
Beberapa hari kemudian, suasana berkabung di rumah mama Cilla masih sangat terasa. Apalagi, mama Cilla jadi lebih pendiam dan tidak banyak melakukan aktivitas seperti biasa. Dia lebih banyak diam saja di dalam kamar atau di ruang tengah. Di mana biasanya dirinya dan papa Gilang sering menghabiskan waktu bersama, dengan saling berbincang tentang banyak hal selama ini.
Hal ini tentu saja membuat anak-anaknya merasa khawatir. Terlebih lagi Aji. Dia merasa sangat cemas, melihat keadaan mamanya yang seakan-akan hilang arah, karena kepergian suaminya, papa Gilang.
Aji jadi mempunyai ide untuk membuat mamanya, sedikit melupakan kesedihannya itu. Dia ingin mengajak mamanya untuk pergi berlibur bersama dengan istrinya Elisa. Apalagi ayah Sangkoer Singh juga masih berada di Indonesia. Jadi Aji ingin mengadakan piknik bersama keluarga, termasuk ayah angkatnya itu, sebelum adiknya, Jeny, melahirkan anaknya yang ke-dua.
Akhirnya, Aji mencoba untuk menghubungi adiknya itu, untuk meminta persetujuannya.
..."Halo Jen. Kamu sedang sibuk atau ada rencana untuk minggu depan?"...
..."Tidak ada Kak. Jeny tidak ada rencana apa-apa untuk minggu depan."...
..."Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan. Piknik bersama gitu, biar mama tidak terlalu memikirkan kesedihannya. Kasihan mama Jen."...
..."Wah ide bagus tuh Kak. Kapan, Jeny boleh ikutan juga gak nih?"...
..."Justru Aku mau Kamu ikut juga. Kan ini acara keluarga. Tapi itu... dokter Dimas ada tugas gak? Kalau gak ada yang urgent minta padanya untuk ambil cuti dulu. Jadi kita bisa pergi sama-sama."...
..."Oh, hehehe... iya Kak. Nanti Aku coba tanya soda uda terlebih dahulu. Oh ya, kita mau kemana?"...
..."Tergantung dari usulan yang mau ikut."...
..."Wahhh, bagaimana kalau Jeny usul ke Bogor atau Bandung saja? Kan dengan kondisi Jeny yang sekarang, tidak mungkin juga pergi jauh-jauh Kak."...
..."Iya, itu juga bisa. Nanti kita bicarakan lagi ya!"...
Aji memutuskan sambungan telponnya. Dia segera menghubungi ayah angkatnya, yang selama berada di Indonesia, tinggal sementara di apartemen, yang dulu ditempati Aji dengan Elisa. Sebab, Mension miliknya yang ada fi Tangerang, belum siap betul untuk ditempati.
Setelah beberapa saat kemudian, Aji baru bisa menghubungi ayah angkatnya itu. Entah apa yang terjadi, sehingga handphone ayahnya itu tidak bisa di hubungi.
..."Ayah dari mana? Aji telpon tidak bisa dari tadi?"...
..."Ayah baru pulang. Ini dari mini market, yang ada apartemen ini, dia lantai bawah. Handphone ayah tinggal tadi. Maaf Aji, ada apa?"...
Akhirnya, Aji mengemukakan bahwa dia ingin mengajak ayahnya itu untuk berlibur bersama keluarganya, untuk menghibur mamanya, yang saat ini masih sering melamun dan bersedih hati.
Tuan besar Sangkoer Singh, tentu mendukung ide dari Aji. Dia justru memberi usul, agar berlibur ke luar negeri saja, misalnya ke Singapura atau Malaysia.
__ADS_1
Tapi Aji mengatakan, jika ada Jeny juga yang akan ikut. Dan kondisi Jeny, tidak mungkin melakukan perjalanan jauh ke luar negeri, karena dia sedang hamil tua.
Vero, yang belum jadi berangkat ke Jepang juga akan ikut. Sedangkan Biyan, sudah diajak serta ke India, bersama dengan salah satu bodyguard tuan besar Sangkoer Singh, yang di minta khusus untuk menjadi pelatih dan pendamping Biyan.
Mungkin karena ini juga, mama Cilla jadi terlihat masih sedih. Rumah sudah semakin sepi, ditambah perginya Biyan juga.
*****
Seminggu kemudian, mereka semua benar-benar berangkat untuk berwisata keluarga menuju ke Bandung.
Aji memilih Bandung, karena selain tempatnya relatif lebih dekat dari Jakarta, banyak sekali pilihan tempat-tempat yang bisa dikunjungi.
Pilihan yang mereka pilih, akhirnya jatuh ke tempat Pemandian Air Panas Ciater.
Mereka memilih tempat ini, karena bisa bebas bersama dengan keluarga, untuk berendam dengan nyaman di kolam air panas yang telah disediakan. Air panas di tempat pemandian ini berasal langsung dari kawah Gunung Tangkuban Perahu, sehingga selain menghangatkan juga akan sangat menyegarkan ketika berendam di tempat ini. Jadi, bisa membuat mama Cilla lebih rileks dan melupakan kesedihannya, meskipun hanya untuk beberapa waktu.
Tempat wisata Pemandian Air Panas Ciater, dipilih Aji dan Jeny, karena suasana Bandung yang dingin , sehingga saat berendam di air panas tersebut akan menyenangkan dan terasa lebih hangat. Rasa air yang hangat dipadukan dengan udara yang sejuk, bisa membuat tubuh sedikit lebih rileks dan juga segar.
Dan benar saja. Mama Cilla tampak lebih senang karena ada cucu-cucunya juga yang ikut serta bersama dengannya.
"Maaf ya Aji. Mama bikin Kamu repot-repot hanya untuk buat Mama gak sedih lagi. Terima kasih Sayang. Sebenarnya Mama hanya ingin, bisa berkumpul bersama kalian semua. Hiks hiks hiks."
"Mama," Vero dan Jeny, ikut mendekat dan memeluk mama Cilla bersama-sama. Mereka semua ikut merasakan apa yang dirasakan oleh mama Cilla saat ini.
Elisa tersenyum bahagia, melihat mama mertuanya itu bisa tersenyum kembali, setelah sekian lama. Dia benar-benar ikut merasa bahagia juga saat ini.
Tuan besar Sangkoer Singh, yang ikut serta menyaksikan kebahagiaan yang dirasakan oleh keluarga Aji, ikut tersenyum juga. Dia jadi merasa memiliki sebuah keluarga yang utuh dan saling mendukung satu sama lainnya.
Benar-benar sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya, untuk sebuah keluarga.
*****
Sebulan kemudian, Vero tidak jadi berangkat ke Jepang. Dia ingin kuliah di Jakarta saja, dan tidak berpisah dengan mamanya.
Meskipun sebenarnya mama Cilla sudah mengijinkan Vero untuk berangkat ke Jepang, tapi anaknya itu tetap tidak mau berangkat, dan justru mendaftar di sebuah universitas yang dulunya tempat kakaknya, Jeny dan juga Elisa kuliah. Dan kampus itu juga, yang dipilih Aji, untuk melanjutkan kuliahnya, meskipun ambil dengan program karyawan. Dan sekarang Aji sudah kukus dari sana.
Saat ini, Jeny sudah waktunya melahirkan anak keduanya. Dia sudah berangkat ke rumah sakit, bersama dengan suaminya tadi pagi. Tapi, waktu yang diperkirakan untuk lahir, masih nanti sore, atau malam hari jika dalam keadaan normal.
__ADS_1
Mama Cilla dan Elisa, ikut menyusul setelah mendapat kabar dari dokter Dimas. Aji juga ikut serta ke rumah sakit, karena sekalian mau memeriksa keadaan Elisa yang, kemungkinan saat ini sedang hamil juga. Karena sudah hampir dua bulan ini tidak kunjung datang bulan. Itulah sebabnya, Aji dan Elisa curiga jika Ka Singh, akan segera mempunyai adik.
"Semoga dugaan Kita benar ya Sayang," kata Aji penuh harap.
"Apa Aji?" tanya mama Cilla, yang tidak tahu jika Elisa dan Aji, melakukan program hamil.
"Nanti Mama juga akan tahu. Doakan saja ya Ma, semoga apa yang kita inginkan terkabul."
Mama Cilla hanya mengangguk saja, dan tidak lagi bertanya-tanya. Dia merasa jika apa yang diharapkan Aji dan Elisa, pasti sesuatu yang baik dan mendatang kebahagiaan untuk mereka dan orang-orang yang ada di sekitar mereka, dan itu tentunya termasuk dirinya sendiri.
Setelah sampai di rumah sakit, Aji dan Elisa mengantarkan mama Cilla ke ruangan Jeny. Setelah itu, mereka mengikuti langkah dokter Dimas, untuk pergi ke ruangan dokter kandungan.
"Kalian tunggu di sini dulu ya, dokternya sedang ada persalinan di ruang bersalin. Yang satu sedang ada di ruangan operasi, jadi belum ada yang jaga disini."
Aji dan Elisa mengangguk paham, mendengar keterangan yang diberikan oleh dokter Dimas.
"Aku tinggal dulu ya, Aku juga ada pasien yang harus Aku tanggani," kata dokter Dimas lagi, berpamitan untuk kembali ke ruangannya sendiri.
"Iya tidak apa-apa. Kami akan menunggu di sini," jawab Aji sambil mengangguk lagi. Membiarkan suaminya Jeny itu untuk bertugas lagi, karena memang ini masih di jam tugasnya.
"Kak, Aku kok tegang gini ya. Deg-degan banget," ucap Elisa, dengan memegang tangan suaminya itu.
Aji merasakan tangan Elisa yang terasa lebih dingin dari biasanya. "Tenang Sayang. Kan ada Kakak di sini. Lagi pula, ini yang ke-dua kan?" kata Aji, mengingatkan Elisa pada kehamilannya ini.
"Iya Kak. Tapi rasanya beda dengan yang pertama dulu," jawab Elisa masih dengan memegang tangan Aji.
"Sini, Kakak genggam tangan kamu, biar lebih hangat."
Elisa memberikan telapak tangannya pada Aji, untuk digenggamnya. Ini akan lebih baik dan membuatnya lebih tenang dan tidak tegang lagi , seperti tadi. Hal yang sering dia alami, jika dalam keadaan tidak tenang seperti ini.
Clek!
Pintu ruangan terbuka. Seorang dokter kandungan datang dengan tersenyum pada mereka berdua.
"Maaf menunggu. Apa Anda kakaknya dokter Dimas?" tanya dokter tersebut pada Aji.
"Iya Dok," jawab Aji pendek.
__ADS_1
Tapi, dokter tersebut justru memiringkan kepalanya, agar bisa melihat wajah Aji lebih seksama lagi. Entah apa yang dia pikirkan saat melihat wajah Aji saat sekarang ini.