Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Salah Paham


__ADS_3

Suasana semakin mencekam. Malam yang semakin larut, dengan penerangan jalan buntu yang tidak terlalu terang membuat rasa takut menjadi lebih menakutkan. Apalagi dalam suasana seperti yang Cilla dan Aji alami saat ini. Di cari-cari penjahat yang berada tidak jauh dari tempat mereka bersembunyi. Satu gerakan dan suara, bisa membuat keberadaan mereka ketahuan oleh orang-orang yang sedang mencari mereka dan bisa dipastikan, mereka akan kembali di tahan. Jika hanya ditahan saja tidak begitu menakutkan, yang lebih menakutkan adalah kelakuan mereka yang menyimpang, bisa-bisa Aji akan menjadi sasaran mereka semua nantinya.


"Coba telpon nomer handphone milikku. Tadi anak kecil itu mengambilnya. Punya Bos juga dia ambil. Kalau mereka ada disekitar sini, pasti akan berbunyi dan kita akan tahu keberadaan mereka."


Salah satu dari mereka yang tadi di hajar Cilla dan Aji memberikan ide. Cilla dan Aji yang mendengarnya, jadi saling pandang. Kini tatapan mata mereka beralih pada handphone yang sedang di pegang oleh Cilla. Sebab, handphone yang di pakai Aji untuk menelpon Gilang adalah milik Candra, bos para penjahat itu.


Cilla buru-buru menonaktifkan handphone yang ada ditangannya. Dia tidak mau keberadaan mereka diketahui. Tapi naas, justru handphone milik Candra yang berdering. Sepertinya ini memang taktik mereka. Mereka berpikir jika suara mereka terdengar oleh Cilla dan Aji, mereka akan segera mematikan handphonenya. Itulah sebabnya, yang mereka pancing beralih pada telpon bos-nya, handphone milik Candra.


Aji gemetar menegang handphone yang berdering nyaring itu. Sedangkan Cilla buru-buru mengambil handphonen tersebut dan mematikan sambungan teleponnya. Tapi tentu saja bunyi dari deringnya sudah terdengar oleh kedua penjahat itu. Sekarang ini, mereka berdua sudah ada dihadapan aji dan Cilla yang sedang jongkok untuk bersembunyi.


"Oh, ternyata benar dugaanku. Ayo kita bawa mereka berdua. Kita bisa pesta malam ini. Hahaha..."


Perkataan salah satu dari mereka membuat Cilla dan Aji merasa ketakutan. Aji memeluk kaki mamanya untuk meminta perlindungan.


"Pergi kalian! Atau aku akan teriak," kata Cilla mengancam.


"Teriak? Hahaha... Jika kamu ingin teriak, teriak saja. Tidak akan ada yang mendengar teriakanmu, bahkan jljija sampai pita suaramu itu putus sekalipun!" Salah satu dari mereka berkata dengan nada mengejek.


"Mungkin hanya tikus-tikus got dan sampah yang akan mendengar suara teriakannya!" sahut temannya.


Setelah saling sahut-sahutan, kini keduanya tertawa-tawa senang dengan apa yang sudah mereka katakan. Ketakutan Aji dan Cilla semakin membuat mereka merasa senang.


Cilla semakin menciut mendengar perkataan mereka berdua yang mengatakan pesta. Cilla sudah tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nantinya.


"Wah... Wah! Ketemu juga akhirnya." Dari arah belakang tampak Candra melangkah dengan berkacak pinggang.

__ADS_1


"Kita bisa pesta Bos," kata salah satu anak buahnya yang tadi ikut babak belur bersamanya.


"Iya. Kurang ajar banget dia merusak muka mulus yang aku rawat dengan baik. Awas kamu!"


Candra mengancam Aji yang sudah semakin takut. Cilla tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dia hanya bisa pasrah dan berharap jika Gilang akan segera datang bersama bantuan yang sudah dia hubungi.


Mereka bertiga melangkah mendekati tempat Aji dan Cilla berada. Dengan gerakan lambat tapi pasti, ketiganya membuat target semakin merasa ketakutan dan ini membuat ketiganya menjadi tertawa puas.


"Hahaha... Gilang pasti akan merasa terpukul jika tahu apa yang sudah Aku lakukan kepada anaknya nanti." Candra tertawa lepas membayangkan apa yang sedang dia pikirkan saat ini.


Tapi semua itu tidak berlangsung lama. Dari kejauhan, mobil Gilang dengan cepat melaju ke arah gang buntu, tempat mereka semua berada.


"Heh, siapa yang datang?" tanya Candra tidak menyadari jika itu adalah Gilang.


Mobil berhenti dengan jarak tidak lebih dari tiga meter, dari tempat Candra berdiri bersama kedua anak buahnya. Gilang segera turun, kemudian mendekat kearah Candra. Tentu saja Candra menjadi kaget dengan apa yang dia lihat sekarang ini.


"Oh... Akhirnya kamus datang juga Sayang. Padahal aku belum sempat memberikan alamat tempat ini. Apa ini perasaan cinta yang membawamu ke sini?"


Pertanyaan Candra membuat Gilang merasa ingin muntah. Tapi demi mengulur waktu dan menunggu kedatangan komandan polisi bersama pasukannya, Gilang harus bisa menguasai dirinya untuk bisa mengajak Candra bicara baik-baik.


"Aku pikir kita bisa bicara baik-baik. Apa kamu tidak ingat jika kita terbiasa bersama sewaktu masih kecil dulu?" Gilang mengingatkan Candra tentang masa lalu mereka sewaktu masih kecil.


"Apa kita bisa bersama seperti waktu dulu?" tanya Candra ingin tahu. Sepertinya dia masih berharap jika Gilang akan menerima perasaan cintanya yang aneh.


"Kita bisa bicara berdua tanpa mereka. Aku tidak ingin menjadi bahan gosip setelah ini," jawab Gilang menunjuk pada Aji dan Cilla.

__ADS_1


"Kenapa? Biarkan mereka tahu dan tidak berharap bersama denganmu lagi dikemudian hari."


Percakapan keduanya, Gilang dengan Candra membuat Cilla merasa jijik. Dia berpikir jika ini adalah sisi gelap seorang Gilang yang tidak diketahui oleh siapapun.


"Oh ayolah Candra. Mana aku mau ada cewek, apalagi anak-anak diantara kita. Aku tidak mau!" Gilang berkata seakan-akan merasa ilfel pada kedua orang yang sedang dia lindungi itu.


"Kamu yakin dengan apa yang kamu katakan?" tanya Candra tidak percaya begitu saja dengan perkataan Gilang.


" Terserah jika kamu tidak percaya. Lebih baik aku kembali pulang," jawab Gilang pura-pura marah, kemudian membalikkan tubuhnya untuk kembali kedalam mobil.


"Tunggu!" Candra segera menghentikan langkah Gilang


"Biaklah. Tapi aku akan menahan mereka berdua kembali seperti tadi," kata Candra memberitahu keputusannya.


"Buat apa? Aku kan sudah datang," tanya Gilang merasa curiga juga.


"Aku butuh kepastian. Aku juga ingin kerjasama perusahaan kita segera kamu tanda tangani. Aku ingin kita bersatu dalam semua hal."


Kemauan Candra semakin menjadi-jadi. Dia menggunakan kesempatan untuk melakukan semua yang dia inginkan.


Gilang menghela nafas panjang dan memejamkan matanya untuk menahan diri agar tidak gegabah dan menjawab sesuai yang dia rasakan saat ini. "Huh sial. Bicara dengan orang gila bisa membuatku ikutan gila!" Gilang mengeluh dalam hati.


"Aku ikut saja apa yang kamu inginkan. Tapi aku pikir mereka tidak ada gunanya lagi. Buat apa repot-repot mengurus mereka?" Gilang mengatakan sesuatu yang berlawanan dengan kata hatinya.


"Maafkan Papa sayang," kata Gilang dalam hati dengan melihat ke arah anaknya dan menganguk samar. Memberi kode pada Aji, anaknya, agar bisa peka dengan maksud yang dia katakan saat ini.

__ADS_1


"Semoga Cilla tidak berpikir jika ini adalah diriku yang sebenarnya." Gilang kembali berkata dalam hati, berharap agar Cilla tidak salah paham dengan apa yang dia lakukan dan juga katakan untuk mengulur waktu mereka semua sampai bantuan datang.


Tapi berbeda dengan Gilang, Cilla semakin yakin jika ini adalah sosok Gilang yang sebenarnya. Yang sering dibicarakan oleh banyak orang diluar sana.


__ADS_2