
"Apa keluarga Elisa sedang bermasalah dengan keuangan?" tanya Jeny, pada Rio.
"Mana Aku tahu Jen. Tapi menurutku, kemungkinan besar, iya."
Jeny, mendelik ke arah Rio. "Ihsss, sana juga kan!" ujar Jeny. Dia merasa kesal dengan sikap Rio yang terlihat seperti tidak mau tahu.
"Coba lihat tadi, alamat Elisa yang diberikan, dekat apa gak dengan rumahku?" tanya Rio, mengalihkan perhatian Jeny.
"Ini," jawab Jeny, sambil menyerahkan selembar kertas, yang tadi berikan petugas administrasi kampus, pada Rio.
Rio, menerima kertas tersebut, kemudian membacanya sekilas. "Oh, lumayan juga dari rumahku," kata Rio berkomentar.
"Maksudnya, seberapa jauh?" tanya Elisa, ingin tahu.
"Sekitar lima puluh kilometer kalau tidak salah," kata Rio, sambil mengetuk-ngetuk keningnya sendiri, seperti sedang berpikir.
"Tapi bisa di jangkau kan?" tanya Jeny memastikan, jika usulannya nanti di setujui oleh Rio.
"Ya bisalah! Kan segitu juga gak pake jalan kaki kalau mau datang," jawab Rio, sambil meringis dan tidak mengerti, apa maksud dari pertanyaan Jeny.
"Maksudku, Kamu bisa kan minta bantuan orang lain yang ada di rumah Kamu, misal pegawai ayahmu, atau teman main Kamu di kampung, untuk melihat keadaan Elisa atau keluarganya. Kan kita tidak tahu, Elisa benar-benar ada di rumah atau tidak saat ini."
"Terus, yang datang ke rumah Elisa, pakai alasan apa coba? masa iya, tiba-tiba gak kenal nyariin Elisa gitu saja!" jawab Rio, tidak berpikir lagi.
"Bukan begitu juga Rio! Ya, setidaknya mengamati, ada tidak Elisa di rumah hari itu? atau tanya saja dan cerita apa adanya."
"Hemm..."
Rio, tidak jadi mengatakan sesuatu. Dia juga tidak tahu, mau meminta bantuan pada siapa di kampung. Jika minta tolong pada salah satu pegawai ayahnya, bisa-bisa, pegawai itu akan cerita-cerita pada ayahnya, dan itu bisa menimbulkan kecurigaan. Padahal kemarin, dia baru saja bertemu dengan ayahnya, yang datang ke Jakarta untuk peresmian pangkalan armada bus yang baru. Dan waktu itu, dia lupa membawa handphone miliknya, sehingga Elisa tidak bisa menghubunginya.
__ADS_1
"Apa Elisa marah ya sama Aku?" tanya Rio pelan, seakan untuk dirinya sendiri.
"Maksud Kamu, Elisa marah kenapa?" tanya Jeny, saat mendengar pertanyaan Rio tadi.
"Tidak apa-apa. Malam itu, waktu Kamu bilang ada acara lamaran dan Elisa masih ada di rumah Kamu, untuk yang terakhir kalinya, dia sempat menelponku beberapa kali, tapi Aku sudah cerita juga sama Kamu kan, kalau Aku ada keperluan dan handphone ketinggalan, jadi Aku tidak tahu, apa yang ingin di sampaikan Elisa. Paginya, saat Aku ingin menelpon balik, dia sudah tidak bisa dihubungi. Kamu kan juga tahu itu, sewaktu berada di kampus seminggu yang lalu."
"Apa jangan-jangan Elisa di culik ya? di rampok atau apa? Kalau iya, ayo kita pergi ke kantor polisi dan membuat laporan orang hilang?" ajak Jeny, dengan wajah panik.
"Eh, gak gitu juga Jen. Kita belum bisa pastikan kebenarannya, jika kita sudah buat laporan, dan ternyata Elisa, ada di rumahnya yang ada di kampung bagaimana?" tanya Rio, mulai ragu dengan pemikirannya sendiri.
"Ah Kamu! kalau kasih usul itu, jangan terlalu berbelit-belit. Sekarang Kamu minta bantuan dari orang rumah Kamu, atau siapa gitu, untuk memastikan bahwa Elisa ada atau tidak di rumahnya."
"Begitu ya..."
"Iya Rio. Akan lebih jelas jika itu dilakukan. Kalau sudah tahu, itu akan lebih mempermudah kita, untuk membuat rencana lainnya. Misal, kemana dan bagaimana cara mencari Elisa di Jakarta ini," kata Jeny, menjelaskan pemikirannya pada Rio.
"Ok deh. Tapi jangan minta hari ini juga beres ya! soalnya Aku tidak tahu, ada tidak yang bisa Aku mintai bantuan hari ini, atau secepatnya," jawab Rio, dengan wajah cemas. Mungkin dia meragukan ide dari temannya itu, Jeny.
"Nah itu, Aku tidak bisa janji. Kan bukan Aku sendiri yang datang ke rumah Jeny," kata Rio lagi, dengan meringis.
"Tapi, si El juga pernah bilang, kalau dia suka sama kakakku. Apa dia malu karena mengaku padaku ya?"
Tiba-tiba, Jeny ingat jika Elisa pernah berkata soal perasaannya pada kakaknya, Aji.
"Ah, itu kan udah lama Jen," kata Rio datar.
"Hah. Kamu juga tahu?" tanya Jeny kaget.
"Tahu. Tapi kalau cuma soal itu, Aku rasa tidak mungkin. Aku lebih condong ke permasalahan yang awal tadi. Karena itu berhubungan dengan semua hal. Kalau cuma soal hati, Elisa tidak serapuh itu!" Rio, berkata dengan pasti.
__ADS_1
Jeny, mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan dan dipikirkan oleh Rio. Dia juga merasa jika, memang permasalahan Elisa tidak ada hubungannya dengan perasaannya pada kakaknya, Aji.
"Baiklah. Aku menunggu kabar darimu. Semoga bisa secepatnya ya!"
Rio hanya tersenyum tipis sambil mengacungkan jari jempolnya pada Jeny, tanda setuju.
*****
Di tempat lainnya.
Elisa sedang beres-beres di sebuah mini market. Dia baru saja menjadi karyawan di sana, beberapa hari yang lalu. Dia yang meminta agar bisa di tempatkan di waktu pagi saja, dan tidak kerja pada waktu malam, karena malam harinya, dia ada pekerjaan lainnya lagi. Dan untungnya, pemilik mini market tempatnya bekerja, menyetujui permintaannya waktu itu.
"Elisa! tolong bawa air pel itu ke belakang ya. Toko akan segera dibuka."
"Ok mbak!" jawab Elisa, dengan mengedipkan sebelah matanya.
Elisa, yang berperawakan kecil, mudah beradaptasi. Dia juga tidak sungkan untuk bertanya dan bergaul dengan orang-orang, jadi dia dengan cepat bisa mendapatkan teman, meskipun dia karyawan baru.
"El. Kamu sudah sarapan?" tanya temannya yang lain.
Elisa hanya mengangguk dan tersenyum saja. Dia tidak mau menjawab dengan pasti, karena dia memang tidak terbiasa sarapan dengan nasi. Dia tahu pasti, jika pertanyaan temannya tadi, pasti maksudnya adalah sarapan nasi.
"Ya sudah. Selamat bekerja ya El. Nanti siang, mungkin seragam kerja untukmu akan datang. Kamu kan sudah seminggu di sini," kata temannya menenangkan.
Elisa, memang sudah seminggu ini kerja di mini market itu. Tapi dia belum memakai seragam kerja, karena masa uji coba di mini market itu adalah selama semingu. Jadi, siang nanti, dia akan mendapatkan seragam kerjanya.
"Semoga apa yang Aku lakukan ini, bisa membantu diriku sendiri. Aku harus benar-benar bisa berjuang sendiri. Biarlah, handphoneku Aku jual kemarin itu, kan Aku juga butuh uang untuk kost baru yang dekat dengan kerjaan. Toh, Aku belum membutuhkannya juga. Kapan-kapan kalau sudah ada uang lagi, Aku bisa beli."
Elisa tidak berpikir, jika teman-temannya, Rio dan Jeny, sedang kebingungan mencari-cari keberadaan dirinya.
__ADS_1
Dia seakan masuk ke dalam dunia lain, dan melupakan, jika ada orang-orang yang juga peduli dengan keadaan dirinya.