Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Harus Bagaimana


__ADS_3

Akhirnya makam siang bertambah meriah, dengan kehadiran tuan Adi. Ternyata dia tidak terlalu kaku, seperti yang selama ini terlihat saat menagih uang kontrakan. Dis bisa juga bercanda kayaknya teman yang sudah akrab.


Tapi sepertinya itu hanya dirasakan oleh mami Rossa dan Gilang saja. Aji dan Cilla hanya diam dan tidak banyak menanggapi candaan tuan Adi. Mungkin karena selama ini hubungan antara mereka hanya sebatas pemilik kontrakan dan pengontrak saja, tidak lebih.


"Aji sudah kenyang," kata Aji, yang tidak mau lagi saat disuapi oleh mamanya, Cilla.


"Ya sudah. Minum dulu!" Cilla menyodorkan minuman yang ada di depan Aji.


Atensi mami Rossa teralihkan dari candaan tuan Adi ke arah Aji. "Sudjya kenyang beneran?" tanya mami Rossa pada cucunya, Aji.


"Iya Oma," jawab Aji pendek.


"Ya sudah, sekarang kamu ganti yang makan Cilla. Sedari tadi cuma nyuapin Aji saja mami perhatikan."


Ternyata, mami Rossa tidak lepas juga dari memperhatikan semua orang yang ada, meskipun dia terlihat lebih fokus ke obrolan ringan yang sedang terjadi dengan tuan Adi.


"Iya Mi," jawab Cilla pendek.


Cilla akhirnya main juga meskipun tidak berselera. Dia memang tidak terbiasa ada di suasana ramai seperti sekarang ini. Apalagi dengan tempat yang tentunya tidak biasa untuk orang seperti dirinya.


Setelah semuanya selesai makan, pak supir pamit terlebih dahulu untuk pergi ke luar. "Saya keluar dulu Nyonya, tuan muda. Mau merokok. Maklum, kalau abis makan tidak merokok rasanya hambar!"


Mami Rossa dan Gilang hanya mengangguk setuju dengan permintaan undur diri pak supir. Mereka berdua sudah mengetahui kebiasaan supirnya, jadi tentu saja memakluminya.


"Oh ya. Tadi katanya mau pergi ke rumah Adi, ada apa Tante?" tanya tuan Adi, mengingat perkataan mami Rossa di awal pertemuan tadi.


"Ini lho, Cilla mau pamit."


"Oh. Tidak apa-apa. Aku pikir malah kemana dia sama anaknya, kok tiba-tiba pergi dan barang-barang miliknya juga diambil pesuruh, bukan dia sendiri yang ambil."


Tuan Adi mengatakan kebingungannya untuk beberapa waktu yang lalu, saat mendapat kabar jika Cilla tidak lagi menempati rumah kontrakan miliknya.

__ADS_1


"Tapi kok tiba-tiba GAS menjemput mereka, kenapa tidak dari dulu-dulu?" tanya tuan Adi ingin tahu.


"Cilla ini yang sedari dulu aku cari cacing. Kamu paham gak?" tanya Gilang tanpa menceritakan awal mula dari masalah mereka. Seakan-akan tuan Adi sudah mengetahui kisahnya dimasa lalu.


"Kalau aku tahu, Cilla adalah yang kamu cari sedari dulu, aku yang pertama kali menemukannya. Tapi sebelum aku menyerahkan dia padamu, tentunya aku minta uang tebusan kan? Yang banyak, biar kamu kapok gak lagi bermain-main."


Tuan Adi terlihat kesal saat mengatakan semua itu. Cilla dan Aji yang hanya diam mendengarkan perbincangan mereka berdua, saling pandang satu sama lainnya karena sama-sama tidak tahu.


"Maksud kamu apa Adi?" tanya mami Rossa bingung.


"Bukan apa-apa Tante. Aku hanya pernah diminta GAS untuk menemaninya mencari seorang gadis. Dan itu harus keluar masuk Club."


"Benarkah?" tanya mami Rossa tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Tapi aku tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi Tante," kata tuan Adi melanjutkan keterangannya.


"Saat aku tanya, Gilang hanya menjawab, sudah ikut saja! Begitu terus Tante. Akhirnya aku bosan dan tidak lagi ikut dia mencari gadis yang dia maksudkan."


Cilla hanya menunduk dan tidak berkomentar apapun. Mami Rossa menghela nafas panjang dan memejamkan matanya untuk tidak lagi membayangkan kisah kelam anaknya itu.


Akhirnya, Gilang bercerita pada tuan Adi secara singkat dan tidak terlalu detail. Tapi tentu saja tuan Adi bisa mengira-ngira apa yang terjadi sebenarnya.


"Jadi begitulah. Aku tidak tahu jika ternyata dia mengandung dan di usir ibu tirinya dan warga. Baru beberapa bulan yang lalu aku temukan dia dan Aji. Dan apa kamu tahu, dimana aku menemukan mereka?"


Tuan Adi mengeleng mendengar pertanyaan Gilang yang seperti tebak-tebakan yang tidak perlu dia jawab juga.


"Di toko milik Mami, dan Cilla adalah karyawan mami sebelum dia aku kenal."


Tuan Adi melihat ke arah Gilang dengan mata membola. Dia merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar kali ini. Semua itu seperti cerita khayalan saja. Apalagi cerita atas pengakuan Gilang. Jika saja ini cerita, bukan dari mulut Gilang sendiri, tuan Adi tidak akan pernah bisa percaya, bahwa Gilang, mampu melakukan semua itu.


"Aku masih belum bisa mempercayai cerita yang baru saja aku dengar ini," kata tuan Adi memberikan komentarnya, tentang semua cerita yang Gilang katakan padanya. Padahal dia sedari dulu bertanya, tapi Gilang tidak pernah mau menjawab dengan pasti.

__ADS_1


"Tapi begitulah memang yang terjadi," kata Gilang dengan mengangkat kedua bahunya.


Tuan Adi menghela nafas panjang dan memejamkan matanya. Dia merasa ikut bersalah karena pernah menunduh Cilla dengan tuduhan yang macam-macam.


"Maafkan aku Cilla," kata tuan Adi pada Cilla.


"Tidak apa-apa tuan," jawab Cilla yang sudah menangis pelan.


"Maaf," kata Gilang, kemudian mengambil tangan Cilla dan mengenggam jari-jemari Cilla dengan penuh penyesalan.


"Aku tidak pernah tahu jika mereka berdua adlah orang yang selama ini kamu cari GAS. Maafkan aku."


Tuan Adi mengatakan permintaan maaf pada Cilla dan juga Gilang. Dia benar-benar tidak menyangka, jika orang yang selama ini mengontrak rumahnya dan dia remehkan, adalah orang yang sama, yang selama ini dicari-cari Gilang. Orang yang membuat temannya itu seperti orang gila, dan tidak normal dimata orang-orang.


Cilla masih tersedu, meskipun dia sudah berusaha untuk menahannya. Mami Rossa juga menangis meskipun tanpa suara. Aji hanya mampu melihat dan memegang lengan mamanya, Cilla.


"Sudah. Semuanya sudah terjadi. Aku tidak akan pernah mengulangi lagi. Percayalah. Aku akan membahagiakan kamu dan juga Aji, juga anak-anak kita dikemudian hari nanti."


Gilang mengatakan semua itu dengan menepuk-nepuk punggung tangan Cilla. Meminta maaf dan minta untuk dipercaya jika dia bersungguh-sungguh dalam ucapan dan niatnya.


"Ma..."


Aji memangil mamanya. Dia tidak mau melihat mamanya bersedih dan menangis lagi.


"Iya Sayang. Maaf," kata Cilla menatap ke arah Aji dengan tersenyum dipaksakan.


Aji mengeleng melihat ke arah mamanya. "Jika Mama yakin, terima papa. Tapi jika tidak, Aji ikut Mama."


Semua yang mendengar perkataan Aji saling pandang. Mereka semua tidak percaya jika Aji mampu mengatakan semua itu.


"Aji tidak mau Papa?" tanya Gilang bingung. Dia merasa jika belum mendapatkan hati Aji sepenuhnya.

__ADS_1


"Aji mau Papa. Tapi jika Mama tidak mau, Aji tetap sama Mama."


Keputusan yang diambil oleh Aji membuat mamanya, Cilla harus berpikir ulang lagi jika ingin menolak Gilang. Tapi rasa takutnya mengalahkan perasaannya juga.


__ADS_2