
Dalam perjalanan hidup seseorang, tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi padanya di waktu yang akan datang.
Keberuntungan dan keterpurukan suatu perjalanan pada hidup, pasti akan datang silih berganti. Tak ada yang selamanya beruntung, dan tidak selamanya juga keterpurukan akan mengikuti.
Yakin jika Tuhan sayang pada semua umat Nya, meskipun kadang kala umat Nya sendiri yang sering kali melupakan Nya.
Tapi, Tuhan tidak pernah memiliki rasa dendam pada umat Nya. Dia akan selalu menyayangi, apapun perlakuan umat Nya itu. Dia akan senantiasa memberikan semua kebutuhan dan keinginan manusia namun pada waktu yang Dia tentukan sendiri, karena pada saat itu adalah waktu yang tepat. Bukan semata-mata karena keinginan umat Nya itu.
Begitu juga dengan kehidupan Aji. Sedari kecil, dia hidup sendiri bersama mamanya, mama Cilla, tanpa tahu dimana dan siapa papanya yang sebenarnya.
Aji kecil yang pendiam dan tidak mau berinteraksi dengan orang lain, yang tidak dia kenal, bahkan dengan orang-orang yang ada di sekitarnya sekalipun. Dia hanya mau dengan orang-orang yang dia anggap baik, yang tidak menganggapnya aneh. Dan itu hanya orang-orang yang bisa di hitung dengan jari saja.
Aji tidak pernah menyangka bahwa, perjalanan ke Jerman, yang dia impikan selama hidupnya, berakhir dengan tragis.
Kecelakaan pesawat, karena pembajakan, mengakibatkan dirinya hidup bersama dengan para mafia dunia.
Dan keberuntungan yang diterima Aji adalah, saat dia nekad kabur dari para mafia tersebut. Kecelakaan yang dia alami, membawanya pada kehidupan baru sebagai Vijay Singh. Anak salah satu konglomerat, yang ada di India sana. Itupun karena dia juga mengalami amnesia.
*****
Aji menghela nafas panjang, mengingat perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku. Perjalanan hidup yang mungkin tidak akan ada yang percaya, jika mendengar kisahnya itu.
Orang hanya melihatnya sebagai Aji Putra yang selalu beruntung. Ada di dalam keluarga kaya, karena ternyata papanya adalah pengusaha yang sukses dengan perusahaan GAS yang dimiliki sendiri, dan beberapa usaha dari keluarga besar Aji Saka.
Mendapatkan ayah angkat, yang ternyata juga salah satu konglomerat ternama dan banyak pengaruh di negara India, dengan berbagai aset yang tidak bisa terhitung nilainya.
Siapa yang tidak akan mengatakan jika Aji sangat beruntung dengan semua yang dia miliki saat ini?
Istri yang cantik dan tidak suka berfoya-foya layaknya seorang wanita sosialita, serta anak yang sangat tampan dengan menjadi ahli waris di keluarga Singh dari India.
Semua itu dilihat oleh orang luar sebagai sebuah keberuntungan yang luar biasa. Mereka tidak melihat bagaimana perjuangan dan pengorbanan yang Aji lakukan selama ini.
Bagaimana dia harus bisa mengatur waktu, antara usaha dan bisnis yang dia kerjakan, serta kebersamaannya dengan keluarga, istri dan anaknya. Dia tidak ingin, keberhasilan nya di setiap usaha yang dia lakukan, justru membuat dirinya jauh dan mengabaikan keluarganya sendiri, terutama untuk perhatiannya pada istrinya dan anaknya.
Itulah sebabnya, Aji sebisa mungkin untuk mencuri-curi waktu, supaya bisa tetap tidak kehilangan moment kebersamaannya dengan keluarga, terutama istrinya, Elisa dan anaknya, Ka Singh.
Sama seperti pagi tadi, Aji tiba-tiba tidak jadi ke kantor, kemudian kembali pulang, setelah menghubungi sekretarisnya supaya meng-handle pekerjaan di kantor, kemudian dia kembali pulang untuk menciptakan sebuah kebersamaan yang sama seperti saat awal-awal pernikahannya dengan Elisa, di waktu yang lalu. Dia tidak ingin, ada perubahan yang mencolok dan itu merugikan kehidupan pribadinya, bersama dengan keluarga yang dia ciptakan bersama dengan istrinya, Elisa.
*****
__ADS_1
"Sayang, ayok bangun," panggil Aji, pada istrinya yang tertidur pulas sehabis mereka 'bermain-main' seharian ini.
"Emhhh, apakah ini ada di apartemen?" tanya Elisa yang masih dalam keadaan tidur.
Mungkin, Elisa berpikir jika saat ini dia sedang berada di apartemen. Sama seperti yang dia alami bersama dengan Aji, setelah menikah.
Cup!
Cup!
Cup!
"Kita ada di rumah."
Aji membangunkan Elisa dengan mengecup bibirnya tiga kali.
Elisa tersenyum lebar. Dia sebenarnya ingat betul, jika saat ini, mereka sedang berada di rumah dan bukan di apartemen. Dia hanya kangen dengan suasana yang dulu, sat mereka berdua tinggal di apartemen. Dan suasana seperti ini, sering mereka berdua ciptakan.
"Hehehe... El pikir kita masih ada di apartemen dan masih pengantin baru juga."
Aji mencubit hidung Elisa. Dia gemas dengan tingkah istrinya yang sedang manja seperti ini.
"Kakak sudah masak buat kita. Ayo bangun! kita makan berdua."
Akhirnya Elisa bangkit dari tempat tidur. Tapi dengan manja, Elisa minta di gendong di punggung Aji, agar bisa mencapai ke meja, dimana nasi goreng itu berada.
Aji, dengan senang hati mengendong istrinya itu. Dia membawa Elisa yang ada di dalam gendongannya, ke tempat mereka berdua akan makan nasi goreng buatannya sendiri.
Setelah menurunkan Elisa dari gendongan, Aji mengambil piring nasi goreng, kemudian menyuapi Elisa, bergantian dengan dirinya sendiri.
Aji menyuapi istrinya itu dan juga dirinya sendiri sampai nasi goreng tersebut benar-benar habis.
"Kakak. Terima kasih untuk cinta yang sempurna ini," kata Elisa, sambil memeluk Aji.
"Maaf ya Sayang. Kakak sudah terlalu sibuk dan melupakan semua hal kecil seperti ini, yang mempererat cinta kita. Kakak harap, waktu kita ini akan selalu ada."
Aji, membalas pelukan istrinya itu, dengan mengatakan apa yang dia inginkan, untuk hari-hari mereka berdua. Meskipun Aji juga sadar, jika hal itu memang tidak bisa dia ciptakan sesering mungkin, karena kesibukan yang sudah berbeda dari yang dulu.
Aji dan Elisa hanya berharap, supaya kehidupan cinta mereka berdua, bisa selalu dalam keadaan bahagia, karena sejatinya, kebahagiaan itu diciptakan sendiri oleh mereka, dan bagaimana mereka bisa menikmati apa yang mereka ciptakan itu.
__ADS_1
Dan untuk mereka berdua, saling berpelukan dan menghabiskan waktu bersama adalah hal yang bisa membuat mereka berbahagia. Mempererat tali cinta yang ada.
Dan itu adalah impian setiap orang, bukan hanya Aji dengan Elisa saja.
*****
Ka Singh, ikut tertawa-tawa saat Aji menggendongnya dan menirukan gerakan pesawat.
"Kak! hati-hati, Ka Singh bisa jatuh!" Elisa berteriak kencang, saat melihat Aji yang mengayun tubuh anaknya, menirukan gerakan pesawat.
Tapi, setelah melihat Ka Singh yang tertawa senang, membuat Elisa jadi ikut merasa senang juga.
"Hati-hati kak," pesan Elisa lagi, kemudian dia kembali ke dapur. Mempersiapkan segala sesuatunya untuk makan malam mereka nanti.
Vero yang baru pulang dari kampus, heran saat melihat keberadaan kakak nya, Aji, yang sudah ada di rumah di jam sore seperti ini.
Ini karena biasanya Aji baru akan sampai di rumah menjelang magrib atau setelah magrib.
"Tumben Kak," sapa Vero, sambil menyalami kakaknya Aji.
Aji hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia tidak mengatakan apa-apa, karena masih fokus pada anaknya, yang saat ini ada duduk di ujung kakinya yang berayun-ayun.
Vero akhirnya tidak lagi bertanya-tanya. Dia justru berjalan menuju ke dapur untuk mengambil air minum.
Saat melihat ada kakak iparnya, Elisa, di dapur, Vero bertanya, "Kak El, mama mana? dan itu Kak Aji tumben sudah ada di rumah jam segini?"
"Oh, mama belum pulang dari rumah Jeny. Dan kakak Kamu, Aji, memang tidak ke kantor hari ini." Elisa menjelaskan pada Vero.
Vero hanya mengangguk-angguk mengerti. Dia tidak lagi bertanya-tanya, dan berjalan kembali menuju ke arah kamarnya sendiri. Dia ingin mandi, dan beristirahat sebentar, sebelum waktunya makan malam.
Vero memang sudah berubah. Dia tidak lagi terobsesi dengan kakak iparnya, yaitu Elisa. Dia juga sudah memiliki satu gebetan baru, yang seumuran dengannya. Mereka baru kenal, dan sama-sama mahasiswa baru di kampus tersebut.
Aji, yang selalu memperhatikan setiap pergerakan adiknya itu, merasa lega, karena Vero bisa mengendalikan diri dan perasannya pada istrinya, yaitu Elisa.
Aji juga tidak melarang, apapun kegiatan yang dilakukan dan diikuti oleh Vero di kampusnya. Dia cuma berpesan pada adiknya itu, supaya berhati-hati dan menjaga dirinya sendiri, sehingga tidak melakukan sesuatu yang tidak baik, untuk kehidupannya sendiri ataupun untuk nama baik keluarga mereka.
Mama Cilla juga melakukan hal yang sama. Dia hanya bisa berpesan pada anaknya itu, supaya berhati-hati dalam memilih teman dan bergaul. Karena pengaruh seorang teman, bisa membuat sebuah perubahan dalam bentuk apapun.
"Iya Ma. Vero akan selalu berusaha untuk mematuhi nasehat Mama."
__ADS_1
Begitulah akhirnya, mereka semua hidup bersama dan juga saling mendukung satu sama lain.
Satu hal yang selalu di impikan mama Cilla selama ini, yaitu sebuah keluarga yang normal dan bisa menciptakan suasana yang harmonis dengan penuh cinta dari mereka semua.