Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Berjalan Lancar


__ADS_3

Acara kembali lagi dengan ulang tahun Aji. Kini saatnya memotong kue ulang tahun.


Semuanya ikut bernyanyi bersama-sama dengan gembira. Mereka ikut merasakan, kebahagiaan yang dirasakan oleh sang tuan rumah.


Selamat ulang tahun Aji


Kami ucapkan


Selamat panjang umur Aji


Kita kan doakan


Selamat sejahtera sehat sentosa


Selamat panjang umur dan bahagia untuk Aji dan keluarga...


Semua bergembira dengan acara ini. Aji juga tidak berhenti tersenyum sedari tadi. Sekarang, Aji memotong kue ulang tahunnya, yang besar dengan bentuk gedung tinggi pencakar langit.


Aji dibantu mamanya dan Oma, memotong kue. Potongan pertama yang dipegang oleh Aji, masih dia pegang dan belum dia berikan untuk siapapun.


"Ayo Aji, buat siapa potongan pertama kuenya?"


Mami Rossa, bertanya pada cucunya, yang terlihat bingung, untuk menentukan pada siapa, yang akan dia beri potongan kue pertama kali.


"Aji sangat menyanyangi Mama. Aji juga menyanyangi Papa. Tapi untuk semua yang terjadi pada saat ini, Aji sungguh merasa bahagia sudah memiliki Oma seperti Oma Rossa. Jadi potongan kue ini Aji berikan kepada Oma!"


Semua orang bertepuk tangan, dengan keputusan yang Aji katakan. Begitu juga dengan Cilla dan Gilang. Mereka berdua merasa bahagia dan bangga dengan apa yang dikatakan Aji, anak mereka itu.


Mami Rossa tersenyum penuh haru. Matanya menatap Aji dengan berkaca-kaca. Dia merasa sangat bahagia, karena telah ditemukan dengan cucunya itu. Cucunya yang luar biasa.


"Terima kasih Sayang. Semoga kamu panjang umur, bahagia dan jadi anak yang cerdas."


Mami Rossa membuka mulut, saat Aji, menyuapinya potongan kue ulang tahun yang pertama.


Aji dan mami Rossa berpelukan dengan tersenyum dan penuh keharuan Gilang dan Cilla melihat keduanya dengan rasa haru juga. Semua tamu undangan, ikut merasakan rasa yang sama juga.


"Ayo, suapi mama dan papa Aji juga ya!" kata mami Rossa mengingatkan Aji.


Aji mengganguk, kemudian berganti pada mama dan juga papanya.


"Terima kasih Sayang. Selamat ya! Semoga Aji tetap jadi anak yang baik buat Mama," kata Cilla setelah mencium kedua pipi Aji.

__ADS_1


"Terima kasih jagoannya Papa. Tetap jadi anak yang cerdas ya!" kata Gilang, setalah Aji menyuapinya. Dia juga memeluk Aji dengan rasa sayangnya.


"Ayo semua, Kita nikmati hidangan yang sudah tersedia. Jangan malu-malu ya semuanya!"


Pengisi acara, membuyarkan perasaan haru para tamu, yang ikut larut dalam suasana yang ada di atas panggung.


Suara gumaman para tamu undangan pun terdengar dari berbagai tempat. Mereka semua ikut merasakan bagaimana rasanya menjadi tuan rumah.


"Akhirnya, tuan Gilang akan menemukan kebahagiaan yang selama ini jauh dari hidupnya."


"Beruntung sekali ya cewek itu sama anaknya."


"Mereka skandal dulu ya?"


"Kayak film-film Korea ya, anaknya gede baru nikah."


"Mereka kan terpisah."


Begitulah gumaman para tamu undangan yang hadir. Gilang, mami Rossa, Cilla yang ikut mendengarkan, hanya tersenyum saja tanpa menyahuti pembicaraan mereka.


"Tidak usah dipikirkan ya Cilla. Apapun yang terjadi, pasti akan banyak yang berkomentar dan menilai kita. Tidak hanya kejadian seperti ini, kehidupan memang seperti itu. Orang hanya menilai apa yang terlihat saja."


"Iya Mi. Cilla akan belajar untuk terbiasa dengan banyak omongan orang lain."


Cilla mengangguk, sambil tersenyum tipis pada mami Rossa. Dia merasa sangat berterima kasih pada calon menantunya itu, karena selalu menasehatinya dengan nasehat yang baik.


"Ternyata Cilla yang beruntung ya," kata salah satu teman Cilla sesama karyawan toko mami Rossa.


"Itu berkat kesabaran yang Cilla miliki. Kalian kan tidak tahu, bagaimana penderita dan perasaan yang dia lalui selama ini," kata mbak Diyah, mengingatkan teman-teman di tokonya.


"Iya Mbak. Kami yang selalu jahat sama Cilla."


Kini mereka sadar, jika selama ini perbuatan mereka memang jahat. Mereka semua tidak ingin mendapatkan balasan dari Cilla, suatu hari nanti.


Pesta berlanjut dengan meriah dan lancar. Semua orang menikmatinya. Mereka juga akan menunggu, saat-saat pesta pernikahan Gilang dan Cilla, yang akan dilakukan sebulan kemudian.


Tuan Adi, Dokter Dimas, dan komandan polisi, berdiri, menyambut kedatangan Gilang dan Cilla, yang menghampiri tempat duduk mereka.


"Selamat ya Bos!" kata tuan Adi pada Gilang, kemudian menjabat tangan Gilang.


"Thanks Di. Awas ya, tidak usah godain lagi calon istriku!"

__ADS_1


"Hahaha... Aku masih belum gila Bos!" jawab tuan Adi berkelakar.


"Selamat juga buat Kamu Cilla," kata tuan Adi, pada Cilla.


"Terima kasih tuan Adi." Cilla menanggapi ucapan selamat dari tuan Adi dengan tersenyum tipis.


"Mbak Cilla. Selamat ya! Nanti jangan sungkan cari Saya, kalau mas Gilang ninggalin Mbak," kata dokter Dimas, dengan nada mengejek ke arah Gilang.


"Hahaha... Kalau adik kamu ini memang sudah gila Di!" kata Gilang menanggapi perkataan dokter Dimas.


"Lah memang itu yang Dimas harapkan," kata Dimas tersenyum miring karena merasa tidak puas dengan perkataan Gilang.


"Udah Dimas. Tidak usah berharap. Cilla juga tidak akan mau dengan Kamu!"


Tuan Adi mengingatkan adiknya itu. Padahal sebenarnya, dia juga memiliki perasaan yang sama seperti yang adiknya rasakan.


"Sudah-sudah aktingnya. Pusing Aku mendengar kalian berdebat yang tidak penting juga!"


Komandan polisi, melerai pertikaian ketiganya, yang sebenarnya hanya gurauan saja.


"Lanjutkan deh. Aku mau ke sana dulu. Yuk Honey!"


Gilang, mengajak Cilla berjalan lagi, menemui beberapa karyawan GAS dan juga kenalannya yang lain.


Cilla hanya tersenyum tipis melihat tingkah laku mereka semua. Dia merasa sangat senang dengan perlakuan Gilang, yang mau membawa dirinya bergabung untuk menemui para tamu undangan dan teman-temannya yang lain.


*****


Aji dan mami Rossa, yang sudah masuk ke dalam rumah, langsung menuju ke dalam kamar. Mereka berdua merasa capek tapi juga merasa senang karena pesta berjalan dengan baik dan lancar.


"Capek ya Sayang?" tanya mami Rossa pada Aji.


"Iya Oma. Apalagi pakaian ini juga terasa sesak! Hehehe..."


Aji menunjuk baju yang dia pakai. Dia, yang tidak terbiasa dengan pakaian formal, yang ada jas dan dasi, merasa tidak nyaman. Tapi, dia juga tersenyum melihat mami Rossa, yang terkekeh geli, melihat dirinya yang kesulitan membuka dasi sendiri.


"Hehehe... sini Oma bantu buka! Kamu harus belajar memakai pakaian seperti ini. Suatu hari nanti, kamu akan mengantikan posisi Papa, atau Kamu bisa jadi akan membuka usaha sendiri juga," kata mami Rossa, memberitahu Aji.


"Apa kalau kerja, harus memakai pakaian seperti ini terus Oma?" tanya Aji, dengan nafas lega , saat dasi dan jasnya sudah berhasil di buka.


"Ya tergantung Sayang. Tidak semua pekerjaan harus memakai pakaian formal," jawab mami Rossa atas pertanyaan dari cucunya itu.

__ADS_1


__ADS_2