Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Jeny Kembali Kecil


__ADS_3

Jeny dan Elisa, saling pandang satu sama lainnya, setelah selesai meneriakkan nama Rio. Mereka berdua segera sadar, dan menutup mulutnya masing-masing.


"Kenapa kalian berdua, jadi ikut-ikutan berisik?" tanya Rio heran.


Dokter Dimas, yang berada di antara mereka bertiga, hanya bisa mengulum senyum dan mengeleng melihat tingkah anak-anak muda jaman sekarang. Padahal dulu, saat dia seusia mereka, Dokter Dimas juga terkenal usil dan tidak mau diam.


"Awas ya, jangan berisik jika sudah berada di dalam kamar kakak ku. Bisa-bisa kalian berdua, akan diusir juga sama papa," kata Jeny, mengingatkan kedua temannya itu.


"Siap J-E-N-Y princess..." jawab Elisa, dengan mengeja nama Jeny.


"Ok Bos!" jawab Rio, yang tumben sekali tidak kompak dan sama dengan jawaban dari temannya, Elisa.


"Yuk masuk!" ajak Jeny, begitu sudah sampai pada ruangan kamar VVIP nomer dua. Kamar pasien yang ditempati kakaknya, Aji.


"Selamat siang Tante, Oma, Om," sapa Elisa, begitu dia masuk ke dalam kamar bersama dengan Rio, setelah Jeny dan Dokter Dimas yang sudah masuk terlebih dahulu.


"Jeny. Kemana saja Kamu? kenapa baru sekarang datang menjenguk kakak?"


Tiba-tiba saja, Aji bertanya pada Elisa yang baru saja datang, dan menyapa semua yang ada di ruangan tersebut.


"Kakak," panggil Jeny bingung.


"Bukan Kamu asisten Oma, tapi itu adikku Jeny!" jawab Aji, dengan nada sedikit kesal.


Semua orang bingung, termasuk Jeny dan Elisa sendiri. Mereka berdua, tidak tahu siapa yang di maksud oleh Aji.


"Mungkin Kamu El, yang kakaknya Elisa panggil. Jadi, dia pikir Kamu itu Jeny. Kan dia hilang ingatan," kata Rio, menentukan analisisnya.


"kakak panggil Aku?"

__ADS_1


Akhirnya, Elisa menunjuk ke dadanya memperjelas maksud dari panggilan dan perkataan Aji.


"Ya Kamu Jen. Kemana saja? keluyuran sama teman-teman Kamu ya?" tanya Aji lagi, sambil melambaikan tangannya meminta Jeny untuk mendekati dirinya.


"Gimana nih?" tanya Elisa pelan, pada Jeny dan Rio.


"Udah, coba saja datang mendekat. Apa yang di mau kakak turutin. Siapa tahu, bisa mempercepat proses ingatan kembali pulih lagi," jawab Jeny, dengan nada cemas.


Elisa melihat ke arah Rio, meminta pendapatnya, setelah mendengar perkataan dari Jeny.


Rio, tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan dari Elisa yang tanpa bersuara juga.


Papa Gilang dan mama Cilla, juga ikut mengangguk, saat Elisa melihat ke arah mereka. Begitu juga dengan Dokter Dimas. Dia juga ikut mengangguk mengiyakan saja.


Oma Rossa, dan Biyan serta Vero, memang tidak ada di dalam kamar Aji. Mereka bertiga, sedang istirahat di kamar sebelah, kamar pasien tempat Oma di rawat. Sedangkan tuan besar Sangkoer Singh dan paman Ranveer, sudah kembali pulang ke negaranya sendiri, India. Tapi tuan besar Sangkoer, berjanji alka kembali ke Indonesia untuk menjenguk Aji, atau keluarga Aji, diperbolehkan untuk datang ke India nantinya jika tindakan hukum untuk paman Ranveer sudah dilakukan.


*****


"Sini!" tarik Aji cepat, begitu Elisa sudah mendekat.


"Bantu Kakak bangun ya," punya Aji pada Elisa.


Elisa, tidak bisa menjawab. Dia hanya mengangguk dan melakukan apa yang di minta kakaknya Jeny, Aji.


Setelah selesai membantu Aji untuk bangun dan duduk, Aji tidak melepaskan tangan Elisa. Justru kini dia meminta Elisa untuk tetap berada di dekatnya dan menyuapinya.


"Kakak lapar. Suapin ya! Biasanya, kamu tidak mau makan kalau tidak Kakak yang suapin," pinta Aji, dengan menunjuk ke arah meja, yang ada di sebelah tempat tidurnya.


Elisa tidak langsung melakukan apa yang diminta Aji. Dia melihat dulu ke arah mama Cilla dan Jeny. Tapi, sepertinya mereka berdua, juga memintanya untuk melakukan apa yang dikatakan oleh Aji. "Duh, kenapa jadi begini," keluh Elisa dalam hati.

__ADS_1


Dengan perasaan yang tidak menentu, Elisa mengerjakan apa yang tadi diminta Aji, yaitu menyuapinya makan.


Rio, yang berada di dalam kamar itu juga, ikut berpikir dan melihat temannya, Elisa, dengan wajah yang tidak dapat di gambarkan. Dia merasa senang, karena keinginan Elisa untuk kenal dan dekat dengan kakaknya Jeny terkabul. Tapi dia juga merasa kasihan, karena bukan dengan cara seperti ini juga. Elisa tidak bisa membantah dan berbuat semaunya sendiri, seperti biasanya, karena harus berperan sebagai Jeny, yang patuh pada kakaknya itu.


"Apa Aji mengingat Jeny masih kecil ya Dok?" tanya papa Gilang, dengan berbisik, dan tetap melihat ke arah Aji.


"Mungkin Mas. Belum tahu juga, sebatas mana Aji mengingat semua masa lalunya.


"Apa dia ingin melakukan apa yang dulu pernah dilakukan, tapi dalam keadaan sebaliknya?" tanya papa Gilang lagi.


"Maksudnya Pa?"


"Apanya Mas?"


Mama Cilla dan Jeny, bertanya pada papa Gilang segera bersamaan. Mereka berdua, ingin tahu apa maksud dari pertanyaan papa Gilang tadi.


"Maksudku, dia tadi kan minta pada temennya Jeny untuk membantunya bangun dan duduk. Terus sekarang, Aji ganti minta pada Jeny untuk menyuapinya, sama seperti yang dilakukan Aji waktu dulu."


"Apa aku selalu merepotkan kakak, waktu itu?" tanya Jeny, merasa bersalah.


"Tidak-tidak. Bukan begitu maksud Papa. Ini hanya kebalik dari apa yang dulu pernah terjadi. Dan mungkin Aji hanya ingin menikmati suasana yang berbeda, kan dia juga tidak ingat apa-apa sewaktu ada kamu, Vero dan Biyan. Dia hanya mengikuti apa yang dia ingat saja. Dan sekarang kita bisa sedikit lega, karena dia sudah ingat jika punya adik yang bernama Jeny, meskipun orang lain yang dia ingat."


"Tapi Pa..."


"Tidak apa-apa Jen. Nanti akan ada dokter spesialis syarat yang akan memeriksa Aji. semoga saja, tidak akan terjadi apa-apa. Yang dikatakan papa Kamu, ada benarnya. Meskipun dia tidak mengingat siapa Kamu, setidaknya sekarang, Aji sudah mengenali sosok Jeny," kata Dokter Dimas, memberikan penjelasan pada Jeny, terus memperhatikan kakaknya, Aji.


Sekarang, Jeny melihat kakaknya yang sedang tersenyum bahagia, saat makan dengan disuapi oleh Elisa. Jeny ikut merasa senang, melihat kakaknya itu makan dengan lahapnya, meskipun itu bukanlah dirinya yang berperan sebagai Jeny saat ini.


"Sayang. Jangan sedih ya, mungkin kakak Kamu memang belum sepenuhnya pulih," kata mama Cilla, menangkan anak gadisnya itu, dengan memeluknya dari arah samping.

__ADS_1


"Iya Ma. Jeny tidak apa-apa. Jeny sudah merasa cukup senang dan bahagia, saat tahu, jika kakak mengingat diriku, meskipun itu bukan Aku yang dia inginkan," kata Jeny dengan tersenyum, namun mata uang berkaca-kaca.


Mama Cilla, memeluknya dengan erat dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Jeny. Dia tahu, anaknya itu, sangat dekat dengan kakaknya, Aji. Jadi tentu saja, dia akan merasa sedih, saat tidak diingat lagi oleh Kakaknya.


__ADS_2