Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Mama Cilla Salah Paham


__ADS_3

Di dalam kamar Aji, baru saja selesai mandi. Dia melihat handphonenya yang sedang dia cash, ternyata belum penuh dengan sempurna.


Setelah menaruh handuknya kembali, Aji duduk di kursi belajar. Dia mencoba menghubungkan antara handphone dengan laptop, kemudian memindahkan sesuatu yang tadi dia buat dan dokumentasikan.


"Begini jadi lebih jelas, hemmm... bener-bener aneh dia." Aji bergumam seorang diri, sambil mengamati layar laptopnya.


Ternyata Aji, memindahkan foto serta video yang dia ambil, sewaktu Elisa tidur dan menguap. Begitu juga saat Elisa tertidur di dalam mobil. Semua tidak luput dari dokumentasi Aji.


"Kapok Kamu. Gak bisa macam-macam lagi kan dengan foto dan video ini," kata Aji sambil tersenyum sendiri.


Aji bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan keluar dari dalam kamar, menuju ke tangga. Dia ingin turun dan ikut bergabung dengan yang lainnya. Tapi sepertinya dia terlambat. Yang tertinggal di meja makan hanya adiknya, Jeny, dengan Elisa saja. Mungkin yang lainnya sudah masuk ke dalam kamar masing-masing. Dia juga melihat jika Jeny dan Elisa sedang berbincang-bincang, padahal Elisa sedang makan.


"Bagaimana kalau tersedak dia? makan kok sambil bicara," tanya Aji dengan khawatir, meskipun itu hanya didalam hati.


Tak seberapa lama, Aji mendengar Elisa yang sedang batuk-batuk.


"Uhuk... uhuk... ehem... uhuk...uhuk!"


"Hati-hati El. Ini minum dulu."


Aji juga mendengar adiknya, Jeny, memperingatkan Elisa, kemudian menyodorkan gelas berisi air putih.


Aji menggeleng-ngelengkan kepalanya melihat tingkah laku Elisa yang benar-benar berbeda itu. Tapi, Aji tidak mau menampakkan dirinya, dia hanya mengamati dari atas tangga, memastikan jika semuanya baik-baik saja.


Ketika melihat ke arah dinding, ternyata hati memang sudah hampir pagi. Akhirnya, Aji berbalik, kembali melangkah ke arah kamarnya sendiri.


"Ternyata hari sudah hampir pagi. Lebih baik Aku tidur dan mengistirahatkan tubuh. Capek juga hari ini."


Tapi setelah membaringkan tubuhnya, dan berusaha untuk terpejam, Aji tidak bisa tertidur juga. Dia seperti gelisah dan tidak bisa segera beristirahat dengan baik.


"Kenapa mataku tidak bisa terpejam lagi?" Aji bertanya dalam hati, "Padahal Aku mengantuk dan capek juga," lanjutnya bertanya.


Aji kembali duduk, dia melihat ke arah handphone miliknya yang masih mengisi daya. Dia bangkit dan memeriksanya, tinggal tiga persen lagi penuh full. Tapi Aji nekad melepasnya.


"Sepertinya, melihat video Elisa bisa membuatku lebih cepat tidur nanti," guman Aji dengan tersenyum, kemudian merebahkan tubuhnya lagi.


Ternyata memang benar. Tak butuh waktu lama, Aji benar-benar tertidur, dengan posisi handphone yang masih menyala.


*****


Rumah sudah sepi. Papa Gilang, sudah berangkat ke kantor. Biyan dan Vero, juga sudah berangkat ke sekolah di antar supir, dan mama Cilla sedang menemani dan merawat Oma Rossa di kamarnya, sedangkan Jeny, baru akan berangkat ke kampus nanti agak siang. Saat ini da sedang mengerjakan tugas di kamar.

__ADS_1


Elisa, tidak mau menganggu kegiatan Jeny, jadi keluar dari kamar saja, meskipun Jeny memintanya untuk tetap diam di dalam kamar.


"Di sini saja, temani Aku ngerjain tugas," kata Jeny, meminta Elisa tetap tinggal.


"Halah, nanti kamu malah tidak konsentrasi jika Aku tetap berada di sini," ucap Elisa dengan meledek.


"Maksudnya?" tanya Jeny bingung.


"Ya Kamu pasti ajak Aku bicara terus, kapan bikin tugasnya Kamu?"


"Hehehe.. iya juga ya," kata Jeny, membenarkan perkataan Elisa.


Makanya, mending Aku keluar dulu. Nanti kalau sudah selesai, Aku pasti balik ke kamar, gak kabur lagi!"


"Awas saja berani kabur! kakakku pasti akan memburumu. Hihihi..." Jeny, terkikik geli, mendengar perkataannya sendiri.


"Emang kucing, di buru?"


"Iya, kucing liar!" ucap Jeny cepat.


"Ah udah, Aku keluar dulu. Kamu gak bisa bikin tugas-tugas, kalau Aku tetap berada di sini, kayak gini nih!"


"Dasar kamu El," kata Jeny, begitu Elisa sudah pergi dan menutup pintu kamarnya. Dia, kembali berkonsentrasi untuk membuat tugas kuliahnya.


Di luar kamar, Elisa bingung mau mengerjakan apa. Akhirnya, dia berjalan ke belakang di mana ada kolam ikan dan taman kecil di sana.


"Eh Kak Aji. Pagi Kak!" sapa Elisa, begitu melihat keberadaan Aji di pinggir kolam.


Aji, yang sedang menabur-naburkan makanan untuk ikan, menoleh, saat mendengar namanya dipanggil. "Pagi," jawab Aji pendek.


"Begitu doang? dasar kanebo kering," gerutu Elisa pelan.


"Apa?" tanya Aji, yang mendengar perkataan Elisa dengan tidak jelas.


"Tidak, tidak apa-apa." Elisa, melengos saat menjawab pertanyaan dari Aji.


"Dasar cewek aneh," kata Aji pelan, seakan-akan untuk dirinya sendiri.


Tapi ternyata, perkataan Aji tadi, terdengar sampai ke telinga Elisa. Dia jadi cemberut dan berbalik menghadap ke arah Aji, yang masih sibuk memberi makan ikan-ikan di kolam.


"Emang kenapa kalau Aku aneh?" tanya Elisa menantang.

__ADS_1


Aji, mengerutkan keningnya bingung, saat mendengar pertanyaan dari Elisa yang terlihat serius, dan bukan sekedar bercanda seperti biasanya.


"Kamu..."


"Aku kenapa, aneh?"


Aji, tidak jadi meneruskan kata-katanya, karena dipotong Elisa yang sedang kesal.


"Mau aku cium lagi, biar diam itu mulut?"


Pertanyaan yang diajukan Aji, membuat Elisa terdiam dan menutup mulutnya sendiri dengan cepat. Wajah Elisa, terlihat berubah memerah. Dia merasa malu, karena diingatkan oleh Aji, dengan kejadian kemarin malam di kamar kostnya.


"Apa? mau lagi?" tanya Aji, memastikan jika Elisa tidak lagi membantahnya.


Elisa mengelengkan kepalanya berkali-kali. Dia benar-benar merasa malu karena ternyata, Aji tidak melupakan kejadian itu.


"Kamu pikir aku lupa. Kamu sudah memaksaku untuk melepaskan keperjakaanku untukmu," kata Aji lagi, dengan wajah datar.


Elisa terkejut, mendengar perkataan Aji. Dia tidak menyangka jika Aji akan meledeknya dengan kejadian itu. Tapi, bukan Elisa namanya, jika tidak bisa menyahuti perkataan aji tadi.


"Justru Kakak yang sudah mengambil keperawanan bibirku. Bukannya tangung jawab, malah membuat Aku semakin malu," gerutu Elisa dengan cepat.


"Perawan? yakin itu bibir masih perawan?" ucap Aji, dengan maksud menantang Elisa.


"Yakinlah. Eh, sudah enggak Ding," jawab Elisa, dengan malu-malu.


"Hah, beneran sudah tidak perawan? Rugi dong Aku, melepas keperjakaanku untukmu." Aji berkata dengan tersenyum miring. Dia tahu, Elisa hanya mengerjainya.


"Ya sudah gak perawan lagi sekarang. Kan sudah Kakak ambil kemarin malam," jawab Elisa, dengan wajah cemberut.


"Hahaha... mau lagi?" tanya Aji, kemudian melangkah lebih dekat ke arah Elisa.


"Eh, tidak-tidak. Nanti ada yang lihat!"


"Berarti mau dong, kalau tidak ada orang?" tanya Aji, dengan tersenyum penuh arti.


"No. Tidak-tidak. Aku gak mau, belum sah!" jawab Elisa dengan berteriak kesal.


Dari jauh, mama Cilla yang tanpa sengaja mendengar perdebatan antara Aji dan Elisa, berpikir lain. Dia menggeleng cepat, berpikir jika sejarah kehidupannya akan terulang lagi. "Aku harus bertindak cepat. Aku tidak mau, jika itu sampai terjadi. Aji, kenapa Kamu harus mengulang sejarah kita sayang..." kata mama Cilla dengan mata berkaca-kaca.


Mama Cilla, segera masuk ke dalam rumah. Dia mencari keberadaan handphone miliknya, dan mencoba untuk menghubungi suaminya, membicarakan tentang apa yang dia dengar tadi.

__ADS_1


__ADS_2