
Aji, baru saja sadar dari pengaruh obat biusnya. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia juga sedang berusaha untuk membiasakan sinar ke matanya agar tidak silau.
Adi mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Mama," sapa Aji dengan suara pelan.
"Sayang. Syukurlah, Kamu sudah sadar," kata Cilla dengan tersenyum bahagia, karena sadarnya Aji sudah sadar dari pingsannya.
Mami Rossa dan bibi, yang ikut mendengar, menoleh dan tersenyum lega. Mami Rossa berjalan sedikit tertatih, mendekat ke arah tempat tidur pasien Aji.
"Syukurlah Sayang. Oma tahu, kamu anak yang kuat, pasti akan sembuh dengan cepat!" kata mami Rossa, memberikan semangat pada Aji, cucunya, yang sekarang terbaring tak berdaya di tempat tidur.
"Minum Ma," pinta Aji.
"Ya. Ini Sayang." Cilla memberikan gelas berisi air putih pada Aji, tapi dia juga membantu Aji, untuk tetap bisa minum dengan posisi berbaring.
"Apa Aku sakit? Kenapa kepalaku terasa pusing?" tanya Aji, kemudian merasa kepalanya sendiri, hingga bagian keningnya yang terbalut perban.
"Ini apa?" tanya Aji kemudian.
"Aji tidak apa-apa Sayang. Itu hanya luka kecil. Besok juga sembuh kok," kata mamanya, Cilla, menenangkan Aji.
Aji pun hanya mengangguk, meskipun tidak yakin dengan perkataan mamanya itu. Apalagi badannya, terasa kaku dan sakit semuanya.
"Mama juga sakit, Oma juga?" tanya Aji, setelah memperhatikan keadaan mama dan omanya.
Ada bekas memar-memar dibeberapa tangan mamanya, Cilla. Begitu juga dengan tangan omanya.
Mami Rossa tersenyum, mendapatkan perhatian dari cucunya itu. Dia mengeleng dengan wajah bahagia dengan keselamatan yang mereka dapatkan kali ini.
"Oma tidak apa-apa Sayang. Oma benar-benar bersyukur, karena kita semua masih selamat dan dilindungi oleh Tuhan."
Cilla juga ikut mengangguk, dan tersenyum, mendengar perkataan mami Rossa yang mengucapkan syukur sekali lagi.
"Bi. Coba lihat Gilang di ruang operasi. Apa operasinya berjalan lancar? Beri tahu juga kalau den Aji sudah sadarkan diri."
"Baik Nyonya," jawab bibi patuh, kemudian berjalan keluar dari dalam kamar pasien, menuju ke arah ruang operasi, menemui Gilang, yang masih menunggu di sana.
__ADS_1
"Tuan muda. Den Aji sudah sadar," kata bibi memberitahu.
"Syukurlah Bi. Baru saja ya?" tanya Gilang, setelah mengucapkan rasa syukurnya.
"Iya Tuan. Nyonya bertanya, bagaimana operasinya pak supir?"
"Tadi kata dokter, ada patah tulang di bagian kaki. Sekarang sedang di pasang gips untuk membantu penyembuhannya. Semoga yang lain-lain tidak perlu ada tindakan operasi, atau yang lebih parah lagi," jawab Gilang dengan wajah cemas.
"Aamiin. Syukurlah kalau begitu. Sekarang biar saya yang menunggu sebentar. Tuan muda bisa melihat den Aji dulu," kata bibi memberikan usul.
"Bibi tidak apa-apa, menunggu sendiri?" tanya Gilang memastikan.
"Tapi sebentar saja Tuan. Takutnya, dokter selesai mengoperasi pak supir, dan mencari Tuan muda, untuk memberikan keterangan dan penjelasan," jawab bibi sambil tersenyum tipis.
"Baiklah. Bibi tunggu di sini sebentar. Saya mau lihat Aji dulu. Terima kasih ya Bi!"
Gilang, segera berjalan menuju ke arah kamar pasien yang ditempati oleh Aji, Cilla dan juga maminya. Untungnya, mami Rossa dan Cilla, tidak perlu perawatan yang khusus dan berlebihan. Mereka juga tidak memerlukan cairan infus, bisa melakukan aktivitas seperti biasa dan tida ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya cara berjalan mereka berdua saja, yang agak tertatih-tatih.
"Sayang. Jagaon Papa!" sapa Gilang, begitu masuk ke dalam kamar.
Cilla tersenyum, melihat kedatangan Gilang. Begitu juga mami Rossa.
"Aji baik-baik saja. Ini Dokter hanya memastikan bahwa, tidak ada yang aji lupakan dengan ingatannya. Siapa yang ada luka dalam kepalanya. Jadi, begitu sadar, dokter segera datang memeriksa."
Mami Rossa menjelaskan pada Gilang, tentang keberadaan dokter dan suster saat ini.
"Iya Mi. Semoga saja, Aji tidak kenapa-kenapa dan tidak kurang suatu apa pun," kata Gilang penuh pengharapan.
"Aamiin."
"Aamiin."
Mami Rossa dan Cilla, berbarengan mengucapkan aamiin, saat Gilang selesai mengucapkan harapannya.
"Bagaimana Dok?" tanya Gilang, ingin tahu.
__ADS_1
Dokter, yang baru saja selesai memeriksa kondisi tubuh dan ingatan Aji, dengan beberapa pertanyaan yang diajukan, menoleh dan tersenyum pada Gilang, yang tampak begitu cemas. Dia memberikan beberapa penjelasan pada suster, yang ada didepannya, untuk mencatat hasil diagnosa sementara, yang dapat dia simpulkan saat ini.
"Anak Tuan tidak apa-apa. Itu yang dapat Saya simpulkan saat ini. Tapi jika nanti, untuk beberapa menit kedepan, jika terjadi muntah, segara hubungi kami. Kami akan mencoba mengeceknya kembali. Tapi, semoga saja itu tidak akan terjadi."
Gilang, mami Rossa dan Cilla bingung dengan keterangan yang diberikan oleh dokter tersebut. Mereka menjadi cemas jika akan terjadi sesuatu yang fatal.
"Maksud Dokter?" tanya Gilang tidak sabar.
"Hanya kemungkinan saja. Tidak semua luka itu terlihat. Kami takut, jika ada sesuatu yang terjadi dibangun kepala atau dadanya. Semoga tidak ada," jawab dokter, memberikan penjelasan.
"Ah. Semoga saja tidak," kata Gilang, berharap agar anaknya itu, Aji, dalam keadaan baik-baik saja.
Aji, yang ikut mendengarkan semua perkataan dari dokter tersebut, hanya diam memperhatikan. Dia merasa jika dirinya baik-baik saja. Tapi, karena semua itu memang salah satu prosedur dari pekerjaan yang dilakukan oleh tim dokter, Aji hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa.
"Terima kasih Dok," kata Gilang dengan mengangguk.
"Sama-sama. Kami kembali dulu, jika ada sesuatu yang terjadi, cepat tekan tombol panggil yang ada," kata dokter memberi tahu.
"Baik Dok," jawab Gilang, Cilla dan mami Rossa secara bersamaan.
Setelah dokter dan suster keluar dari kamar tersebut, Gilang mendekati Aji. Dia memeluk anaknya itu dengan erat, tapi tetap berhati-hati agar luka Aji tidak tertekan.
"Sayang pasti akan sembuh dan tidak apa-apa. Aji kan anak yang kuat dan pintar," kata Gilang menghibur anaknya itu.
"Aji baik-baik saja Pa. Papa tidak perlu khawatir," kata Aji tenang. Dia juga tersenyum pada mamanya omanya yang berdiri mengelilingi tempat tidurnya.
"Iya dong... cucunya Oma, pasti kuat!" kata mami Rossa memberikan semangat pada Aji.
"Pak supir bagaimana? Dia berusaha mengelak dari tabrakan itu Pa, tapi dia tidak tahu jika mobil akan menabrak tiang lalu lintas juga." Aji menanyakan kondisi pak supir. Dia teringat dengan keadaan pak supir yang pastinya lebih parah dari dirinya.
"Aji tahu keadaan pak supir?" tanya Gilang penasaran.
"Iya Pa. Aji tahu, dia pingsan terlebih dahulu dari pada Aji. Waktu itu, Aji berteriak dan pak supir membanting setir. Setelah pak supir pingsan dan Aji juga tidak ingat apa-apa lagi setelah itu."
Aji menceritakan kembali, tentang kejadian kecelakaan yang mereka alami, siang tadi. Dia juga hapal dengan mobil yang ada didepannya itu.
__ADS_1