
Mami Rossa berjalan menuju ke toko miliknya di Mall yang selalu ramai dengan pengunjung. Dia tidak suka menyebut toko miliknya dengan sebutan butik karena dia tidak menerima pesanan pembuatan baju atau sejenisnya bagi pelanggan. Sedangkan butik, identik dengan baju-baju pesanan dengan detail yang rumit dan berbeda-beda satu sama lainnya agar tidak menjadi sama atau kembar waktu dipakai oleh customer.
Toko milik mami Rossa hanya menjual baju-baju branded dengan kualitas tinggi dan juga harga terjangkau untuk kalangan atas. Tapi orang-orang juga tahu jika ada satu lagi toko yang dia punya, dan menjual baju-baju mahal namun masih terjangkau untuk semua kalangan. Tokonya ini ada di Mall lantai bawah. Ada karyawan yang menjaganya tapi dia memang jarang mampir dan menengoknya. Ada stafnya yang biasa mengurus dan melaporkan semua kegiatan penjualan dan pembelian barang-barang yang mereka jual. Mami Rossa hanya tahu dari laporan mereka saja, sama seperti toko yang di percayakan pada mbak Diyah.
"Siang," sapa mami Rossa begitu masuk ke dalam toko.
"Siang Mami," jawab para karyawan.
"Diyah mana?" tanya mami Rossa karena tidak melihat mbak Diyah.
"Di belakang mami. Tadi baru selesai makan kayaknya," jawab salah satu dari mereka.
"Ya sudah, mami langsung kebelakang saja Tolong dijaga dengan baik ya!" kata mami Rossa memberikan pesan pada para karyawannya.
Semua menganguk patuh. Mami Rossa kembali melangkah ke arah belakang, dimana kamar istirahat dan kamar mandi berada.
"Eh, Mami Rossa!" sapa mbak Diyah kaget saat dirinya baru saja keluar dari kamar mandi.
"Iya. Mami mau ada perlu sedikit dengan Kamu ini," jawab mami Rossa mengatakan niatnya.
Mbak Diyah mengerutkan keningnya bingung. Dia merasa tidak melakukan kesalahan ataupun telat dalam melaporkan pembukaan toko. Mbak Diyah terlihat sedikit khawatir jika ada sesuatu yang tidak dia sengaja, kemudian menjadi kesalahan yang dia lakukan tanpa dia sadari.
__ADS_1
"Jangan bingung begitu. Ini bukan urusan toko," kata mami Rossa menjelaskan.
Mbak Diyah malah semakin bingung dengan perkataan mami Rossa. "Jika bukan urusan toko, lalu apa?" batin mbak Diyah bertanya-tanya.
"Kita bicara di dalam kamar istirahat saja!" Mami Rossa mengajak mbak Diyah untuk masuk ke dalam kamar dan bicara di sana.
"Kamu mengenal Cilla sejauh apa?" tanya mami Rossa setelah keduanya duduk di kursi yang ada di kamar istirahat.
"Cilla. Ada apa dengan Cilla Mi? Kenapa tiba-tiba mami bertanya tentang Cilla?" tanya mbak Diyah kaget. Dia bukannya menjawab pertanyaan mami Rossa tapi malah balik bertanya.
"Jawab saja Diyah," kata mami Rossa mengeleng.
"Eh maaf Mi. Diyah hanya kaget saja, kenapa Mami tiba-tiba bertanya tentang Cilla. Padahal dulu, waktu Cilla masih berkerja di toko ini, mami tidak pernah bertanya-tanya semacam ini. Mami kan tidak pernah ikut campur urusan pribadi para karyawan, itu setau Diyah Mi."
Mami Rossa menghela nafas panjang dan memejamkan matanya. Dia ingat jika pernah mengatakan itu pada semua karyawannya. Doa memang orang yang tidak suka mencampuri urusan orang lain. Tapi ini menyangkut anaknya, Gilang. Cilla adalah orang yang akan Gilang nikahi nantinya. Apalagi sudah ada Aji juga. Mami Rossa hanya ingin tahu, siapa sebenarnya Cilla, bukan bermaksud untuk menyelidiki dengan tujuan untuk menolaknya. Itu bukan alasan yang tepat. Dia hanya ingin tahu, kenapa kejadian malam itu bisa terjadi begitu saja dan Cilla tidak ada niatan untuk menuntut Gilang. Apalagi setelah kejadian malam itu, Cilla hamil. Tapi kenapa dia memilih diam dan membesarkan Aji sendiri. Ada apa sebenarnya dengan keluarga Cilla?
*****
POV mbak Diyah.
Aku mengenal Cilla saat dia melamar pekerjaan di toko tempatku bekerja. Aku yang sudah satu tahun lebih menjadi seniornya. Aku ditugaskan untuk membantu Cilla, mengenal beberapa pekerjaan yang biasa dilakukan di toko. Aku juga mengajarinya menghafal jenis-jenis baju dan harganya juga.
__ADS_1
Cilla yang masih terlalu muda menurutku, meskipun saat melamar pekerjaan dia mengaku jika berumur dua puluh tahun, termasuk gadis yang cepat tanggap. Dia dengan mudah menerima semua yang aku ajarkan. Dia juga cepat menyesuaikan diri, mudah akrab dengan para karyawan lainnya juga.
Aku sering mendengar Cilla meminta lemburan pada atasan saat itu. Alasannya, dia butuh uang untuk berobat ayahnya yang sakit dan lumpuh. Aku sering menemani dia saat makan siang dan istirahat. Tapi dia memang sudah tidak terlalu percaya begitu saja dengan orang baru dan menceritakan masalahnya.
Beberapa bulan kemudian, Cilla pingsan saat toko belum di buka dan masih bersih-bersih. Aku dan beberapa teman membawanya ke klinik yang ada di Mall. Dari dokter tersebut, aku tahu jika Cilla hamil. Tentu saja aku kaget. Aku pikir dia hamil dengan pacarnya. Tapi saat aku bertanya, dia bilang jika tidak punya pacar. Cilla juga tidak mau memberitahu siapa ayah bayi yang dia kandung saat itu.
Setiap hari Cilla menjadi perbincangan hangat dan bahan gosip diantara teman-teman, bahkan karyawan di luar toko juga banyak yang membicarakannya. Entah kehamilan pada bulan ke berapa, ayah Cilla meninggal saat tahu jika Cilla hamil dan tidak diketahui siapa yang menghamilinya. Beberapa hari setelah ayahnya meninggal, Cilla di usir oleh warga dan ibunya. Ibunya itu ibu tiri, dan berhasil menghasut warga untuk membenci Cilla.
Cilla datang ke toko dengan keadaan berantakan. Dia hanya membawa tas berisi beberapa helai baju dan meminta bantuan padaku untuk mencarikan kamar kost.
Aku merasa kasihan dan mengajaknya tidur di rumah. Tapi untuk kenyamanan dan menjauhi gosip tetangga tentang Cilla, aku membantunya mencari rumah kontrakan yang murah.
Akhirnya aku menemukan rumah kontrakan yang lumayan bagus meski tidak besar tapi harganya bisa terjangkau jika Cilla masih bekerja di toko milik mami Rossa.
Untuk beberapa bulan sebelum dia melahirkan, aku yang membantunya membayar rumah kontrakan itu hingga dia melahirkan. Aku pikir dia pasti butuh uang banyak untuk biaya melahirkan nantinya.
Cilla sebenarnya menolak, tapi aku bilang jika uang itu dianggap utang saja. Jadi dia bisa mengembalikan saat sudah memiliki uang nanti. Akhir Cilla setuju dan meminta untuk berhenti sementara itu saat usia kandungan sudah hampir tiba waktunya. Dia kembali bekerja saat anaknya sudah berumur empat bulan dan aku sudah diangkat mami Rossa menjadi SPV di toko tersebut. SPV sebelumnya di minta mami untuk mengelola toko yang ada di lantai bawah Mall ini juga.
Aku tentu menerima Cilla kembali. Apalagi dia memang karyawan yang rajin dan luwes saat melayani customer.
Jadi aku memang tidak tahu banyak tentang Cilla dan kehidupan pribadinya. Aku hanya sebatas membantunya sebagai teman.
__ADS_1
POV mbak Diyah end.