
Waktu sebelum Aji dan Cilla masuk ke toilet wanita.
"Ma. Mata Aji bisa normal lagi kan?" tanya Aji sebelum sampai pada pintu masuk kedalam kamar kecil.
"Bisa. Asal Aji rutin minum obat dan terapi, dan yang pasti istirahat dulu untuk handphone DNA laptopnya," jawab Cilla sambil mengelus rambut Aji.
"Laptop Aji masih ada di rumah Ma. Kalau handphone ada sama Mama kan?" Aji mengingatkan mamanya.
"Hehehe, iya Sayang." Cilla terkekeh karena diingatkan oleh Aji. Itu berarti memang selama perawatan, Aji tidak memegang keduanya.
"Jualan online Aji bagaimana Ma?" tanya Aji khawatir. Dia takut jika ada pihak customer yang komplain.
"Mama sudah bilang ke pihak produsen untuk mengirimkan pesanan sesuai yang dibutuhkan, terakhir transaksi. Mama juga bilang untuk istirahat sementara waktu karena ada urusan penting." Cilla memberikan penjelasan pada Aji, agar anaknya itu tidak kepikiran dengan kegiatan jualan online miliknya.
"Syukurlah kalau begitu. Tapi beberapa customer kita pastinya akan pergi dan mencari penjual lain jika kita lama istirahat Ma," kata Aji dengan suara yang terdengar cemas.
"Kalau mereka percaya pada kita, dan masih rezekinya kita mereka pasti masih setia pada kita Sayang. Sudah, tidak usah banyak pikiran. Yang penting Aji fokus untuk kesembuhan mata dulu ya!"
Aji mengangguk beberapa kali mengiyakan perkataan mamanya. Kini mereka berdua sudah sampai di toilet wanita. Tapi baru saja mereka masuk ada dua petugas kebersihan yang baru saja selesai membersihkan toilet tersebut.
"Permisi. Apakah toiletnya sudah boleh digunakan?" tanya Cilla meminta ijin.
Kedua petugas kebersihan mengangguk sebagai tanda bila toilet sudah selesai dibersihkan dan boleh digunakan. Tapi saat Cilla baru saja Cilla ingin menurunkan Aji dari gendongannya, kedua petugas kebersihan itu membekap keduanya dengan sapu tangan yang sudah bercampur dengan obat bius. Cilla dan juga Aji pingsan bersamaan. Kedua petugas kebersihan itu segera berberes dan keluar dari dalam kamar kecil dengan dua tong sampah untuk mengangkut keduanya.
*****
Tap, tap, tap...
__ADS_1
Suara sepatu terdengar samar, menjauh dari tempatnya berada. Aji belum sepenuhnya sadar. Dia masih mengerjapkan matanya beberapa kali dan dia juga tidak tahu ada dimana. Kacamata yang dia pakai hampir melorot, kemudian buru-buru diperbaiki dengan cepat pada posisinya. "Dimana aku?" tanya Aji berguman seorang diri.
Aji melihat ke sekeliling. Dia bingung ada dimana sekarang ini. Sebuah kamar yang tidak terlalu besar dan...
"Mama!" teriak Aji yang melihat mamanya tergeletak begitu saja di sisi ranjang lain dimana dia berada.
"Mama. Ma!" Aji kembali memanggil-manggil mamanya sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya agar sadar dan segera bangun.
Cilla mengeliat beberapa kali. Tubuhnya terasa lelah dan kaku. Matanya juga terasa berat dan susah sat mau dibuka. "Sayang, Aji. Aji kamu baik-baik saja?" tanya Cilla menggapai-ngapaikan tangannya untuk menjangkau anaknya. Matanya masih belum bisa terbuka secara sempurna dan masih samar-samar melihat Aji yang ada di dekatnya.
"Ma. Mama, Aji ada di sini. Kita ada dimana sekarang? Papa mana, Oma juga ada dimana?" tanya Aji beruntun. Dia bukan takut untuk dirinya sendiri, tapi mengkhawatirkan keadaan orang-orang yang ada disekitar sebelum terjadi penculikan dirinya dan juga mamanya.
Kini Cilla sudah sadar dan bisa membuka matanya dengan sempurna. Dia melihat sekeliling, tapi dia tidak mengenali dimana sekarang mereka berdua berada.
Cilla mengeleng dengan wajah cemas pada Aji. Kini dia tidak tahu harus berbuat apa untuk berusaha mencari pertolongan. Tas yang dia bawa, sudah tidak ada lagi bersamanya. Padahal di dalam tas itu, ada handphone miliknya dan juga milik Aji. Bagaimana caranya dia bisa menghubungi Gilang ataupun orang lain untuk meminta bantuan dan pertolongan.
"Langkah sepatu? Berarti ada orang yang baru saja meninggalkan tempat ini," guman Cilla pelan.
Cilla beranjak dari tempatnya dan melangkah menuju ke arah pintu. Dia berusaha untuk membukanya, tapi tidak bisa. Sepertinya pintu terkunci dari luar.
Dengan mata terpejam, Cilla menghela nafas panjang dan menahannya. Dia dengan sekuat tenaga berusaha membuka pintu. Tapi semuanya sia-sia saja. Kekuatannya tidak mampu digunakan untuk membuka pintu yang tertutup rapat itu.
Nafas Cilla terputus-putus karena capek dengan usahanya yang tidak membuahkan hasil. Dia menatap ke arah anaknya yang masih ada di tempat tidur melihat ke arahnya. Cilla mengeleng lemah pada Aji, anaknya.
"Mama tidak bisa membukanya," kata Cilla putus asa.
Aji turun dari tempat tidur dan memeluk kaki mamanya. "Tenang Ma. Papa pasti bisa menemukan kita nanti." Aji berusaha menenangkan mamanya agar tidak panik. Dari arah laut terdengar suara seseorang yang sedang berbicara. Ini membuat Cilla dan Aji terdiam dan fokus mendengarkan suara tersebut.
__ADS_1
..."Kamu harus datang sendiri tanpa melapor pada polisi!"...
Suara orang di luar membuat Cilla dan Aji saling pandang satu sama lain.
..."Ya, nanti aku akan kirim alamatnya. tapi ingat, kamu datang sendiri. Jika kamu melanggar aturan ini, meskipun aku tertangkap, kamu tidak akan bisa menemukan mereka berdua dalam keadaan selamat!"...
Terdengar lagi suara orang yang sedang bicara. Sepertinya orang itu berbicara lewat panggilan telepon. Nadanya ditekan dan penuh ancaman.
"Apakah penculik itu sedang menelpon Papa?" tanya Aji berbisik pada mamanya. Cilla tidak menyahut dan menyuruh Aji untuk diam dan mendengarkannya. Telunjuk tangan Cilla ditaruh didepan bibirnya agar anaknya diam dan tidak lagi bertanya.
Beberapa menit kemudian, tidak ada lagi suara apapun. Keadaaan diluar sana sepertinya ditinggalkan begitu saja tanpa ada yang berjaga. Cilla berusaha untuk mencari cara bagaimana bisa membuka pintu kamar tersebut.
"Obeng Ma," kata Aji memberitahu mamanya alat yang bisa dipakai untuk membuka kunci.
"Ayo cari Sayang!" kata Cilla meminta Aji untuk ikut mencari barang-barang yang mungil bisa digunakan untuk membuka pintu dan keluar dari kamar tersebut.
Aji dan Cilla bergerak cepat mencari sesuatu yang bisa membantu mereka untuk bisa keluar dari kamar. Tapi sepertinya kamar ini sudah lama tidak dipakai. Terbukti, tidak ada barang berharga ataupun benda lain yang bisa ditemukan dikamar ini.
"Ma. Aji pengen pipis," kata Aji mengingat keadaannya yang memang belum sempat buang air kecil tadi, sebelum dia diculik.
Cilla bergegas membantu Aji untuk ke kamar mandi. Untung kamar tersebut dilengkapi dengan kamar mandi meskipun kecil dan tidak terlalu layak. Setidaknya air masih bisa mengalir, itu sudah cukup.
Setelah selesai, Aji yang sedang memakai celana dibantu mamanya melihat ada potongan kawat kecil yang ada dipojokan kamar mandi. Entah kawat apa itu, tapi Aji jadi memiliki ide untuk bisa membuka pintu setelah ini.
"Ma. Mama bisa pakai itu buat buka kunci pintu kamar!" kata Aji menunjuk pada pojok kamar mandi.
Cilla menoleh ke arah tempat yang ditunjukkan oleh anaknya. Dia tersenyum senang, meskipun dia sendiri tidak yakin bisa melakukannya.
__ADS_1
"Kita coba sama-sama ya!" ajak Cilla begitu keluar dari kamar mandi dan sudah memegang potongan kawat yang ditemukan anaknya, Aji.