Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Mau Hadiah Apa?


__ADS_3

Rumah yang seperti istana ini, membuat suasana sunyi, karena penghuninya yang hanya tuan besar Sangkoer Singh saja, bersama dengan para pelayan. Tidak ada suara anak-anak, yang meramaikan suasana rumah, agar menjadi lebih ramai dan hidup. Apalagi, anak semata wayangnya, Vijay Singh, juga tidak ada di rumah, dan terbaring koma di rumah sakit khusus, miliknya.


Itulah sebabnya, tuan besar Sangkoer Singh, meminta pada anak angkatnya, Aji, agar bisa tinggal di India, bersama dengan Elisa, istrinya. Dia ingin, ada teman mengobrol santai, tanpa beban pikiran dan urusan pekerjaan yang ada di banyak perusahaan yang dia pimpin.


Tuan besar Sangkoer Singh, sedang menikmati teh hangat dan juga kue yang di hidangkan pembantunya. Sekarang, dia duduk di ruang tengah yang luas, melebihi lapangan basket. Apalagi, perabotan di ruangan tersebut memang tidak banyak di letakkan barang pernak-pernik seperti di ruangan yang lain. Ini karena ruang tengah di khususkan tuan besar Sangkoer Singh, untuk kenyamanan keluarganya, agar bisa bersantai tanpa khawatir jika ada anak-anak yang berlari-lari, harus takut menyenggol barang-barang pajangan yang ada.


Aji dan Elisa, sudah masuk ke dalam rumah. Mereka berdua, berjalan dengan bergandengan tangan dengan wajah yang terlihat jelas, jika senang berbahagia.


Saat mereka memasuki ruang tengah, ayah angkatnya Aji, Sangkoer Singh, menoleh ke arah datangnya mereka. Dia melihat ke arah anak angkatnya itu yang bergandengan tangan bersama dengan istrinya, Elisa.


"Sepertinya, ayah akan mendapatkan kabar yang baik ini," tegur ayah angkatnya Aji, sambil meletakkan handphone yang tadi dia pegang.


Elisa tersenyum, kemudian menoleh ke arah suaminya, Aji. Dia ingin, agar Aji sendiri yang memberikan kabar bahagia yang sedang mereka rasakan saat ini.


Aji masih diam saja. Dia tetap melangkah dengan pasti ke arah tempat ayahnya itu duduk. Dia juga mengajak Elisa untuk ikut duduk di sofa yang ada di samping ayah angkatnya, Sangkoer Singh, baru kemudian dia duduk di sampingnya Elisa.


"Bagaimana hasil test tadi? apa semua baik-baik saja? Ayah harap tidak ada masalah, karena ayah yakin jika Kamu adalah orang yang sehat dan kuat. Karena pada kenyataannya, Kamu masih bisa melawan efek obat-obatan yang dulu sering Kamu minum dari Ranveer."


Sangkoer Singh jadi teringat dengan Aji, saat pingsan dan sakit di Jakarta. Waktu itu, adalah pertama kalinya Aji harus bertugas sebagai auditor di Asia tenggara. Karena dari awal tugas itu juga, Aji ditemukan oleh keluarganya yang asli. Sangkoer Singh, tidak bisa melakukan apa-apa, karena tak lama setelah itu, Aji justru sadar meskipun ingatannya tidak sempurna. Hanya ada sedikit peristiwa yang dia lupa, termasuk orang-orang yang ada hubungannya dengan diri Aji sendiri, termasuk adik perempuannya, yaitu Jeny, dan istrinya inilah yang dia sangka sebagai adiknya saat itu.

__ADS_1


"Semua berjalan lancar Yah. Justru kami tidak melakukan test apa-apa, yang terlalu memakan waktu. Hanya ada satu test dan itu dilakukan oleh Elisa." Aji, menghentikan kalimatnya. Dia ingin melihat ekspresi wajah ayah angkatnya itu.


Ternyata, apa yang diinginkan Aji berhasil. Sangkoer Singh, tampak mengerutkan keningnya, memikirkan apa yang dikatakan oleh anaknya, Aji. Dia sudah menduga-duga apa yang mereka lakukan di seharian ini tadi di rumah sakit.


"Maksudnya, Kamu tidak melakukan test? apa Kamu baik-baik saja, dan Elisa yang bermasalah?" tanya Sangkoer Singh, dengan wajah yang terlihat jelas jika sedang merasa khawatir. Dia takut, jika permasalahan mereka yang belum memiliki anak adalah faktor dari Elisa sendiri. "Atau dokternya yang salah diagnosa?" tanya Sangkoer Singh lagi, tidak sabar untuk menunggu Aji, menjawab pertanyaan darinya yang tadi.


"Bukan Yah. Justru Elisa yang sekarang sudah hamil."


Jawaban yang diberikan oleh Aji, tentu membuat ayahnya itu kaget. Dia yang sudah berprasangka buruk terhadap menantunya itu, tidak menyangka, jika kabar baik yang dia kira masih akan terjadi beberapa bulan ke depan, justru saat ini sudah dia dengar.


"Apa itu benar menantu? apa suamimu, Aji, tidak sedang membual? atau pendengaran Ayah yang sedang bermasalah?"


Tapi, saat melihat Elisa mengangguk dengan pasti, membuat Sangkoer Singh berteriak keras, memangil semua orang yang ada di rumahnya, yaitu para pembantunya yang sedang berada di dapur dan ruangan lain.


"Hai, kalian semua. Tinggalkan pekerjaan kalian sebentar dan kemarilah!"


Suara Sangkoer Singh yang menggema, membuat para pelayan mendengar teriakannya. Mereka dengan patuh, meninggalkan pekerjaan mereka dan menuju ke arah ruang tengah, dimana tuan besar mereka berada.


Di ruang tengah, tampak tuan besar Sangkoer Singh yanh sedang tersenyum sumringah. Ada anak angkatnya, Aji bersama dengan istrinya, Elisa juga. Para pelayan saling pandang, karena tidak tahu, apa yang ingin dikatakan oleh majikannya itu.

__ADS_1


"Bibi Lasmi, tolong ambilkan beberapa kotak manisan. Kalian semua harus ikut merasakan kebahagiaan yang sedang Aku rasakan juga."


Orang yang disebut sebagai bibi Lasmi, segera berjalan menuju ke dapur. Dia mengambil kotak manisan, yang selalu ada tersedia di lemari penyimpanan makanan. Dia membawa tiga kotak dengan berbagai macam rasa manisan, khas India jika sedang ada perayaaan.


Bibi Lasmi, sudah kembali. Dia melihat tuan besar_nya sedang tersenyum-senyum sambil berkata. "Mana manisannya Bibi, Aku ingin makan untuk berita bagus ini," kemudian Sangkoer Singh mengambil satu kotak manisan yang dibawakan oleh bibi Lasmi.


Sangkoer Singh, mengambil satu untuk dia makan sendiri, kemudian mengambilnya lagi untuk disuap kan pada Aji, baru kemudian berganti pada Elisa.


"Ayo semuanya, ambil manisan ini dan makan. Ini adalah malam yang berbahagia karena menantuku, sedang hamil cucu pertamaku. Bagikan juga untuk yang lain, yang ada di luar rumah."


Semua orang yang ikut hadir di ruang tengah, tersenyum lega dan ikut merasakan kebahagiaan yang sedang dirasakan tuannya. Mereka mengambil manisan dan memakannya juga, sama seperti yang dilakukan oleh tuan besar Sangkoer Singh. Ada juga yang langsung keluar rumah, membaginya pada teman-temannya yang lain, yang tidak mungkin semua datang ke ruangan tadi, karena tidak mendengar teriakan tuan_nya.


"Bibi Lasmi. Besok, beli banyak manisan dan bagi-bagi ke para tetangga. Mereka juga harus ikut merasakan kebahagiaan yang Aku rasakan. Jangan lupa, buat juga sesembahan untuk dibawa ke kuil. Aku juga ingin mengadakan perayaan, menyambut kedatangan cucuku, besok."


Sangkoer Singh, memberikan beberapa perintah pada bibi Lasmi, yang memang berperan sebagai kepala pembantu di rumah besarnya, untuk melakukan semua tugas yang dia berikan. Tuan besar Sangkoer Singh, benar-benar merasa bahagia. Itu terlihat jelas di wajahnya, hal yang sudah lama tidak di lihat oleh para pelayan rumah ini. Mereka semua, jadi ikut merasakan kebahagiaan yang sama.


"Elisa, menantuku. Kamu ingin hadiah apa untuk kehamilan_mu ini?" tanya ayah Sangkoer Singh, dengan bersemangat. Dia. ingin memberikan hadiah untuk menantunya itu.


"Tidak perlu Ayah. Elisa sudah merasa senang, dengan melihat Ayah bisa tersenyum bahagia seperti sekarang ini," jawab Elisa, yang merasa tidak enak hati, karena hadiah perhiasan yang diberikan oleh tuan besar Sangkoer Singh, saat dia baru saja datang, belum pernah dia pakai.

__ADS_1


Bukan karena tidak suka dengan hadiah perhiasan itu, tapi karena Elisa sendiri yang merasa tidak nyaman saat memakainya. Perhiasan yang besar dan berat, khas wanita-wanita India, meskipun bentuknya cantik dan menarik. Tapi, bagi Elisa yang tidak terbiasa, tentu merasa berat di leher dan pergelangan tangannya. Apalagi, Elisa memang jarang memakai perhiasan yang berlebihan. Bahkan, hadiah-hadiah perhiasan dari Aji, jarang dia pakai, jika tidak ada acara khusus.


__ADS_2