
Sejatinya, hidup ini penuh dengan warna, harapan dan kebahagiaan, seandainya manusia bisa lebih bersyukur daripada mengeluh. Karena Tuhan memberikan semua nikmat kehidupan ini merata, tanpa membeda-bedakan antara kasta, tahta dan harta. Tuhan tidak memerlukan semua itu, karena Dia sudah lebih dari apapun.
Manusia hanya bertugas untuk menjalani hari-hari dengan beribadah, taat, dan ada pada jalan yang sudah dia pilihkan, yaitu jalan yang sesuai dengan semua ajaran dari_Nya.
Lalu kenapa ada bentuk bencana? Apa ada nikmatnya dari sebuah bencana?
Ada. Bisa jadi, dari sebuah bencana, kita sebagai manusia sadar tentang arti kebersamaan, tolong menolong dan peduli terhadap lingkungan dan keselamatan.
Semua akan berjalan dengan baik dan benar jika kita juga tetap berpikir baik dan tidak menyalahkan nasib yang sedang kita jalani saat itu.
Begitulah kira-kira yang dilakukan oleh tuan besar Sangkoer Singh saat ini. Dia yang banyak harta, kekuasaan dan wewenang untuk bisa memerintah, tidak bisa mencegah takdir kepergian anak semata wayangnya, Vijay Singh. Dia sadar, jika inilah takdirnya. Kesempurnaan yang dilihat oleh mata banyak orang di luar, hanya karena dari segi kekuasaan dan kekayaan yang dia miliki selama ini. Nama besarnya, menjadi tolok ukur sebuah kesuksesan dan keberhasilan di dunia.
Satu bulan kemudian, setelah kepergian Vijay Singh. Tuan besar Sangkoer Singh, yang sedang berada di ruang tengah, menutup kitab_nya. Dia melihat anak angkatnya, Aji, yang sedang berjalan menuju ke kamarnya, yang berada tak jauh dari ruang tengah ini.
"Aji. Duduklah sini terlebih dahulu," kata ayah Sangkoer Singh, meminta pada Aji, supaya duduk terlebih dahulu dan tidak langsung masuk ke dalam kamar.
"Aji. Ayah harap Kamu dan juga istrimu itu, tidak berpikir untuk kembali ke Indonesia dalam waktu dekat ini. Ayah menjadi kesepian nanti, jika kalian berdua kembali ke Indonesia," kata tuan besar Sangkoer Singh, setelah Aji terduduk di sofa single, tidak jauh dari tempatnya duduk.
__ADS_1
Permintaan ayah angkatnya itu, membuat Aji tidak bisa menjawab dengan cepat. Dia merasa harus membicarakan tentang hal ini terlebih dahulu pada istrinya, Elisa. Sebab, Elisa sudah ingin kembali ke Indonesia dalam waktu dekat ini. Tapi, Elisa juga mengusulkan agar ayah Sangkoer Singh bisa ikut tinggal di Indonesia saja, agar tidak merasa kesepian. Namun, Aji belum mengatakan apa-apa, pada ayahnya itu, tentang usulan Elisa. Dia tidak ingin, mengacaukan pikiran ayahnya, yang baru saja kehilangan Vijay Singh.
"Aji. Tolong bujuk istri Kamu ya, kalau bisa melahirkan di sini saja. Toh rumah sakit ada, dekat juga dari rumah. Semua dokter, bisa menjaga dan memantau perkembangan anak kalian berdua. Dua mau apa, tinggal bilang pada Ayah. Ayah pasti akan senang jika dia bisa meminta sesuatu untuk kehamilannya itu."
Tuan besar Sangkoer Singh, menginginkan agar Aji dan Elisa, tinggal menetap saja di rumahnya, di India ini. Dia sudah tidak memiliki siapa-siapa, jadi tinggal mereka saja, yang sudah dia anggap sebagai anak sendiri.
"Aji tidak bisa memutuskan sendiri Yah. Aji akan bicarakan ini dengan Elisa. Kami merasa senang tinggal di sini Yah, tapi Elisa ingin melahirkan bayi Kami di Indonesia. Ini permintaan mama Cilla juga." Akhirnya, Aji mengatakan juga, apa yang dia simpan di dalam hati.
"Bagaimana kalau mama dan papa Kamu yang datang ke sini? saat Elisa melahirkan nanti. Mereka bisa tinggal di sini sampai kapanpun, biar nanti dijemput oleh kapten ( anak buah tuan besar Sangkoer Singh, yang memegang usaha penerbangan miliknya ) bahkan, kemarin saat meninggalnya Vijay Singh, mama dan papa Kamu, cuma bisa di sini seminggu saja," kata ayah Sangkoer Singh, yang sedikit kecewa dengan keputusan yang diambil oleh mama Cilla dengan papa Gilang.
"Mama dan papa, juga ada kepentingan yang tidak bisa ditinggal dalam waktu yang lama Yah. Saat itu cucunya, anak dari adikku, Jeny, sedang demam, dan ibunya sedang hamil muda juga. Jadi mama merasa khawatir, jika meninggalkan Indonesia," jawab Aji, memberikan penjelasan kepada ayah Sangkoer Singh.
"Bagaimana kalau ayah saja yang ikut ke Indonesia? Ayah bisa beristirahat dan berlibur di sana. Ayah tidak perlu memikirkan urusan kantor dan perusahaan. Toh sudah ada yang menangani. Ayah tinggal cek dan mengawasi jalannya perusahaan lewat laporan-laporan yang dikirim orang-orang kepercayaan Ayah. Ayah tidak perlu bekerja keras lagi. Sudah waktunya Ayah beristirahat dan menikmati hari-hari Ayah, yang selalu sibuk agar bisa beristirahat juga."
Tuan besar Sangkoer Singh, mengangguk lagi, saat mendengar perkataan Aji, yang menang ada benarnya. Selama ini, dia hanya bekerja dan bekerja. Jika pergi berlibur ke luar negeri, itu karena sekalian ada kepentingan untuk urusan pekerjaan juga. Tidak ada waktu untuk dirinya sendiri, yang murni untuk beristirahat dan menikmati ketenangan saat berlibur. Sekarang, tuan besar Sangkoer Singh, jadi berpikir untuk menjalankan usulan Aji.
"Bagus juga usulan Kamu itu. Ayah bisa keliling Indonesia, yang sebelumnya hanya sekitar Jakarta dan Bali saja. Padahal katanya, Indonesia tidak sekedar Jakarta dan Bali, tapi ada banyak tempat yang sama bagusnya untuk dikunjungi. Ayah akan berpikir untuk membangun sebuah villa di Bali dan Jakarta. Biar mudah saat kalian datang berkunjung juga."
__ADS_1
Sekarang, justru tuan besar Sangkoer Singh, memiliki rencananya sendiri, untuk busa tinggal di Indonesia. Dua berpikir, jika SJSN lebih menyenangkan busa berada di dekat keluarga anaknya itu, apalagi nanti jika sudah ada cucu-cucunya, yang akan membuat ramai rumah. Dua tersenyum tipis, membayangkan hal tersebut akan terjadi, dan itu tidak akan menunggu waktu yang lama lagi.
"Ayah tidak sabar, untuk bisa menggendong dan mengajak bermain anak-anak Kamu Aji. Buatlah anak yang banyak, dan tidak perlu khawatir soal urusan biaya untuk mereka. Ayah sudah siapkan untuk mereka, bahkan jika kalian punya anak lebih dari sepuluh pun, Ayah pasti akan merasa senang sekali. Hahaha..."
Aji, tersenyum mendengar perkataan ayahnya itu. Dia merasa jika ayahnya sudah bisa diajak berbicara, dan tidak lagi bersedih hati. Tapi, dua tidak mungkin mengatakan permintaan ayah Sangkoer Singh itu pada Elisa. Bisa-bisa, istrinya itu akan mencak-mencak, karena berpikir jika dia akan dijadikan mesin mencetak anak. Itu akan sangat merepotkan Aji, apalagi hormon kehamilan Elisa belum stabil saat ini.
Tapi ternyata semua itu di dengar oleh Elisa. Dia sudah berdiri dengan melotot melihat ke arah Aji.
Aji, hanya menanggapi dengan menggelengkan kepala, sambil nyengir ke istrinya, berharap agar Elisa diam dan tidak menyahut perkataan ayah angkatnya itu.
"Ayah. Apa Ayah pikir Elisa ini robot atau pencetak ana, yang tidak akan merasa sakit dan juga capek! ini saja kalau muntah rasanya tidak enak."
Larangan Aji agar Elisa diam ternyata tidak digubris. Elisa, justru mengatakan langsung pada ayah angkatnya itu, dengan nada protes. Untungnya, ayah Sangkoer Singh malah tertawa-tawa senang dengan melihat Elisa yang sedang kesal kepada-nya. Hal yang membuat Aji akhirnya ikut tersenyum juga.
"Ayah tidak bermaksud seperti itu menantu. Ayah hanya mengatakan jika Kamu mau, kalau tidak mau mana bisa Ayah paksakan juga? hahaha..." Tuan besar Sangkoer Singh, kembali tertawa senang setelah mengatakan maksud dari perkataannya yang tadi.
Elisa, hanya tersenyum canggung, dan merasa tidak nyaman karena telah salah duga.
__ADS_1
Sedangkan Aji, menggelengkan kepalanya, melihat mereka berdua yang tidak sama-sama salah paham dengan perkataan dan pendengaran mereka.
Bibi Lasmi, yang datang dengan membawa nampan berisi minuman dan makanan, ikut tersenyum, melihat tuan besarnya sudah bisa tertawa lagi, dan tidak bersedih hati terus menerus. Hal yang sudah tidak dia lihat dalam jangka waktu sebulan ini. Dia berharap, anak angkat dan menantu tuan besar Sangkoer Singh, akan membawa kebahagiaan untuk hari-hari yang akan datang bagi majikannya, tuan besar Sangkoer Singh.