
Pemeriksaan mata Aji sudah selesai. Mami Rossa ikut merasa lega karena, cucunya itu masih bisa normal kembali dengan perawatan yang tepat dan intensif. Kini Aji ada di dalam gendongannya, sedangkan Gilang dan juga Cilla pergi ke kasir sekaligus menebus obat di apotik rumah sakit ini.
"Sayang. Jangan main handphone sama laptop dulu ya untuk saat ini. Yang pasti, Aji harus sembuh dulu!" Mami Rossa memberi nasehat pada cucunya itu.
Aji mengangguk mengiyakan. Kacamata yang dia pakai ikut bergerak-gerak saat dia mengangguk. Mungkin karena belum terbiasa jadi Aji sedikit merasa risih dengan gagang dan bingkai kacamata yang menganjal di area telinga dan juga pangkal hidungnya.
"Mana masih lama ya Oma?" tanya Aji melihat ke arah lorong rumah sakit dimana tadi mama dan papanya berjalan.
"Paling sebentar lagi juga sudah kembali kok," jawab mami Rossa menenangkan hati cucunya.
"Aji mau apa, kok nyari mama sedari tadi?" tanya mami Rossa setelah diam beberapa saat dan melihat Aji yang terus menerus menoleh ke arah lorong itu.
"Tidak ada Oma. Aji cuma khawatir dengan mama," Jawab Aji seperti orang dewasa saja.
"Kan ada papa Sayang. Mama Cilla pasti aman, percaya sama kata Oma ya!" mami Rossa mencoba menyakinkan cucunya lagi.
Aji hanya diam saja dan tidak menyahut. Dia masih merasa takut jika terjadi sesuatu pada mamanya, Cilla.
Setelah beberapa saat kemudian, tampak Cilla berjalan dengan Gilang dari arah lorong yang tadi mereka lewati saat berangkat. Mami Rossa menunjuk ke arah mereka untuk memperlihatkan pada Aji jika mamanya baik-baik saja. "Tuh, mama sama papa sudah balik lagi. Gak ada apa-apa kan sama mama?" Mami Rossa mengedip-ngedipkan mata pada Aji yang menganguk senang saat melihat mamanya sudah kembali lagi.
"Mama..." Aji langsung merentangkan kedua tangannya untuk minta di gendong oleh mamanya.
"Kenapa tidak diajak duduk Mi? Kan capek dan berat juga Aji," tanya Cilla pada mami Rossa.
"Sedari tadi Aji tidak tenang dan terus bertanya tentang kamu Cilla. Dia takut kamu kenapa-kenapa. Padahal kan kamu cuma menebus obat ke apotek rumah sakit juga. Tapi cemasnya Aji minta ampun!"
Mami Rossa menjelaskan tentang kekhawatiran Aji pada mamanya, Cilla. Gilang, yang mendengar semua penjelasan maminya baru sadar, jika sikap Aji ini mungkin menurun dari maminya, dan dirinya juga.
"Maaf Mi, Aji memang suka begitu. Berlebihan." Cilla meminta maaf atas sikap Aji yang terkesan aneh untuk orang lain yang belum mengerti sifat dan kebiasaannya.
__ADS_1
Kini Aji sudah beralih ke dalam gendongan Cilla. Tak lama, Aji berbisik pada mamanya. "Ma, Aji pengen pipis." Cilla tersenyum mendengar perkataan anaknya yang sudah merasa malu untuk mengatakan keinginannya terkait urusan belakang.
"Ya sudah yuk, sama Mama!" Akhirnya Cilla mengajak Aji untuk pergi ke kamar kecil.
"Mau kemana?" tanya Gilang saat mendengar perkataan Cilla yang seperti ajakan untuk Aji.
"Ini, Aji pengen pipis." jawab Cilla pelan.
"Oh, ya sudah. Aku tunggu disini sama Mami ya, atau mau Aku antar?" kata Gilang menawarkan diri.
Cilla mengelengkan kepalanya, "Tidak, tunggu kami di sini saja. Cuma sebentar saja," kata Cilla menolak tawaran dari Gilang. Cilla menganguk ke arah mami Rossa dengan maksud berpamitan. Dia pun segera melangkah ke arah kamar kecil, membawa Aji yang sedang ingin buang air kecil.
Mami Rossa dan Gilang, akhirnya duduk di kursi tunggu tempat yang tadi. Mereka berdua menuggu Aji yang sedang buang air kecil di temani oleh Cilla. Tapi setelah lima menit, hingga sepuluh menit berlalu mami Rossa mulai cemas. Sedangkan Gilang sedang sibuk melakukan panggilan dan juga mengirim pesan lewat handphone ditangannya.
"Sayang, kok mereka lama?" tanya mami Rossa pada anaknya, Gilang. Setelah dia rasa kepergian Aji dan Cilla terlalu lama ke kamar kecil. Apalagi sekarang sudahulebih dari lima belas menit.
"Mungkin antri Mi, kan biasa kadang toilet rumah sakit yang banyak pengunjung ya begini," jawab Gilang santai. Dia masih sibuk dengan gawai di tangannya.
Gilang melihat arloji ditangannya. Dia segera beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke arah kamar kecil yang tadi dituju Cilla untuk mengantar Aji buang air kecil. Mami Rossa menyusul dibelakangnya.
"Toliet laki-laki, ah gak mungkin. Aji kan masih kecil. Pasti diajak ke toliet wanita," guman Gilang seorang diri.
Mami Rossa yang mendengar gumaman anaknya, menepuk pundak Gilang. "Kamu cari ke toilet laki-laki, Mami cari ke toilet wanita." Gilang akhirnya menganguk setuju dengan apa yang diusulkan maminya itu.
"Maaf, tadi lihat ada ibu-ibu muda bawa anak kecil sekitar lima tahun pipis di sini?" tanya Gilang pada orang yang ada di toilet laki-laki.
"Tidak ada Pak," jawab orang tersebut.
"Mungkin di ke toilet wanita Pak, kan masih kecil." Orang yang ada disebelahnya ikut menyahuti.
__ADS_1
"Biasanya begitu. Kan pasti ibu-ibu itu malu kalau barengan sama laki-laki, kalau anaknya kan tidak mungkin malu, meskipun bareng sama wanita di toilet soalnya masih kecil," sahut bapak yang tadi.
"Oh, terima kasih." Gilang mengucapkan terima kasih dan berlalu dari toilet laki-laki. Sekarang dia menunggu maminya yang sedang memeriksa toilet wanita di sebelahnya.
Di toilet wanita, mami Rossa memanggil-manggil Cilla maupun Aji. Dia mencoba memanggil mereka, agar bisa mendengar dan menyahuti panggilannya. Tapi ternyata tidak ada sahutan sama sekali. Ada dua pintu toilet yang tertutup, dan mami Rossa berharap mereka ada disalah satunya.
Beberapa menit kemudian, kedua pintu toilet terbuka. Tapi yang keluar orang lain dan tidak ada Cilla serta Aji di sana. Mami Rossa mulai panik dan juga cemas. "Kemana mereka? Kenapa tidak ada?" Akhirnya mami Rossa keluar dan mencari anaknya, Gilang, untuk memberitahu. Dia berharap Gilang menemukan mereka ada di toilet laki-laki.
"Mi..."
"Gilang,"
Keduanya sama-sama panik dan saling memangil untuk mendapatkan kepastian pencarian mereka.
"Mereka tidak ada di toilet laki-laki," kata Gilang cemas. Wajahnya sudah terlihat kacau.
"Mereka juga tidak ada di toilet wanita," jawab mami Rossa dengan wajah memucat. Dia cemas dengan keadaan cucunya.
"Kita lapor bagian Security dan bagian IT. Mungkin ada CCTV yang bisa menjadi petunjuk keberadaan mereka," usul Gilang pada maminya.
Mami Rossa menganguk setuju. Mereka berdua pergi mencari bagian IT ataupun mencari Security yang ada. Gilang juga menghubungi beberapa temannya yang bisa dimintai bantuan.
Ternyata Security tidak menemui kecurigaan pada siapapun untuk kasus menghilangkannya Aji serta Cilla. Kini mereka berdua ditemani Security pergi keruang IT untuk melihat layar CCTV yang ada.
Dari beberapa tempat dan sudut ruangan serta lorong rumah sakit ini, tidak ada kejadian yang aneh dan mencurigakan tertangkap kamera. Mereka juga tidak menemukan sosok Aji ataupun Cilla dari layar.
"Kemana mereka? Tidak mungkin mereka pergi begitu saja. Kalau mereka pergi dan pulang, mereka pasti tertangkap kamera di pintu keluar ataupun gerbang rumah sakit ini." Gilang bertanya-tanya sendiri dengan suara pelan.
"Mami takut mereka diculik Gilang," kata mami Rossa ketakutan.
__ADS_1
"Diculik?" tanya Gilang mengulang perkataan maminya.
"Pak, bisa kami membuat laporan untuk diteruskan ke kantor polisi terdekat disini?" tanya Gilang kemudian, pada Security dan juga ahli IT rumah sakit tersebut.