Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Kabar Buruk


__ADS_3

Selama tiga bulan berikutnya, saat Aji sibuk, persiapan untuk keberangkatan ke Jerman, Jeny seakan-akan menjauhkan diri dari kakaknya itu. Ada saja alasan, kenapa dia tidak ingin bertemu dan bersama dengan kakaknya.


Aji, bukannya tidak tahu jika adiknya sedang menjauhi dirinya. Tapi, dia hanya pura-pura tidak tahu. Dia juga ingin, agar adiknya itu bisa belajar mandiri, dan tidak tergantung pada dirinya terus menerus. Meskipun kadang kala, Aji juga merasa bersalah. Seakann terasa ada yang kurang, saat tidak ada Jeny didekatnya.


"Jen," tegur Aji pada adeknya, saat pagi hari sebelum berangkat ke sekolah. Mereka berpapasan di tangga.


"Ma. Jeny mau di antar supir saja. Papa kan ada metting pagi-pagi. Biar tidak terlambat," teriak Jeny, memberitahu pada mamanya, yang sedang membantu bibi menyiapkan sarapan pagi.


Papa Gilang, yang sudah berada di meja makan, menoleh sekilas, kemudian berkata, "Kakak kamu Aji, bisa antar. Dia free hari ini."


Jeny, menoleh ke arah kakaknya Aji, yang sedang berjalan ke arah mereka semua, yang sudah siap untuk sarapan pagi. Aji hanya mengangguk, sebagai tanda bahwa apa yang dikatakan oleh papanya itu benar.


"Tumben," kata Jeny sinis pada kakaknya itu.


"Jen," tegur Oma Rossa, yang mendengar perkataan Jeny dengan nada sinis.


"Hemmm..."


Jeny, mendengus dingin dan tidak berkata apa-apa lagi. Dia memulai sarapan pagi dan tidak menyahut seperti biasanya, saat adik-adik kembarnya berceloteh riang.


"Vero, jangan ambil udangnya semua. Bagi Aku!"


Biyan dan Vero berebut udang goreng tepung. Biasanya, Jeny ikut berebut. Tapi pagi ini dia diam saja tanpa mau ikut meladeni kedua adik kembarnya itu.


"Hati-hati ya Sayang," pesan mama Cilla, pada Aji dan Jeny, saat keduanya berpamitan.


"Iya Ma," jawab Aji sambil mencium tangan dan pipi mamanya.


"Usahakan akur ya, sama adeknya. Biar tidak ngambek terus kayak gitu dia!" pesan mama Cilla, meminta pada Aji, agar bisa melunakkan hati Jeny yang sedikit keras kepala.


"Doain ya Ma, biar Jeny tidak marah lagi sama Aji."


Cilla mengangguk dan tersenyum pada anaknya itu. Dia yakin, jika kali ini Aji juga mampu membuat Jeny tidak lagi dingin, dan marah karena rencana kepergian kakaknya itu, ke Jerman.

__ADS_1


*****


Aji mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Dia ingin memulai pembicaraan dengan dengan adiknya, Jeny, yang sedari tadi hanya diam dan pura-pura sibuk dengan handphone ditangannya.


"Jen. Apa Kamu tidak suka jika kakak pergi?" tanya Aji, memecah keheningan diantara mereka berdua.


"Pergi saja. Apa peduliku," jawab Jeny datar.


Aji menghela nafas panjang. Dia tidak tahu harus berkata apa untuk membuat adiknya itu mengerti.


"Jeny masih ingin jadi foto model?" tanya Aji, mengingat jika dulu, sewaktu Jeny masih Taman Kanak-kanak, dia suka sekali di foto. Bahkan, Jeny pernah memenangkan kontes peragawati cilik antar sekolah Taman Kanak-kanak, sewaktu peringatan HUT kota Jakarta.


"Buat apa? Tidak ada Kakak yang akan menjadi penontonnya juga," jawab Jeny cemberut.


"Kakak bisa lihat dari video yang diunggah lewat internet. Atau waktu Kamu ada kesempatan mengikuti kontes, Kakak bisa lihat juga secara striming," jawab Aji menjelaskan.


"Harus ya, Kakak pergi ke Jerman? Banyak kok universitas di Indonesia yang tidak kalah maju dan juga bagus."


"Jen. Kakak tidak menetap di sana. Kalau sudah selesai, Kakak juga pasti balik ke Indonesia. Buat Kamu dan juga mama," jawab Aji memberikan penjelasan kepada adiknya itu.


Aji meraih tangan Jeny dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain masih memegang kemudi.


"Kamu harus bisa menguasai diri dan hati Kamu. Kakak juga tidak mungkin ada selamanya untuk Kamu. Suatu saat, Kamu akan mempunyai teman dekat, pacar, suami dan keluarga sendiri. Tidak mungkin bersama dengan Kakak terus-menerus."


Jeny tampak mengeleng mendengar semua kata-kata Aji. Dia tidak ingin berjauhan dengan kakaknya itu.


"Jeny tidak butuh pacar, suami atau yang lain. Jeny hanya mau dengan Kakak!" teriak Jeny dengan mengeleng. Dia berusaha melepaskan tangannya yang dipegang oleh Aji.


"Kakak jahat!"


Jeny menangis tersedu-sedu. Dia tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini. Tapi yang pasti, dia tidak mau jika harus berjauhan dengan kakaknya, Aji.


Beberapa hari terakhir ini, dia memang dingin dan menjauhi Aji. Tapi, justru hatinya terasa sepi dan sakit. Dia tidak tahu ada apa dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Aji pun sama. Dia bukannya tidak tahu, apa yang dirasakan oleh adiknya, Jeny. Itulah sebabnya, dia menentang keras larangan papanya, agar tidak mengikuti seleksi penerimaan beasiswa ke Jerman.


Alasan Aji, tidak hanya karena mimpinya sewaktu masih kecil. Tapi ada alasan lain yang membuatnya nekad, yaitu perasaan yang salah antara Jeny dengan dirinya.


Aji tidak mau, perasaan Jeny ini terus berkembang, dalam keadaan yang tidak benar. Semua ini adalah salah, dan Aji harus bisa menghentikannya.


"Kakak janji. Akan selalu telpon atau kirim email ke Kamu jika ada di Jerman," kata Aji, mencoba menenangkan pikiran Jeny.


"Aku mau minta pada papa, untuk sekolah di Jerman juga!" kata Jeny dengan nada tinggi. Dia merasa kecewa, karena tidak bisa menghentikan niat kakaknya itu.


"Iya. Tidak apa-apa. Tapi Kamu harus janji, belajar yang rajin dan tidak membuat mama khawatir. Ya!"


"Iya Kak. Jeny janji," jawab Jeny dengan tersenyum, melihat ke arah kakaknya yang juga sedang melihat kearahnya juga.


Akhirnya, mereka berdua menautkan jari kelingking untuk simbol janji mereka berdua.


Setelah itu, mereka berdua tertawa-tawa senang dengan perjalanan yang mereka lalui sepanjang jalan menuju ke sekolah Jeny.


*****


Jeny terperanjat dan sadar dari mimpinya. Ternyata dia sedang tertidur dalam keadaan duduk.


Tadi, Jeny sedang membaca buku dan tidak tahu jika akhir tertidur. Dia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba bermimpi tentang kenangan bersama kakaknya, diwaktu akhir.


Jeny merasa semuanya tidak adil baginya. Dia juga merasa tidak puas dengan takdirnya kali ini. Hatinya dan perasaannya hancur, saat melihat berita yang disampaikan oleh pihak penerbangan, yang membawa kakaknya ke Jerman, mengalami pembajakan pesawat. Yang lebih tragisnya, pesawat terbang itu, diledakkan di atas tanpa negosiasi terlebih dahulu.


Meskipun bom yang diledakkan di mesin pesawat itu berkekuatan rendah, tapi kerusakaan yang di timbulkan, membuat pesawat tidak bisa seimbang dan akhirnya tetap meluncur, terjun bebas ke laut lepas.


Semua penumpang dan awak pesawat tidak ada yang selamat. Banyak juga penumpang yang tidak diketahui identitasnya. Bahkan ada juga, yang tinggal potongan-potongan bagian tubuh tertentu.


Pencarian korban, tidak hanya di lakukan di laut Hindia, lokasi jatuhnya pesawat, tapi juga sampai ke negara-negara yang ada di sekitarnya.


Tapi tubuh Aji, tetap tidak ditemukan, meskipun cuma sepotong dagingnya.Hanya kacamata miliknya, yang ditemukan bersama barang bawaannya yang ada di koper dan tas. Itupun juga sudah rusak semua.

__ADS_1


__ADS_2