
Perjalanan ke kantor EO berjalan dengan lancar. Sekitar pukul setengah lima sore, mereka semua bertemu, kemudian masuk kedalam bersama-sama.
"Bagaimana perjalanan tadi?" tanya Gilang pada Aji, yang sedang berada dalam gendongannya.
"Lancar Pa. Tadi tidak ada kemacetan ataupun kecelakaan yang terjadi," jawab Aji atas pertanyaan dari papanya.
"Syukurlah. Aji seneng gak nanti bisa pilih-pilih baju sendiri, yang Aji suka?" tanya Gilang lagi.
"Seneng dong Pa. Tapi kalau pakai baju warna merah lagi sama seperti kemarin boleh tidak?" Aji balik bertanya.
"Boleh dong! Paling cuma ganti model atau kombinasi saja, biar tidak sama persis. Aji suka warna merah kenapa?" tanya Gilang ingin tahu, bagaimana anaknya itu, bisa menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran.
"Suka saja. Mama juga tidak melarang. Justru mama menjelaskan, jika warna merah itu warna semangat, berani dan juga sebuah harapan untuk bisa sukses."
Gilang menoleh ke arah Cilla, yang ikut mendengarkan percakapan mereka berdua. Dia tersenyum pada Cilla, yang selama ini sudah mengajarkan banyak hal kepada anaknya itu.
"Terima kasih Honey. Kamu, sudah memberikan segalanya untukku. Dan Aji, adalah yang terbaik."
Gilang mengatakan semua itu pad Cilla dengan penuh perasaan. Dia benar-benar merasa beruntung bisa memiliki anak seperti Aji.
Mami Rossa, menepuk-nepuk lengan tangan Cilla. Dia juga merasa bahagia dengan hidupnya sekarang ini, dengan adanya mereka berdua, Cilla dan juga Aji.
"Nyonya. Silahkan ini di pilih, mana yang dirasa cocok," kata pegawai EO, dengan menyerahkan beberapa album foto, untuk memilih latar foto prewedding yang akan di lakukan hari Minggu besok.
"Pilih Honey," kata Gilang menyerahkan urusan itu pada Cilla.
"Mami. Bantu Cilla ya!" pinta Cilla, pada mami Rossa.
"Oh ya Mbak. Kami ingin tempatnya ada di taman dan kolam rumah kami sendiri. Bisa kan?" tanya mami Rossa mencoba untuk meminta pendapat dari EO.
"Bisa Nyonya. Sebentar lagi, pemilik EO akan datang. Nyonya bisa bicarakan nanti dengannya. Termasuk semua hal yang diperlukan untuk wedding nanti. Kami hanya ikut membantu," kata pengurus EO, menerangkan pada mami Rossa.
"Baiklah. Sembari menunggu, kami akan melihat-lihat dan memilih, mana yang sekiranya cocok untuk kami."
Akhirnya, mami Rossa dan Cilla sibuk menentukan pilihan mereka. Sedangkan Aji bersama dengan Gilang, papanya, melihat galeri foto dan beberapa contoh dekorasi pelaminan yang dipajang di dinding.
__ADS_1
*****
Urusan di kantor EO sudah selesai. Gilang dan Aji Aji, naik ke mobil dan duduk di kursi depan. Cilla dan mami Rossa, di kursi penumpang belakang. Sedangkan mobil satunya, yang tadi mengantar Gilang dari kantor, sudah diminta untuk kembali terlebih dahulu.
"Oma. Jadi kan kita mampir ke Mall?" tanya Aji tidak sabar.
"Aji mau mampir Mall?" tanya Gilang.
"Iya Pa. Tadi Oma juga sudah setuju," jawab Aji sambil menoleh ke arah omanya, yang ada dibelakang.
"Iya. Oma masih ingat kok. Tenang saja," kata mami Rossa tersenyum.
"Asyik... makan Burger!" seru Aji dengan suara nyaring.
"Kita mampir ke Mall terdekat ya pak," pinta mami Rossa pada supir.
"Baik Nyah," jawab pak supir patuh. Ini supir cadangan yang biasa mengurus taman. Supir yang biasa, masih harus beristirahat karena kecelakaan kemarin itu.
"Cilla, sedari tadi Mami perhatian Kamu banyak diam. Ada apa?" tanya mami Rossa pada Cilla, yang terdiam sedari keluar dari kantor EO.
"Eh, emh... tidak apa-apa Mi," jawab Cilla tergagap. Dia gugup mendapatkan pertanyaan dari mami Rossa yang tidak dia sangka-sangka. Ternyata sedari tadi, mami Rossa memperhatikannya juga.
"Iya Mi. Cilla hanya merasa capek saja kok," jawab Cilla dengan wajah memerah.
"Oh... Mami pikir ada apa. Hehehe..."
Mami Rossa, terkekeh mendengar jawaban dari Cilla. Dia tahu, bagaimana perasaan Cilla saat ini. Ada rasa gugup dan cemas, mendekati hari wedding yang semakin dekat. Mami Rossa tahu akan hal itu.
"Sudah. Tidak usah gugup begitu. Mami akan selalu ada buat Kamu dan Aji," kata mami Rossa, menenangkan hati Cilla. Dia mengenggam tangan Cilla dan menepuk-nepuk punggung tangan Cilla dengan satu tangannya yang lain.
"Terima kasih Mi."
Cilla ikut mengenggam tangan mami Rossa. Dia juga tersenyum, dan membuang nafas panjang untuk melegakan dadanya yang sedikit terasa penuh tadi.
"Hore... kita sudah sampai di Mall!" teriak Aji kegirangan.
__ADS_1
Setelah turun dari mobil, Aji berlari-lari kecil menuju ke arah pintu masuk Mall. Dia melihat-lihat, serta mencari-cari fastfood, yang menjual burger kesukaannya.
"Yeee... Pa, Ma, Oma. Ada di sebelah sana!" teriak Aji dengan melompat-lompat kegirangan. Dia juga menunjuk ke kedai fastfood, yang menjual burger, yang ada di depannya.
*****
Minggu pagi, rumah utama Gilang terlihat sibuk. Beberapa orang dari pihak EO sudah datang untuk persiapan foto prewedding Gilang dengan Cilla.
Aji, yang sudah terbangun dan juga selesai mandi, ikut menyaksikan kesibukan tersebut. Dia tampak serius memperhatikan mereka semua.
"Sayang, Aji. Ayok sarapan dulu!" ajak Cilla pada Aji.
"Iya Ma," jawab Aji sambil berjalan ke arah mamanya.
"Ma. Jadwal fotonya kan masih nanti, jam sepuluhan. Kok, itu orang-orang sudah pada datang jam tujuh pagi," kata Aji mengingat-ingat waktu janji dengan pihak EO, kemarin itu.
"Kan tadi mereka sudah bilang, hanya mengatur latar saja. Kata mereka, ada proyek di tempat lain lagi nanti agak siangnya. Makanya di sini didahulukan. Biar mereka tidak keteteran Sayang," jawab Cilla menjelaskan pada anaknya.
Sekarang, mereka berdua, sudah sampai di ruang makan. Mami Rossa dan Gilang sudah duduk menunggu mereka.
"Aji lihat apa Sayang?" tanya mami Rossa Dia ingin tahu apa yang tadi di lihat dan dikerjakan cucunya.
"Aji lihat para pekerja yang sedang mengubah taman dan kolam renang untuk tempat foto nanti," jawab Aji memberitahu.
"Ternyata, mempersiapkan semuanya itu ribet juga ya Oma. Padahal cuma untuk foto saja," kata Aji lagi.
"Hehehe... begitulah Sayang. Mereka harus bisa mengubah penampilan taman dan kolam menjadi sedemikian rupa, agar terlihat lebih bagus lagi nantinya."
Mami Rossa menerbangkan beberapa hal kada Aji. Dia harus terbiasa menjelaskan detail mungkin jika Aji bertanya sesuatu. Karena jika tidak, Aji akan terus bertanya dan bertanya lagi.
"Terus, Aji nanti ikut foto juga ya? Buat spa?" tanya Aji, dengan memandang papa dan mamanya secara bergantian.
"Aji kan, anaknya Mama dan Papa. Jadi sebisa mungkin, foto ini juga ada Aji nantinya," jawab Cilla dengan wajah cemas. Dia takut, jika nanti ada protes lagi dari anaknya itu. Apalagi kemarin, dia juga bertanya tentang banyaknya contoh-contoh foto prewedding, yang tidak ada anak kecilnya.
***
__ADS_1
Note : Hai semuanya. Sudah mau ending nih. Ada yang mau usul gak, ending mau dibikin seperti apa. Happy ending, atau sad ending. Asal tidak ngatung saja ya, soalnya bisa-bisa nanti author Aji diprotes sama author Reo, pemilik keturunan ketujuh. Jangan sampai kena kutukan deh...
🤗🤗😂😂🏃🏃