
Malam harinya, Aji sudah terlihat lebih segar dan tidak pusing lagi seperti tadi pagi. Dia sudah bisa bangun dari tempat tidur, meskipun hanya duduk-duduk saja di ranjang.
Anjani, selalu menawarinya untuk minum atau makan. Dia juga pergi ke mana-mana seharian ini tadi, hanya ikut tiduran atau duduk menemani suaminya. Dia hanya pergi meninggalkan Aji sebentar, jika ada keperluan ke dapur atau kamar mandi.
Tuan besar Sangkoer Singh, juga tidak pergi ke kantor seperti biasanya. Dia beristirahat saja di dalam kamar. Untuk makan, bibi Lasmi membawakan makanan untuk_nya ke dalam kamar. Sebenarnya, dia juga ingin bisa menemani anak angkatnya, Aji, yang sedang sakit. Tapi dia merasa tak pantas, karena ada Elisa, istrinya Aji, yang juga ada di kamar itu, menjaga suaminya. Akhirnya, tuan besar Sangkoer Singh hanya bisa bertanya tentang keadaan Aji, lewat bibi Lasmi, jika sedang datang ke kamarnya, untuk membawakan minuman atau makanan untuknya.
"Bagaimana keadaannya tuan muda Bi?" tanya tuan besar Sangkoer Singh, saat malam hari dan bibi Lasmi membawakan makan malam.
"Sepertinya sudah lebih baik daripada tadi Tuan. Wajahnya juga sudah tidak pucat dan dia sudah bisa duduk dengan baik tadi, saat Saya datang ke kamarnya, untuk membawakan jus buat nyonya."
"Oh iya, itu untuk menantu, tolong jaga makanannya ya Bi. Dia sedang hamil, jadi jangan sampai telat makan dan lupa diri karena harus menjaga tuan muda. Bibi Lasmi harus sering menawarinya minum susu atau jus, serta bawakan dua makanan-makanan yang bisa dia makan selain untuk makanan pokoknya."
Bibi Lasmi, mengangguk mengiyakan perkataan tuan besar_nya. Dia merasa jika Elisa, istri dari tuan muda_nya itu sangat beruntung karena mendapatkan suami dan juga mertua yang sangat baik. Dia jadi teringat masa mudanya yang kurang beruntung, karena harus diusir dari rumah mertuanya, sebab tidak memiliki anak, dan suaminya saat itu mau menikah lagi. Itulah sebabnya, dia pergi ke kota dan bekerja di rumah besar Sangkoer Singh ini, saat istrinya tuan besar Sangkoer Singh masih dalam keadaan hamil anak pertamanya, Vijay Singh. Hamil yang sudah lama dinanti-nantikan pasangan keluarga Singh, sama seperti yang sedang terjadi pada Elisa saat ini.
"Semoga istri dari tuan muda sehat, dan bisa melahirkan anak yang sehat juga Tuan besar. Beruntunglah wanita yang bisa memiliki anak, karena banyak wanita di belahan dunia ini yang sangat merindukan adanya anak dalam rahimnya, dan itu tidak pernah bisa dia rasakan."
Bibi Lasmi, mengatakan itu pada tuan besar Sangkoer Singh, sambil berkaca-kaca. Dia merasa sedih, karena termasuk dari wanita-wanita yang tidak beruntung itu.
__ADS_1
"Ya, terima kasih Bibi Lasmi. Semoga saja keluarga tuan muda bisa selalu berbahagia. Dan mereka berdua juga hidup sehat dan rukun. Aku sudah tidak memiliki harapan apa-apa lagi pada Vijay Singh. Tubuhnya terlalu lemah, untuk semua yang menjadi beban penyakitnya itu. Mungkin, jika semua fasilitas kesehatan dan kabel-kabel penyangga kehidupan yang ada di ruang kaca itu dilepas, dia tidak bisa bertahan dalam hitungan detik. Aku tahu itu, tapi Aku juga belum rela, jika dia pergi begitu cepat. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, untuk keturunan Singh yang bisa Aku banggakan. Aji Putra, yang Aku angkat sebagai anak, adalah harapan satu-satunya, meskipun tidak ada darahku yang mengalir di tubuhnya secara genetik, tapi donor darah yang pernah Aku lakukan hanya padanya, sudah Aku anggap sebagai pertalian darah yang sama seperti seorang ayah dan anak. Biarlah orang tidak bisa mengakui Aji sebagai keturunan Singh, tapi bagiku, dia juga anak kandungku yang memiliki darah sama dengan yang ada pada Vijay Singh."
Bibi Lasmi mengangguk, mendengarkan semua curhatan hati tuan besar Sangkoer Singh. Dia merasa jika tuannya ini, sedang dalam keadaan putus asa, karena tidak ada perkembangan yang berarti pada kondisi anaknya yang sedang koma. Yaitu Vijay Singh.
"Tuan pasti bisa melewati semua hari-hari yang akan datang dengan bahagia. Apalagi sebentar lagi, akan ada tangisan dan juga celoteh anak-anak yang lahir dari rahim menantu Tuan. Semoga Tuan tetap sehat dan bisa melihat itu semua," kata bibi Lasmi, mendoakan keselamatan dan kesehatan tuan besar Sangkoer Singh.
"Hemmm, terima kasih bibi Lasmi. Kamu bisa kembali. Aku akan makan sendiri, dan besok saja Kamu kembali untuk membereskan semua ini," ucap tuan besar Sangkoer Singh, meminta agar bibi Lasmi meninggalkan kamarnya.
"Baik Tuan," jawan bibi Lasmi mengangguk, kemudian pergi mengundurkan diri dari kamar tuannya itu.
Di dalam kamar Elisa sedang menyuapi Aji untuk makan malam. Dia juga ikut makan di piring yang sama. Ada susu, jus dan air putih di nampan yang lain, di atas meja sebelah tempat tidur.
"Cukup Sayang. Kakak sudah kenyang. Kamu makanlah yang banyak. Biar anak kita juga ikut kenyang," kata Aji dengan menggelengkan kepala, saat Elisa masih mau menyuapinya lagi.
"Tapi ini belum ada separo Kakak makan, baru sedikit yang masuk ke perut Kakak," ucap Elisa membantah. Dia masih berusaha untuk menyuapi suaminya lagi.
"Sekali saja ya, Kakak sudah kenyang dan itu masih ada jus untuk Kakak minum juga. Nanti, kalau penuh-penuh, perut Kakak tidak muat dan malah muntah-muntah lagi."
__ADS_1
Akhirnya, Elisa mengangguk mengiyakan permintaan suaminya. Dia tahu, jika setelah ini, makanan di piring yang sedang dia pegang, harus dia habiskan sendiri. Padahal, ada satu gelas susu juga yang sudah menunggu untuk dia minum. Tapi untuk bisa menyenangkan hati dan juga membenarkan perkataan suaminya, Elisa akan melakukan semua itu. Tapi tentunya dengan dengan jeda waktu juga, agar perutnya tidak terlalu penuh, bisa-bisa, apa yang dikatakan oleh Aji, justru dia yang akan mengalaminya nanti, yaitu muntah karena kekenyangan.
Lima belas menit kemudian, Aji meminum jus yang diberikan oleh Elisa padanya. Begitu juga dengan Elisa, yang meminum susunya. Mereka sengaja tidak langsung meminumnya tadi, karena harus minum air putih terlebih dahulu.
"Kakak sudah sehat. Besok Kakak antar Kamu periksa kandungan ya ke rumah sakit. Kamu juga pastinya bosan, seharian ini hanya ada di dalam kamar terus," kata Aji, saat mereka berdua bersiap-siap untuk tidur.
"Besok-besok lagi saja Kak. Elisa juga tidak apa-apa kok ada di dalam kamar terus. Kan tidak setiap hari seperti ini juga. Kakak masih perlu istirahat yang cukup, agar bisa benar-benar sehat," bantah Elisa dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Oh ya, bagaimana keadaan ayah Sangkoer Singh?" tanya Aji, saat teringat pada ayah angkatnya, yang tadi pagi juga mengeluh sakit kepala.
"Tadi bibi Lasmi bilang, ayah sudah lebih baik. Dia juga mau makan dengan teratur meskipun ada di dalam kamar. Apa Kakak mau melihatnya ke kamar, sekarang?" tanya Elisa menawari suaminya, untuk melihat kondisi ayah Sangkoer Singh.
"Apa dia sudah tidur? Kakak takut menganggu istirahatnya. Tapi jika dia belum tidur, Kakak ingin sekali melihat keadaan ayah. Bagaimana sebaiknya ya?" jawab Aji, meminta pendapat pada istrinya.
"El lihat dulu ya ke bawah? atau besok-besok kita pindah kamar yang ada di lantai bawah juga Kak. Selain tidak repot, ini juga untuk keselamatan Elisa jika nanti hamil besar. Tidak mungkin Elisa naik-turun tangga, tapi jika harus naik lift, itu lebih repot lagi. Masa cuma satu lantai harus pakai lift juga, kecuali kayak di apartemen yang ada di Jakarta."
Aji membenarkan perkataan istrinya itu. Dia juga berpikir hal yang sama, cuma belum dia sampaikan pada Elisa kemarin-kemarin. Dia juga belum meminta ijin pada ayah Sangkoer Singh, untuk pindah ke kamar yang ada di lantai bawah.
__ADS_1