Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Tentang Elisa


__ADS_3

Elisa sedang ditenangkan oleh Rio, di sebuah rumah makan yang ada di dekat rumah sakit. Dia sedang sedih, karena setelah Aji sadar, tidak lagi mengenal siapa dirinya.


"Udah sih, gak usah sedih gitu. Besok-besok kan bisa kenalan lagi," kata Rio, kemudian menyodorkan gelas berisi jus alpukat untuk Elisa.


"Tapi kan kesannya udah beda lagi," sahut Elisa, dengan wajah sedih.


"Ck. Lebay bener sih," kata Rio, meledek Elisa.


"Tapi kan bener Rio. Kamu sih, gak ngerasain apa yang sedang Aku rasakan," rengek Elisa dengan wajah yang bertambah sedih.


"Iya-iya, Aku gak ngerasain," sahut Rio datar, tapi kemudian berlanjut lagi dalam hati, "justru, aku merasakan hal itu terlebih dahulu, sejak kamu bilang hanya mengangapku sebagai sahabat."


Tiba-tiba, handphone milik Rio bergetar. Saat dilihat, ada nama Jeny yang sedang memangil. Rio, segera mengangkatnya.


..."Halo Jen."...


..."Kalian di mana?"...


..."Rumah makan dekat dengan rumah sakit."...


..."Oh, Aku pikir pulang."...


..."Gak Jen. Ini lho, Elisa sedih. Jadi makan dulu."...


..."Sedih kenapa?"...


..."Kakak Kamu kan lupa sama dia, iya kan?"...


..."Oh, Aku pikir kenapa."...


..."Terus gimana?"...


..."Gimana apanya?"...


..."Elisa?"...


..."Gak gimana-gimana dong. Nanti juga kakak bakal ingat lagi. Kan ini baru sadar."...


..."Oh gitu. Ya sudah, nanti kesitu lagi. Ini biar makan dulu ya."...


..."Ya, yang kenyang ya!"...


..."Gak usah di suruh itu. Hehehe..."...


Sambungan telepon terputus. Elisa menatap wajah Rio, dengan maksud bertanya, "ada apa?" tanpa mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


"Ditanyain sama Jeny," jawab Rio, seakan-akan tahu, apa maksud dari tatapan mata Elisa.


"Terus?" tanya Elisa bingung.


"Terus gimana?" Rio justru balik bertanya pada Elisa.


"Maksudnya, Jeny tanya apa, bagaimana?" Elisa, menjelaskan pada Rio untuk pertanyaannya yang tadi.


"Gak ada. Aku cuma jawab kalau kita sedang makan."


"Oh, Aku pikir Jeny tanya tentang Aku, bagaimana setelah ini." Elisa, sedikit kecewa dengan prasangkannya yang salah.


"Maksudnya gimana sih?" tanya Rio dengan wajah bingung, dengan apa yang ditanyakan Elisa saat ini.


"Ck. Rio, Aku pikir tadi Jeny tanya tentang Aku bagaimana setelah ini. Tidurnya, kostnya atau yang lain."


"Oh... begitu. Maunya Kamu bagaimana?" tanya Rio ingin tahu, bagaimana pikiran Elisa saat ini.


"Aku mau balik kost yang kemarin itu. Terus besoknya, aku akan pamit ke mini market, dan minta nomor handphone milik Club malam, untuk memberikan kabar jika Aku mengundurkan diri dari pekerjaan. Bagaimanapun juga, Aku kan datang dengan baik-baik, dan Aku juga ingin perginya tanpa ada kesalahpahaman gitu."


"Ya sudah. Aku antar Kamu ke kost ya? tapi kita pamit dulu ke dalam." Rio menawari Elisa, agar dia tidak merasa sendiri saat ini.


"Kamu gak apa-apa, antar Aku ke kost yang ini? jauh lho tempatnya," tanya Elisa memberitahu pada Rio.


"Masih di Jakarta kan?" tanya Rio menyakinkan.


"Ya masih wilayah Jakarta ini, masih bisa dijangkau. Aku pikir pindah kota," kata Rio sambil nyengir.


"Huh, dasar gak jelas," kata Elisa dengan wajah cemberut.


"Makan dulu gih. Setelah itu, kita baru pamit dan pergi dari sini."


Elisa, hanya mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Rio. Dia memang sudah merasa lapar, jadi tidak perlu membatah lagi.


*****


Di dalam kamar pasien Aji, mama Cilla sudah bisa tersenyum lega, karena Aji sudah mengingat semua kejadian yang dia alami dulu. Bahkan, Aji juga bercerita jika setelah itu, dia di tolong oleh orang yang menabraknya saat bersandar di tiang listrik. Tapi entah kenapa, setelah itu, dia tidak mengingat apa-apa lagi, sebab dia sudah tidak sadarkan diri.


"Ya, dia itu adalah tuan besar Sangkoer Singh, ayah dari Mr Vijay Singh, yang pernah Kamu gantikan posisinya. Sekarang, Mr Vijay Singh juga baru sadar dari komanya. Kemarin, tuan besar Sangkoer Singh, baru memberi kabar pada Papa."


Papa Gilang, menceritakan tentang Mr Vijay Singh, yang sudah sadar dari komanya. Paman Ranveer, juga sudah ada di penjara, karena harus mempertanggung jawabkan perbuatannya selama ini.


"Kapan-kapan, Kita ke India untuk menjenguk Mr Vijay Singh, dan sekalian mau berterima kasih juga," kata Papa Gilang, mengakhiri ceritanya.


"Iya Mas. Aku juga berpikir begitu. Kita ambil waktunya setelah selesai acara pernikahan Jeny dan dokter Dimas bagaimana?" tanya mama Cilla dengan tersenyum.

__ADS_1


"Lho Ma, katanya mau bicara soal Elisa juga dengan Aji. Bagaimana itu?" tanya papa Gilang, setelah ingat dengan Elisa.


"Elisa?" tanya Aji, dengan mengerutkan keningnya bingung, setelah mendengar nama Elisa.


"Elisa siapa?" tanya Aji cepat, karena dia merasa jika nama itu tidak asing di telinganya.


"Elisa itu, temannya Jeny." Mama Cilla, menerangkan pada Aji.


Kini, ganti Jeny yang bercerita tentang Elisa pada kakaknya, dan bagaimana hubungan mereka selama ini, termasuk saat Aji belum mengingat adiknya sendiri, yaitu Jeny sendiri.


"Jadi, Elisa itu..."


"Dia calon istri Kamu Sayang," potong mama Cilla. saat Jeny ingin mengatakan jika Elisa adalah sahabat sekaligus kekasih kakaknya itu.


"Ma," tegur papa Gilang.


"Gak Mas. Aku tidak bisa menundanya lagi. Kamu tahu sendiri, bagaimana Elisa itu. Dia bukan gadis biasa, yang suka memanfaatkan keadaan. Dia juga menolak tawaran Mama, saat Mama bilang mau bantu keuangannya. Dia bilang ingin berusaha sendiri. Coba kalau gadis lain, pasti akan dengan senang hati menerimanya dan terus memanfaatkan keadaan yang ada."


Aji, mendengarkan semua perkataan mamanya. Jeny, hanya mengangguk mengiyakan saja apa kata mama Cilla.


Akhirnya, papa Gilang menanyakan kepada Jeny, dimana Elisa sekarang ini. "Elisa dimana Jen?"


"Ada sama Rio Pa, sedang makan. Dia gak bisa mikir, jika dalam keadaan lapar. Lagian, sedari siang memang belum makan juga kita semua," jawab Jeny memberitahu, dimana Elisa saat ini.


"Oh, begitu ya."


"Elisa memang tidak sama dengan gadis lain Pa," sahut mama Cilla.


"Gadis aneh," kata Aji, dalam hati.


"Jen... eh Tante, Om."


Tiba-tiba, Elisa datang dan langsung menyapa Jeny lantang, tapi segera mengecilkan suaranya, saat sadar jika ada mama dan papanya Jeny juga. Elisa, juga tersenyum canggung, saat melihat ke arah Aji yang sedang memicingkan mata, melihat kearahnya.


"Itukan baju Jeny, yang Aku kasih waktu dia ulang tahun." Aji melihat ke arah Elisa yang memakai baju, yang pernah dia kasih untuk hadiah adiknya, Jeny, yang sedang berulang tahun waktu itu.


"Maaf Om, Tante, kami mau pamit pulang."


Sekarang, Rio yang berkata untuk pamit. Dia mengatakan itu, karena melihat Elisa yang tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Rio tahu, Elisa merasa tidak enak hati dan malu juga.


"Elisa mau ikut pulang Rio?" tanya mama Cilla, dengan wajah cemas.


"Iya Tante," jawab Elisa dengan menganggukkan kepalanya.


"Jangan, tidak baik itu. Kan Rio kostnya khusus cowok, lah Kamu..."

__ADS_1


"Bukan begitu Tante. Maksudnya Elisa ikut pulang, tapi bukan ke kostnya Rio. El, pulang ke kost Elisa sendiri, Rio cuma mengantar saja." Dengan cepat, Elisa memotong perkataan mama Cilla, dan menerangkannya. Dia tidak mau, mama Cilla salah paham.


__ADS_2