Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Penuh Dengan Cinta


__ADS_3

Suasana dan keadaan apartemen yang mereka tinggalkan selama dua hari, tampak masih sama seperti biasanya.


Mereka berdua, Aji dengan Elisa, masih berbaring di ranjang dalam keadaaan saling berpelukan. Mereka berdua baru saja melepas rindu, karena berpisah dua hari kemarin.


"Kak," panggil Elisa, dengan mendongak ke arah suaminya. Dia melihat Aji, yang masih terpejam meskipun tidak tertidur, karena menikmati kebersamaan mereka.


"Hemmm."


Aji, tidak menjawab. Dia hanya memberi kode, agar Elisa melanjutkan kalimatnya, untuk bertanya atau membicarakan soal lain.


"Tadi Kakak bilang, mau ajak Elisa tinggal di India. Memangnya kenapa, ada apa?" tanya Elisa, yang masih merasa penasaran dengan ajakan suaminya itu.


"Tidak ada apa-apa. Kakak hanya ingin ganti suasana saja. Siapa tahu, di sana kita bisa cepat punya anak, dan cakep-cakep kayak orang-orang India juga, hehehe..."


Jawaban yang diberikan oleh suaminya itu, membuat Elisa mencubit dada suaminya. "Ihsss, mana bisa begitu. Orang yang punya gen kita, gak ada darah India juga," kata Elisa, menggelengkan kepalanya yang masih berada di dalam pelukan suaminya.


"Hahaha... siapa tahu bisa, kan wajahnya Kakak sudah ada mirip-miripnya dengan orang India juga Sayang," jawab Aji, dengan terkekeh geli dengan pertanyaan Elisa yang memang benar.


"Gak mau. Aku maunya mirip El saja deh, biar kayak adik kakak nanti," kata Elisa, berandai-andai jika anaknya akan mirip dengan dirinya.


"Hemmm, Kamu mau perempuan apa laki-laki anak kita nanti?" tanya Aji ingin tahu, apa yang di inginkan Elisa untuk kelamin anak mereka nanti.


"Apa saja Kak, baru pertama ini. Tapi, yang El inginkan, dia nanti bisa tumbuh dengan sehat dan pintar."


"Aamiin... iya Kakak juga berharap begitu Sayang." Aji, mengamini harapan dari istrinya itu.


Elisa, melepaskan diri dari pelukan suaminya. Dia ingin bangun dan membersihkan dirinya terlebih dahulu. Tapi, gerakannya itu, justru membuat Aji lebih mempererat pelukannya, agar Elisa diam ditempat.


"Kakak. El mau mandi," rengek Elisa, agar Aji melepaskan dirinya.


"Nanti, Kakak masih kangen. Jika Kamu bergerak, justru Kamu membangunkan yang ada di bawah," jawab Aji, sambil memejamkan mata.


"Hah, apa sih?" tanya Elisa, yang belum paham apa maksud dari perkataan suaminya itu.

__ADS_1


"Masak tidak paham juga Sayang? Yang kangen itu, bukan hanya Kakak, tapi..."


"Ups!"


Elisa, menutup mulutnya dengan tangan karena merasakan sesuatu yang ada di bawah sana sedang...


"Ayo lagi," ajak Aji, sambil berguling, untuk naik ke atas tubuh Elisa, yang masih terbengong-bengong, dengan kelakuan suaminya itu.


*****


Hari sudah malam. Di apartemen, Aji sudah menyiapkan makan malam untuk dirinya dan juga Elisa.


Saat ini, Elisa sedang mengirim tugas akhir, yang diminta dosen pembimbing, untuk tugas skripsinya yang dia serahkan tadi siang.


"Sayang, sudah siap nih! ayo makan duku," teriak Aji, memangil Elisa yang ada di sofa ruang tengah, yang sekaligus ruang tamu juga, tak jauh dari dapur yang menyatu dengan ruang makan.


"Iya Kak, ini nunggu terkirim dulu sebentar," jawab Elisa, dari tempatnya duduk.


"Gak kok, ini cuma bab akhirnya, yang tadi diperiksa dan ada beberapa hal yang belum sesuai. Tapi, ini sudah selesai kok," jawab Elisa sambil menutup akses internet yang dia gunakan.


Elisa, beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan ke arah suaminya yang berada di dapur.


Dia duduk, sambil menunggu Aji, yang sedang menuangkan air ke dalam gelas.


"Silakan dinikmati makan malam yang indah ini Sayang."


Aji, meletakkan gelas berisi air yang dia tuangkan tadi, di depan Elisa.


"Terima kasih Kak. El jadi terharu, setiap hari diperlakukan seperti ratu. Hiks... hiks, jadi nangis kan ini," kata Elisa, sambil mengusap air mata yang tiba-tiba menetes begitu saja.


Dia merasa bahagia, karena perlakuan Aji yang selalu memanjakan dirinya.


"Kakak justru yang kangen, jika tidak makan denganmu. Dua hari kemarin, Kakak tidak enak makan, karena ingat dengan Kamu terus."

__ADS_1


Elisa, bangkit dari tempat duduknya dan memeluk suaminya, yang masih berdiri di belakangnya.


"Kakak... maaf ya, El belum bisa jadi istri yang baik dan tidak bisa melayani Kakak dengan menyiapkan makan yang enak."


Elisa, meminta maaf pada Aji, yang saat ini, memeluknya juga, sambil mengusap-usap rambutnya dengan tersenyum.


"Tidak apa Sayang. Kakak menikahi Kamu, bukan untuk dijadikan koki atau tukang masak juga kan? tapi untuk menemani Kakak. Menjadi pelipur hati Kakak, dalam segala suasana, sepanjang waktu."


Jawaban yang diberikan oleh suaminya itu, membuat Elisa kembali menangis dalam keharuan. Dia merasa sangat beruntung, karena mendapatkan Aji sebagai suaminya. Perhatian yang diberikan bukan hanya untuk kegiatan ranjang saja, tapi dalam segala hal.


Aji juga tidak mempermasalahkan soal ketidakmampuan Elisa, dalam memasak. Bahkan, Aji yang selalu memasak untuk mereka berdua. Dan jika Aji, tidak ada waktu atau sedang ada diluar, Elisa, diminta untuk pesan makanan saja.


Itulah sebabnya, saat dia sedang ada tugas ke luar kota, seperti kemarin, dia meminta Elisa agar tinggal di rumah papanya, untuk sementara waktu. Tapi, justru itu membuat masalah baru, untuk kedua adik kembarnya, Vero dan Biyan.


Vero terkesan usil dan suka pada usil pada Elisa. Dia juga sangat jelas dan tidak menutup-nutupi, jika suka dekat dengan istrinya itu. Sedangkan Biyan, yang terkesan lebih tenang, diam dan tidak mau tahu tentang apapun, justru yang lebih parah dalam menyimpan perasaan.


Inilah yang membuat Aji merasa tidak nyaman. Dia tidak ingin, adik-adiknya itu, jadi keterusan dan mempunyai kelainan pada lawan jenis.


"Duduklah," pinta Aji, dengan membimbing Elisa, agar kembali duduk di tempatnya semula. Dia sendiri, ikut duduk di samping Elisa, di kursi yang lain.


"Kakak mau ajak Kamu tinggal di India. Besok, jika sudah lulus dan wisuda. Kakak ingin mencari obat, untuk racun-racun yang mungkin, masih ada tersisa di tubuh Kakak. Mungkin, jika di sana, Kakak akan lebih mudah mendapatkan obat itu, dibandingkan dengan obat-obatan kimia yang biasa Kakak konsumsi satu tahun terakhir ini. Kakak bosan, dan juga takut, jika obat-obatan itu, akan membuat benih Kakak tidak subur. Kapan bisa jadi anak, Kalau benihnya saja tidak sehat?"


Elisa, menggenggam tangan suaminya itu. Dia tidak mau mendengar Aji mengatakan soal itu lagi.


"Kenapa Kakak berpikir sejauh itu? Kita hanya bisa berusaha, dan tetaplah berpikir positif. Jika sudah tepat waktunya, kita pasti akan memiliki anak Kak. Jangan berpikir seperti itu lagi, Elisa tidak suka," kata Elisa, dengan menatap wajah suaminya sendiri. Dia juga masih menggenggam tangan Aji, untuk memberikan semangat dan juga dukungan.


"El akan ikut, apapun yang diputuskan oleh Kakak. Yang pasti, Elisa tetap akan ada di samping Kakak."


Aji tersenyum, mendengar perkataan istrinya. Dia ikut menggenggam tangan istrinya itu, dengan satu tangannya yang lain.


"Ayo Kita makan. Kasihan cacing-cacing dalam perut kita, yang sudah merasa lapar sedari tadi," ajak Aji, sambil melepaskan genggaman tangannya.


Elisa, tersenyum dan mengangguk. Mereka berdua menikmati kebersamaan ini, dengan makan malam yang penuh dengan cinta.

__ADS_1


__ADS_2