Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Mr Vijay 3


__ADS_3

Mr Vijay, merasa jika tugas pertamanya di Indonesia, tidak bisa disebut berhasil. Jadi dia melapor pada ayahnya yang ada di India, Sangkoer Singh.


Dia mengatakan, jika tidak bisa melanjutkan tugas ke negara Asia tenggara lainnya. Melalui email yang dia kirim ke ayahnya, dia juga bertanya tentang Indonesia. Tapi ternyata, ayahnya, Sangkoer Singh, langsung menelepon dirinya tak lama setelah email terkirim.


..."Ada apa? Apa Kamu menemukan masalah di sana?"...


..."Tidak Yah. Aku hanya merasa jika kesehatanku, malah memburuk di cuaca Indonesia saat ini."...


..."Kamu ada di mana sekarang?"...


..."Aku ada rumah sakit Yah. Tadi, sewaktu perjalanan ke Tangerang, Aku jatuh pingsan."...


..."Hah. Lalu ada di rumah sakit mana Kamu?"...


..."Ada di rumah sakit kecil, yang ad di dekat jalan sewaktu perjalanan kami."...


..."Segera terbang ke Singapore, Ayah akan ke sana nanti. Atau Ayah perlu jemput Kamu ke Indonesia?"...


..."Lalu, urusan audit yang belum Vijay selesaikan bagaimana Yah?"...


..."Ayah akan kirim Tim audit lain."...


..."Yah. Apa Aku boleh bertanya?"...


..."Apa, soal apa?"...


..."Apa aku pernah ke Indonesia sebelum ini?"...


..."Belum. Kamu baru pertama kali datang ke negara Indonesia. Kenapa?"...


..."Tadi, sewaktu ada kunjungan di kampus, sebelum perjalanan ke Tangerang, Vijay bertemu dengan seorang gadis Yah. Dan Vijay merasa tidak asing dengan wajahnya itu."...


..."Hem... begitu ya. Hahaha... Apa Kamu sedang jatuh cinta pada pandangan pertama?"...


Mr Vijay, tertegun sejenak mendengar jawaban ayahnya melalui telepon. Dia tidak tahu apa maksud dari perkataan ayahnya, Sangkoer Singh.


..."Maksud Ayah?"...


..."Ah... lupakan. Kamu segera kirim kabar. Ayah akan datang ke Indonesia saja terlebih dahulu jika keadaan Kamu seperti ini terus."...


..."Maaf Yah. Vijay malah membuat repot Ayah."...

__ADS_1


..."Tidak-tidak. Kamu tidak merepotkan Ayah. Ayah malah merasa khawatir, jika Kamu menemukan cinta pertama di Indonesia, dan itu membuatmu tidak lagi kembali pada Ayah."...


..."Ayah kenapa bicara seperti itu. Vijay tidak mungkin bisa melakukan hal itu pad Ayah."...


..."Iya. Ayah percaya dengan Kamu. Tapi Ayah tidak percaya dengan cinta yang buta, yang baru dirasakan oleh seorang pemuda pada gadisnya."...


..."Aku tidak mengerti maksud ayah?"...


..."Sudah. Kamu istirahat saja. Ayah akan segera bersiap dan meminta kapten untuk menyiapkan pesawat untuk sore ini."...


Sambungan telepon terputus. Me Vijay bingung dan tidak mengerti apa maksud dari semua perkataan ayahnya tadi.


"Apa maksudnya ayah berkata demikian ya?" guman Mr Vijay pada dirinya sendiri.


*****


Mr Vijay berbaring sendiri di dalam kamar pasien. Asistennya baru saja pergi untuk membeli makanan untuknya. Dia tidak mau makan makanan rumah sakit. Mr Vijay minta burger untuk makannya kali ini.


"Di mana Aku bisa dapat burger dekat rumah sakit ini ya? Padahal tadi dia pesan, kalau tidak mau pake pesan antar. Masa Aku harus pergi ke Mall dan membiarkan dia sendiri terlalu lama?" guman asisten Mr Vijay.


"Mr Vijay itu suka aneh-aneh. Kalau di rumahnya, ada koki khusus yang bisa membuatkan burger untuknya. Dia itu tidak bisa makan makanan sembarangan juga kan?" asisten Mr Vijay, kembali bertanya pada dirinya sendiri.


"Eh, maaf. Maaf ya Nyonya," kata asisten Mr Vijay, saat secara tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang yang sedang berjalan di depannya.


"Kenapa anda melamun Mas?" tanya orang tersebut. Dia membereskan barang-barang bawaannya yang berhamburan.


Asisten Mr Vijay merasa bersalah. Dia membantu orang tadi, membereskan barang-barangnya yang tadi dia tabrak.


"Terima kasih," kata orang tersebut setelah semuanya selesai.


"Maaf ya Mbak," kata asisten Mr Vijay sekali lagi.


Orang tadi hanya mengangguk sebagai jawabannya, tapi sebelum dia pergi dan melanjutkan langkahnya, asisten Mr Vijay memanggilnya, "Mbak maaf. Saya mau tanya?"


Orang tersebut menoleh, dan menghentikan langkahnya. "Ya. Ada apa?" tanya orang itu.


"Maaf. Saya mau tanya, dimana Saya mau tanya. Apa di dekat sini ada Mall besar?" tanya asisten Mr Vijay. Dia merasa tidak enak, soalnya ini di rumah sakit dan dia bertanya soal Mall.


"Ada. Tidak jauh dari tikungan setelah jalan masuk ke rumah sakit ini, ada Mall besar. Anda bisa ke sana dan bisa mendapatkan apa yang Anda inginkan." orang tersebut memberikan penjelasan.


"Oh. Terima kasih. Saya hanya ingin beli burger untuk makan siang bos Saya. Dia tidak mau delevery. Jadi harus beli sendiri."

__ADS_1


Orang tadi mereka sedikit kaget, saat mendengar jawaban dari asisten Mr Vijay. Dia teringat dengan seseorang. "Mungkinkah?" tanya dia dalam hati.


"Oh. Dia sakit di rumah sakit ini? Apa tidak bermasalah jika sakit dan makan burger? Harusnya makan burger nanti kalau sudah sembuh saja," kata orang tadi memberikan nasehat.


"Tapi bos Saya itu, tidak bisa makan jika tidak yang dia inginkan. Dia juga tidak mau makan makanan rumah sakit. Dan dia memang sudah terbiasa begitu. Sakitnya juga cuma sakit kepala yang sudah biasa dia alami."


"Sakit kepala biasa, sampai harus di rawat di rumah sakit? Dan itu sudah sering terjadi?" tanya orang itu dengan nada heran.


"Emhhhh... sebenarnya tidak juga. Ah, maaf. Saya harus segera pergi. Nanti bos Saya menunggu terlalu lama. Maaf," pamit asisten Mr Vijay pada orang tersebut.


"Oh ya. Silahkan," kata orang tersebut dengan menganggukkan kepalanya.


"Eh, itu bukannya tadi yang ikut tamu kampus ya? Apa yang dia maksudkan adalah Mr tadi yang sakit? Kok kebiasaannya sama kayak kakak? Apa memang kakak?"


Ternyata orang yang di tabrak asisten Mr Vijay adalah Jeny. Dia sedang ada perlu dengan dokter Dimas, yang kebetulan dinas di rumah sakit ini.


"Tapi di mana kamar pasien dia? Ah, Aku Tidka tahu namanya. Coba Aku tahu, kan bisa minta bantuan Dokter Dimas buat nyelidiki," kata Jeny pada dirinya sendiri.


"Oh iya. Tanya si El pasti tahu nama tamu tadi!"


Sekarang, Jeny berhenti dan duduk di kursi panjang yang ada di lorong rumah sakit. Dia menelpon Elisa, temannya yang tadi memaksanya untuk ikut melihat tamu kampus.


..."Hai Jen. Ada apa?" tanya Elisa, begitu sambungan telepon terhubung....


..."El. Tanya nama tamu kampus tadi. Siapa namanya?" tanya Jeny langsung pada inti dari tujuannya menelpon Elisa....


..."Wah... angin apa yang membuat seorang Anjani Putri ingin tahu nama seseorang?" ...


..."Udah buru. Tinggal jawab saja ribet!" ...


..."Hahaha... Kamu utang satu jawaban ya sama Aku!" ...


..."Buruan, siapa namanya?" ...


..."Kalau tidak salah, Mr Vijay Singh."...


..."Ok. Thanks ya El!"...


Jeny langsung mematikan sambungan teleponnya. Dia tidak menunggu lagi apa yang ingin dikatakan oleh Elisa, temannya itu.


"Aku akan tahu, siapa dia sebenarnya jika Dokter Dimas ikut membantuku," kata Jeny, dengan tersenyum penuh keyakinan.

__ADS_1


__ADS_2