
Aji, tidak mengantar Elisa pulang terlebih dahulu ke kostnya. Dia mengajak Elisa, untuk datang ke toko baju milik Oma Rossa di Mall, yang sekarang ini di urus oleh mamanya, Cilla. Dia ingin membelikan gaun untuk dipakai Elisa.
"Buat apa Kak? pasti nanti Elisa gak bakal pakai juga," bantah Elisa, saat tahu maksud Aji membawanya ke Mall.
"Aku beli bukan untuk Kamu pakai," jawab Aji datar.
"Terus?" tanya Elisa lagi, dengan bingungnya dan tidak tahu mau bertanya seperti apa.
"Ya beli saja, mau Kamu pakai ya syukur, tidak juga gak apa-apa. Paling juga almari yang pakai nanti."
Elisa, semakin merasa bingung, dengan jawaban yang diberikan oleh Aji. Tapi, saat dia mau bertanya lagi, dengan cepat, Aji mendahuluinya terlebih dahulu.
"Jika gaun itu tidak Kamu pakai, dia akan selamanya diam di almari pakaian. Tentu saja, secara tidak langsung, almari pakaian yang memakainya bukan?"
Sekarang, Elisa paham dan tersenyum seorang diri. Dia, yang saat ini berjalan beriringan dengan Aji, jadi terlihat aneh di mata orang-orang yang secara tidak sengaja melihatnya.
"Apa sih, lihat-lihat. Elisa cantik ya? hehehe..." Elisa, bertanya dan terkekeh sendiri. Dia seperti orang yang sedang salah tingkah.
Aji, yang berjalan beberapa langkah di depan Elisa, segera menarik tangannya.
"Eh, eh..."
"Apa?" tanya Aji, menatap wajah Elisa yang kaget.
"Ihsss... Elisa bisa jalan sendiri kali," jawab Elisa merajuk.
"Iya jalan sendiri, ngomong juga sendiri?" tanya Aji, dan berhenti untuk menatap Elisa lebih inten.
Wajah Elisa memerah, karena merasa malu dan tidak enak hati, saat mendapatkan tatapan mata Aji yang mengintimidasi.
"Aji!" dari arah toko, mbak Diyah menyapa Aji.
Aji, menoleh ke arah toko, dimana mbak Diyah berada. Akhirnya, Aji menarik tangan Elisa agar segera ikut dia memasuki toko milik omanya itu.
"Tumben ke mari sendiri? eh, gak sendiri Ding. Itu siapa Aji?" tanya mbak Diyah menyelidik. Dia memperhatikan penampilan Elisa dari atas ke bawah, kemudian kembali lagi dari bawah ke atas.
Elisa, jadi serba salah, karena merasa aneh saat diperhatikan oleh mbak Diyah. Dia jadi tersenyum canggung dan mengunci mulutnya sendiri.
"Pacarnya Aji ya?" tanya mbak Diyah, yang tidak segera diperkenalkan oleh Aji pada Elisa.
Aji, hanya diam dan melirik ke arah Elisa. Dia berharap, agar Elisa sendiri yang memperkenalkan dirinya dan mengakui siapa dia sebenarnya.
__ADS_1
Tapi, Elisa tidak segera menjawab pertanyaan mbak Diyah. Dia malah cengar-cengir tanpa tahu harus mengatakan apa.
"Aji, apa Tante tidak boleh tahu, siapa dia?" tanya mbak Diyah lagi, karena keduanya, Elisa dan Aji, masih sama-sama terdiam tanpa memberi jawaban yang diharapkan oleh mbak Diyah.
"Ada gaun bagus tidak Tan?" tanya Aji, mengalihkan perhatian mbak Diyah.
"Hai, ini anak. Tidak menjawab pertanyaan orang tua, malah balik bertanya. Aku pikir , Kamu tidak jadi ke Jerman akan semakin ramah, nyatanya makin dingin dan misterius untuk Tante. Hahaha..."
Aji, hanya diam dan tidak memperhatikan apa yang dikatakan oleh mbak Diyah. Dia tahu, jika teman mamanya itu, sudah biasa dengan dirinya sedari kecil. Jadi, mbak Diyah juga pastinya paham, jika Aji, kadang-kadang tidak suka bicara tentang apapun, dan hanya melakukan apa yang dia inginkan.
"El," panggil Aji pada Elisa.
"Oh, namanya El. Eh, masa iya cuma El, kayak nama anaknya artis fenomenal itu ya," kata mbak Diyah, pada dirinya sendiri dengan mengingat-ingat.
"Ah, Aku telpon Cilla saja untuk bertanya," pikir mbak Diyah, saat menemukan ide.
Elisa, sudah mendekat ke tempat Aji berada. Diantara deretan baju-baju yang tergantung di tempatnya, Aji sedang memilih-milih, mana yang sekiranya cocok untuk Elisa.
Mbak Diyah membiarkan Aji dan Elisa dengan kegiatannya, memilih gaun-gaun yang sama bagusnya, untuk Elisa nanti. Dia ingin menelpon Cilla, untuk bertanya-tanya tentang anaknya, Aji.
..."Halo Cilla, apa kabar?" ...
..."Mak Diyah, Cilla baik Mbak. Ada kabar apa di toko, tumben telpon jam segini?" ...
..."Cewek?"...
..."Iya. Tadi Aji, memanggil dia dengan nama El." ...
..."Oh, itu Elisa Mbak. Calon istrinya Aji, teman kuliah Jeny." ...
..."Benarkah?" ...
..."Kenapa Mbak?" ...
..."Itu, dia... dia tidak seperti cewek pada umumnya. Maaf lho Cill. Ini hanya penilaian Aku yang belum tahu saja." ...
..."Hehehe... Elisa memang berbeda Mbak. Dia tidak sama seperti cewek pada umumnya." ...
..."Oh... pantes. Masa dari tadi milih gaun dia cuma diam saja. Jika di minat Aji milih, dia hanya menggeleng, saat Aji menunjuk ke gaun yang dia anggap bagus, dia juga mengeleng."...
..."Pasti kita pusing itu, kapan makainya."...
__ADS_1
..."Kok Aji bisa suka dengan dia?" ...
..."Cilla juga kurang paham Mbak. Kami, Aku dan mas Gilang, hanya ikut apa yang anak pilih. lagi pula, Elisa itu baik. Hanya penampilannya saja yang terlihat kayak cowok."...
..."Oh, ya sudah kalau begitu. Biar Aku bantu mereka berdua untuk memilih. Siapa tahu, pilihanku cocok, jadi Aku sudah bisa memilihkan untuk calon nyonya muda. Hahaha..."...
..."Hehehe... iya Mbak, tolong bantu mereka milih. Bisa-bisa, mereka malah gak jadi dapat gaun dan hanya berantem karena tidak ada yang dirasa cocok."...
..."Siap Nyonya muda, yang sebentar lagi akan tergeser kedudukannya oleh yang lebih muda. Hahaha..."...
..."Ah, mbak Diyah bisa saja. Terima kasih lho Mbak atas bantuannya." ...
..."Ok, salam buat mami Rossa ya Cilla!" ...
..."Iya Mbak. Terima kasih."...
Mbak Diyah berbalik, dan merasa terkejut dengan keberadaan Aji, yang ternyata sudah ada di belakangnya saat ini.
"Hemmm, lama bener telponnya," kata Aji dengan wajah datarnya.
"Aji, bikin Tante kaget tahu. Kalau jantungan bagaimana?"
"Aji sudah memanggil Tante. Tapi tidak dengar, dan ternyata sedang asyik bergosip di telpon." Aji, menjawab dan menjelaskan juga dengan apa yang dia lakukan saat ini.
"Hehehe..." mbak Diyah, hanya bisa terkekeh, karena merasa dirinya ketahuan, saat membicarakan tentang orang yang ada didepannya ini, Aji, dengan mamanya sendiri, yaitu Cilla.
"Bisa bantu Aji?" tanya Aji, untuk maksudnya mencari mbak Diyah.
"Bisa, bantu apa?" tanya mbak Diyah. Dia ingin tahu, apa yang diinginkan anak sahabatnya itu.
"Bantu Elisa mengenakan gaunnya di kamar pas. Maksud Aji, bantu milih yang cocok, karena menurut Aji cocok semua. Tapi dia tidak mau bawa semuanya juga," jawab Aji panjang.
Mabuk diyah, merasa heran dengan perubahan sikap Aji yang berbeda dari dulu. Sekarang, Aji tampak lebih peduli, dan tidak terlalu pendiam seperti dulu, sewaktu masih kecil.
"Memangnya mau dipakai kemana dan acara apa?" tanya mbak Diyah, yang ingin menyesuaikan kondisi dan waktu untuk pemakaian gaun itu nantinya.
"Acara... ehmmm..."
Aji, tidak bisa menjawab pertanyaan mbak Diyah. Dia tidak mau jika rencananya akan terdengar oleh orang lain, apalagi jika Elisa sampai mendengarnya sendiri.
Akhirnya, Aji berbisik-bisik pelan di dekat telinga mbak Diyah.
__ADS_1
Mbak Diyah, mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda mengerti.
"Wah... begitu ya. Uluh-uluh... sok romantis Kamu Ji, hehehe..." mbak Diyah, terkekeh-kekeh, mendengar jawaban dari Aji, yang berbisik-bisik, untuk memberitahu dirinya, tentang rencana Aji pada Elisa nanti.