Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Tuan Adi


__ADS_3

Rumah kontrakan yang ditempati oleh Cilla dan Aji tampak sepi. Beberapa minggu terakhir ini memang sudah tidak berpenghuni. Tuan Adi, yang belum tahu jika Cilla dan Aji sudah tidak lagi berada di rumah kontrakan miliknya bingung. Mungkin karena Cilla belum berpamitan secara langsung kepadanya.


Saat ini, dia ada di depan rumah kontrakan tersebut. Dia mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada sahutan ataupun jawaban dari dalam rumah.


"Cilla... Cilla!" panggil tuan Adi.


"Aji... Aji!" Tuan Adi ganti memanggil-manggil nama Aji.


Beberapa menit berlalu, tapi tidak ada tanda-tanda jika ada kehidupan di dalam rumah. Tuan Adi menjadi sedikit khawatir jika terjadi sesuatu pada Aji ataupun Cilla di dalam rumah kontrakan miliknya.


"Aku mau lapor ke pak RT saja," kata tuan Adi saat mendapat ide.


Tuan Adi bergegas menuju ke rumah pak RT. Dia ingin bertanya sekaligus ingin tahu apa yang terjadi di rumah kontrakan miliknya itu.


"Permisi, Pak RT. Pak...!" panggil tuan Adi dari luar pagar rumah pak RT.


"Pak RT..." Tuan Adi sekali lagi mencoba untuk memanggil pak RT.


"Cari saya tuan Adi?" Tiba-tiba pak RT muncul dari belakang tuan Adi.


"Aduh Pak! Pak RT ini, bikin kaget saja," kata tuan Adi dengan gugup, karena kaget.


"Hehehe, maaf!" Pak RT meminta maaf karena tidak sengaja mengagetkan tuan Adi yang sedang mencarinya.


"Ada apa ya mencari saya?" tanya pak RT setelah terdiam sejenak.


"Itu Pak, saya mau tanya. Cilla dan anaknya pada kemana? kok rumah sepi begitu. Saya panggil-panggil tidak ada yang menyahut juga," tanya tuan Adi langsung pada tujuannya.


"Oh itu. Maaf, saya belum sempat bilang pada tuan Adi jika Cilla dan Aji pindah ke rumah papanya Aji," jawab pak menerangkan.

__ADS_1


"Papanya Aji?" tanya tuan Adi kaget. Dia tidak menyangka jika Aji benar-benar mempunyai papa, seperti yang dulu pernah dia dengar dari Cilla sendiri.


"Iya. Kan memang papanya Aji kerja jauh katanya. Tapi dilihat-lihat memang bukan orang sembarangan. Mobil yang dia tumpangi saja mobil paling mahal. Terus, kemarin itu sebenarnya Aji masuk rumah sakit secara mendadak. Saat papanya datang ya tidak ketemu, Saya yang kasih tahu. Setelah hampir satu minggu, ada dua orang suruhan papanya Aji yang meminta ijin dan pamit untuk mengemasi barang-barang mereka di rumah kontrakan itu. Kata mereka, Cilla dan Aji akan tinggal bersama dengan papanya."


Tuan Adi mendengar cerita dari pak RT dengan wajah penuh tanda tanya besar. Dia tidak percaya begitu saja tanpa tahu kebenaran yang ada.


"Tapi, salah satu dari orang suruhan itu ada yang bilang jika kapan-kapan akan menghubungi tuan Adi untuk berpamitan secara langsung. Kata mereka, Aji sedang masa penyembuhan. Jadi tidak bisa kemana-mana dulu," kata pak RT menyambung ceritanya yang tadi.


"Oh... Begitu ya," kata tuan Adi menangapi cerita dari pak RT.


"Ya begitulah kira-kira. Mungkin besok-besok juga Cilla akan menghubungi tuan Adi. Apakah tuan Adi tidak mempunyai nomor handphone Cilla? Kalau punya kan bisa bertanya langsung?" Pak RT bertanya, mengingatkan tuan Adi.


"Saya tidak punya. Nomer handphone yang kemarin saya hadiahkan pada Aji juga tidak aktif. Mungkin mereka memang tidak mau diganggu terlebih dahulu. Padahal Saya datang ini mau minta maaf atas kejadian yang tidak mengenakkan kemarin. Saya gelap mata dan menuduh Cilla yang tidak-tidak. Saya tidak bisa berpikir jernih saat itu."


Tuan Adi tampak menyesal dengan semua yang telah terjadi saat itu. Dia yang selama ini terkenal baik dan sopan menjadi tercemar juga namanya, dan semua itu karena ulahnya sendiri.


"Tunggu saja Tuan, sabar. Cilla pasti akan menghubungi Tuan jika ada waktu," kata pak RT meminta tuan Adi untuk bersabar.


"Ya sudah kalau begitu Pak RT. Saya pamit dulu." Tuan Adi akhirnya berpamitan dengan pak RT.


"Ya Tuan." Pak RT menganguk mengiyakan.


*****


Dalam perjalanan pulang dari rumah pak RT, tuan Adi masih saja berpikir tentang Cilla dan Aji. "Tidak mungkin itu papanya Aji. Bisa jadi Cilla menerima tawaran orang kaya untuk menjadi istri simpanan atau istri muda. Biasa itu. Siapa juga yang tidak mau Jiak di iming-iming dengan uang dan kemewahan. Dia pikir aku ini miskin dan tidak mampu memberikan kemewahan juga padanya!"


Tuan Adi terus berdialog sendiri dengan hati dan pikirannya. Ternyata kata menyesal dan maafnya hanya trik untuk menutupi rencana yang dia susun sedari rumah.


Rencana yang dia susun kacau dan gagal sebelum dia jalankan. Dan semua ini tidak dia ketahui sehingga dia tidak mempunyai rencana cadangan.

__ADS_1


"Sial itu Cilla. Kenapa dia tidak mengabari jika pindah. Kalau begini sih rencana mengusirnya malah keduluan dia yang pindah tanpa aku paksa. Tapi gak seru kan jadinya!"


Tuan Adi mengerutu sepanjang jalan. Dia akhirnya pulang tanpa bisa menjalankan semua rencana yang sudah dia susun.


"Awas saja jika ternyata dugaanku benar. Kamu akan mendapatkan semua yang sudah aku siapkan. Hahaha..." Tuan Adi tertawa sendiri membayangkan jika apa yang dia pikirkan benar adanya. Cilla hanya pindah karena mendapat job sebagai istri simpanan orang kaya!


*****


Di rumah sakit tempat Gilang di rawat.


Dokter baru saja datang untuk memeriksa kondisi tubuh Gilang, terutama pada bagian perutnya. Jahitan bekas operasi. Siang ini ada jadwal untuk Rontgen. Itu dilakukan untuk mengetahui luka dalam bekas peluru yang menembus perutnya. Apakah sudah mengering dan ada kerusakan lain di organ dalam atau semuanya sudah kembali normal.


"Jahitannya cepat kering dan sepertinya nanti hasil Rontgen juga baik," kata Dokter menganalisa.


Mami Rossa tersenyum senang mendengar perkataan Dokter tersebut. Cilla dan Aji juga tersenyum mendengar semua itu.


"Sebaiknya tuan Gilang mulai belajar untuk bangun dan berbaring. Pelan-pelan saja dulu. Ini untuk mengetahui kelenturan kulit perut yang bekas operasi. Jika masih terasa sakit bisa berhenti. Tapi kalau tidak bisa di coba sesering mungkin. Jika hasil Rontgen baik mungkin dua hari lagi bisa pulang."


Keterangan yang diberikan oleh dokter tentu membuat semuanya merasa senang. Apalagi Gilang yang sudah sangat bosan karena harus berada di atas tempat tidur selama hampir dua minggu ini.


"Kalua bisa hari ini juga saya siap untuk pulang Dok," kata Gilang dengan suara tegas.


Mami Rossa yang berada di sampingnya, dan mendengarkan perkataan Gilang, dengan cepat mencubit lengan anaknya agar tidak bertingkah terlebih dahulu.


"Mau apa juga kamu pulang cepat. Toh hati pernikahan kalian masih lama," kata mami Rossa mengingatkan.


"Mami. Aku kan ingin langsung menikah begitu keluar dari rumah sakit ini!" Gilang berkata dengan suara merajuk seperti Aji.


Semua orang yang mendengarnya, termasuk dokter, tertawa lepas. "Ada-ada saja. Itu sih maunya kamu!" kata mami Rossa dengan wajah galak.

__ADS_1


__ADS_2