinkan.


"Iya," jawab Aji cepat.


"Ya sudah, Mama mau bantu bibi masak. Aji tidur dulu, nanti kalau waktunya makan Mama bangunkan ya!"


Aji menganguk mengiyakan perkataan Mamanya. Dia terus melangkah ke arah kamar tidur, tapi berbelok ke ruang tengah untuk berpamitan pada omanya terlebih dahulu.


"Oma. Aji mau tidur dulu," pamit Aji pada mami Rossa.

__ADS_1


"Ok Sayang. Selamat tidur cucunya Oma," kata mami Rossa, sambil mencium kedua pipi cucunya itu.


*****


Aji sudah berada di dalam kamar. Dia tidak langsung pergi ke tempat tidur, tapi membersihkan diri terlebih dahulu di kamar mandi.


Tak lama, Aji sudah keluar dari kamar mandi. Dia sudah berganti pakaian yang nyaman untuk berada di rumah.


Kini dia duduk dengan tenang di depan laptopnya. Aji mengaktifkan handphone dan menyambungkannya dengan laptop, mengakses informasi yang terkait dengan berita-berita yang dia sukai.


Dengan kacamata anti radiasi yang dia pakai, Aji kembali aktif di dunia hancker, terutama untuk keamanan perusahaan papanya, tanpa diketahui oleh siapapun.


Saat Aji membaca berita tentang Sekar Mayangsari, ada satu petikan kalimat, yang disampaikan oleh Sekar saat memberikan keterangan pada penyidik, yang membuat Aji ingin marah, tapi juga tertawa. Di sana, Sekar berkata jika dia memiliki hubungan kerjasama dengan pengusaha Indonesia yang bernama Miranti.


"Hahaha... Miranti online nih!"


Aji tertawa-tawa senang dengan apa yang dia baca. Jadi selama ini, yang menjadi pertanyaan dunia tentang siapa sosok pengusaha yang menjadi mitra Sekar, adalah Miranti.


Miranti adalah akun milik Aji, yang kemarin dia pakai untuk menyelidiki akun Siemoy. Lalu apa maksud dari Sekar bicara tentang sosok Miranti?


"Mungkin Sekar, hanya ingin mencari kambing hitam, atau mengalihkan perhatian penyidik untuk sosok Eko Julianto, yang sedang dalam pencarian," pikir Aji tentang semua yang dikatakan oleh Sekar, baru-baru ini.


Kini Aji mencoba menelusuri akun Miranti dari akun lain miliknya. Tapi akun Miranti, yang sudah dia hapus jejaknya sedari awal, sudah tidak bisa ditemukan lagi. Bahkan percakapan dengan Siemoy waktu itu juga sudah ikut terhapus.


"Aman."


Aji kembali pada berita FBI terkait kasus Sekar. Dari hasil penyelidikan intelejen FBI, mereka menemukan hanker AJIP yang katanya misterius. Dari sinyal yang di temukan, hancker ini berada di negara yang berbeda-beda. Kadang berada di Austria, Nigeria, Brazil, dan bahkan kadang tidak terdeteksi.


AJIP menjadi sosok yang sangat dicari, tapi untuk melakukan kerjasama , bukan karena kejahatannya. Bahkan, FBI menwarkan AJIP ikut bergabung dengan FBI dalam menanggani kejahatan internasional, terkait barang-barang haram, narkoba.


Aji hanya tersenyum membaca berita itu. Dia juga mendapatkan pesan dari berbagai teman-temannya, sesama hancker dari berbagai kalangan dan yang tersebar di seluruh dunia.


"Good job AJIP."


Begitu kira-kira pesan mereka. Padahal, tidak ada yang tahu secara pasti, bagaimana sosok AJIP yang mereka kenal sebagai hacker. Bahkan keberadaan AJIP, juga masih menjadi tanda tanya untuk semua orang, yang berkepentingan dengannya. Dia hanya dikenal sebagai sosok hancker misterius, yang hadir tanpa undangan dan juga meminta pujian.

__ADS_1


Aji terus mengikuti perkembangan pada kasus Sekar, yang di tangani oleh pihak FBI. Dia tidak lagi ikut campur dalam penyelidikan. "Biarlah itu jadi pekerjaan FBI. Aku sudah memberikan mereka jalan. Tinggal menelusuri jejak, dan meminta keterangan dari Sekar saja.


Akhirnya, Aji menonaktifkan semua akun miliknya, mematikan sambungnya internetnya, dan mencopot sambungan kabel handphone yang terhubung dengan laptopnya.


Aji bersiap-siap untuk tidur, sebelum mamanya tahu, jika dia masih terus bermain dengan handphonenya, dan belum juga tidur siang seperti yang dia katakan saat berpamitan tadi.


*****


Malam saat melihat papanya baru saja pulang, Aji merengek minta di gendong. Tapi dia tidak mengatakannya secara langsung. "Pa. Papa," kata Aji tidak jelas dengan apa yang dia inginkan.


"Apa Sayang?" tanya papanya bingung dengan permintaan anaknya yang tidak jelas itu.


Aji menarik-narik ujung jas papanya. Dia juga menarik tas kerja yang masih ada di tangan papanya.


"Aji. Sayang, kenapa? Hem. Minta apa?" tanya Gilang lagi. Dia ingin tahu, apa yang diinginkan anaknya itu.


"Sini!"


Aji meminta pada Gilang, agar mau menunduk, sejajar dengan dirinya.


Gilang pun akhirnya menurut saja apa yang diinginkan anaknya itu. Dia penasaran, dengan apa yang akan dilakukan Aji setelah ini.


Tapi perkiraan Gilang salah. Dia pikir, Aji ingin berbisik-bisik mengatakan sesuatu, karena butuh mainan atau ingin dibelikan makanan. Ternyata, Aji naik kepunggungnya. Aji ingin digendong dari arah belakang.


"Oh... Bilang dong Sayang! Papa pikir mau apa," kata Gilang, kemudian mengajak Aji menuju ke arah meja makan.


Cilla yang melihat tingkah anaknya itu, merasa tidak enak hati. "Aji. Turun Sayang! Papa baru pulang dan pastinya capek," kata Cilla mengingatkan Aji.


"Tidak apa-apa Honey. Nanti kalau Aku capek, kamu yang pijitin ya! Hahaha..."


Gilang malah tertawa lepas mendengar perkataan Cilla. Apalagi saat melihat Cilla yang melotot melihat kearahnya.


"Papa saja tidak apa-apa kok Ma," kata Aji membela diri.


"Tapi, papa baru pulang. Banyak kuman!"

__ADS_1


Cilla memberikan alasan yang dirasa cukup jelas. Tapi sepertinya, itu tidak berpengaruh pada kedua laki-laki berbeda usia tersebut.


"Sudah Non Cilla. Biarkan saja den Aji dan tuan muda bermain-main. Mungkin den Aji kangen. Kan sekarang, taun muda lebih banyak waktunya untuk ke kantor," kata bibi mencegah Cilla untuk melarang Aji dan Gilang yang bermain-main.


__ADS_2