
Hampir tengah malam, Aji baru sampai di rumah. Dia langsung masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Tak lama kemudian, dia sudah keluar dari kamar mandi dan segera memeluknya istrinya yang terbangun dari tidurnya karena mendengar kedatangannya tadi.
"Kakak," panggil Elisa yang ada di dalam pelukan suaminya.
"Diam sebentar. Kakak kangen, seharian ini tidak melihatmu," jawab Aji, meminta Elisa agar diam di dalam pelukannya. Dia menikmati kebersamaan ini, hanya berdua saja dalam keadaan tenang tanpa diganggu oleh siapapun.
"Ayah Sangkoer Singh akan datang minggu depan. Kita ikut dia ke Tangerang selama beberapa hari ya, setelah dia pergi lagi ke India kita baru balik ke sini, atau jika Kamu betah di sana, kita juga bisa tinggal di sana. Yang penting kita tidak di minta untuk kembali ke India dalam waktu yang lama. Aku kasihan pada Mama, jika harus sendiri di rumah ini."
Elisa hanya mengangguk saja. Dia tahu, jika ada beberapa hal yang sedang suaminya itu pikirkan. Kesibukan yang padat setiap hari, dan juga memikirkan tentang keadaan Mama dan juga Ayah angkatnya itu, membuat Aji semakin terkesan lebih dingin di luar.
Hanya Elisa yang tahu, bagaimana perasaan suaminya yang sebenarnya, karena Aji tidak ingin orang-orang yang ada di dekatnya, ikut merasakan apa yang dia rasakan. Dia membiarkan orang-orang melihatnya seakan-akan dia bisa menjalani semuanya dengan baik.
"Kakak tidurlah. Elisa pijit sebentar ya, atau Kakak mau makan?" tanya Elisa menawarkan.
"Kakak sudah makan tadi. Tapi kalau mau dipijat boleh banget. Pijat yang lainnya juga mau kok," jawab Aji dengan menyentil hidung Elisa.
"Ih genitnya kumat. Hehehe..."
Mereka berdua saling berpelukan dengan saling mencubit hidung satu sama lainnya.
"Ayo kalau mau pijat Kakak. Kebetulan capek sekali ini. Kaki Kakak juga sepertinya ingin dipijat biar sedikit lebih rileks."
Akhirnya, Aji memposisikan dirinya dengan berbaring telungkup di tempat tidur, agar Elisa bisa memijatnya dengan baik.
"Tapi nanti gantian lho ya, El juga capek nih," kata Elisa dengan nada manja.
Aji jadi berbalik dan melihat ke arah istrinya itu. Dia melihat dengan menyipitkan matanya, saat melihat wajah Elisa yang memerah karena diperhatikan seperti itu.
"Kenapa sih Kak?" tanya Elisa canggung.
"Gak, Kakak cuma heran saja. tumben-tumbenan Kamu ngeluh capek. Ini Kamu beneran capek?" tanya Aji sambil duduk dan tidak lagi berbaring seperti tadi.
Aji jadi memperhatikan bagaimana Elisa saat ini.
"Emhhh... begitulah kira-kira Kak, hehehe... tapi tidak terlalu capek juga. Ini hal biasa yang sering El rasakan."
Mendengar jawaban dari Elisa, Aji jadi berpikir jika mereka berdua saat ini perlu meluangkan waktu bersama, untuk sekedar menikmati waktu luang dengan tidak melakukan apa-apa. Hanya beristirahat saja.
Bagaimana kalau kita pergi ke villa yang ada di Sentul. Untuk beristirahat sebentar dalam sehari. Mungkin hari sabtu atau minggu ini, sebelum ayah Sangkoer Singh datang."
__ADS_1
Ajakan suaminya itu membuat Elisa tidak percaya begitu saja. Dia pikir, Aji hanya sekedar membuat sebuah rencana yang belum tentu bisa mereka lakukan. Mengingat kondisi mereka berdua saat ini yang sudah berubah dan tidak lagi sama seperti dulu lagi.
"Tapi, bagaimana dengan Ka Singh Kak?" tanya Elisa memastikan jika anaknya itu tidak mereka abaikan begitu saja.
"Dia ada baby sitter. Nanti kita bilang pada mama, kalau kita sedang ingin berduaan dan mau bikin adek buat Ka Singh. Mama pasti setuju, dan tidak keberatan."
Tapi Elisa tetap saja merasa tidak enak hati, karena harus merepotkan mama Cilla juga.
"Tidak usah Kak. Kita bisa kok seharian hanya beristirahat di kamar saja," kata Elisa, dengan mempertimbangkan banyak hal.
"Baiklah. Kakak hanya ingin melihat Kamu bisa beristirahat saja dengan baik. Atau Kamu mau pergi ke salon dan melakukan spa? biar nanti Aku yang ajak Ka Singh sambil menunggu Kamu. Setelah itu kita pergi jalan-jalan, hanya bertiga saja dengan Ka Singh. Tidak usah ajak baby sitter," usul Aji, untuk bisa membuat Elisa lebih baik lagi dan tidak merasa terabaikan olehnya.
"Lihat saja nanti Kak. Oh ya, ayok biar Elisa pijat sekarang!"
Elisa kembali teringat dengan kegiatan mereka yang tertunda, dan malah jadi membicarakan tentang jalan-jalan dan liburan untuk minggu depannya.
Akhirnya, Aji kembali memposisikan dirinya seperti tadi. Berbaring dengan posisi telungkup dan siap untuk dipijat Elisa.
Setelah beberapa menit kemudian, mereka berganti posisi dengan Elisa yang sedang dipijat oleh Aji.
Tapi lama-lama, pijatannya Aji berubah menjadi sebuah pijatan yang lain. Dan pada akhirnya, pijatan itu berganti dengan gerakan yang membuat mereka berdua bertambah capek lagi, tapi dengan perasaan yang jauh lebih baik daripada tadi.
*****
"Kak. Besok jadi kan?" tanya Elisa memastikan bahwa rencana mereka itu akan terlaksana dan tidak ada alasan lain untuk membatalkannya.
"Jadi lah Sayang. Makanya ini Kakak mau meninjau semua pekerjaan yang ada di Tangerang biar hari Selasa saat ayah Sangkoer Singh datang, semua sudah beres dan tidak ada kekurangan suatu apapun."
Mendengar jawaban dari suaminya itu, Elisa jadi tersenyum senang.
"Kakak berangkat dulu ya," pamit Aji pada Elisa.
"Iya hati-hati Kak," ucap Elisa, begitu Aji mengecup keningnya, kemudian berganti mencium kedua pipi anaknya, Ka Singh.
Setelah Aji pergi, Elisa masuk ke dalam rumah. Mama Cilla sedang berbicara dengan bibi pembantu rumah.
"El," panggil mama Cilla.
"Ya Ma," jawab Elisa, sambil berjalan menuju ke arah mama Cilla.
"Ada apa Ma?" tanya Elisa kemudian.
__ADS_1
"Ini, Mama mau pergi ke Mall. Kamu ada yang mau dititip?" tanya mama Cilla, menjawab pertanyaan dari Elisa tadi.
"Gak Ma. Mau nitip apa ya?"
Elisa jadi memikirkan sesuatu yang jadi pertanyaan mama Cilla barusan.
"Ya apa gitu. Misalnya Kamu mau baju baru atau mau ikut Mama sekalian ke toko?" tanya mama Cilla menawarkan.
"Gak Ma. Besok kita mau pergi sama Kakak kok. Biar besok saja kalau memang ada yang mau Elisa pengen."
Mama Cilla jadi bertanya-tanya, tentang rencana mereka bertiga. Dia merasa senang, karena Aji masih memperhatikan bagaimana perasaannya Elisa yang sekarang ini jadi seringkali dia tinggal pergi-pergi.
Mama Cilla juga minta maaf pada Elisa, karena kesibukan Aji ini karena sudah tidak adanya papa Gilang, suaminya.
"Tidak Ma. Ini sudah kewajiban Kakak sebagai anak tertua Mama. Yang penting, Mama doakan saja, semoga kakak selalu sehat dan bisa menjalani hari-harinya dengan baik."
Mama Cilla memeluk menantunya itu. Dia merasa jika Elisa tidak hanya sekedar istri dari Aji saja, tapi juga sahabat dan teman untuk Aji berbagi tentang banyak hal.
Mama Cilla merasa sangat senang karena Elisa juga tidak banyak mengeluh tentang pekerjaan Aji yang semakin banyak, sehingga mereka jadi jarang bisa menikmati kebersamaan seperti dulu, saat Aji belum mengambil alih tugas yang biasa dikerjakan oleh suaminya, papa Gilang.
Tak lama, mama Cilla pun akhirnya berangkat juga ke mall, diantar oleh supir keluarga.
Elisa pergi ke kamar, memeriksa handphone miliknya yang tadi sedang di isi daya baterainya.
Saat melihat layar, ada beberapa notifikasi yang masuk. Salah satunya pesan dari Jeny.
Karena berasa penasaran, pesan apa yang ingin disampaikan oleh adik iparnya itu, Elisa membuka pesan tersebut.
Elisa terbelalak melihat pesan yang dikirim oleh Jeny untuknya. Dalam pesan tersebut disebutkan, jika Rio membatalkan rencana pernikahannya dengan kekasihnya yang orang bule itu.
Elisa memicingkan matanya heran. Dia pikir, Rio sudah memikirkan banyak hal dengan semua keputusannya itu. Tapi sepertinya Elisa salah dengan pemikirannya yang tadi.
Akhirnya, Elisa membalas pesan dari Jeny, bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan Jeny ketahui.
Tapi, Jeny tidak membalas pesan Elisa. Mungkin dia sedang sibuk dengan anak-anaknya yang masih balita dan bayi.
Elisa mencoba untuk membuka media sosial miliknya, yang sudah sangat lama tidak dia buka lagi. Dia ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya, Rio.
Tapi, ternyata di media sosial milik Rio, Elisa tidak menemukan apa-apa, yang mengarah pada batalnya rencana pernikahan tersebut.
Jadi, Elisa tetap saja tidak tahu apa alasannya Rio membatalkan rencana pernikahannya sendiri.
__ADS_1
"Semoga saja, Kamu bisa menemukan kebahagiaan Rio. Aku hanya bisa berdoa untuk itu saja, karena Aku tidak mungkin ikut campur dalam urusan pribadimu. Kita juga sudah memiliki kehidupan yang berbeda. Semua tidak lagi sama seperti dulu."