Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Kabar Duka


__ADS_3

Kebahagiaan yang dirasakan oleh ayah Sangkoer Singh, sama seperti yang dirasakan oleh Aji juga. Mereka sedari tadi, mengucapkan rasa syukur atas dasarnya Vijay Singh.


Aji, segera memberitahukan hal ini pada Elisa di rumah, sedangkan dua dan tuan besar Sangkoer Singh, dalam perjalanan dari kantor menuju ke rumah sakit.


Dia menelpon Elisa, agar segera menyusulnya ke rumah sakit. Dia juga meminta agar Elisa mengajak bibi Lasmi, untuk menemaninya ke rumah sakit. Aji, melarang istrinya itu, untuk pergi ke rumah sakit sendirian.


Sesampainya di rumah sakit, Aji dan tuan besar Sangkoer Singh, langsung menuju ke ruang kaca tempat Vijay Singh berada. Di dalam ruangan kaca tersebut, tim dokter sedang memeriksa kondisi detak jantung dan yang lainnya. Aji bisa melihatnya dari luar ruangan yang tembus pandang, begitu juga dengan ayah angkatnya, Sangkoer Singh. Mereka berdua, sama-sama menyaksikan dokter yang sedang bekerja untuk keselamatan Vijay Singh, yang tadi sempat siuman dan membuka matanya.


"Aji, kenapa dia tidak lagi bergerak? apa dia koma lagi?" tanya Sangkoer Singh dengan mata berkaca-kaca. Dia merasa bersyukur dan bahagia, tapi disaat yang sama, dia juga merasakan kesedihan lagi, saat melihat kondisi tubuh anaknya itu, yang terlihat sudah tidak ada harapan.


"Kita berdoa saja Yah, semoga tim dokter dan bisa melakukan yang terbaik untuk Vijay Singh."


Aji memberikan semangat untuk ayah angkatnya itu. Dia sendiri merasa jika, saudara angkatnya itu memang sudah tidak sanggup lagi bertahan. Apalagi, tadi dia sempat mencuri dengar, jika ada kebocoran pada ginjal yang tinggal satu-satunya di tubuh Vijay Singh. Itu artinya, Vijay Singh tidak memiliki harapan untuk bertahan hidup lebih lama lagi.


Tak berapa lama, tim dokter menggeleng ke arah keluar. Dimana tuan besar Sangkoer Singh dan Aji berada. Mereka menyerah pasrah dengan kondisi Vijay Singh yang tidak lagi ada nafasnya.


Tuan besar Sangkoer Singh, bersujud untuk meluapkan emosi dan kesedihan yang mendalam. Tadi, dia baru saja berbahagia sewaktu mendapat kabar jika Vijay Singh sadar dari koma, tapi di waktu yang tidak lama, kabar bahagia itu berganti dengan duka. Vijay Singh, sudah tidak lagi bisa diselamatkan. Dia telah meninggal dunia


Aji, juga merasakan hal yang sama seperti tuan besar Sangkoer Singh. Dia merasa sangat kehilangan, karena dengan semua yang terjadi ini, ayahnya, yang selalu dia usahakan dalam keadaan tersenyum setiap hari, pasti akan kembali berduka. Ayah Sangkoer Singh, akan kembali bersedih hati karena sudah kehilangan anak satu-satunya itu, Vijay Singh.


Dua petugas laki-laki, mendorong brangkar untuk jenasah Vijay Singh. Mereka keluar dari ruangan kaca, dan berhenti sejenak di dekat tuan besar Sangkoer Singh yang masih terduduk dari sujud_nya tadi. Aji, membantu ayahnya itu, supaya bisa bangkit berdiri dan melihat anak kandungnya, Vijay Singh, untuk yang terakhir kalinya.

__ADS_1


Tidak ada air mata yang mengalir deras. Tuan besar Sangkoer Singh, seakan-akan sudah tidak bisa menangisi kepergian anaknya itu lagi. Kesedihan yang dia rasakan beberapa tahun terakhir ini, sudah terlalu lama. Dia tidak mungkin menangis lebih lama lagi, hanya untuk kepergian anaknya itu. Dia merelakan dan melepas Vijay Singh, karena dengan begitu, anaknya tidak lagi menderita. Segala usaha dan doa sudah dia lakukan sedari dulu. Mungkin, sudah takdirnya, Vijay Singh harus pergi dan meninggalkan dunia ini dengan keadaannya yang tidak biasa bagi orang lain.


Sekarang mereka berdua, Aji dan tuan besar Sangkoer Singh, ikut mengiringi jenasah Vijay Singh, yang di bawa petugas ke ruangan khusus untuk di urus. Mereka, berhenti di depan pintu, saat brangkar jenasah masuk ke dalam ruangan bersama dengan dua petugas rumah sakit tadi.


"Ayah. Sebaiknya kita menunggu kedatangan jenasah Vijay Singh di rumah sembari menyiapkan upacara pembakarannya." Aji mengajak ayah Sangkoer Singh, untuk pulang dan bersiap-siap untuk upacara selanjutnya.


Sangkoer Singh, tidak menjawab. Dia hanya mengangguk lemah, dan mengikuti apa kata Aji. Dia di tuntun Aji, menuju lorong yang tadi dia lewati untuk bisa keluar menuju ke tempat yang tadi, di ruang kaca.


Di saat Aji dan tuan besar Sangkoer Singh tiba di ruangan tersebut, tampak Elisa dan bibi Lasmi yang kebingungan, karena melihat ke dalam ruangan kaca sudah kosong. Tidak ada orang si sekitar ruangan tersebut, jadi Elisa dan bibi Lasmi, juga tidak bisa bertanya-tanya tentang keberadaan Vijay Singh ataupun suaminya, Aji.


Akhirnya, Aji menepuk pundak Elisa dengan memangil nama istrinya itu, "Elisa."


"Kakak!" seru Elisa saat menoleh. Ternyata, yang menepuk pundak dan memanggil namanya adalah suaminya sendiri, yang datang bersama dengan ayah angkatnya, tuan besar Sangkoer Singh.


Bibi Lasmi, melihat keadaan tuan besar_nya itu dengan mata memicing. Dia seakan-akan paham dengan situasi yang dialami tuan besar Sangkoer Singh saat ini. "Apa yang sebenarnya terjadi? bukankah tuan muda dinyatakan sudah sadar dari komanya?" tanya bibi Lasmi dalam hati. Tapi, dia tidak berani bertanya apa-apa, sebelum tuan besar Sangkoer Singh ataupun tuan muda_nya, Aji, mengatakan sesuatu.


"Di mana Mr Vijay Singh Kak? kenapa ruangan itu kosong?" tanya Elisa, sambil menunjuk ke arah ruang kaca yang berada di samping tempat mereka berdiri sekarang ini.


"Kuta pulang ke rumah. Kita ikut menyiapkan ucapara untuk pembakaran jenasah Vijay Singh. Dia masih berada di ruang jenasah, dan sedang di urus oleh petugas."


Jawaban yang diberikan oleh Aji, membuat Elisa dan bibi Lasmi terkejut. Mereka berdua, tidak percaya dengan berita yang baru saja dikatakan oleh Aji. Tadi, mereka berdua sewaktu berada di rumah, mendapatkan kabar dari Aji, jika Vijay Singh sudah sadar dari komanya. Tapi sekarang, saat mereka berdua sampai di rumah sakit, Aji ganti memberikan kabar duka ini. Bibi Lasmi, menangis sesenggukan meskipun tidak mengatakan apa-apa m, saat berita itu dia dengar.

__ADS_1


Elisa juga menangis tanpa sadar. Dia yang tidak pernah mengenal Vijay Singh secara langsung, merasa ikut kehilangan, apalagi sewaktu melihat tuan besar Sangkoer Singh yang sedang bersedih hati.


"Kak. Ini benar? Apa tadi saat sadar tidak ketahuan?" tanya Elisa yang masih tidak percaya dengan berita ini.


Aji, memeluk istrinya, Elisa, untuk membuatnya lebih baik dan tidak bersedih hati karena dia juga harus menjaga kondisi kandungannya, supaya tidak ikut bersedih juga.


"Kita semua merasa kehilangan yang sama. Vijay Singh, tadi sempat sadar dan membuka mulutnya untuk bersuara, meskipun samar dan tidak jelas terdengar. Ada rekaman cctv di ruangan itu. Mungkin, ini adalah jalan yang terbaik untuk Vijay tv, supaya tidak lagi merasakan kesakitan seperti dulu," jawab Aji, masih dengan memeluk Elisa.


Tak lama kemudian, mereka semua kembali ke rumah. Mereka akan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pembakaran jenasah Vijay Singh.


Tuan besar Sangkoer Singh, berencana untuk membawa abu anaknya, Vijay Singh, setelah acara pembakaran, ke sungai Gangga. Hal yang sama, seperti yang dulu dia lakukan untuk abu istrinya, ibu Vijay Singh, sewaktu meninggal dunia waktu itu.


"Apa tidak sebaiknya di kubur saja Kak?" tanya Elisa, dengan berbisik, pada suaminya, Aji.


"Ini adalah kepercayaan mereka Sayang. Setiap orang yang beragama Hindu di India, berharap supaya abu dari tulang-tulang mereka ditenggelamkan di sungai, terutama adalah sungai Gangga. Ini karena sungai Gangga, dipercaya dapat menghapus dosa dan memberi berkat kehidupan yang lebih baik di kehidupan akhirat nanti. Begitulah kira-kira kepercayaan mereka."


Aji, mencoba menjelaskan pada Elisa, seperti apa yang dia ketahui selama berada di India dulu.


Elisa, mengangguk paham dengan apa yang sudah dijelaskan suaminya itu. Dia merasa jika setiap upacara yang dilakukan di setiap keagamaan dan kepercayaan, ada maksud dan artinya sendiri bagi mereka yang mempercayainya.


Sangkoer Singh dan bibi Lasmi, yang ikut mendengarkan penjelasan Aji pada istrinya, ikut mengangguk mengiyakan. Mereka, tidak membantah apa yang dikatakan Aji tadi, karena memang seperti itulah kepercayaan yang mereka anut selama ini.

__ADS_1


__ADS_2