Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Belajar Sayang 1


__ADS_3

Cilla terdiam dalam gugupnya. Dia tidak tahu harus menjawab apa dengan pertanyaan yang diajukan oleh Gilang padanya. Kini dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan diri untuk diam dan tidak mengatakan apa-apa lagi.


Mami Rossa yang mendengar pertanyaan anaknya itu mengerutkan keningnya. Dia berpikir sebentar, kemudian tersenyum samar. Mami Rossa mengelengkan kepalanya, setelah sadar dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Cilla. Aku bertanya, kamu tadi manggil aku apa?" tanya Gilang sekali lagi dengan diperjelas.


"Tu... Tuan," panggil Cilla terbata-bata dengan pelan.


"Sekali lagi!" perintah Gilang yang ingin mendengar lebih jelas lagi, panggilan Cilla untuk menyebut dirinya.


"Tu... Tu...Tuan." Cilla sekali lagi memanggil nama Gilang. Tapi tetap saja dengan suara yah terbata-bata karena perasaan gugupnya.


"Gilang," panggil mami Rossa mengingatkan anaknya itu agar tidak membuat Cilla ketakutan karena rasa gugupnya.


"Apa Mi?"


"Kamu ini apa-apaan sih?" tanya mami Rossa dengan mengelengkan kepalanya.


"Lah ini Cilla Mi... Masa iya manggil calon suaminya sendiri dengan sebutan tuan?"


Gilang protes pada mami Rossa. Gayanya sudah seperti Aji yang sedang lapar dan ingin makan Burger saja. Merajuk!


Cilla kaget setelah sadar, bahwa yang di maksud dari pertanyaan Gilang untuknya adalah soal panggilannya yang terkesan salah di telinga Gilang. "Lalu dia mau dipanggil apa?" tanya Cilla dalam hati.


Cilla mengigit bibirnya sendiri melihat dengan gugup ke arah Gilang yang masih intens memperhatikannya. Tapi Cilla segera menunduk karena tidak sanggup untuk melawan tatapan mata Gilang yang tajam dan terkesan mengintimidasi.


"Jangan ulangi lagi!"


Gilang memperingatkan Cilla. Dia mengeleng dengan masih terus memperhatikan Cilla yang semakin gugup dibuatnya.


"Aku sudah bilang, jangan digigit bibirnya Cilla. Kamu mancing aku ya?"


Cilla mendongak menatap Gilang dengan bingung. Sedangkan mami Rossa mengeleng saat beradu pandang dengannya.


Cilla akhirnya melepaskan gigitan bibirnya. Dia menatap kembali Gilang yang masih memperhatikan semua yang dia lakukan.


"Mami mau mandi dulu ya! Tolong urus bayi besar mami ya Cilla!" Mami Rossa pamit, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju ke arah kamarnya sendiri.


Mami Rossa tentu mengerti jika kedua orang yang dia tinggalkan sekarang memerlukan waktu berdua untuk saling mengerti perasaan satu sama lainnya. Mami Rossa mau Cilla belajar agar bisa menerima anaknya, Gilang dengan perlahan-lahan.


"Bayi besar?" Cilla berguman tidak mengerti maksud perkataan mami Rossa.

__ADS_1


"Itu!"


Mami Rossa yang masih mendengar pertanyaan Cilla menunjuk ke arah Gilang. Tentu saja ini membuat Cilla kaget dan menhan geli. Dia tersenyum, tapi segera menutupnya dengan telapak tangannya sendiri.


"Kenapa tertawa?" tanya Gilang yang tidak tahu jika mami Rossa menunjuk dirinya dengan sebutan, 'Bayi besar!'


Cilla hanya menggelengkan kepalanya atas pertanyaan Gilang kali ini. Dia tidak mau menjawabnya karena takut jika itu membuat Gilang marah.


"Cilla. Jangan memanggilku dengan sebutan tuan ya!"


Akhirnya Gilang mengatakan sesuatu yang sedari tadi membuat mereka berdebat tanpa sadar.


"Lalu?" tanya Cilla bingung.


"Ya... Emm Kamu bisa panggil Aku dengan sebutan Papa, Ayah, Mas, Abang atau Daddy."


Jawaban Gilang membuat Cilla merasa serba salah. Ini tentu akan lebih aneh lagi. Dia yang tidak terbiasa memanggil nama Gilang, dengan sebutan seperti yang diinginkan oleh Gilang, tentu saja akan terasa sulit. Sepertinya itu tidak akan pernah bisa dia lakukan.


Cilla mengeleng membayangkan apa yang akan terjadi jika dia menyebutkan nama-nama yang diinginkan oleh Gilang untuk sebutan dirinya.


Gilang yang masih saja memprihatinkan tingkah Cilla, mengerutkan keningnya heran. Tapi dia segera tersenyum saat sadar, jika Cilla sedang melamun sendiri dengan membayangkan, jika apa yang dia inginkan dalam memanggilnya nanti, dilakukan oleh Cilla.


"Tidak usah dibayangkan. Tapi coba dipraktekkan. Coba sekarang belajar!"


Cilla hanya diam dan belum bisa bersuara. Sepertinya Cilla merasa kesulitan, dan suaranya jadi tertahan.


"Ayo coba! Biar tidak canggung dan terbiasa juga nanti," kata Gilang meminta Cilla untuk segera memanggilnya.


"Pa...Pa... Papa," panggil Cilla tidak jelas.


"Yang jelas dong!"


"Maunya dipanggil dengan sebutan apa?" tanya Cilla ingin tahu. Dia bingung menentukan panggilan untuk Gilang.


"Emh... Bagaimana kalau kamu memangil aku dengan sebutan, Sayang atau Honey?"


Rasanya Gilang ingin berteriak keras, saat ide itu muncul di kepalanya. Dia tidak bisa membayangkan, jika Cilla benar-benar mau memangilnya dengan sebutan itu.


Berbeda dengan Gilang yang merasa senang, Cilla tentu bertambah gugup lagi, saat mendengar ide Gilang untuk sebutan dirinya sendiri. "Aneh-aneh saja dia!" pikir Cilla dalam hati.


"Bagaimana?"

__ADS_1


Gilang bertanya lagi pada Cilla. Dia ingin memastikan, jika Cilla setuju dengan usul yang dia katakan tadi.


Cilla mengeleng dengan cepat. Dia tidak mau menyebutkan panggilan Gilang, dengan yang diusulkan olehnya itu. "Aneh tuan!" kata Cilla memberikan alasan.


"Aneh bagaimana?" tanya Gilang penasaran.


"Itu hanya karena kamu belum terbiasa saja dengan sebutan tadi." Gilang melanjutkan penjelasannya, dan tidak menerima alasan Cilla yang menolak usulannya tadi.


"Pokoknya Aku mau, kamu panggil Aku dengan sebutan Sayang. Kalau tidak mau, Honey juga boleh."


Keputusan Gilang ini sepertinya tidak bisa dibantah lagi. Dia merasa itu sudah menjadi keputusan yang terbaik.


"Makanya kamu sekarang belajar memanggil Aku dengan sebutan itu. Jika salah sebut dan memangil dengan tuan lagi, Kamu Aku hukum."


"Dihukum?" tanya Cilla bingung.


"Iya. Aku hukum kamu menghafal dengan menyebut Sayang selama seratus kali."


Gilang tersenyum ditahan saat melihat Cilla yang melotot melihatnya. Dia kini sadar, jika Cilla tetap terlihat cantik saat melotot seperti itu.


Cilla yang sadar jika sedang melotot segera menunduk malu. Dia tidak bisa berkonsentrasi dengan pikirannya sendiri, saat melihat tatapan Gilang yang terus mengarah padanya.


Beberapa menit kemudian, setelah keduanya terdiam, Gilang kembali memintanya untuk belajar lagi. "Coba sekarang sebut aku dengan sebutan Sayang," pinta Gilang dengan suara lembut.


Cilla tidak segera menurut. Dia mencoba mengumpulkan keberanian dirinya dan menguatkan hatinya sendiri, untuk memulai semua yang diinginkan Gilang. Dia berpikir jika dia harus mampu melakukan semuanya, ini untuk kebaikan dirinya dan juga Aji. Jika semua itu harus dengan menerima Gilang dalam hidupnya kedepan, dia juga harus bisa belajar dari sekarang.


"Sa... Sa... Say... Sayang."


Akhirnya, Cilla mampu juga menyebutkan nama sayang untuk Gilang. Meskipun dengan cara terbata-bata dan tidak jelas, ini sudah membuat Gilang tersenyum senang dan merasa puas.


"Lagi!"


Gilang meminta Cilla memanggilnya lagi.


"Sudah," kata Cilla membantah.


"Lagi!" Gilang tetap memintanya mengulang.


"Sudah..." kata Cilla tanpa sadar jika sedang merajuk.


"Lagi!"

__ADS_1


Gilang sepertinya semakin senang dengan cara ini untuk bisa membuat Cilla terbiasa dengannya nanti.


__ADS_2