Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Rencana Yang Lain


__ADS_3

Semua yang terjadi di ruang makan, ternyata tidak luput dari perhatian Aji dan mami Rossa. Mereka terkikik tertahan, melihat semua adegan yang seperti sinetron life, di depan mata mereka berdua saat ini.


"Kita harus buat rencana lain, yang lebih seru lagi ini," kata mami Rossa yang di iyakan oleh Aji.


"Betul Oma. Tapi apa ya Oma?" tanya Aji tidak tahu apa yang akan mereka rencanakan kedepannya nanti.


Mami Rossa tampak berbisik-bisik pelan di telinga Aji. Dia mengajak Aji untuk bekerja sama dalam rencananya nanti.


"Siap Oma!" kata Aji sambil mengacungkan jari jempolnya setuju.


"Yuk kita balik ke ruang tengah. Nanti papa atau mama lihat kita lho!" ajak mami Rossa pada Aji.


Mereka berdua berjalan kembali menuju ke ruang tengah, menunggu Gilang dan juga Cilla yang sedang menyelesaikan acara makan mereka yang penuh dengan drama.


"Aji mau sekolah di mana besok?" tanya mami Rossa saat keduanya sudah kembali duduk di sofa tengah.


"Yayasan mana gitu yang Aji mau," kata mami Rossa menjelaskan maksud dari pertanyaan yang tadi.


"Aji pengen ke Jerman Oma," jawab aji dengan yakin.


"Jerman?" tanya mami Rossa mengerutkan keningnya bingung dengan jawaban yang diberikan oleh Aji, cucunya itu.


Mami Rossa tentu berpikir jika Aji masih kecil dan tidak mungkin punya keinginan untuk belajar sampai di luar negeri, apalagi ke Jerman. "Aji tahu apa tentang Jerman?" Akhirnya, mami Rossa bertanya juga pada Aji.


"Aji pengen belajar teknologi Oma. Di sana, sekolah dasar sudah menerapkan sistem praktikum dengan berbagai keterampilan sesuai bakat dan kesukaan anak."


Aji memberikan penjelasan lebih rinci lagi pada mami Rossa, omanya, yang sedang menanyakan soal pendidikan yang dia inginkan.


*****


Jerman memiliki sistem yang berbeda dengan sekolah di Indonesia. Sekolah sifatnya wajib di Jerman selepas pendidikan pra-dasar, dimulai sejak usia enam tahun. Matapelajaran yang sama diberikan kepada seluruh siswa sekolah dasar hingga kelas empat.


Per minggunya, anak-anak Jerman mengikuti jam belajar di sekolah selama 38,5 jam. Rata-rata sekolah di Jerman dimulai pukul delapan pagi. Waktu sekolah di jenjang sekolah dasar hanyalah empat tahun. Meski berlangsung cukup singkat, anak baru mulai memiliki raport yang berisi angka sejak kelas tiga SD.

__ADS_1


Kalau di Indonesia, pendidikan umumnya ada tiga, yaitu SD-SMP-SMA. Dari sisi waktu juga berbeda. Indonesia memerlukan waktu dua belas tahun, normalnya, sebelum ke jenjang Perguruan Tinggi, sedangkan di Jerman butuh waktu tiga belas tahun baru bisa ke Universitas.


*****


"Wah... Kamu bisa tahu banyak tentang Jerman dari mana Sayang?" tanya mami Rossa kagum dengan cara Aji menjelaskan tentang Pertanyaannya yang tadi.


"Dari berbagai informasi yang ada di internet dan berita online yang Aji baca," jawab Aji sambil membuka handphone miliknya yang ada di meja.


"Aji. Kamu kan belum boleh pegang handphone Sayang!" Mami Rossa mengingatkan Aji untuk tidak bermain handphone terlebih dahulu.


"Aji cuma mau cek email saja Oma. Siapa tahu ada customer atau pihak produsen barang yang biasa Aji bantu penjualan memberi kabar. Kasihan, sudah terlalu lama juga Aji tidak membuka dan mengabari mereka semua."


Mami Rossa mengeryit bingung dengan perkataan yang diucapkan oleh Aji. Dia tidak pernah tahu, apa yang sebenarnya dilakukan Aji selama ini.


"Kamu bantu apa Sayang? Customer, produsen barang. Apa lagi itu semua?" tanya mami Rossa ingin tahu. Dia merasa penasaran dengan kegiatan cucunya yang masih kecil itu. Tapi gaya bicara dan pengetahuan yang dia miliki melebihi kapasitas anak-anak pada umumnya.


"Apa kegiatan Aji sehari-hari?" tanya mami Rossa lagi, sebab Aji belum menjawab pertanyaan yang tadi. Aji tampak sibuk dengan apa yang dia kerjakan di handphone miliknya.


"Aji bantu mama Oma," jawab Aji memberi tahu.


"Jualan online," jawab Aji cepat.


"Jualan online apa?" tanya mami Rossa lagi. Sepertinya dia masih belum mengerti maksud dari jawaban Aji.


"Ya jualan online seperti biasanya. Cuma Aji tidak stok barang. Ada produsen yang menangani. Aji cm membantu memasarkan produk mereka saja."


Aji kemudian memberikan penjelasan pada mami Rossa tentang cara penjualan online yang dia lakukan. Dia juga memberikan contoh barang apa saja yang dia pasarkan.


"Aji menawarkan barang-barang produksi lokal yang menjadi ciri khas daerah tersebut. Jadi tidak akan banyak di temukan di pasaran secara umum," kata Aji menjelaskan pada mami Rossa.


"Wah... cucu Oma pinter banget sih masih kecil juga. Kayaknya jiwa dagang Oma menurun pada Aji ya," kata mami Rossa memuji Aji.


*****

__ADS_1


Di meja makan.


Gilang sudah selesai menyantap makanan yang ada didepannya. Kini, dia sedang mengamati Cilla yang belum menghabiskan makanannya sendiri. Cilla terlihat seperti sudah kenyang, dan tidak bisa lagi menghabiskan makanan miliknya.


"Kalau sudah kenyang jangan dipaksakan. Nanti malah muntah. Percuma jadinya makanan yang sudah terlanjur masuk ke perut."


Cilla mendongak menatap wajah Gilang sekilas, kemudian kembali menunduk kearah piring yang ada di depannya. Dia merasa tidak enak hati karena tidak mampu menghabiskan makanan yang sudah dipesankan oleh Gilang untuknya.


"Tidak apa-apa. Biarkan saja. Dari pada kamu habiskan dan malah keluar semuanya nanti, itu akan membuat masalah yang baru lagi nantinya."


Gilang mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Cilla. Tapi dia juga tidak mau memaksa Cilla untuk menghabiskan makanannya.


"Tolong ambilkan air putih lagi ya!" Gilang meminta tolong pada Cilla dengan menyodorkan gelasnya yang sudah kosong.


Cilla menerima gelas kosong yang diberikan oleh Gilang. Dia berdiri dari tempat duduknya dan melangkah menuju ke arah kulkas untuk menuangkan air putih.


"Jangan air dingin. Yang biasa saja!" kata Gilang memperingatkan.


Cilla menoleh sebentar kearah Gilang, kemudian beralih ke dispenser yang ada di sebelah kulkas.


"Ini," kata Cilla memberikan gelas yang sudah dia isi dengan air putih sesuai dengan keinginan Gilang.


Gilang menerima gelas dari tangan Cilla, kemudian berkata, "Terima kasih. Semoga saja besok-besok kamu masih mau memperhatikan dan melayani aku seperti ini sebagai istriku, dan juga mama dari adik-adiknya Aji nantinya."


Cilla tersipu malu dan menunduk sambil meremas pingiran baju yang dia pakai. Mungkin itu bisa mengurangi rasa gugupnya atas perkataan Gilang barusan.


"Cilla."


Cilla diam dan tidak menjawab panggilan dari Gilang.


"Cilla. Bantu aku berdiri. Aku mau kembali ke sofa," kata Gilang sambil berusaha untuk berdiri sendiri.


Cilla dengan cepat meraih tubuh Gilang yang terhuyung. Dia menantu Gilang agr bisa berdiri dengan baik.

__ADS_1


"Terima kasih," kata Gilang sambil tersenyum senang.


Gilang tentu saja merasa senang dengan apa yang dia lihat dari perubahan sikap dan tingkah Cilla padanya. Meskipun belum bisa memastikan dengan benar apa yang dirasakan oleh Cilla pada dirinya. Setidaknya, Cilla sudah memiliki rasa peduli terhadapnya saat ini. Itu sudah membuat Gilang merasa bahagia.


__ADS_2