
Aji yang tadi kembali masuk ke dalam kamar, ternyata sedang melihat-lihat otomotif di negara Eropa. Banyak sekali desain otomotif yang baru dan menarik perhatiannya.
"Wah keren semuanya!" seru Aji dengan mata berbinar-binar karena senang.
Aji selalu merasa senang jika melihat teknologi yang baru dan maju. Dia juga ingin jika Indonesia memiliki teknologi yang sama canggihnya dengan negara Eropa sana.
"Sebenarnya Indonesia maju kok, hanya karena masalah waktu yang belum tepat, dari berbagai aspek yang mendukungnya saja yang menjadi kendalanya, hingga saat ini, Indonesia hanya disebut sebagai negara berkembang."
Aji terus menelusuri beberapa pemberitaan media tentang otomatis yang baru diluncurkan oleh negara-negara Eropa sana.
Tapi ternyata itu tidak berlangsung lama. Aji yang merasa kenyang karena bolu pandan dan jus jeruk tadi, kini merasa mengantuk. Padahal dia sebenarnya masih ingin melanjutkan pencarian Eko Julianto.
Ternyata keinginan hanyalah menjadi keinginan. Mata Aji sudah tidak bisa diajak kompromi, dan akhirnya Aji pun tertidur dengan kelapa tertelungkup di atas meja.
Tok!
Tok!
Tok!
Pintu kamar diketuk dari luar. Tapi Aji tidak mendengarnya. Dia tidak berubah posisi dari tidurnya, masih duduk menelungkup dengan kepalanya di atas meja.
"Den. Den Aji. Bangun Den, waktunya untuk makan siang!"
Suara seseorang yang memanggil-manggil nama Aji, terdengar samar-samar di telinga Aji. Dia menegakan kepalanya melihat sekeliling. "Ah, aku tertidur," kata Aji berguman sendiri.
"Den Aji!"
Terdengar lagi suara orang memanggil. Itu suara bibi pembantu rumah, yang meminta Aji untuk makan siang terlebih dahulu.
"Ya Bi, sebentar ya!" Aji menyahut dari dalam kamar. Suaranya yang terdengar parau, menandakan jika dia baru saja bangun tidur.
Aji beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju ke arah kamar mandi. Dia membersihkan diri terlebih dahulu, baru kemudian keluar dari dalam kamar, menuju ke ruang makan yang letaknya menyatu dengan dapur.
"Maaf ya Bi. Aji ketiduran lagi tadi," kata Aji meminta maaf.
"Jadi merepotkan Bibi," kata Aji lagi pada bibi pembantu.
"Iya. Tidak apa-apa Den. Kalau mengantuk memang harus tidur, kalau lapar ya makan!"
Bibi pembantu menyahut permintaan maaf Aji dengan nada bergurau. Aji terkekeh kecil mendengar perkataan bibi pembantu.
"Hehehe... Iya Bi. Itu benar sekali!" Aji mengacung jari jempolnya pada bibi pembantu yang sedang meletakkan piring meja.
"Wah... Den Aji kalau senyum begitu ganteng sekali!"
Bibi pembantu merasa mendapatkan bonus saat melihat Aji yang terkekeh, kemudian tersenyum ke arahnya dengan jari jempolnya.
"Ah, bibi tidak usah merayu Aji. aji masih main kecil. Hehehe..."
"Hahaha... Den Aji bisa juga bercanda ternyata!"
Bibi pembantu semakin merasa senang, karena ternyata Aji itu tidak seperti yang dia pikirkan dan omongkan, dengan teman-teman sesama pembantu di rumah besar ini.
"Ya ada waktunya Bi untuk serius dan bercanda. Jangan serius terus, jangan bercanda terus juga."
__ADS_1
"Wah bener Den!" kata bibi dengan cepat.
"Ayuk Den, mau lauk apa ini?" tanya bibi menawarkan.
"Sayur itu saja Bi, sama itu!"
Aji menunjuk mangkuk sayur sup dan perkedel kentang di campur jagung manis.
"Ayo, bibi juga ikut makan!"
"Bibi nanti saja Den," jawab bibi mengangguk.
"Sekarang temani Aji makan Bi! Kalau nanti Aji gak ada temannya makan. Atau Aji makannya nanti saja bareng sama Bibi?"
Akhirnya, bibi mengalah dan ikut mengambil piring, untuk tempat makannya sendiri.
Sekarang Aji makan siang ditemani bibi pembantu yang juga ikut makan karena desakan Aji.
*****
Waktu sore, Cilla dan Gilang baru saja datang, dari konsultasinya di rumah sakit. Mereka berdua, tampak keluar dari dalam mobil dengan wajah bahagia.
Cilla dan juga Gilang tampak berjalan beriringan dengan tangan saling bergenggaman. Ini membuat para pembantu rumah, dan juga Security yang sedang melihat mereka, tersenyum penuh arti.
"Kayaknya sebentar lagi ada pesta di rumah ini."
"Seneng ya, melihat den Gilang bahagia begitu."
"Tak lama lagi, akan ada suara tangis bayi yang bikin ramai rumah ini."
Begitu kira-kira mereka semua memberikan komentarnya, tentang apa yang sedang terlihat saat ini di depan mata.
"Sayang!"
"Aji, Sayang!"
Gilang berteriak memanggil nama anaknya, begitu masuk ke dalam rumah. Dia tidak sabar ingin memperlihatkan kemesraannya bersama dengan Cilla, mamanya Aji.
"Aji dimana?" tanya Gilang pada bibi pembantu yang dia temui di ruang tengah.
"Mungkin baru mandi Tuan," jawab bibi pembantu yang sedang membersihkan meja.
"Oh. Tidak rewel kan dia seharian?" tanya Gilang lagi.
"Tidak Tuan. Den Aji tidak rewel sama sekali," jawab bibi pembantu lagi sambil tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu." Gilang pun ikut merasa senang mendengar jawaban dari bibi pembantu.
"Aku masuk ke kamar dulu. Mungkin Aji butuh bantuan," kata Cilla meminta ijin.
"Ya sudah. Bilang sama Aji, Minggu depan kita berlibur ke villa. Dia pasti akan merasa senang."
"Iya. Nanti aku akan bicara dengannya."
Cilla pun melepaskan tangannya dari genggaman tangan Gilang. Tapi sepertinya Gilang masih belum mau melepaskan genggaman tangannya. Cilla mendongak menatap wajah Gilang yang tersenyum melihat tingkahnya.
__ADS_1
"Lepas," kata Cilla meminta.
"Tapi aku masih pengen," kata Gilang dengan tersenyum penuh arti.
Mami Rossa yang baru saja masuk ke dalam rumah, berdehem melihat tingkah kedua orang itu. "Ehem. Yang lainnya tidak terlihat ini!"
"Eh, Mami," kata Gilang dengan menolehkan kepalanya ke arah mami Rossa yang berada di belakangnya.
"Mami tidak senang melihat kemajuan ini?" tanya Gilang, memamerkan gengaman tangannya yang masih bersatu dengan tangan Cilla.
"Wah, kemajuan sekali. Tapi jangan terlalu begitu Gilang. Cilla juga ada Aji yang butuh perhatiannya."
Mami Rossa mengingatkan anaknya itu. Dia tidak mau jika nantinya, Aji merasa terabaikan.
"Iya Mi. Aku sebenarnya tadi cuma mau pamer saja kok dengan Aji. Eh, taunya malah dia sedang mandi," kita Gilang kecewa.
"Nanti saja lagi," kata mami Rossa memberikan nasehat.
"Hehehe..."
Akhirnya, Gilang melepas juga gengaman tangannya pada tangan Cilla. Dengan meringis, Cilla pamit untuk pergi ke kamar, "Cilla ke kamar dulu Mi."
Mami Rossa mengangguk sebagai jawabannya, sedangkan Gilang hanya tersenyum saja.
"Ingat Gilang, meskipun Cilla sudah bisa merubah sikapnya terhadap Kamu, tidak perlu memaksa juga. Biarkan sewajarnya, takutnya dia akan kembali pada masa trauma yang kemarin."
Mami Rossa mengingatkan anaknya, agar tidak terlalu over protektif terhadap Cilla.
"Iya Mi. Maaf. Gilang terlalu senang sehingga melupakan semua itu."
Drettt....
Drettt...
Drettt...
Handphone di saku jas Gilang bergetar. Ada panggilan masuk untuknya.
"Dari pengacara Mi," kata Gilang memberitahu maminya.
"Angkat!" kata mami Rossa meminta Gilang untuk segera menghubungkan panggilan tersebut.
..."Sore Pak!"...
..."Sore tuan Gilang. Besok jadwal persidangan. Mungkin sekitar pukul sebelas siang."...
..."Baiklah. Kami akan usahakan untuk bisa hadir semuanya."...
"Baik Tuan. terima kasih."
..."Sama-sama."...
"Apa katanya?" tanya mami Rossa ingin tahu.
"Besok jadwal persidangan perdana Mi. Bisa ikut kan?" tanya Gilang.
__ADS_1
"Besok Mami usahakan bisa ikut," jawab mami Rossa dengan mengangguk.