Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Titip Rindu


__ADS_3

Malam terasa singkat, dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh semua orang, yang ada di dalam rumah besar milik mami Rossa. Pagi mengantikan posisi malam, dan semuanya sudah kembali pada aktivitas seperti biasanya, yang lumayan lama tidak dilakukan.


Gilang harus ke kantor, padahal sebenarnya dia ingin selalu ada, untuk menemani Cilla dan Aji. Apalagi hari ini, hari pertama jadwal Cilla melakukan konsultasi dengan psikiater. Mereka sudah banyak menghabiskan waktu bersama dalam beberapa minggu, jadi kebersamaan itu membuat Gilang terasa berbeda.


Begitu juga dengan Cilla. Dia juga terasa aneh saat tidak ada Gilang di dekatnya. Ada sesuatu yang kurang lengkap dan entah apa lagi namanya. Cilla tidak juga memahami perasaan hatinya sendiri.


"Nanti hati-hati ya Mi. Bilang pada supir tidak usah ngebut-ngebut bawa mobilnya. Kalua ada apa-apa juga secepatnya hubungi Gilang."


Entah sudah yang ke berapa kali, Gilang berpesan yang sama, seperti itu pada maminya.


"Gilang. Kamu tidak konsentrasi ya? Sudah berapa kali kamu bilang hal yang sama seperti ini juga pada Mami. Belum juga terpisah, masih ada di rumah ini, dan kamu sudah tidak karuan cemasnya," kata mami Rossa mengingatkan anaknya, yang persis seperti remaja yang sedang jatuh cinta.


Mereka sedang ada di ruang tengah, menunggu sarapan pagi yang masih di persiapkan oleh bibi. Aji dan Cilla, masih ada di kamar. Mungkin mereka sedang merapikan diri.


"Aji belum keluar Mi?" tanya Gilang dengan melihat ke arah pintu kamar tamu.


"Belum. Mungkin baru selesai mandi. Tadi sewaktu mami masuk baru bangun dia," jawab mami Rossa sambil mengutak-atik handphone miliknya.


Gilang masih saja terus melihat ke arah kamar tamu. Tanpa menoleh, mami Rossa menegurnya, "Jangan terlalu khawatir dan proteksif. Nanti itu akan membuat mereka berdua merasa terkekang dan tidak nyaman. Kendalikan dirimu Gilang," kata mami Rossa mengingatkan.


"Hah... Entahlah Mi. Aku merasa sangat berbeda hari ini. Mungkin karena nantinya, Aku tidak bisa melihat mereka seharian ini."


Gilang membuang nafas kasar. Dia merasa sesak di dadanya. Dan itu sangat menyiksa.


"Sabar Sayang," kata mami Rossa dengan menepuk-nepuk lengan anaknya itu.


Dari tempat mereka duduk, terdengar celoteh Aji yang sedang bertanya pada mamanya, "Ma. Nanti lama tidak?"


"Tidak tahu Sayang," jawab Cilla pelan.


"Biasanya kalau antrian di rumah sakit itu lama. Aji boleh bawa mainan tidak?" tanya Aji lagi.


"Tidak boleh Sayang. Nanti bisa menggangu pasien lain," jawab Cilla dengan mengeleng.


"Kelereng merah Aji saja Ma. Kan Aji tidak berisik." Aji merengek minta ijin untuk membawa kelerengnya.


"Iya boleh. Asal tidak membuat kekacauan di rumah sakit." Cilla memperingatkan Aji.

__ADS_1


"Siap Ma! Aku kan tidak pernah membuat kekacauan kalau tidak sengaja. Itu juga tidak berisik kok," kata Aji dengan penuh keyakinan.


Sesampainya mereka berdua di ruang tengah, tempat mami Rossa dan Gilang berada, keduanya sama-sama terdiam dan tidak lagi berdebat soal mainan.


"Pagi Sayang, Aji. Cilla," sapa mami Rossa pada mereka berdua.


"Pagi Oma. Pagi Papa," sapa Aji pada keduanya.


"Pagi sayangnya Papa." Gilang menyapa dengan melihat secara bergantian, antara Aji dan Cilla.


"Pagi." Cilla hanya membalas sapaan itu pendek. Itu juga dengan suara yang terdengar pelan dan bergetar.


Tapi belum sempat mereka berdua, Aji dan Cilla duduk, bibi datang dari dapur mengatakan jika sarapan pagi sudah siap. "Nyonya, tuan, sarapan sudah siap. Mari," kata bibi memberitahu.


"Iya Bi. Terima kasih," jawab mami Rossa menganguk.


"Yuk sarapan dulu. Nanti papa berangkat ke kantor, kita berangkat ke rumah sakit. Kita berangkat pagi-pagi, agar tidak terlalu terburu-buru di jalan."


Semuanya mengikuti mami Rossa yang melangkah ke arah ruang makan, termasuk Gilang yang sedang duduk. Dia berdiri dan berjalan menyusul di dekat Cilla.


"Nanti jangan lupa rindu buat Aku ya," kata Gilang berbisik pelan di dekat Cilla, agar tidak terdengar oleh Aji dan juga mami Rossa.


"Senang deh, pagi-pagi lihat bunga bermekaran," kata Gilang membuat kiasan.


"Ehem!"


Mami Rossa berdehem, saat mendengar perkataan Gilang yang sedang merayu secara tidak langsung.


"Ihs... Mami!"


Gilang tersenyum senang mendengar sindiran maminya itu. Tapi tidak dengan Cilla. Dia merasa sangat malu dan tidak tahu harus berkata apa.


"Kalau begini sarapan pagi tidak akan habis dan sudah kenyang duluan," kata mami Rossa melanjutkan kata-katanya untuk menyindir anaknya itu.


"Hahaha..."


Gilang tidak tahan menahan tawanya. Dia tertawa lepas juga. Tawa yang penuh kebahagiaan dan itu tidak pernah terdengar selama ini.

__ADS_1


Para pembantu rumah yang mendengar dan melihat tingkah tuannya itu, tersenyum senang dan saling berbisik-bisik pelan dengan sesama rekan pembantu rumah.


"Wah, tuan terlihat sangat bahagia ya sejak ada den Aji dan juga mamanya."


"Iya. Seneng liatnya. Tuan muda bisa tertawa lepas begitu."


"Semoga ini tidak hanya sementara."


Begitulah bisik-bisik yang terdengar samar dan juga harapan serta doa para pembantu rumah. Mereka ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh majikannya.


Sarapan pagi lebih menyenangkan dari biasanya. Mungkin kehadiran Aji dan juga Cilla menambah rasa makanan yang mereka makan, yang selama ini tidak ada.


"Tumben bibi masakannya enak pagi ini," kata Gilang berkomentar saat selesai makan.


"Masak sih? Biasa saja, tapi memang berbeda sih. Mungkin karena ada Aji dan Cilla jadi menunya tidak seperti biasanya, lebih enak. Ada yang di pandang juga kan?"


Mami Rossa tidak bosan-bosannya menyindir anaknya itu. Gilang hanya tersenyum mengangguk sebagai tanda setuju.


"Benar Mi. Dan aku harap ini untuk selamanya," kata Gilang membenarkan perkataan maminya.


Aji yang tidak begitu paham dengan arti dari semua perbincangan mereka berdua, hanya diam saja sambil meminum susu hangatnya. Tapi tentu berbeda dengan Cilla yang sangat paham kemana arah perbincangan Gilang dengan mami Rossa. Dia tersenyum samar dengan menundukkan wajahnya karena malu.


"Sudah-sudah. Nanti keburu siang dan kami terlambat datang ke kantor," kata mami Rossa mengingatkan anaknya, Gilang.


"Hehehe..."


Gilang hanya terkekeh mendengar perkataan maminya, yang memang benar adanya. Kini dia beranjak terlebih dahulu dan pamit pada yang lain, "Aku berangkat dulu. Kalau ada apa-apa segera hubungi Aku ya Mi, Cilla," kata Gilang memberikan pesannya.


Mami Rossa dan Cilla mengangguk bersamaan. Mereka berdua berdiri, begitu juga dengan Aji yang sudah selesai meminum susunya.


Mereka beriringan keluar rumah, mengantar Gilang yang akan berangkat ke kantor. Mobil dan supir sudah siap di depan rumah.


"Berangkat dulu Mi," pamit Gilang dengan mencium kedua pipi mami Rossa.


"Papa berangkat sayang," kata Gilang pada Aji. Dia juga mencium kedua pipi Aji, anaknya itu.


"Aku berangkat. Kamu hati-hati. Jika rindu, telpon atau kirim pesan ya!" kata Gilang saat berpamitan pada Cilla.

__ADS_1


Cilla diam dan hanya menunduk. Dia tidak menyangka, jika Gilang bisa berubah sikapnya menjadi lebih manis, dan tidak seperti yang dia bayangkan dulu.


__ADS_2