Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Biyan Sakit


__ADS_3

Dengan mengikuti semua prosedur yang berlaku di kantor polisi, papa Gilang yang didampingi pengacara bisa membebaskan Biyan dengan catatan bahwa, dia harus absen ke kantor polisi, seminggu sekali selama tiga bulan kedepannya. Ini untuk mendisiplinkan Biyan, yang masih berstatus sebagai pelajar.


Papa Gilang berjanji, akan menemani anaknya itu, jika datang ke kantor polisi. Jika dia berhalangan, istrinya, mama Cilla, akan menemani anaknya, Biyan, untuk hadir absen ke kantor polisi mengantikan posisinya.


Mama Cilla mengangguk mengiyakan. Dia juga sama patuhnya dengan papa Gilang, pada aturan yang berlaku di kantor polisi. Tadi, semua aturan ini sudah dijelaskan pihak pengacara sebelum mereka sampai ke kantor polisi. Papa Gilang dan mama Cilla, hanya bisa mengikuti apa yang sudah menjadi peraturan, karena memang anaknya yang bersalah.


Tadi, sebelum Miss Yeti berpamitan pada mama Cilla, dia sempat berbicara berdua dengan Biyan. Entah apa yang mereka bicarakan, mama Cilla tidak ingin bertanya pada anaknya itu. Yang pasti, saat ini, Biyan hanya bisa diam sambil menunduk saja. Mungkin dia merasa sedikit takut karena tahu jika kakaknya Aji, ada di rumah juga saat ini.


Mama Cilla memberitahukan kepada Biyan, jika kakaknya Aji dan juga istrinya, Elisa, ikut pulang ke Indonesia bersama dengan bayinya, Ka Singh. Bahkan, ayah angkat kakaknya juga ikut, yaitu tuan besar Sangkoer Singh.


Meskipun Biyan merasa takut, tapi dia juga merasa lega karena sudah bebas dari tahanan polisi. Mobil kakaknya, akan di antar oleh pihak kepolisian setelah pengacara menyelesaikan urusan yang tadi diserahkan kepadanya. Papa Gilang berpesan pada pengacaranya, agar secepatnya melakukan semua yang jadi persyaratan untuk bisa membawa kembali mobil itu.


"Biyan. Kamu harus berhati-hati dalam bergaul. Jangan seperti kemarin-kemarin ya," kata mama Cilla, berharap agar anaknya, Biyan bisa merubah kebiasaannya, yang bergaul dengan orang-orang dewasa dan berada di club malam juga.


Biyan tidak menjawab. Dia hanya diam dan tidak tahu harus berkata apa. Dia sudah tidak ada keinginan lain, selain bisa secepatnya sampai di rumah dan melihat kakak iparnya lagi, yaitu Elisa. Istri dari kakaknya, Aji.


"Biyan. Vero sudah mendaftarkan diri ke universitas di Jepang. Kamu mau kemana?" tanya papa Gilang, mengalihkan pembicaraan mereka berdua, istrinya tadi, agar Biyan tidak ada kesempatan untuk berpikir yang tidak-tidak.


"Entahlah Pa. Biyan tidak ada semangat belajar lagi. Biyan ingin bekerja saja," jawab Biyan acuh dan dingin. Dia sepertinya tidak ada semangat sama sekali.


Tentu saja, jawaban yang diberikan oleh Biyan membuat papa Gilang mengerutkan keningnya. Begitu juga dengan mama Cilla. Mereka berdua bingung menghadapi anaknya yang satu ini.


"Kenapa?" tanya mama Cilla. Dia ingin tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Biyan saat ini.


"Biyan tidak ingin merepotkan Mama dan Papa terus. Biyan ingin mandiri, dan tidak tergantung pada keluarga. Biyan mau bertanggung jawab pada diri sendiri Ma," jawab Biyan, memberikan alasan kenapa dia menginginkan untuk bekerja saja.


Papa Gilang tidak mengatakan apapun, untuk mengomentari jawaban dari Biyan itu. Dia hanya berpikir, jika anaknya masih dalam keadaan yang tidak stabil. Pikirannya masih kacau, dan mungkin juga sedikit frustasi karena ditinggal oleh kekasihnya yang dewasa, yaitu miss Yeti.

__ADS_1


Mama Cilla memeluk Biyan, memberikan kehangatan dan perhatian sebagai orang tua yang tidak rela, jika anaknya itu harus banyak memikirkan sesuatu. Dia tidak ingin, anak-anaknya mengalami hal yang sama seperti yang pernah dia rasakan waktu lampau. Harus berhenti dari sekolah dan bekerja keras untuk kehidupan sehari-hari.


Tapi, sepertinya Biyan tidak memikirkan hal itu. Dia hanya ingin bebas dari segala bentuk aturan remaja, dan ingin hidup layaknya orang dewasa yang diakui keberadaannya oleh dunia. Dia ingin menunjukkan jati dirinya sendiri sebagai seorang Biyan.


Mungkin ini juga yang sering terjadi pada remaja-remaja sekarang ini. Pencarian jati diri mereka, kadang tidak sesuai dengan harapan dan keinginan orang tua mereka. Bahkan, ada yang melenceng jauh dari garis norma, kemudian bebas berada di jalanan, menjadi seorang yang tidak terlihat seperti anak-anak pada umumnya.


Semua itu tidak pernah diharapkan oleh mama Cilla dan juga papa Gilang. Bahkan mungkin untuk semua orang tua. Pastinya, mereka menginginkan yang terbaik bagi kehidupan anak-anak mereka. Hanya saja, pemikiran orang tua kadang berseberangan dengan pemikiran anak-anak jaman sekarang.


"Kamu pikir panjang dulu apa yang ingin Kamu lakukan ke depan. Papa tidak akan melarang, selama Kamu tidak berbuat kesalahan lagi."


Begitulah akhirnya papa Gilang memberikan pandangannya, terhadap keinginan anaknya itu. Dia tidak ingin memaksakan kehendaknya lagi, pada anak-anaknya, jika mereka juga tidak menginginkannya.


Mama Cilla hanya menatap ke arah suaminya, yang ada di sebelahnya dengan pandangan yang berbeda. Dia heran, karena papa Gilang menjadi lunak terhadap keputusan yang diambil oleh anaknya, Biyan. Tapi dia tidak mengeluarkan suara untuk bertanya tentang perkataan suaminya itu.


*****


Di rumah, persiapan untuk selamatan anaknya Aji sedang dilakukan. Tadi, papa Gilang dan mama Cilla sudah memberikan beberapa perintah untuk para pegawai dan pembantu rumah untuk mempersiapkan segala sesuatunya.


Aji dan Elisa hanya mengikuti apa yang sudah dilakukan oleh kedua orang tuanya, yaitu mama Cilla dan papa Gilang.


Semua sudah sibuk saat sore harinya, ketika mama Cilla dan papa Gilang datang bersama dengan Biyan. Aji dan Vero yang sedang berada di teras depan rumah, bersama dengan tuan besar Sangkoer Singh dan juga dokter Dimas, langsung berdiri menyambut kedatangan mereka.


"Biyan," sapa Aji, begitu Biyan keluar dari dalam mobil. Dia juga memeluk adiknya itu.


Setelah itu, ganti Vero yang memeluk kembarannya. "Kamu baik-baik saja?" tanya Vero, dengan memperhatikan kondisi Biyan dari atas ke bawah.


"Iya, Aku baik-baik saja. Kecuali ini," jawab Biyan sambil menunjuk ke arah dadanya sendiri.

__ADS_1


Vero bingung, mendengar jawaban dari kembarannya itu. "Apa maksud Kamu?" tanya Vero bingung.


"Tidak ada," jawab Biyan pendek. Acuh dan berlalu pergi ke dalam rumah. Dia ingin beristirahat di kamar, karena di dalam tahanan polisi, dia tidak bisa beristirahat dengan nyaman.


"Hai Om Biyan," sapa Elisa, menyapa dengan menyebutkan panggilan 'Om' untuk anaknya, yang sedang ada dipangkunya.


"Kak El," sapa Biyan datar, namun deg-degan di dalam hatinya. Dia tidak bisa melupakan perasaannya sendiri terhadap kakak iparnya itu.


Biyan menghampiri mereka, Elisa dan Ka Singh. Dia juga menyalami Elisa dengan wajar, namun telapak tangannya terasa sangat dingin di tangan Elisa.


"Kamu sakit Biyan? kok telapak tangan Kamu dingin banget," tanya Elisa dengan khawatir. Dia memegang tangan Biyan, yang terasa semakin dingin, apalagi telapak tangan itu terlihat basah karena berkeringat.


"Ti_tidak Kak. Bi_biyan, Biyan baik-baik saja kok," jawab Biyan dengan gugup. Dia tidak bisa terus-terusan menghadapi kakak iparnya itu dengan wajar.


Mama Cilla yang datang dari arah belakang mereka, melihat kejadian itu. "Ada apa?" tanya mama Cilla penasaran, karena melihat Biyan yang gugup, dan Elisa masih memegang tangan anaknya, Biyan.


"Ini Ma, Biyan tangannya dingin sekali. El cuma bertanya, apakah dia sedang sakit?" jawab Elisa, kemudian menunjukan tangan Biyan pada mama Cilla. Dia tidak tahu, apa yang sebenarnya dirasakan oleh adik iparnya itu.


Mama Cilla memeriksa keadaan tangan Biyan. Dia juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Elisa, dengan tangan Biyan yang terasa dingin dan berkeringat. Akhirnya, mama Cilla memangil dokter Dimas, yang ada di depan tadi, mengobrol dengan yang lainnya. Termasuk dengan suaminya, papa Gilang.


"Dimas, dokter Dimas! Ini Biyan, Biyan sakit! cobalah periksa," panggil mama Cilla dengan panik.


Semua orang yang ada di depan, masuk ke dalam rumah. Mereka juga ingin melihat keadaan Biyan, yang baru saja pulang dari kantor polisi, dan sekarang sakit. Mereka berpikir, jika ini adalah keadaan yang wajar, karena di kantor polisi tidak mungkin bisa tidur dan beristirahat dengan nyaman. Apalagi makanan yang disediakan, belum tentu sama seperti yang disukai seperti saat berada di rumah.


Biyan di bawa ke kamar untuk diperiksa oleh dokter Dimas. Untungnya, dokter Dimas datang ke rumah ini, setelah selesai bertugas dari rumah sakit, jadi alat-alat ada juga dia bawa bersamanya. Sekarang, dokter Dimas memeriksa keadaan Biyan, yang disaksikan oleh mama Cilla dan juga papa Gilang. Sedangkan yang lainnya, menunggu di ruang tengah, bersama dengan Elisa dan juga Jeny yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Tadi Biyan kenapa Sayang?" tanya Aji pada Elisa. Dia tadi merasakan hal yang biasa saat memeluk adiknya, Biyan.

__ADS_1


Elisa pun akhirnya menceritakan kepada Aji, bagaimana Biyan tiba-tiba berkeringat dan badannya jadi dingin. Ini diketahui Elisa, saat dia memegangi tangan Biyan tadi.


Dari cerita Elisa, Aji bisa menyimpulkan bahwa, Biyan masih begitu kuat menyimpan perasaannya pada Elisa. Sekarang, dia harus berpikir lagi, bagaimana caranya agar adiknya itu bisa bersikap biasa pada istrinya, Elisa. Atau dia akan pergi lagi ke India, hanya untuk menjauhkan adiknya itu dari 'kegilaannya' terhadap istrinya, Elisa. Sama seperti yang dia lakukan setahun yang lalu. Meskipun ternyata, semua itu tidak ada hasilnya, sebab ternyata Biyan tidak berubah juga sampai sekarang.


__ADS_2